BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Turi-turian dibahasan sadarion adalah tentang 'Marsiadapari', Gotong Royong Ala Orang Batak. Marsiadapari ini merupakan salah satu Gaya Hidup Orang Batak.
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Marsiadapari - Foto: batakgaul.com |
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Gotong Royong "Marsiadapari" Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan
Posted by FACE BATAK on Senin, 27 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami datang kehadapan Amang dohot Inang yang kami hormati untuk berbagi turi-turian yang baik bagi kawula muda batak.
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu |
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
- Bona Ni Ari (Tulang dari ompu kandung)
- Bona Tulang (Tulang dari ayah)
- Ompu Bao (kedua orangtua dari ibu kandung)
- Tulang (Saudara laki-laki ibu kandung)
- Nantulang (istri tulang)
- Lae (anak laki-laki tulang)
- Bao (besan)
- Paramaan/Tulang Na Poso (panggilan kepada anak laki-laki dari abang namboru oleh namboru/amangboru).
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
- Ompu Parsadaan (Ompu yang bisa dilacak sebagai persamaan antara dua orang semarga) yang merupakan tingkat tertinggi dalam susunan hubungan partuturan
- Ompu Mangulahi (Ompu dari Ompu)
- Ama Mangulahi (bapak dari ompu suhut)
- Ompu Suhut (Ompu kandung/ayahnya ayah)
- Ama Suhut (Ayah kandung)
- Haha (Abang kandung)
- Anggi (Adik kandung)
- Anak
- Pahompu (cucu cewek dan cowok)
- Nini (cicit laki-laki)
- Nono (cicit perempuan)
- Ondok-ondok (cucu dari cucu laki-laki)
- Ompu Boru (orang tua perempuan dari ayah)
- Ina Pangintubu (ibu kandung)
- Haha Boru (istri dari abang kandung)
- Anggi Boru (istri adik laki-laki).
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
- Ito (saudara perempuan satu marga, anak perempuan dari namboru)
- Lae (anak laki-laki tulang, anak laki-laki dari namboru)
- Amangboru (Suami dari saudara perempuan ayah)
- Namboru (Saudara perempuan ayah)
- Hela (suami dari anak perempuan)
- Boru (anak kandung perempuan)
- Ito Mangulahi (Namboru kandung ayah kandung)
- Lae Mangulahi (Suami dari Ito Mangulahi)
- Bere (semua keturunan dari adik/kakak perempuan)
- Pariban (anak perempuan dari tulang)
- Tulang rorobot (tulang ibu beserta keturunannya)
- Nantulang rorobot (istri dari tulang rorobot).
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu
Posted by FACE BATAK on Jumat, 10 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami hadir kehadapan Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Sdra/Sdri. yang kami hormati, tarnulobi tu hamu Natua-tua nami. Kali ini media Batak Network akan berbagi tentang sebuah renungan, yaitu "Cinta Tulus Putra Batak". Tulisan ini kami sadur dari sebuah forum facebook yang berlabel Group Anak Siantar (GAS), Senin (6/2/2017).
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - "Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan |
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
"Apa kabar Rosma? semoga kau baik-baik saja. Selama ini walaupun aku jauh, Aku tetap memperhatikanmu, bahkan pernikahanmu yang membuat aku terpurukpun juga masih ku ingat. Kalau kau masih ingat gak, ketika kita naik motor berdua kau selalu tertidur, ketika kita mau nonton bioskop yang akhirnya tidak jadi gara-gara harga tiketnya mahal, dan ketika kamu mendorong motorku saat motorku kehabisan bensin? Kenangan manis itulah yang membuat aku kuat untuk menjalani hidup ini meski tanpamu.
Aku banyak mendengar tentang dirimu dari si Uli, dia selalu bercerita tentang kehidupanmu yang sangat penuh dengan air mata. Setiap mendengar semua penderitaanmu itu, aku selalu menangis, sangat berat rasanya ketika kudengar setiap kabar tentangmu.
Terlebih ketika kecelakaan menimpamu,
Itu yang membuatku terasa sedih kali.
Untuk itulah aku datang memenuhi janjiku, janji yang pernah ku ucapkan ketika kita masih sama-sama. Semoga dengan keadaan yang sekarang kamu bisa bahagia,dan melanjutkan hidupmu,menggapai mimpimu yang tertunda,tak usah lagi kau ingat2 masa lalu mu,biarlah itu jadi pelajaran berhaga buatmu melangkah kedepan.
Tak bisa ku beri materi samamu sampai dengan sekarang ini, karena aku pun putra batak yang miskin, yang harus memperjuangkan segala orang disekitarku,hanya kekayaan cinta ini lah yang bisa kupersembahkan padamu termasuk nyawaku yang terucap didalam janjiku.
Pesanku janganlah lupa untuk tetap selalu berdoa.
Salam : Togar "
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Bagaimana menurut Bapak/Ibu, Abang/Adik, Sdra/Sdri yang kami hormati mengenai topik kali ini, yaitu ketika Imam Besar FPI Habib Rizieq Pake Ulos di Medan. Tentunya ada yang Pro dan Kontra. Sebelum memberi komentar, kami ingin mengajak Anda sekalian menyimak ulasan di bawah ini.
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Imam Besar FPI Habib Rizieq di Medan - Foto : benardosinambela.id |
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini kami ingin mengajak Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Sdra./Sdri bersantai-ria sejenak. Anggap saja ini sebagai Obat Buang Suntuk alias BETE. Apakah Anda sudah siap-siap tertawa tebahak-bahak... Yuk Kita Tawa
"BAHASA BATAK KOK DILAWAN..!!"
Ada orang bule Australia datang ke Pulau samosir, dan bertanya kepada seorang pendeta HKBP.
Bule : "Kenapa pendeta kalau berkhotbah, kitabnya masih menggunakan bahasa batak? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"
Pendeta: "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, jemaat tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata yang saya beritakan bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."
Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang pendeta yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menjelaskan dan kalah dengan bahasa batak
Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"
Pendeta : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"
Bule : "Rice!"
Pendeta : "Orang disini. menyebutnya " EME" kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan BORAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MONIS, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya ( INDAHAN ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya RIMA RIMA, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan KORAK, inggris masih menyebut RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa batak ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...
Si Bule : oh...ido hape...????yes yes yes zzzzzzz
Hahahahaha
=====================
" TERNYATA SALAH KETIK " JUGA PUNYA ARTI
Aku dari ht BARAT, mau ke ht BALIAN ehh ternyata hawanya SIREGAR, jalannya pun MANURUNG TORUSSS.., banyak pula TOBING TOBING, serta POHAN POHAN,alahh makkk.., MEDANnya ini banyak NENGGOLAN NENGGOLANnya gas...??!, tak taunya sore itu celanaku SANGKOT dan ROBET, aku bawalah ke PANJAITAN, hehee.. aku kira harganya NAPI70an ehh ternyata PANGA1000an..??, terus aku dikejar2 si RAJAGUKGUK sama si NAGA .., aku carilah si PARLINDUNGAN yang banyak TAMBUNAN TAMBUNANnya.., karna aku katanya mau dibakar oleh si BATU BARA, kebetulan waktu itu aku bawa si PISO2.., tak cabut pisonya eehhh ternyata SITOMPUL..!!?, hujan begitu lebat sore itu.., MARPAUNG lah aku ke suatu kampung,pas di sili TONGA kampung itu kan gas..??, ketemulah aku sama si SAGALA bisa.., OPPUNG SUNGGUHHH aku mau bertanya..??, bagaimana SARAnyaGIHHH..??, aku sampai ke 7an dan SELAMAT...??, itulah ceritaku ..??, jadi diminta dengan HARAHAP maklum.., biar kita sampai ke pang GABEAN..& si MAMORA... #AsaMekkelHita #BatakNetwork
Biarkan Foto Ini Berbicara - Humor Batak dalam Gambar Meme
Demikianlah sedikit mengenai Humor Batak Terbaru diatas, Harapan kami, semoga para Pembaca Budiman merasa terhibur yah dan semoga bermanfaat. #AsaMekkelHita. Horas. Tuhan Memberkati. (BN) TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - Humor Batak |
"BAHASA BATAK KOK DILAWAN..!!"
Ada orang bule Australia datang ke Pulau samosir, dan bertanya kepada seorang pendeta HKBP.
Bule : "Kenapa pendeta kalau berkhotbah, kitabnya masih menggunakan bahasa batak? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"
Pendeta: "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, jemaat tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata yang saya beritakan bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."
Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang pendeta yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menjelaskan dan kalah dengan bahasa batak
Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"
Pendeta : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"
Bule : "Rice!"
Pendeta : "Orang disini. menyebutnya " EME" kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan BORAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MONIS, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya ( INDAHAN ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya RIMA RIMA, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan KORAK, inggris masih menyebut RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa batak ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...
Si Bule : oh...ido hape...????yes yes yes zzzzzzz
Hahahahaha
=====================
" TERNYATA SALAH KETIK " JUGA PUNYA ARTI
Aku dari ht BARAT, mau ke ht BALIAN ehh ternyata hawanya SIREGAR, jalannya pun MANURUNG TORUSSS.., banyak pula TOBING TOBING, serta POHAN POHAN,alahh makkk.., MEDANnya ini banyak NENGGOLAN NENGGOLANnya gas...??!, tak taunya sore itu celanaku SANGKOT dan ROBET, aku bawalah ke PANJAITAN, hehee.. aku kira harganya NAPI70an ehh ternyata PANGA1000an..??, terus aku dikejar2 si RAJAGUKGUK sama si NAGA .., aku carilah si PARLINDUNGAN yang banyak TAMBUNAN TAMBUNANnya.., karna aku katanya mau dibakar oleh si BATU BARA, kebetulan waktu itu aku bawa si PISO2.., tak cabut pisonya eehhh ternyata SITOMPUL..!!?, hujan begitu lebat sore itu.., MARPAUNG lah aku ke suatu kampung,pas di sili TONGA kampung itu kan gas..??, ketemulah aku sama si SAGALA bisa.., OPPUNG SUNGGUHHH aku mau bertanya..??, bagaimana SARAnyaGIHHH..??, aku sampai ke 7an dan SELAMAT...??, itulah ceritaku ..??, jadi diminta dengan HARAHAP maklum.., biar kita sampai ke pang GABEAN..& si MAMORA... #AsaMekkelHita #BatakNetwork
Biarkan Foto Ini Berbicara - Humor Batak dalam Gambar Meme
Humor Batak Gambar Meme - Kenangan Indah Waktu Masih kecil
Humor Batak Gambar Meme - Sesuatu di Acara Pesta alias Mapes (Mangan Pesta)
Demikianlah sedikit mengenai Humor Batak Terbaru diatas, Harapan kami, semoga para Pembaca Budiman merasa terhibur yah dan semoga bermanfaat. #AsaMekkelHita. Horas. Tuhan Memberkati. (BN) TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas! Artikel yang akan kita bahas dan diskusikan kali ini berjudul "Zona Halal di Tanah Haram" yang ditulis oleh Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora, dari situs benardosinambela.id. Sangat menarik sekali untuk di ulas. Lebih lanjut simak di bawah ini.
