Horas-Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.
Berkeliling di kawasan RS HKBP Balige memberikan nuansa yang berbeda. Kayu-kayu dan dinding disini masih merupakan hasil rancangan engineer dari benua seberang. Tak jauh mata memandang, rumah di depan sana, yang ditempati orang-orang Batak itu, seolah tak memiliki perencanaan. Berbeda sekali. Berdiri begitu saja, dan ditempati seadanya saja. Tanpa orientasi yang bisa dijadikan representasi keunikan manusianya. Bukankah realita bangunan fisik sebagai cerminan turunan alam pikir? Setidaknya dari apa yang terlihat itu jugalah yang tersirat.
Melihat hasil karya bangsa Eropa pada berbagai macam seni bangunan, seketika mentalitas inlanderisme menyapa ubun-ubun. Benarkah sudah sedemikian jauh bangsa kami ini melorot menuju kehancuran? Sekeropos bangunan-bangunan yang kami dirikan? Mengapa bangunan peninggalan mereka yang sudah puluhan dan bahkan ratusan tahun itu masih tetap anggun dan kokoh? Sementara bangunan kami? Enggan mata ini memandangnya.
Rindang pepohonan mengelilingi sebuah bangunan tua di sudut kawasan itu. Nuansa asri menggoda langkah untuk rehat sejenak pada sebuah ruang dimana kursi-kursi rotan telah menunggu. lihat itu, beragam pohon-pohon begitu indah dan sejuknya. Sayangnya tak satupun dari kita tahu apa nama pohon itu. Minim sekali pengetahuan semesta yang kita punyai. Kita seperti manusia berjalan tanpa bekal ilmu. Seorang sahabat memaksa wajahku terkekeh mendengar kalimat-kalimatnya yang selalu bernada humoris melipat-lipat paradoksal situasi.
Tak hanya itu, lihat lagi kusen-kusen bangunan ini. Dari kayu yang paling bagus di kelasnya. Bertahan sudah puluhan tahun melintasi lorong waktu. Dan masih ia menunjukkan eksotisme dan kekuatan yang dibarengi rancangan yang khas Eropa. Juga, sirkulasi udara selalu menjadi perhatian utama engineer jaman dahulu. Padahal dulu belum ada Global Warming. Sekarang suhu jauh lebih panas, namun mengapa rumah-rumah jaman sekarang seolah tak peduli titik aero-sirkulasi?
Contohnya Gereja-gereja kita punya, hampir semua mengandalkan kipas angin dan pendingin ruangan. Kadang saya menjadi terlalu sibuk mencari sapaan angin pada wajah ketimbang mendengar sapaan firman dari mimbar. Saking panas dan pengabnya ruangan itu. Saya kira Tuhan juga tak suka ruangan pengab dan panas yang boros karena selalu mengandalkan kipas angin dan AC. Tak bisakah kita rancang bangunan yang aero-sirkularis yang manis cantik dan anggun? Gereja yang dibangun Eropa, duh, seolah Tuhan ada disana. Begitulah kalau yang membangun dan merencanakan punya ilmu. Lagi-lagi kawanku itu seolah melongok dari atas ubun-ubunku, seraya mencoba memastikan apakah di dalamnya terkandung seonggok ilmu?
Sore itu menjadi sebuah kilas balik dan perbandingan antar peradaban, antar jaman. Disertai kalimat-kalimat sentimental journey. Tentang pada jaman dulu bhwa sanitasi dan drainase menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rancangan bangunan. Hampir tidak didapati saluran yang mampet, pipa yang tidak berfungsi. Bila kita menengok hasil karya rancangan Eropa. Ada juga baiknya Belanda pernah menjajah kita. Setidaknya kita masih bisa melihat sisi pembangunan yang bisa dijadikan bahan pelajaran tentang bagaimana membangun rumah yang baik dan benar. Dan selanjutnya bagaimana membangun kota yang nyaman dan menyenangkan. Supaya tidak melulu seperti apa yang kita lihat di sekitar dan sekeliling kita. Utamanya bumi tapanuli yang minim kreasi dan seni bangunan ini.
Perlahan matahari kembali ke peraduannya di ambang senja, menemani langkah kami meninggalkan pelataran Rumah Sakit itu. Disana pernah terjadi kejayaan pelayanan kesehatan yang cukup masyhur. Berbaris di dinding seukuran photo merekam imaji kenangan kepada orang-orang yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Tongkat Aesculapius. Bersumpah di bawah kode etik Sumpah Hippokrates. Keterlibatan Ras Arya dalam segala bentuk pengelolaan dan manajemennya tentu salah satu elemen kunci yang menjadikan Rumah Sakit HKBP Balige ini pernah menjadi Rujukan Kesembuhan bagi pasien dari segala penjuru Tapanuli.