Zona Halal di Tanah Haram
Ada yang aneh dan sangat-sangat melukai hati, itu akibat dari wacana salah seorang pejabat Provinsi Sumatera Utara mengenai zonasi halal dengan alasan agar para wisatawan penikmat makanan "halal" dalam katergori Agama tertentu kedepannya mendapat jaminan kepastian makanan dan minuman yang dimakan tidak mengakibatkan mereka ber-dosa.
Kok makanan bisa memberi dosa ya? Aneh sekali, apakah manusia-manusia seperti itu tidak punya mata dan pikiran? Sehingga perlu dibuat zona yang notabanenya akan memperbesar ruang perbedaan antara aku dan kamu. Artinya kita semuakan bisa melihat dan memilih lalu memutuskan mana makanan yang bisa dan tidak bisa kita makan, itu urusan pribadi masing-masing sajalah, semua bisa mikir kok, gak usah di zona-zonain.
Pembuatan zonasi ini tidak sesuai dengan semangat pembangunan pariwisata Danau Toba, itu melenceng kawan, kita ingin menjual keindahan, kenyamanan dan kegembiraan serta kepastian kebahagiaan untuk para pengunjung kedepannya, bukan untuk menjual "sorga" atau memastikan orang yang berkunjung kesana tidak menambah “dosa”-nya dengan makan-makanan jualan rakyat.
Ini semacam pemaksaan yang terstruktural, ya kalau mau mengembangkan wisata, silahkan saja eksplor keindahannya, kearifan budayanya dan kulinernya, itu yang mau kita jual. Bukan mau menciptakan ruang pemisah antara masyarakat yang selama ini hidup disana berdampingan dan harmonis menjadi terbelah dengan pemahaman konyol seperti itu.
Kok pejabat Sumatera Utara seperti ini serasa mengajari anak bayi makan aja ya? Dikasih pisang, dikuliti lalu di masukkan kemulutnya, itupun anak bayi masih tau mana makanan yang enak atau tidak, kalu gak enak paling-paling dibuang. Aneh sekali, kepada wisatawan kok perlakuan seperti itu? Emang mereka tak tau mana yang baik untuk dikonsumsi agar tidak menambah dosa? Aneh kau ini pejabat, kok fanatismemu kau bawa-bawa ke Danau Toba? Mengganggu bangat itu, hilang rasa optimis ke-Bangsa-an ku melihat kinerja seperti itu.
Aku tidak persoalkan apa yang pejabat ini yakini, tapi jangan paksakan itu untuk diterapkan di tanah yang mayoritas dimiliki, diusahai dan ditempati para kaum yang tidak se-keyakinan dengan label “halal” itu, tak lakupun tak apa-apalah. Lihat dong dengan lebih dekat, kita beradat saja masih membaur kok, makanpun di pesta adat masih sering bersamaan, kok malah strategi pembangunan wisata nasional seperti itu dimanfaatkan untuk memberi jarak antara masyarakat dengan kekuatan jabatan yang mereka punya?
Halal itu yang bersih, sehat, bergizi dan enak. Tak ada makanan yang sejak kelahirannya diharamkan oleh Tuhan. Manusia yang membuatnya jadi haram, menerka-nerka indikator yang tepat untuk jalan mulus ke sorga.
Berfikirlah untuk menata, bukan membunuh mata pencaharian rakyat kecil dengan melempar isu sektarian seperti itu. Mau dikemanakan para peternak babi kelak? Trus, para pedagang makanan yang non-muslim yang berjualan selama ini mau dikasih lebel agar tidak boleh jualannya di beli dengan alasan “haram” atau diusir dari zona “halal” itu? Bah... Hebat sekali konsep pejabat ini ya?
Lama-lama, kopi Lintong yang dimasak namboruku juga nanti kau bilang Haram karena dia beragama lain dari yang kau anut, supaya mpok mu yang satu keyakinan dengan mu bisa berjualan kopi impor dan dapat untung gede dari sana, akhirnya penduduk lokal hanya sebagai penonton. Politik ekonomi bisa-bisa aja, tapi jangan bawa-bawa Agama ya.
Sadarlah kalau tanah itu milik rakyat setempat, orang-orang yang kau cap nantinya menjual makanan "haram" hanya karena tidak se-keyakinan dengan anda. Selama ini juga pedagang disana hidup berdampingan, saling berbagi pengalaman. Mau yang jualan saksang, ayam ataupun daging kuda rendang sampai daging kerbau rendang sama-sama akur, tentram dan damai.
Kopi itu akan tetap berwarna hitam dan terasa pahit dimanapun, jadi jangan buat kehidupan rakyat lokal yang sudah hitam dan pahit selama ini semakin hitam dan pahit setelah adanya proyek destinasi wisata nasional ini.
Oleh: Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Danau Toba - Ilustrasi by benardosinambela.id |
Zona Halal di Tanah Haram
Ada yang aneh dan sangat-sangat melukai hati, itu akibat dari wacana salah seorang pejabat Provinsi Sumatera Utara mengenai zonasi halal dengan alasan agar para wisatawan penikmat makanan "halal" dalam katergori Agama tertentu kedepannya mendapat jaminan kepastian makanan dan minuman yang dimakan tidak mengakibatkan mereka ber-dosa.
Kok makanan bisa memberi dosa ya? Aneh sekali, apakah manusia-manusia seperti itu tidak punya mata dan pikiran? Sehingga perlu dibuat zona yang notabanenya akan memperbesar ruang perbedaan antara aku dan kamu. Artinya kita semuakan bisa melihat dan memilih lalu memutuskan mana makanan yang bisa dan tidak bisa kita makan, itu urusan pribadi masing-masing sajalah, semua bisa mikir kok, gak usah di zona-zonain.
Pembuatan zonasi ini tidak sesuai dengan semangat pembangunan pariwisata Danau Toba, itu melenceng kawan, kita ingin menjual keindahan, kenyamanan dan kegembiraan serta kepastian kebahagiaan untuk para pengunjung kedepannya, bukan untuk menjual "sorga" atau memastikan orang yang berkunjung kesana tidak menambah “dosa”-nya dengan makan-makanan jualan rakyat.
Ini semacam pemaksaan yang terstruktural, ya kalau mau mengembangkan wisata, silahkan saja eksplor keindahannya, kearifan budayanya dan kulinernya, itu yang mau kita jual. Bukan mau menciptakan ruang pemisah antara masyarakat yang selama ini hidup disana berdampingan dan harmonis menjadi terbelah dengan pemahaman konyol seperti itu.
Kok pejabat Sumatera Utara seperti ini serasa mengajari anak bayi makan aja ya? Dikasih pisang, dikuliti lalu di masukkan kemulutnya, itupun anak bayi masih tau mana makanan yang enak atau tidak, kalu gak enak paling-paling dibuang. Aneh sekali, kepada wisatawan kok perlakuan seperti itu? Emang mereka tak tau mana yang baik untuk dikonsumsi agar tidak menambah dosa? Aneh kau ini pejabat, kok fanatismemu kau bawa-bawa ke Danau Toba? Mengganggu bangat itu, hilang rasa optimis ke-Bangsa-an ku melihat kinerja seperti itu.
Aku tidak persoalkan apa yang pejabat ini yakini, tapi jangan paksakan itu untuk diterapkan di tanah yang mayoritas dimiliki, diusahai dan ditempati para kaum yang tidak se-keyakinan dengan label “halal” itu, tak lakupun tak apa-apalah. Lihat dong dengan lebih dekat, kita beradat saja masih membaur kok, makanpun di pesta adat masih sering bersamaan, kok malah strategi pembangunan wisata nasional seperti itu dimanfaatkan untuk memberi jarak antara masyarakat dengan kekuatan jabatan yang mereka punya?
Halal itu yang bersih, sehat, bergizi dan enak. Tak ada makanan yang sejak kelahirannya diharamkan oleh Tuhan. Manusia yang membuatnya jadi haram, menerka-nerka indikator yang tepat untuk jalan mulus ke sorga.
Berfikirlah untuk menata, bukan membunuh mata pencaharian rakyat kecil dengan melempar isu sektarian seperti itu. Mau dikemanakan para peternak babi kelak? Trus, para pedagang makanan yang non-muslim yang berjualan selama ini mau dikasih lebel agar tidak boleh jualannya di beli dengan alasan “haram” atau diusir dari zona “halal” itu? Bah... Hebat sekali konsep pejabat ini ya?
Lama-lama, kopi Lintong yang dimasak namboruku juga nanti kau bilang Haram karena dia beragama lain dari yang kau anut, supaya mpok mu yang satu keyakinan dengan mu bisa berjualan kopi impor dan dapat untung gede dari sana, akhirnya penduduk lokal hanya sebagai penonton. Politik ekonomi bisa-bisa aja, tapi jangan bawa-bawa Agama ya.
Sadarlah kalau tanah itu milik rakyat setempat, orang-orang yang kau cap nantinya menjual makanan "haram" hanya karena tidak se-keyakinan dengan anda. Selama ini juga pedagang disana hidup berdampingan, saling berbagi pengalaman. Mau yang jualan saksang, ayam ataupun daging kuda rendang sampai daging kerbau rendang sama-sama akur, tentram dan damai.
Kopi itu akan tetap berwarna hitam dan terasa pahit dimanapun, jadi jangan buat kehidupan rakyat lokal yang sudah hitam dan pahit selama ini semakin hitam dan pahit setelah adanya proyek destinasi wisata nasional ini.
Oleh: Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutnya. Kembali kami memaparkan tentang budaya halak hita menganai SINAMOT. Tulisan ini kami sadur dari log.viva.co.id. Mari simak selanjutnya di bawah ini.
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - Pernikahan Batak Toba (Sumber: Disini) |
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Posted by FACE BATAK on Selasa, 27 Desember 2016
BATAK NETWORK - Sebelumnya, mari kita simak berita di bawah ini.
PERKARA KECIL
Betul, Pak Aher, Bapak benar sekali. Sangat benar. Peristiwa Sabuga kemarin memang hanya perkara kecil. Terlalu kecil. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman orang-orang percaya di Jepang abad ke-17 yang dilukiskan dalam novel tadi--atau pengalaman serupa lainnya, baik yang tercatat dalam kitab martir maupun tidak. Dan, tentu saja, tidak sebanding dengan pengalaman Laki-Laki yang diseret dari Taman Getsemani untuk nantinya disalibkan di Golgota itu.
Terima kasih, Pak Aher, telah mengingatkan kami akan hal itu. Terima kasih telah, secara tidak langsung, mengingatkan kami untuk tidak cengeng dan merengek-rengek mengharapkan belas kasihan negara, yang Anda wakili.
Junjungan kami sendiri menasihati kami, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12)
Benar. Peristiwa Bandung itu bukanlah penganiayaan. Itu hanya perkara kecil.
Oleh karena itu, Sekali lagi kami mengucapkan Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil.***
Editor: Tim Batak Network
Penulis: Arie Saptajie
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Desember 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan |
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berpendapat, pembubaran acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal di Gedung Sabuga, Bandung, tadi malam merupakan perkara kecil.
"Itu kan kejadian kecil yang tidak mengganggu apa-apa saya kira," kata Ahmad Heryawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (7/12).
Aher, sapaan Ahmad, berpendapat, pembubaran bisa dihindari apabila ada musyawarah sehingga semua pihak dapat menahan diri dan saling menghormati.
Hingga kini, kata Aher, dia belum mendapatkan laporan detail mengenai pembubaran kebaktian itu. Menurutnya, informasi detail dan lengkap diketahui pihak terkait termasuk pemerintah kota Bandung.
"Sebab, secara langsung kami tidak terkait. Itu kan yang menangani Polresta Bandung, MUI Bandung, kalau pemerintah hanya Kesbangpol, Wali Kota Bandung," tuturnya.
Dia menyatakan membantu menyelesaikan dan mencari akar permasalahan sehingga tidak mengganggu toleransi bermasyarakat dan membuat suasana membaik.
"Kami bangun saling pengertian. Jangan memperkeruh persoalan yang dapat memicu persoalan baru," kata dia.
Ketua PAS Muhammad Roin sebelumnya mengatakan, KKR seharusnya diadakan di rumah ibadah. Hal tersebut, sambung dia, sesuai dengan Surat Peraturan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006.
Acara Kebaktian Natal Umat Kristen yang menghadirkan Pendeta Stephen Tong untuk sesi kedua sedianya dilaksanakan pada pukul 18.30 WIB di Gedung Sabuga. Acara sesi pertama yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB untuk anak-anak tetap berjalan normal.
Peserta KKR membubarkan diri dengan tertib pada pukul 20.30 WIB. Ketika situasi itu terjadi, sejumlah aparat kepolisian melakukan pengamanan di seputaran Gedung Sabuga.
Sumber: cnnindonesia.com
PERKARA KECIL
Betul, Pak Aher, Bapak benar sekali. Sangat benar. Peristiwa Sabuga kemarin memang hanya perkara kecil. Terlalu kecil. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman orang-orang percaya di Jepang abad ke-17 yang dilukiskan dalam novel tadi--atau pengalaman serupa lainnya, baik yang tercatat dalam kitab martir maupun tidak. Dan, tentu saja, tidak sebanding dengan pengalaman Laki-Laki yang diseret dari Taman Getsemani untuk nantinya disalibkan di Golgota itu.
Terima kasih, Pak Aher, telah mengingatkan kami akan hal itu. Terima kasih telah, secara tidak langsung, mengingatkan kami untuk tidak cengeng dan merengek-rengek mengharapkan belas kasihan negara, yang Anda wakili.
Junjungan kami sendiri menasihati kami, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12)
![]() |
| Alkitab, Kitab Matius 5:10-12 |
Benar. Peristiwa Bandung itu bukanlah penganiayaan. Itu hanya perkara kecil.
Oleh karena itu, Sekali lagi kami mengucapkan Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil.***
Editor: Tim Batak Network
Penulis: Arie Saptajie
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Desember 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil
Posted by FACE BATAK on Rabu, 07 Desember 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini kita berbagi tentang Objek Wisata yang menarik di seputaran Danau Toba. Berikut ulasang tentang Wisata menarik di seputaran Danau Toba seperti yang berhasil kami kutip dari Berbagai Sumber Media Online. Mari kita simak di bawah ini.
Bila Anda Ke Danau Toba Jangan Lewatkan Menikmati Objek Wisata yang ada di Parapat ini
Parapat Danau Toba adalah sebuah kota kecil di kawasan tepi Danau Toba yang masih dalam kawasan Kabupaten Simalaungun, dan merupakan sebuah kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang lumayan. Parapat juga termasuk salah satu objek wisata populer di Sumatera Utara.
Parapat adalah salah satu kota yang memiliki cerita sendiri. Di Parapat inilah tempat paling sering dirayakan Pesta Danau Toba (PDT) yang kini berubah nama dengan sebutan Fetival Danau Toba (FDT) yang biasanya dirayakan tiap tahunnnya. Sayangnya, akhir-akhir ini FDT tidak lagi dirayakan tiap tahun, tidak tahu apa sebab dan akibatnya. By the way, bila sudah berada di Parapat, jangan lupa untuk membeli Souvenir untuk dijadikan oleh-oleh bagi kerabat terdekat.
Inilah 7 tempat Wisata yang bisa kita kunjungi saat berada di Parapat
1. Batu Gantung
Salah satu Objek Wisata yang paling populer di seputaran Danau Toba yang masih dekat dengan Parapat adalah BATU GANTUNG. Batu Gantung ini bukan hanya populer di Sumatera Utara saja, malah sudah mendunia.
Batu Gantung adalah sebuah pahatan alam berupa bebatuan yang terletak di Parapat, Sumatera Utara. Jika Anda pernah melancong ke Danau Toba, pasti Anda tidak melewatkan objek wisata ini. Hampir seluruh wisatawan domestik dan mancanegara yang hendak ke Danau Toba dan Pulau Samosir, mampir ke Batu Gantung ini. Kenapa diberi nama Batu Gantung? Tidak lain adalah karena letak batunya yang tampak menggantung ke bawah.
Batu ini terlihat menyerupai postur tubuh manusia dengan posisi lurus ke bawah dengan keadaan terbalik. Banyak sekali legenda yang berkembang di masyarakat secara turun temurun tentang asal muasal terbentuknya fenomena alam ini.
Secara geografis, Batu Gantung terletak dalam jarak yang tidak begitu jauh dari perairan Danau Toba. Persisnya terletak di Kota Parapat, Sumatera Utara. Batuan ini akan membuat Anda terpana karena posisinya yang memang menggantung dari bebatuan sekitar tebing. Ukuran tinggi dari objek yang cukup menarik perhatian wisatawan ini adalah sekitar 2 meter. Sehingga, semakin menyegarkan ingatan kita terhadap sosok manusia. Batu ini terlihat seolah akan lepas dari tepian tebing dan ambruk jatuh ke bawah. Namun, dari dulu tetap saja bebatuan tersebut menggantung dengan ajaibnya.
Area di sekitar batu gantung cukup membuat Anda harus berhati-hati karena tebing tempat batu gantung berada lokasi yang cukup tinggi dan anda perlu melihat ke bawah untuk dapat menyaksikan secara penuh seputar detail batu gantung ini. Lokasi batu khas ini berjarak sekitar 176 km dari ibukota Medan. Karena berdekatan dengan Danau Toba, maka area Batu Gantung dikelilingi pemandangan yang sangat indah dan suasana yang masih asri.
Keberadaan Batu Gantung ini akan sangat menarik perhatian. Bentuknya yang tidak biasa membuatnya banyak dikunjungi oleh para pelancong, terutama yang memilih Danau Toba dan Samosir sebagai tujuan wisatanya. Maka dari itu, banyak objek wisata lainnya yang akan jadi persinggahan Anda saat tiba di lokasi Batu Gantung. Selain mengelilingi Kota Parapat itu sendiri, Anda juga dapat memenuhi hasrat kuliner dengan masakan khas Sumatera Utara yang mudah Anda temui di sepanjang Kota. Anda juga dapat memilih penginapan dengan tarif yang sesuai dengan budget Anda, seperti Danau Toba International Cottage. Jika Anda merasa ingin tinggal lebih lama lagi di Kota Parapat.
Untuk melihat Batu Gantung ini ada dua alternatif yang kami sarankan. Pertama, kita bisa menyewa Kapal atau ikut rombongan (bersama yang lain) untuk menuju tempat wisata Batu Gantung ini. Tentunya kita mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Bagi wisata lokal hal ini tentu sangatlah mahal, tapi bagi pendatang, soal uang bukanlah kendala. Alternatif kedua adalah nongkrong di kedai (warung / rumah makan) RINGOSTAR. Dari rumah makan RingoStar ini, kita bisa meliha melihat Batu Gantung dari Panatapan Sualan. Kita bisa memesan Kopi Hangat sembari menikmati Pemandangan yang indah serta bisa melihat Batu Gantung. Tapi semua tergantung Kita mau pilih cara alternatif yang mana. Selamat menikmati Objek Wisata Batu Gantung.
2. Bukit Senyum
Salah satu Objek Wisata di Seputaran Danau Toba adalah BUKIT SENYUM. Sebenarnya tempat ini tidak sepenuh nya di Parapat, tapi etaknya di Motung.. Bukit Senyum adalah tempat yang pas buat kita untuk menikmati keindahan Sunset Danau Toba.
Anda suka Berfoto? Nah... Objek Wisata Bukit Senyum sangatlah pas dan tepat bagi Anda untuk berfoto ria. Kenapa? Alasannya adalah kita bisa berfoto dengan latar belakang Danau Toba. Biasanya, Bukit Senyum ini digemari oleh kaum muda, Alasanya adalah karena bisa berfoto ria, dan Bukit Senyum ini akan terlihat ramai pada sore hari untuk menikmati Sunset. Oh iya, bila ingin menikmati Objek Wisata Bukit Senyum jangan lupa untuk membawa cemilan yah.... hehehe.
Bagi masyarakat di sekitaran Parapat, Ajibata, Motung, Sibisa, Lumbanjulu, Sipanganbolon, Bukit Senyum mungkin sudah tidak asing lagi. Beda halnya bagi wisatawan dari luar, seperti Samosir, Siantar, Medan, Porsea, Balige atau dari mana saja yang mungkin masih asing dengan Bukit Senyum. Jangan khawatir, kami akan mencoba memberikan tips bagaimana cara yang tepat untuk menuju Objek Wisata Bukit Senyum ini.
Objek Wisata Bukit Senyum ini letaknya di Mottung dan tidak jauh dari Ajibata, kira-kira 30 menit bila ditempuh dengan kendaraan roda dua (sepeda motor atau kreta).
Inilah rute yang harus kita tempuh dari Ajibata menuju Mottung. [Catatan: Bila Anda tidak membawa Motor (Kreta) bisa juga menyewa (rental motor). Harganya sudah tertera disana]. Dari Ajibata lurus terus, dan bila sampai di Pantai Longbeach, ada warung disitu, cobalah beli cemilan untuk teman santai nanti, lalu lanjutkan perjalannya. Selanjutnya, bila sudah sampai simpang lurus saja, ingat jangan ngebut, karena jalannya kurang begitu bagus alias berlobang-lobang. Maklum, pemda setempat belum memperhatikan jalan disana. (Semoga setelah membaca tulisan ini, pemda mau memperhatikannya).
Di depan perjalanan akan kita jumpai TUGU Besar, Itu ada sebeluh kiri. Tepat di depan tugu besar tsb, ada simpang. Nah... ikuti saja jalan tsb lalu anda sudah berada di tempat Wisata Bukit Senyum.
Oh iya, di objek wisata Bukit Senyum, boleh nongkrong di sebuah Cafe yang bernama ROBEAN CAFE. Coba nikmati pemandangan Sunset di sore hari serta pemandangan di malam hari. Anda bisa melihat Danau Toba dan Kota Parapat, Ajibata dari Robean Cafe tsb. (Lihat Foto di bawah)
3. Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat
Kota Parapat, Kota ini merupakan salah satu tujuan pariwisata yang berada di Sumatera Utara, bahkan eksotika kota ini pun telah terkenal hingga ke mancanegara. Kota di tepian Danau Toba ini menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia, dikota ini Pada akhir tahun 1948 Presiden RI ke 1 Ir. Soekarno pernah diasingkan di pesanggrahan milik perkebunan belanda. Pemerintah Belanda mengasingkan Presiden Sukarno, Haji Agus Salim dan Sjahrir ke kota Parapat selama kurang lebih dua bulan.
Dari rumah pengasingan ini Bung Karno bisa menikmati keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba. Rumah berlantai 2 yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1820 dengan ukuran 10 x 20 m dan dikelilingi taman kira-kira seluas Dua hektar. Bukti keberadaan Bung karno terlihat dari beberapa lukisan dan perabotan rumah yang dulu dipakai oleh beliau dan beberapa diantaranya seperti Ruang dan tempat tidur, kursi ukir, lukisan, foto, koleksi buku, dan lainnya masih terawat dengan baik di rumah ini.
Wisma pesanggrahan ini memang cukup menarik perhatian bagi yang berkunjung ke kota ini, sebab bangunan ini mengadopsi arsitektur bangunan bergaya klasik yang sering digunakan oleh masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19, dalam sebuah seni arsitektur disebut dengan nama indische architectur yang cukup populer masa itu.
4. Gereja HKBP Parapat
Gereja HKBP Parapat merupakan salah satu tempat peribadatan bagi umat kristiani yang sangat megah oleh karena itu gereja ini kerap dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri untuk tujuan wisata religi (pilgrim tour) selain karena letaknya yang berada di salah satu inti kota wisata di Sumatera Utara dengan pesona Danau Toba, gereja HKBP Parapat memang memiliki nilai historis tersendiri terkait perkembangan dan sejarah kekristenan di Tanah Batak.
Gereja HKBP atau Huria Kristen Batak Protestan adalah persekutuan kristiani yang didirikan sejak ratusan tahun silam di Tanah Batak oleh Nomensen. HKBP kini telah berkembang, hampir di seluruh wilayah di Sumatera Utara dan beberapa provinsi di Indonesia anda dapat menemukan keberadaan gereja ini. Arsitektur bangunan Gereja HKBP Parapat sangatlah menarik dengan dedominasi bangunan-bangunan seperti di eropa. Setiap inci bangunan akan membuat anda terpikat dan benar-benar menyatu serta merasakan kehadiran kuasa Tuhan di tanah Batak.
Sejarah Gereja HKBP Parapat
Bila berbicara tentang keberadaan suatu tempat ibadah kurang lengkap rasanya bila tidak mengulik sejarah terkait. Nah begitu juga dengan Gereja HKBP Parapat. Taukah kamu? Biaya untuk membangun tempat suci ini berjumlah Rp. 3,5 M. Peresmiannya diadakan bertepatan dengan pesta jubileum HKBP yang ke 100 tahun.
Arsitektur Bangunan
Arsitek gereja HKBP Parapat adalah Ir Sahala Simanjuntak. Konsep yang diusung dalam pembangunan gereja ini adalah Batak Eropa. Yang paling menarik adalah keberadaan teras yang bila sepintas dilihat seperti rumah tradisional suku Karo, akan tetapi ternyata tidaklah demikian, teras ini memiliki makna ketritunggalan yakni Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. HKBP Parapat berdiri diatas lahan seluas 1 hektar, bangunannya sendiri memiliki panjang dan lebar 22 m x 29 m. Luas banget kan? Bila kamu ingin berkunjung atau ingin beribadah, gereja ini beralamat di Jalan Bukit Barisan No 17 Parapat.
Itulah salah satu Objek Wisata di Parapat. Kita bisa Traveling seraya mendekatkan diri kepada sang pencipta, menarik banget kan?
5. Bukit Gibeon Sibisa
Bukit Gibeon Sibisa atau Pusat Semenari Bukit Gibeon (PSBG) berada di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Sebuah destinasi wisata yang tergolong baru namun telah berhasil memikat banyak wisatawan untuk datang berkunjung. Mari telusur sejuta manikam pariwisata Sumatera Utara.
Diatas lahan seluas20 hektar, Bukit Gibeon Sibisa Di Toba Samosir pada awalnya dibangun sebagai kawasan retreat bagi umat nasrani. Seiring berjalannya waktu, keunikan dan objek wisata yang berada di tempat ini lambat laun menarik wisatawan datang berkunjung. Bukit Gibeon berada di Desa Parsaoran, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir. Pendirian Pusat Seminari Bukit Gibeon tidak terlepas dari keinginan sang pendiri yakni Ibu Luceria Siagian agar tercipta para penginjil yang siap ditempatkan dimana saja. Sebagai informasi, PSBG telah melahirkan 3 angkatan dengan jumlah 74 orang melalui tahap seleksi.
Pusat Seminari ini diresmikan pada tanggal 14 Mei 2016 dan terdiri dari Rumah Doa, Menara Doa, Gereja, Penginapan, Parking Area dan tentu saja tempat wisata yakni Kolam Renang dan Air Terjun. Arsitektur dari beberapa bangunan di lokasi juga menambah daya tarik, tentu saja karena bentuk dan designnya yang unik, bagi kamu para pecinta fotografi sayang rasanya bila melewatkan diri bila tidak melukis keindahannya melalui cahaya.
Menara Doa
Bangunan yang didirikan untuk para peziarah mendekatan diri kepada sang khalik ini terlihat unik, begitu juga perpaduan warnanya. Sebab itulah mengapa banyak wisatawan berfoto dengan latar Menara Doa. Bila kamu seorang nasrani, sempatkan berdoa dan menikmati kekhusukan. Ada beberapa rumah doa yang telah didirikan dan dapat digunakan oleh pengunjung namun yang paling banyak diminati adalah Rumah Doa Segala Bangsa.
Kolam Renang dan Air Terjun
Keunikan dari kolam renang ini adalah sumber airnya yang berasal dari air terjun dan langsung jatuh ke permukaan kolam renang. Suhu air yang begitu dingin mungkin membuat kamu tidak tahan berlama-lama. Nah karena itu pula lebih banyak pengunjung duduk-duduk atau sekedar menikmati pemandangan.
Aksesibilitas
Perjalanan menuju Sibisa dapat kamu tempuh melalui rute: Medan - Parapat - Desa Parsaoran bila menggunakan transportasi darat dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam. Sedangkan bila menggunakan transportasi udara dari Medan ke Bandar Udara maka anda dapat menempuh rute Kuala Namu - Bandar Udara Silangit - Tarutung - Parapat - Desa Parsaoran. (Oleh: Thomson Edu - Foto: ig: @pariwisata_sumut )
6. Air terjun Binangalom
Parapat tak hanya menyimpan legenda batu gantung yang tersohor, tapi ada objek wisata air terjun yang juga aduhai tak kalah indahnya. Uniknya, air terjun ini turun langsung ke danau. Namanya air terjun Binangalom.
Air Terjun Binangalom letaknya persis berada di pinggir Danau Toba. Nama Binangalom berasal dari desa di dekat air terjun tersebut yang berada di Kecamatan Lumban Julu, kota Parapat, Sumatera Utara. Wisatawan juga sering menyebutya dengan Situmurun Waterfall atau air terjun Situmurun.
Kata "lum" atau "lom"; dalam bahasa Batak artinya adalah air penyejuk. Ya, memang ketika wisatawan mengunjunginya dan mendekati lokasi wisata tersebut sejuknya udara dan keindahannya akan membuat berdecak kagum.
Dari mana asal airnya? Menurut pemandu tur, Salonieta Pangaribuan airnya berasal dari sungai di dekat desa. Ia turun dari tujuh tingkat tebing lalu jatuh ke danau. Sayangnya, lokasi menuju tempat ini terbatas.
Di sini, para wisatawan bisa juga melakukan aktivitas lainnya. Seperti berenang di sekitar air terjun, sampai melihat burung bangau beterbangan mencari ikan.
7. Sibaganding, Girsang Sipangan Bolon, Simalungun
Di Sibaganding terdapat Hutan Lindung Sibatu Loting yang di dalamnya banyak dihuni oleh habitat monyet-monyet liar. Sibaganding yang berada di Huta (desa) Sibanganding, Kecamatan Kota Prapat, Kabupaten Simalungun yang berjarak sekitar 40 km dari Pematang Siantar. Di penangkaran Sibaganding ini monyet berkeliaran dengan bebas. Setiap harinya mereka akan diberi makan oleh penduduk sekitar karena memang tempat ini masih dikelola oleh penduduk.
Tempat wisata yang sangat menarik dengan konsep berbeda, flora dan fauna yang berada di sekitar lokasi menjadikan Sibaganding kerap dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah dan bahkan wisatawan mancanegara.
Penangkaran Monyet Sibaganding, sangat cocok bagi anda untuk berpetualang, menikmati flora dan fauna serta mengenal keanekaragaman lainnya di kawasan hutan lindung.
Memberi Monyet makan dan melihat atraksi serta keakraban berinteraksi antara sekumpulan monyet ini dengan manusia adalah hal yang menyenangkan. Selain itu anda juga dapat menikmati panorama Danau Toba yang sangat mengagumkan.
Sibaganding ini dapat anda tempuh dengan perjalanan sekitar 4 jam dari kota Medan, dan sekitar 1 jam dari kota Pematang Siantar. Anda dapat menggunakan berbagai moda transportasi darat, menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, karena sudah memadai untuk menuju lokasi ini.
Bila anda ingin memasuki kawasan Penangkaran Monyet Sibaganding ini, anda akan dipandu oleh masyarakat setempat.
Penangkaran ini telah dikelola oleh masyarakat setempat sejak beberapa tahun silam, sehingga monyet-monyet yang berada di lokasi sangat akrab dan tidak liar. Mereka telah dididik untuk menjadi hewan yang ramah terhadap pengunjung. Selain melihat monyet, juga dapat menjumpai beruk, kera dan lutung.
Nah... itulah 7 tempat Wisata yang harus kita kunjungi saat berada di Pparapat. Oleh karena itu, Bila Anda Ke Danau Toba Jangan Lewatkan Menikmati Objek Wisata yang ada di Parapat ini. Selamat liburan. Tuhan memberkati. Horas.***
Editor: Tim Batak Network
Sumber: Berbagai Sumber TINJAKSTAR Desember 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Danau Toba (Foto: Google) |
Bila Anda Ke Danau Toba Jangan Lewatkan Menikmati Objek Wisata yang ada di Parapat ini
Parapat Danau Toba adalah sebuah kota kecil di kawasan tepi Danau Toba yang masih dalam kawasan Kabupaten Simalaungun, dan merupakan sebuah kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang lumayan. Parapat juga termasuk salah satu objek wisata populer di Sumatera Utara.