Sisa-sisa kejayaan itu kini semakin redup. Dulu pernah dielu-elukan dan kini menjadi disedu-sedankan. Tak ada lagi yang layak untuk ditonjolkan sebagai tonggak prestasi dan pencapaian. Menjadi lemah serapuh bangunannya yang satu persatu mulai menunjukkan gejala ujur dan kerontokan. Umur Rencana berada di titik kritis. Revitalisasi menjadi tantangan sekaligus tugas dan tanggung jawab. Entah ya, apakah HKBP tidak sanggup mengelola assetnya yang sedemikian bertabur itu? atau apakah jemaatnya sudah kehilangan sikap kritis yang membangun? atau apakah Tuhan sedang tidur bersama umatnya yang diam dan berada jauh dari realita hidup?
Keterlaluankah bila hati kecil ini berbisik pelan, Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak? Sementara itu, Quo Vadis Budaya Batak? yang konon diarsiteki leluhurnya yang ahli kosmos dan filsuf hidup kesejatian. Dan tak kurang banyak, Artefak Budaya Adiluhung itu pun diboyong ke Eropa, dirumahkan disana. Ah, jadi serba salah pikiran ini. Nikmati sajalah cerita tepian toba edisi tujuh ini!!! </Robinsonlin Simbolon>
TINJAKSTAR
Juni 16, 2012
New Google SEO
Bandung, IndonesiaHoras-Sejumlah rumah adat tradisional Batak milik warga Kabupaten Toba Samosir kehilangan patung singa-singa yang terpasang di bagian luar. Singa-singa dibeli oleh kolektor dengan harga mahal, Rp50 juta sampai Rp100 juta. Mencuri singa-singa tidaklah sulit, karena cuma ditempelkan dengan satu paku kayu.
Pencurian patung singa-singa dari rumah adat Batak Toba saat ini semakin sering terjadi di Kabupaten Toba Samosir. Seperti yang terjadi di Dusun Bariba Tali, Dusun Datu Horbo, dan Dusun Siahaan Dolok, semuanya di Desa Nauli. Kasus pencurian lain yang berhasil ditangkap Polsek Kecamatan Silaen adalah seperti yang terjadi di Dusun Hutagaol, Desa Sigumpar Barat, Kecamatan Sigumpar, sekitar pukul 3 dini hari.
Rumah ini ditempati oleh Jonni Hutagaol. Kronologi kejadian yang berhasil didapat dari hasil wawancara Koran Tapanuli dengan Perjuangan Hutagaol (42 tahun), warga Desa Sigumpar Barat. Dia sebagai saksi menyatakan bahwa pelaku berhasil mencongkel satu buah singa-singa dari sebelah kanan sopo tersebut. Hasil curiannya dibawa kabur dengan sebuah mobil Carry Futura BB-1156-LE yang sengaja diparkirkan di samping makam Dr. I.L. Nommensen.
Saksi Perjuangan Hutagaol yang mengetahui kejadian melaporkan kejadian tersebut ke polsek setempat. Polsek Silaen segera melakukan pengejaran dan menebar informasi ke tiap penjuru. Pada awalnya komplotan berhasil membawa hasil curiannya dengan aman. Tetapi di sekitar lokasi Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir, mobil mereka menabrak tembok jalan hingga mobil terbalik.
Petugas Polsek Silaen beserta saksi segera meluncur dan menangkap si pelaku. Barang bukti yang disita berupa mobil Carry Futura BB 1156 LE beserta satu buah singa-singa yang sempat disembunyikan pelaku sekitar 10 meter dari lokasi mobil terbalik.
Ketika dikonfirmasi via sms, Kapolsek Silaen AKP P. Simatupang menyatakan bahwa pencurian dan penangkapan benar adanya, yaitu dua orang pelaku yang tertangkap antara lain Rudi Sianipar, pekerjaan supir warga Narumonda, dan Rajuman alias Acong, warga Desa Lumban Nabolon, Kecamatan Narumonda. Sedangkan satu orang melarikan diri yakni Erik Pardede, penduduk Desa Parparean IV, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir.
Polsek Silaen menitipkan kedua pelaku di Rutan Balige dan menahan barang bukti berupa singa-singa sopo dan mobil. Sementara kasus tetap diproses lebih lanjut. Kemungkinan kepada kedua pelaku akan dikenakan pasal 363 ayat 4(e) sub pasal 362 KUH Pidana.
Sementara itu tiga kasus pencurian singa-singa juga terjadi di Desa Nauli, Kecamatan Narumonda, Kabupaten Tobasa, yaitu hilangnya dua buah singa-singa sopo milik Ny. Siagian br. Marpaung. Di Dusun Datu Horbo/Bariba Tali, warga juga kehilangan satu buah singa-singa. Kemudian di Dusun Siahaan Dolok, Oppu si Gugun Siahaan kehilangan semua singa-singa dari rumah adatnya.