Parapat adalah salah satu kota yang memiliki cerita sendiri. Di Parapat inilah tempat paling sering dirayakan Pesta Danau Toba (PDT) yang kini berubah nama dengan sebutan Fetival Danau Toba (FDT) yang biasanya dirayakan tiap tahunnnya. Sayangnya, akhir-akhir ini FDT tidak lagi dirayakan tiap tahun, tidak tahu apa sebab dan akibatnya. By the way, bila sudah berada di Parapat, jangan lupa untuk membeli Souvenir untuk dijadikan oleh-oleh bagi kerabat terdekat.
Inilah 7 tempat Wisata yang bisa kita kunjungi saat berada di Parapat
1. Batu Gantung
Salah satu Objek Wisata yang paling populer di seputaran Danau Toba yang masih dekat dengan Parapat adalah BATU GANTUNG. Batu Gantung ini bukan hanya populer di Sumatera Utara saja, malah sudah mendunia.
Batu Gantung adalah sebuah pahatan alam berupa bebatuan yang terletak di Parapat, Sumatera Utara. Jika Anda pernah melancong ke Danau Toba, pasti Anda tidak melewatkan objek wisata ini. Hampir seluruh wisatawan domestik dan mancanegara yang hendak ke Danau Toba dan Pulau Samosir, mampir ke Batu Gantung ini. Kenapa diberi nama Batu Gantung? Tidak lain adalah karena letak batunya yang tampak menggantung ke bawah.
Batu ini terlihat menyerupai postur tubuh manusia dengan posisi lurus ke bawah dengan keadaan terbalik. Banyak sekali legenda yang berkembang di masyarakat secara turun temurun tentang asal muasal terbentuknya fenomena alam ini.
![]() |
| Salah satu Objek Wisata yang paling populer di seputaran Danau Toba yang masih dekat dengan Parapat adalah BATU GANTUNG |
Secara geografis, Batu Gantung terletak dalam jarak yang tidak begitu jauh dari perairan Danau Toba. Persisnya terletak di Kota Parapat, Sumatera Utara. Batuan ini akan membuat Anda terpana karena posisinya yang memang menggantung dari bebatuan sekitar tebing. Ukuran tinggi dari objek yang cukup menarik perhatian wisatawan ini adalah sekitar 2 meter. Sehingga, semakin menyegarkan ingatan kita terhadap sosok manusia. Batu ini terlihat seolah akan lepas dari tepian tebing dan ambruk jatuh ke bawah. Namun, dari dulu tetap saja bebatuan tersebut menggantung dengan ajaibnya.
Area di sekitar batu gantung cukup membuat Anda harus berhati-hati karena tebing tempat batu gantung berada lokasi yang cukup tinggi dan anda perlu melihat ke bawah untuk dapat menyaksikan secara penuh seputar detail batu gantung ini. Lokasi batu khas ini berjarak sekitar 176 km dari ibukota Medan. Karena berdekatan dengan Danau Toba, maka area Batu Gantung dikelilingi pemandangan yang sangat indah dan suasana yang masih asri.
Keberadaan Batu Gantung ini akan sangat menarik perhatian. Bentuknya yang tidak biasa membuatnya banyak dikunjungi oleh para pelancong, terutama yang memilih Danau Toba dan Samosir sebagai tujuan wisatanya. Maka dari itu, banyak objek wisata lainnya yang akan jadi persinggahan Anda saat tiba di lokasi Batu Gantung. Selain mengelilingi Kota Parapat itu sendiri, Anda juga dapat memenuhi hasrat kuliner dengan masakan khas Sumatera Utara yang mudah Anda temui di sepanjang Kota. Anda juga dapat memilih penginapan dengan tarif yang sesuai dengan budget Anda, seperti Danau Toba International Cottage. Jika Anda merasa ingin tinggal lebih lama lagi di Kota Parapat.
Untuk melihat Batu Gantung ini ada dua alternatif yang kami sarankan. Pertama, kita bisa menyewa Kapal atau ikut rombongan (bersama yang lain) untuk menuju tempat wisata Batu Gantung ini. Tentunya kita mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Bagi wisata lokal hal ini tentu sangatlah mahal, tapi bagi pendatang, soal uang bukanlah kendala. Alternatif kedua adalah nongkrong di kedai (warung / rumah makan) RINGOSTAR. Dari rumah makan RingoStar ini, kita bisa meliha melihat Batu Gantung dari Panatapan Sualan. Kita bisa memesan Kopi Hangat sembari menikmati Pemandangan yang indah serta bisa melihat Batu Gantung. Tapi semua tergantung Kita mau pilih cara alternatif yang mana. Selamat menikmati Objek Wisata Batu Gantung.
2. Bukit Senyum
Salah satu Objek Wisata di Seputaran Danau Toba adalah BUKIT SENYUM. Sebenarnya tempat ini tidak sepenuh nya di Parapat, tapi etaknya di Motung.. Bukit Senyum adalah tempat yang pas buat kita untuk menikmati keindahan Sunset Danau Toba.
Anda suka Berfoto? Nah... Objek Wisata Bukit Senyum sangatlah pas dan tepat bagi Anda untuk berfoto ria. Kenapa? Alasannya adalah kita bisa berfoto dengan latar belakang Danau Toba. Biasanya, Bukit Senyum ini digemari oleh kaum muda, Alasanya adalah karena bisa berfoto ria, dan Bukit Senyum ini akan terlihat ramai pada sore hari untuk menikmati Sunset. Oh iya, bila ingin menikmati Objek Wisata Bukit Senyum jangan lupa untuk membawa cemilan yah.... hehehe.
Bagi masyarakat di sekitaran Parapat, Ajibata, Motung, Sibisa, Lumbanjulu, Sipanganbolon, Bukit Senyum mungkin sudah tidak asing lagi. Beda halnya bagi wisatawan dari luar, seperti Samosir, Siantar, Medan, Porsea, Balige atau dari mana saja yang mungkin masih asing dengan Bukit Senyum. Jangan khawatir, kami akan mencoba memberikan tips bagaimana cara yang tepat untuk menuju Objek Wisata Bukit Senyum ini.
Objek Wisata Bukit Senyum ini letaknya di Mottung dan tidak jauh dari Ajibata, kira-kira 30 menit bila ditempuh dengan kendaraan roda dua (sepeda motor atau kreta).
Ajibata adalah salah satu pelabuhan menuju Pulau Samosir selain Balige. Di Ajibata ada dua pelabuhan; reguler (untuk kapal-kapal kayu tradisional pengangkut penumpang) dan pelabuhan ferry yang menyeberangkan mobil, barang dan orang dari dan ke Pulau Samosir.
Inilah rute yang harus kita tempuh dari Ajibata menuju Mottung. [Catatan: Bila Anda tidak membawa Motor (Kreta) bisa juga menyewa (rental motor). Harganya sudah tertera disana]. Dari Ajibata lurus terus, dan bila sampai di Pantai Longbeach, ada warung disitu, cobalah beli cemilan untuk teman santai nanti, lalu lanjutkan perjalannya. Selanjutnya, bila sudah sampai simpang lurus saja, ingat jangan ngebut, karena jalannya kurang begitu bagus alias berlobang-lobang. Maklum, pemda setempat belum memperhatikan jalan disana. (Semoga setelah membaca tulisan ini, pemda mau memperhatikannya).
Di depan perjalanan akan kita jumpai TUGU Besar, Itu ada sebeluh kiri. Tepat di depan tugu besar tsb, ada simpang. Nah... ikuti saja jalan tsb lalu anda sudah berada di tempat Wisata Bukit Senyum.
Oh iya, di objek wisata Bukit Senyum, boleh nongkrong di sebuah Cafe yang bernama ROBEAN CAFE. Coba nikmati pemandangan Sunset di sore hari serta pemandangan di malam hari. Anda bisa melihat Danau Toba dan Kota Parapat, Ajibata dari Robean Cafe tsb. (Lihat Foto di bawah)
![]() |
| Menikmati Pemandangan Yang Indah (Danau Toba, Parapat, Ajibata) dari Bukit Senyum di Robean Cafe - (Foto: pardsn.blogspot.co.id) |
3. Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat
Kota Parapat, Kota ini merupakan salah satu tujuan pariwisata yang berada di Sumatera Utara, bahkan eksotika kota ini pun telah terkenal hingga ke mancanegara. Kota di tepian Danau Toba ini menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia, dikota ini Pada akhir tahun 1948 Presiden RI ke 1 Ir. Soekarno pernah diasingkan di pesanggrahan milik perkebunan belanda. Pemerintah Belanda mengasingkan Presiden Sukarno, Haji Agus Salim dan Sjahrir ke kota Parapat selama kurang lebih dua bulan.
![]() |
| Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat (Foto: tribunnews) |
Dari rumah pengasingan ini Bung Karno bisa menikmati keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba. Rumah berlantai 2 yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1820 dengan ukuran 10 x 20 m dan dikelilingi taman kira-kira seluas Dua hektar. Bukti keberadaan Bung karno terlihat dari beberapa lukisan dan perabotan rumah yang dulu dipakai oleh beliau dan beberapa diantaranya seperti Ruang dan tempat tidur, kursi ukir, lukisan, foto, koleksi buku, dan lainnya masih terawat dengan baik di rumah ini.
![]() |
| Presiden Soekarno dan H. Agus Salim, Tahun 1948. (Foto: simedan.com) |
Wisma pesanggrahan ini memang cukup menarik perhatian bagi yang berkunjung ke kota ini, sebab bangunan ini mengadopsi arsitektur bangunan bergaya klasik yang sering digunakan oleh masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19, dalam sebuah seni arsitektur disebut dengan nama indische architectur yang cukup populer masa itu.
4. Gereja HKBP Parapat
Gereja HKBP Parapat merupakan salah satu tempat peribadatan bagi umat kristiani yang sangat megah oleh karena itu gereja ini kerap dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri untuk tujuan wisata religi (pilgrim tour) selain karena letaknya yang berada di salah satu inti kota wisata di Sumatera Utara dengan pesona Danau Toba, gereja HKBP Parapat memang memiliki nilai historis tersendiri terkait perkembangan dan sejarah kekristenan di Tanah Batak.
![]() |
| Gereja HKBP Parapat (Foto: pariwisatasumut.net) |
Gereja HKBP atau Huria Kristen Batak Protestan adalah persekutuan kristiani yang didirikan sejak ratusan tahun silam di Tanah Batak oleh Nomensen. HKBP kini telah berkembang, hampir di seluruh wilayah di Sumatera Utara dan beberapa provinsi di Indonesia anda dapat menemukan keberadaan gereja ini. Arsitektur bangunan Gereja HKBP Parapat sangatlah menarik dengan dedominasi bangunan-bangunan seperti di eropa. Setiap inci bangunan akan membuat anda terpikat dan benar-benar menyatu serta merasakan kehadiran kuasa Tuhan di tanah Batak.
Sejarah Gereja HKBP Parapat
Bila berbicara tentang keberadaan suatu tempat ibadah kurang lengkap rasanya bila tidak mengulik sejarah terkait. Nah begitu juga dengan Gereja HKBP Parapat. Taukah kamu? Biaya untuk membangun tempat suci ini berjumlah Rp. 3,5 M. Peresmiannya diadakan bertepatan dengan pesta jubileum HKBP yang ke 100 tahun.
Arsitektur Bangunan
Arsitek gereja HKBP Parapat adalah Ir Sahala Simanjuntak. Konsep yang diusung dalam pembangunan gereja ini adalah Batak Eropa. Yang paling menarik adalah keberadaan teras yang bila sepintas dilihat seperti rumah tradisional suku Karo, akan tetapi ternyata tidaklah demikian, teras ini memiliki makna ketritunggalan yakni Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. HKBP Parapat berdiri diatas lahan seluas 1 hektar, bangunannya sendiri memiliki panjang dan lebar 22 m x 29 m. Luas banget kan? Bila kamu ingin berkunjung atau ingin beribadah, gereja ini beralamat di Jalan Bukit Barisan No 17 Parapat.
Itulah salah satu Objek Wisata di Parapat. Kita bisa Traveling seraya mendekatkan diri kepada sang pencipta, menarik banget kan?
5. Bukit Gibeon Sibisa
Bukit Gibeon Sibisa atau Pusat Semenari Bukit Gibeon (PSBG) berada di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Sebuah destinasi wisata yang tergolong baru namun telah berhasil memikat banyak wisatawan untuk datang berkunjung. Mari telusur sejuta manikam pariwisata Sumatera Utara.
| Wisata Bukit Gibeon Sibisa Di Toba (Foto: pariwisatasumut.net) |
Diatas lahan seluas20 hektar, Bukit Gibeon Sibisa Di Toba Samosir pada awalnya dibangun sebagai kawasan retreat bagi umat nasrani. Seiring berjalannya waktu, keunikan dan objek wisata yang berada di tempat ini lambat laun menarik wisatawan datang berkunjung. Bukit Gibeon berada di Desa Parsaoran, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir. Pendirian Pusat Seminari Bukit Gibeon tidak terlepas dari keinginan sang pendiri yakni Ibu Luceria Siagian agar tercipta para penginjil yang siap ditempatkan dimana saja. Sebagai informasi, PSBG telah melahirkan 3 angkatan dengan jumlah 74 orang melalui tahap seleksi.
Pusat Seminari ini diresmikan pada tanggal 14 Mei 2016 dan terdiri dari Rumah Doa, Menara Doa, Gereja, Penginapan, Parking Area dan tentu saja tempat wisata yakni Kolam Renang dan Air Terjun. Arsitektur dari beberapa bangunan di lokasi juga menambah daya tarik, tentu saja karena bentuk dan designnya yang unik, bagi kamu para pecinta fotografi sayang rasanya bila melewatkan diri bila tidak melukis keindahannya melalui cahaya.
Menara Doa
Bangunan yang didirikan untuk para peziarah mendekatan diri kepada sang khalik ini terlihat unik, begitu juga perpaduan warnanya. Sebab itulah mengapa banyak wisatawan berfoto dengan latar Menara Doa. Bila kamu seorang nasrani, sempatkan berdoa dan menikmati kekhusukan. Ada beberapa rumah doa yang telah didirikan dan dapat digunakan oleh pengunjung namun yang paling banyak diminati adalah Rumah Doa Segala Bangsa.
Kolam Renang dan Air Terjun
Keunikan dari kolam renang ini adalah sumber airnya yang berasal dari air terjun dan langsung jatuh ke permukaan kolam renang. Suhu air yang begitu dingin mungkin membuat kamu tidak tahan berlama-lama. Nah karena itu pula lebih banyak pengunjung duduk-duduk atau sekedar menikmati pemandangan.
Aksesibilitas
Perjalanan menuju Sibisa dapat kamu tempuh melalui rute: Medan - Parapat - Desa Parsaoran bila menggunakan transportasi darat dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam. Sedangkan bila menggunakan transportasi udara dari Medan ke Bandar Udara maka anda dapat menempuh rute Kuala Namu - Bandar Udara Silangit - Tarutung - Parapat - Desa Parsaoran. (Oleh: Thomson Edu - Foto: ig: @pariwisata_sumut )
6. Air terjun Binangalom
Parapat tak hanya menyimpan legenda batu gantung yang tersohor, tapi ada objek wisata air terjun yang juga aduhai tak kalah indahnya. Uniknya, air terjun ini turun langsung ke danau. Namanya air terjun Binangalom.
![]() |
| Air terjun Binangalom (Foto: dimedan.co) |
Air Terjun Binangalom letaknya persis berada di pinggir Danau Toba. Nama Binangalom berasal dari desa di dekat air terjun tersebut yang berada di Kecamatan Lumban Julu, kota Parapat, Sumatera Utara. Wisatawan juga sering menyebutya dengan Situmurun Waterfall atau air terjun Situmurun.
Kata "lum" atau "lom"; dalam bahasa Batak artinya adalah air penyejuk. Ya, memang ketika wisatawan mengunjunginya dan mendekati lokasi wisata tersebut sejuknya udara dan keindahannya akan membuat berdecak kagum.
Dari mana asal airnya? Menurut pemandu tur, Salonieta Pangaribuan airnya berasal dari sungai di dekat desa. Ia turun dari tujuh tingkat tebing lalu jatuh ke danau. Sayangnya, lokasi menuju tempat ini terbatas.
Di sini, para wisatawan bisa juga melakukan aktivitas lainnya. Seperti berenang di sekitar air terjun, sampai melihat burung bangau beterbangan mencari ikan.
7. Sibaganding, Girsang Sipangan Bolon, Simalungun
Di Sibaganding terdapat Hutan Lindung Sibatu Loting yang di dalamnya banyak dihuni oleh habitat monyet-monyet liar. Sibaganding yang berada di Huta (desa) Sibanganding, Kecamatan Kota Prapat, Kabupaten Simalungun yang berjarak sekitar 40 km dari Pematang Siantar. Di penangkaran Sibaganding ini monyet berkeliaran dengan bebas. Setiap harinya mereka akan diberi makan oleh penduduk sekitar karena memang tempat ini masih dikelola oleh penduduk.
![]() |
| Monkey Forest di Sibaganding, Simalungun (Foto: griyawisata.com) |
Tempat wisata yang sangat menarik dengan konsep berbeda, flora dan fauna yang berada di sekitar lokasi menjadikan Sibaganding kerap dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah dan bahkan wisatawan mancanegara.
Penangkaran Monyet Sibaganding, sangat cocok bagi anda untuk berpetualang, menikmati flora dan fauna serta mengenal keanekaragaman lainnya di kawasan hutan lindung.
Memberi Monyet makan dan melihat atraksi serta keakraban berinteraksi antara sekumpulan monyet ini dengan manusia adalah hal yang menyenangkan. Selain itu anda juga dapat menikmati panorama Danau Toba yang sangat mengagumkan.
Sibaganding ini dapat anda tempuh dengan perjalanan sekitar 4 jam dari kota Medan, dan sekitar 1 jam dari kota Pematang Siantar. Anda dapat menggunakan berbagai moda transportasi darat, menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, karena sudah memadai untuk menuju lokasi ini.
Bila anda ingin memasuki kawasan Penangkaran Monyet Sibaganding ini, anda akan dipandu oleh masyarakat setempat.
Penangkaran ini telah dikelola oleh masyarakat setempat sejak beberapa tahun silam, sehingga monyet-monyet yang berada di lokasi sangat akrab dan tidak liar. Mereka telah dididik untuk menjadi hewan yang ramah terhadap pengunjung. Selain melihat monyet, juga dapat menjumpai beruk, kera dan lutung.
Nah... itulah 7 tempat Wisata yang harus kita kunjungi saat berada di Pparapat. Oleh karena itu, Bila Anda Ke Danau Toba Jangan Lewatkan Menikmati Objek Wisata yang ada di Parapat ini. Selamat liburan. Tuhan memberkati. Horas.***
Editor: Tim Batak Network
Sumber: Berbagai Sumber TINJAKSTAR Desember 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Bila Anda Ke Danau Toba Jangan Lewatkan Menikmati Objek Wisata yang ada di Parapat ini
Posted by FACE BATAK on Minggu, 04 Desember 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini kita berbagi tentang sebuah peristiwa Isu Begu Ganjang yang lagi trending topik di berbagai media online, khususnya media online daerah dari Sumatera Utara. Sebelumnya simak dulu berita yang beredar di bawah ini.
Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya
Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di Sumatera Utara, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. Selain itu gejala ini menjadi tantangan serius bagi kehadiran kekristenan dalam karya pastoralnya di tengah-tengah jemaat.
Paparan ini bukan bermaksud menjawab segala persoalan yang muncul sehubungan dengan begu ganjang, tapi hanya sebatas memberikan sedikit pemahaman terminologis dan sikap pastoral apa yang bisa dilakukan berhadapan dengan isu begu ganjang.
Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku Batak Toba sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Batak Toba (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang Batak Toba kuno telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang Batak Toba kuno sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.
Masyarakat Batak Toba kuno telah berhasil mengembangkan suatu bentuk keagamaan primitif dengan menampilkan tokoh keallahan, diantaranya Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia, Debata Natolu yang terdiri dari Bataraguru, Soripada, dan Mangalabulan, dan terakhir adalah Debata Asiasi sebagai lambang kesatuan serta totalitas.
Zat kehidupan
Selanjutnya, masyarakat Batak Toba kuno percaya, disamping para Debata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tondi dan begu.
Tondi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tondi. Tondi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang Batak Toba kuno mengenal dua jenis tondi, yaitu: tondi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tondi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tondi-nya.
Kehadiran tondi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tondi, atau kepergian tondi dari tubuh manusia. Bila kepergian tondi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tondi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian (R. Pasaribu, 1988:130-131).
Rasa takut
Apabila orang meninggal dunia, maka tondi berobah menjadi begu (Ph.L.Tobing, 1956:101). Jadi roh-roh yang menjadi begu inilah yang menimbulkan rasa takut bagi manusia yang masih hidup. Adanya rasa takut menjadi faktor utama aktivitas orang Batak Toba kuno untuk mengkultuskannya. Ini pula menjadi dasar ritus (kebaktian), yaitu upaya menghormati dan memuja begu sesuai keyakinannya (R.Pasaribu, 1988:125).
Pada umumnya begu dibagi dua golongan, yaitu (1) begu dari orang yang sudah meninggal, dan (2) begu lain yang berkeliaran di alam semesta yang secara umum dalam bahasa sehari-hari biasa disebut hantu (Parkin, 1978:148). Menurut sifatnya ada begu yang jahat dan begu yang baik (Marbun-Harahap, 1987:30). Sebenarnya orang Batak Toba kuno tidak menyebut begu kepada arwah orang yang dihormatinya. Arwah orang yang dicintai dan dihormati biasa disebut dengan sumangot (roh yang dipuja) dan sombaon (roh yang disembah).
Sehubungan dengan itulah ada ritus pemujaan nenek moyang berupa penggalian tulang belulang dari kuburan sementara (mangongkal holi) dan pemakaman kembali yang dilakukan bagi leluhur yang dianggap memiliki pengaruh istimewa. Melalui penghormatan, misalnya, dalam upacara adat diharap, bahwa roh nenek moyang akan diangkat menjadi sumangot. Bila dilakukan penghormatan lebih besar lagi bagi sumangot dan keturunannya menjadi kelompok besar, maka sumangot menjadi sombaon. Sombaon dipandang sebagai roh yang berkuasa dan harus dihormati, malah dipercaya dekat dengan para Debata yang menguasai kehidupan manusia.
Ada bermacam ragam sebutan untuk arwah orang mati yang dinamai begu, antara lain adalah begu laos bagi arwah orang yang semasa hidupnya merupakan pengemis, begu gunung untuk arwah orang yang sewaktu hidup bekerja sebagai pandai besi, konon arwahnya ditempatkan oleh Mulajadi Nabolon di puncak gunung. Begu jau adalah arwah orang yang tidak dikenal, begu nurnur bagi arwah orang yang mati tapi tempatnya belum sempat diukur sewaktu dimakamkan, begu siharhar untuk orang yang mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Sementara begu antuk (roh pemukul) dan begu ganjang adalah sebutan bagi begu yang dapat memukul orang dengan tiba-tiba hingga menemui ajalnya. Kedua jenis begu ini dianggap banyak menyebarkan penyakit menular seperti kolera, sampar dan sebagainya.
Demikian ulasan singkat mengenai paham orang Batak Toba kuno tentang begu dalam koteks ‘pneumatologi’ Batak Toba tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di Sumatera Utara sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
Pendampingan pastoral?
Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat atau umat yang menyebarluaskan isu begu ganjang sebetulnya dibutuhkan pendekatan pastoral yang bijaksana.
Terlepas dari persoalan apakah memang begu ganjang ada atau tidak, menarik untuk mengamati mengapa masyarakat menghembuskan isu begu ganjang tersebut. Berbagai faktor, misalnya, kecemburuan sosial, persoalan ekonomi, dan persaingan politis bisa mendasari orang memunculkan isu begu ganjang. Kegersangan dan kehampaan iman kristiani serta kebuntuan dalam menghadapi segala jenis persoalan kehidupan sehari-hari juga dapat merangsang orang untuk cepat melemparkan tanggungjawab dan kesalahan kepada pihak lain. Dengan meminjam terminologi begu ganjang orang merasa lebih gampang menghakimi pihak lawan atau orang lain yang tidak disenangi sebagai pihak yang bersalah, sumber permasalahan, dan penderitaan, maka harus segera dibinasakan.
Berhadapan dengan gejala ini beberapa kebijakan pastoral yang barangkali bisa dilakukan adalah:
Pertama, memberikan penjelasan yang benar secara antropologis, historis dan sosiologis kepada jemaat seputar begu ganjang, sehingga orang mengerti latar belakang kemunculan kata begu ganjang pada masyarakat.
Kedua, menggalakkan diskusi dan seminar secara teratur mengenai isu yang hangat di masyarakat, sehingga umat merasa terlibat dan turut memikirkan pemecahan atas persoalan yang muncul di antara mereka.
Ketiga, mengadakan pendekatan dan pendampingan pastoral kepada kedua belah pihak baik korban atau pihak yang dituduh memelihara begu ganjang, maupun kelompok masyarakat yang yang sudah dan/atau potensial bertindak anarkis.
Demikian turi-turian ini kami sampaikan, semoga bisa berguna dan bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Lihat Video di bawah ini:
Sumber: Facebook TINJAKSTAR September 05, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya |
Isu Begu Ganjang, Warga Lempari Rumah Sembiring di Lapangan Bola Bawah
LINTAS PULIK-SIANTAR, Gara-gara isu begu ganjang, ratusan masyarakat dari Kelurahan Pardamean dan Kelurahan Parhorasan Nauli menyerbu rumah yang ditempati S Sembiring/br Perangin-angin yang terletak di Lapangan Bola Bawah Jalan Farel Pasaribu No.141,Minggu malam (5/9/2016).
Dalam kejadian ini, masyarakat sempat melempari rumah S Sembiring dengan batu hingga beberapa jendela kaca berpecahan. Diduga,masyakat terprovokasi adanya informasi bahwa keluarga S Sembiring diduga pelihara begu ganjang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari masyarakat,emosi warga memuncak karena adanya salah seorang warga kesurupan di rumah S Sembiring.
"Pak Tarigan (50 thn) yang kesurupan itu. Anehnya, (yang kesurupan) tak sadar datang ke rumah S Sembiring sekira pukul 21.00 WIB saat hujan turun,"kata salah seorang warga yang enggan namanya disebutkan, Senin (5/9/2016).
Salah seorang pemuda malah meminta kepolisian untuk mendampingi masyarakat,untuk menggeledah rumah S Sembiring.
"Kita minta untuk didampingi,agar warga bisa masuk ke rumah S Sembiring. Sehingga penasaran warga selama 3-4 tahun dapat terjawab,"ucap pemuda yang masih berkumpul di lokasi kejadian.
Saat ini, masih berlangsung mediasi di Kantor Kecamatan Siantar Marihat antara warga Kelurahan Pardamean dan Kelurahan Parhorasan Nauli dengan keluarga S Sembiring/br Perangin-angin. Mediasi ini dipimpin Camat Siantar Marihat,Danramil 02/SS. (http://www.lintaspublik.com/2016/09/isu-begu-ganjang-warga-lempari-rumah.html)
Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya
Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di Sumatera Utara, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. Selain itu gejala ini menjadi tantangan serius bagi kehadiran kekristenan dalam karya pastoralnya di tengah-tengah jemaat.
Paparan ini bukan bermaksud menjawab segala persoalan yang muncul sehubungan dengan begu ganjang, tapi hanya sebatas memberikan sedikit pemahaman terminologis dan sikap pastoral apa yang bisa dilakukan berhadapan dengan isu begu ganjang.
Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku Batak Toba sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Batak Toba (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang Batak Toba kuno telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang Batak Toba kuno sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.
Masyarakat Batak Toba kuno telah berhasil mengembangkan suatu bentuk keagamaan primitif dengan menampilkan tokoh keallahan, diantaranya Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia, Debata Natolu yang terdiri dari Bataraguru, Soripada, dan Mangalabulan, dan terakhir adalah Debata Asiasi sebagai lambang kesatuan serta totalitas.
Zat kehidupan
Selanjutnya, masyarakat Batak Toba kuno percaya, disamping para Debata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tondi dan begu.
Tondi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tondi. Tondi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang Batak Toba kuno mengenal dua jenis tondi, yaitu: tondi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tondi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tondi-nya.
Kehadiran tondi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tondi, atau kepergian tondi dari tubuh manusia. Bila kepergian tondi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tondi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian (R. Pasaribu, 1988:130-131).
Rasa takut
Apabila orang meninggal dunia, maka tondi berobah menjadi begu (Ph.L.Tobing, 1956:101). Jadi roh-roh yang menjadi begu inilah yang menimbulkan rasa takut bagi manusia yang masih hidup. Adanya rasa takut menjadi faktor utama aktivitas orang Batak Toba kuno untuk mengkultuskannya. Ini pula menjadi dasar ritus (kebaktian), yaitu upaya menghormati dan memuja begu sesuai keyakinannya (R.Pasaribu, 1988:125).
Pada umumnya begu dibagi dua golongan, yaitu (1) begu dari orang yang sudah meninggal, dan (2) begu lain yang berkeliaran di alam semesta yang secara umum dalam bahasa sehari-hari biasa disebut hantu (Parkin, 1978:148). Menurut sifatnya ada begu yang jahat dan begu yang baik (Marbun-Harahap, 1987:30). Sebenarnya orang Batak Toba kuno tidak menyebut begu kepada arwah orang yang dihormatinya. Arwah orang yang dicintai dan dihormati biasa disebut dengan sumangot (roh yang dipuja) dan sombaon (roh yang disembah).
Sehubungan dengan itulah ada ritus pemujaan nenek moyang berupa penggalian tulang belulang dari kuburan sementara (mangongkal holi) dan pemakaman kembali yang dilakukan bagi leluhur yang dianggap memiliki pengaruh istimewa. Melalui penghormatan, misalnya, dalam upacara adat diharap, bahwa roh nenek moyang akan diangkat menjadi sumangot. Bila dilakukan penghormatan lebih besar lagi bagi sumangot dan keturunannya menjadi kelompok besar, maka sumangot menjadi sombaon. Sombaon dipandang sebagai roh yang berkuasa dan harus dihormati, malah dipercaya dekat dengan para Debata yang menguasai kehidupan manusia.
Ada bermacam ragam sebutan untuk arwah orang mati yang dinamai begu, antara lain adalah begu laos bagi arwah orang yang semasa hidupnya merupakan pengemis, begu gunung untuk arwah orang yang sewaktu hidup bekerja sebagai pandai besi, konon arwahnya ditempatkan oleh Mulajadi Nabolon di puncak gunung. Begu jau adalah arwah orang yang tidak dikenal, begu nurnur bagi arwah orang yang mati tapi tempatnya belum sempat diukur sewaktu dimakamkan, begu siharhar untuk orang yang mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Sementara begu antuk (roh pemukul) dan begu ganjang adalah sebutan bagi begu yang dapat memukul orang dengan tiba-tiba hingga menemui ajalnya. Kedua jenis begu ini dianggap banyak menyebarkan penyakit menular seperti kolera, sampar dan sebagainya.
Demikian ulasan singkat mengenai paham orang Batak Toba kuno tentang begu dalam koteks ‘pneumatologi’ Batak Toba tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di Sumatera Utara sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
Pendampingan pastoral?
Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat atau umat yang menyebarluaskan isu begu ganjang sebetulnya dibutuhkan pendekatan pastoral yang bijaksana.
Terlepas dari persoalan apakah memang begu ganjang ada atau tidak, menarik untuk mengamati mengapa masyarakat menghembuskan isu begu ganjang tersebut. Berbagai faktor, misalnya, kecemburuan sosial, persoalan ekonomi, dan persaingan politis bisa mendasari orang memunculkan isu begu ganjang. Kegersangan dan kehampaan iman kristiani serta kebuntuan dalam menghadapi segala jenis persoalan kehidupan sehari-hari juga dapat merangsang orang untuk cepat melemparkan tanggungjawab dan kesalahan kepada pihak lain. Dengan meminjam terminologi begu ganjang orang merasa lebih gampang menghakimi pihak lawan atau orang lain yang tidak disenangi sebagai pihak yang bersalah, sumber permasalahan, dan penderitaan, maka harus segera dibinasakan.
Berhadapan dengan gejala ini beberapa kebijakan pastoral yang barangkali bisa dilakukan adalah:
Pertama, memberikan penjelasan yang benar secara antropologis, historis dan sosiologis kepada jemaat seputar begu ganjang, sehingga orang mengerti latar belakang kemunculan kata begu ganjang pada masyarakat.
Kedua, menggalakkan diskusi dan seminar secara teratur mengenai isu yang hangat di masyarakat, sehingga umat merasa terlibat dan turut memikirkan pemecahan atas persoalan yang muncul di antara mereka.
Ketiga, mengadakan pendekatan dan pendampingan pastoral kepada kedua belah pihak baik korban atau pihak yang dituduh memelihara begu ganjang, maupun kelompok masyarakat yang yang sudah dan/atau potensial bertindak anarkis.
Demikian turi-turian ini kami sampaikan, semoga bisa berguna dan bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Lihat Video di bawah ini:
Sumber: Facebook TINJAKSTAR September 05, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami hadir ke hadapan Anda untuk menyampaikan turi-turian yang baik dan berguna untuk kita. Adapun turi-turian tsb adalah tentang "Ketika Presiden Jokowi Hadiri Karnaval Pesona Danau Toba di Tano Batak Pulo Samosir".
Suatu kebanggaan bagi mayarakat Sumatera Utara, khususnya Orang Batak ketika Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan datang dan menghadiri Acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba di Samosir SUmatera Utara. Kehadiran bapak Presiden Jokowi (sebutan akrab Presiden Joko Widodo) sangat menyenangkan hati orang batak, bukan hanya yang ada di Samosir bahkan seluruh orang batak yang ada di muka bumi ini.
Tahukah Anda, bahwa sudah 71 tahun Indonesia merayakan Kemerdekaan, untuk pertama kalinya Presiden RI bisa datang dan menyemarakkan Pesona Danau Toba di Samosir. Terimakasih Bapak Jokowi beserta ibu dan rombongan telah datang ke tano Batak. Mungkin ANda bertanya benarkah penyataan kami ini? Benar apa adanya. Presiden-Presiden RI sebelumnya tidak pernah datang ke Samosir, mereka hanya melihat Pulau Samosir dari kejauhan saja, seperti dari Medan ada juga hanya dari pinggiran danau toba seperti dari Parapat itu pun hanya melihat-lihat saja. Kami tidak perlulah menyebutkan siapa Presiden RI yang hanya melihat-lihat Pulau Samosir dari kejauhan itu.
Alasan Presiden Joko Widodo datang ke Pulau Samosir
Tentunya kehadrian bapak Presiden Jokowi ke Danau Toba bukanlah hanya sekedar melihat-lihat saja. Lebih dari pada itu. Presiden Jokowi ikut menyamarakkan acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT) dan ingin mengembangkan Wisata Danau Toba.
Adapun harapan dan rencana Presdien Jokowi dalam pengembangan Wisata Danau Toba tsb adalah:
Tentunya, pengembangan Wisata Danau Toba ini bukan hanya membuat masyarakat disekitar Danau Toba senang, tapi seluruh orang Batak yang ada di muka bumi ini. Selain itu, tentu akan mengharumkan nama Provinsi Sumatera Utara dan Negara Republik Indonesia.
Tapi yang jelas, Kehadrian Presiden Jokowi di Acara Karnaval Pesona Danau Toba akan membawa angin segar akan Wisata Danai Toba. Terimakasih pak Jokowi, terimakasih Pak Presiden.
Inilah Video Ketika Presiden Jokowi Hadiri Karnaval Pesona Danau Toba di Tano Batak Pulo Samosir
Demikian turi-turian ini kami sampaikan. Horas. Tuhan memberkati.
Sumber Video: Youtube TINJAKSTAR Agustus 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Presiden Jokowi beserta rombongan naik kapal fery menuju Samosir |
Suatu kebanggaan bagi mayarakat Sumatera Utara, khususnya Orang Batak ketika Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan datang dan menghadiri Acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba di Samosir SUmatera Utara. Kehadiran bapak Presiden Jokowi (sebutan akrab Presiden Joko Widodo) sangat menyenangkan hati orang batak, bukan hanya yang ada di Samosir bahkan seluruh orang batak yang ada di muka bumi ini.
![]() |
| Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana disambut Tua-Tua Adat di Samosir |
Tahukah Anda, bahwa sudah 71 tahun Indonesia merayakan Kemerdekaan, untuk pertama kalinya Presiden RI bisa datang dan menyemarakkan Pesona Danau Toba di Samosir. Terimakasih Bapak Jokowi beserta ibu dan rombongan telah datang ke tano Batak. Mungkin ANda bertanya benarkah penyataan kami ini? Benar apa adanya. Presiden-Presiden RI sebelumnya tidak pernah datang ke Samosir, mereka hanya melihat Pulau Samosir dari kejauhan saja, seperti dari Medan ada juga hanya dari pinggiran danau toba seperti dari Parapat itu pun hanya melihat-lihat saja. Kami tidak perlulah menyebutkan siapa Presiden RI yang hanya melihat-lihat Pulau Samosir dari kejauhan itu.
![]() |
| Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana diberi Ulos kehormatan dan Tongkat kebesaran Bangso Batak |
Alasan Presiden Joko Widodo datang ke Pulau Samosir
Tentunya kehadrian bapak Presiden Jokowi ke Danau Toba bukanlah hanya sekedar melihat-lihat saja. Lebih dari pada itu. Presiden Jokowi ikut menyamarakkan acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT) dan ingin mengembangkan Wisata Danau Toba.
Adapun harapan dan rencana Presdien Jokowi dalam pengembangan Wisata Danau Toba tsb adalah:
- Pengembangan Bandara Sibisa dan Silangit sebagai infrastruktur yang Akan Dibangun di Sumut untuk Mendukung Pariwisata)
- Pengembangan jalan tol, dimana Pemerintah akan mengembangkan jalan tol Siantar-Parapat sepanjang 97 km. Rencana tersebut akan dimulai pada tahun 2017.
- Pembangunan Taman Bunga, Presiden Jokowi berharap adanya obyek wisata baru di Pulau Samosir, yakni Taman Bunga Nusantara, di sekitar Danau Toba. Rencananya, pemerintah akan memilih dua lokasi untuk Taman Bunga Nusantara, yakni di Toba Samosir atau Tapanuli Utara.
- Karnaval kemerdekaan Danau Toba setiap tahun. Karnaval budaya yang digelar di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, tersebut diharapkan akan digelar rutin. Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan karnaval meminta agar Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba digelar setiap tahun. Jokowi menilai, dalam karnaval budaya ini, beragam budaya Batak dapat terlihat. Ia berharap, perbedaan-perbedaan dapat menyatukan Indonesia.
Tentunya, pengembangan Wisata Danau Toba ini bukan hanya membuat masyarakat disekitar Danau Toba senang, tapi seluruh orang Batak yang ada di muka bumi ini. Selain itu, tentu akan mengharumkan nama Provinsi Sumatera Utara dan Negara Republik Indonesia.
Tapi yang jelas, Kehadrian Presiden Jokowi di Acara Karnaval Pesona Danau Toba akan membawa angin segar akan Wisata Danai Toba. Terimakasih pak Jokowi, terimakasih Pak Presiden.
Inilah Video Ketika Presiden Jokowi Hadiri Karnaval Pesona Danau Toba di Tano Batak Pulo Samosir
Demikian turi-turian ini kami sampaikan. Horas. Tuhan memberkati.
Sumber Video: Youtube TINJAKSTAR Agustus 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Video Ketika Presiden Jokowi Hadiri Karnaval Pesona Danau Toba di Tano Batak Pulo Samosir
Posted by FACE BATAK on Sabtu, 27 Agustus 2016
BATAK NETWORK - Ketika Presiden RI yang ke 7 Ir. Joko Widodo menghadiri acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT) pada tanggal 20 - 21 Agustus 2016 silam, ternyata meninggalkan pergunjingan menarik dan layak di bahas serta di ulas di berbagai media, khususnya di media-media sosial. Adapun ulasan tsb adalah Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT. Ada yang pro dan ada pula yang kontra, dan bagi yang kontra ini adalah mereka-mereka barisan sakit hati (haters) kepada Jokowi (panggilan akrab Presiden Ir. Joko Widodo) dan bahkan yang tidak tahu sejarah atau makna ULOS Batak sebenarnya. Oleh karena itu, kami mencoba mengajak Anda sekalian untuk menyimak ulasan mengenai Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT tsb. Berikut paparannya.
Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Oleh: Birgaldo Sinaga
Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, Presiden Jokowi menerima pemberian Ulos Ragidup dan Penutup Kepala beserta tongkat.
Bagi masyarakat Batak Ulos merupakan harta kekayaan paling berharga. Pada awal abad 13 dulu, tekstil belum ada. Manusia yang hidup di banyak pelosok nusantara masih banyak yang tubuhnya bertelanjang atau menutupi tubuhnya dengan cawat dari kulit pohon. Masyarakat Batak yang mendiami Danau Toba menutupi tubuhnya dengan ulos. Inilah pakaian asli Batak yang dikerjakan dengan proses yang sangat rumit dan lama.
Pembuatan ulos menjadi pekerjaan paling sulit dan lama karena dikerjakan melalui proses pemintalan kapas menjadi benang lalu memilinnya kemudian menenunnya satu persatu benang benang yang sudah diberi pewarna.
Bagaimana sih pembuatan ulos Batak itu terutama yang dipakai Presiden Jokowi? Yuk simak penjelasannya yang saya kutip dari tulisan Oloan Pardede.
Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.
Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.
Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.
Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.
Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
Ulos Ragi Hidup.
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita.
Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.
Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga (dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain.
Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.
Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang.
Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.
Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).
Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.
Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan di daerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
Salam
Penulis: Birgaldo Sinaga
Sumber: Akun Facebook Birgaldo Sinaga TINJAKSTAR Agustus 23, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Perhatikan Foto Kiri: Pakaian Adat Batak Toba, Foto Kanan: Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Memakai Ulos Adat Batak Toba. Tidak ada perbedaannya. |
Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Oleh: Birgaldo Sinaga
Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, Presiden Jokowi menerima pemberian Ulos Ragidup dan Penutup Kepala beserta tongkat.
Bagi masyarakat Batak Ulos merupakan harta kekayaan paling berharga. Pada awal abad 13 dulu, tekstil belum ada. Manusia yang hidup di banyak pelosok nusantara masih banyak yang tubuhnya bertelanjang atau menutupi tubuhnya dengan cawat dari kulit pohon. Masyarakat Batak yang mendiami Danau Toba menutupi tubuhnya dengan ulos. Inilah pakaian asli Batak yang dikerjakan dengan proses yang sangat rumit dan lama.
Pembuatan ulos menjadi pekerjaan paling sulit dan lama karena dikerjakan melalui proses pemintalan kapas menjadi benang lalu memilinnya kemudian menenunnya satu persatu benang benang yang sudah diberi pewarna.
![]() |
| Presiden RI Ir. Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo Memakai Ulos Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 20 - 21 Agustus 2016 (Sumber Foto: Okezone.com) |
Bagaimana sih pembuatan ulos Batak itu terutama yang dipakai Presiden Jokowi? Yuk simak penjelasannya yang saya kutip dari tulisan Oloan Pardede.
Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.
Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.
Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.
Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.
Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
![]() |
| Pakaian Adat Batak Toba (Sumber Foto: Google.com) |
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
Ulos Ragi Hidup.
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita.
Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.
Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga (dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain.
Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.
Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang.
Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.
Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).
Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.
Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan di daerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
Salam
Penulis: Birgaldo Sinaga
Sumber: Akun Facebook Birgaldo Sinaga TINJAKSTAR Agustus 23, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Yuk Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Posted by FACE BATAK on Selasa, 23 Agustus 2016
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia






