Singa-singa rumah adat Batak diincar kolektor Eropa
Menurut Hardi Sidabutar, seorang kolektor barang antik di Kabupaten Samosir, singa-singa sopo memang sangat digemari oleh pembeli khususnya dari luar negeri, seperti Belanda, Jerman, dan Perancis. Patung wajah singa yang terbuat dari kayu tempo dulu itu dipajang sebagai barang antik atau dijual ke museum.
"Seorang kolektor luar negeri mau membeli singa-singa sampai Rp50 juta satu pasang, bahkan bisa mencapai Rp100 juta,” kata Hardi kepada Koran Tapanuli di Tuktuk Siadong, Samosir.
Menurutnya, orang awam sebenarnya tidak tahu berapa persisnya nilai jual singa-singa. “Harga tersebut hanya diketahui kolektor dan agen.” Hardi Sidabutar menjelaskan, tidak semua rumah adat Batak memiliki patung singa-singa di bagian luarnya. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan apakah sebuah sopo perlu dan bisa dipasangi singa-singa atau tidak.
Hanya orang jujur yang memiliki singa-singa di rumah soponya.
“Di zaman dulu hanya orang-orang baik dan jujur yang rumahnya punya singa-singa. Jadi tidak semua orang Batak mampu memakai singa-singa. Kalau ada singa-singa di rumah Batak, maka keluarga itu adalah orang-orang jujur,” katanya. Singa, menurut cerita Hardi Sidabutar, adalah binatang kesayangan orang Batak tempo dulu. Singa diyakini oleh orang Batak Toba sebagai simbol binatang paling jujur, karena itulah banyak orang takut pada singa.
Tidak sedikit orang Batak di zaman dahulu yang berteman dengan singa. Apabila ada orang di hutan yang berbuat keonaran, pasti dia akan dimakan singa. Seekor singa tahu membedakan mana orang yang baik dan mana orang jahat.
Pencurian patung singa-singa, menurut Hardi Sidabutar, memang cukup mudah dilakukan. “Hanya perlu waktu lima atau 10 menit untuk membuka sepasang singa-singa, karena pengikatnya cuma satu paku kayu, bukan paku besi,” katanya.
Dia mengatakan, tidak ada orang Batak Toba yang dengan resmi menjual singa-singa dari rumahnya. “Saya sudah 30 tahun sebagai kolektor barang antik, belum pernah saya jumpai orang Batak yang mau menjual singa-singa secara resmi, karena yang punya itu adalah satu keluarga, keturunan dari mulai oppung mereka.” Di Kabupaten Samosir, kasus pencurian singa-singa dari sopo terakhir diketahui terjadi pada Oktober 2009 di Kecamatan Nainggolan. Saat itu si pencuri berhasil ditangkap polisi. <Robinsonlin Simbolon>
Singa-singa rumah Batak yang harganya ratusan juta kerap dicuri
Posted by FACE BATAK on Jumat, 15 Juni 2012
Horas-Nama Batak sebagai identitas etnik ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi para musafir barat. Hal ini kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Simpulan ini dikemukakan sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari yang baru usai melakukan penelitian di Jerman.
Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.
"Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan," kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).
Dalam penelitiannya yang dimulai sejak September lalu, selain memeriksa arsip-arsip di Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya dengan mendatangi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda. Dia juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.
Hasilnya, pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, "... masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu."
Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.
"Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu," katanya.
Disebutkan Ichwan, para misionaris itu sendiri awalnya ragu-ragu menggunakan kata Batak sebagai nama etnik, karena kata Batak tidak dikenal oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku.
Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu dokumen berisi informasi penting berkaitan dengan aktivitas dan pemikiran di tanah Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.
"Peta-peta itu memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya," tukas Ichwan.
Dalam peta-peta kuno itu, kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.
Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata Batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata Batak itu.
Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman, kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20, bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.
"Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Nama Batak juga digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam," tukasnya. </ Ichwan Azhari >
TINJAKSTAR
Juni 15, 2012
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.
"Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan," kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).
Dalam penelitiannya yang dimulai sejak September lalu, selain memeriksa arsip-arsip di Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya dengan mendatangi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda. Dia juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.
Hasilnya, pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, "... masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu."
Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.
"Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu," katanya.
Disebutkan Ichwan, para misionaris itu sendiri awalnya ragu-ragu menggunakan kata Batak sebagai nama etnik, karena kata Batak tidak dikenal oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku.
Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu dokumen berisi informasi penting berkaitan dengan aktivitas dan pemikiran di tanah Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.
"Peta-peta itu memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya," tukas Ichwan.
Dalam peta-peta kuno itu, kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.
Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata Batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata Batak itu.
Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman, kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20, bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.
"Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Nama Batak juga digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam," tukasnya. </ Ichwan Azhari >
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia

