BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami hadir kehadapan Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Sdra/Sdri. yang kami hormati, tarnulobi tu hamu Natua-tua nami. Kali ini media Batak Network akan berbagi tentang sebuah renungan, yaitu "Cinta Tulus Putra Batak". Tulisan ini kami sadur dari sebuah forum facebook yang berlabel Group Anak Siantar (GAS), Senin (6/2/2017).
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - "Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan |
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
"Apa kabar Rosma? semoga kau baik-baik saja. Selama ini walaupun aku jauh, Aku tetap memperhatikanmu, bahkan pernikahanmu yang membuat aku terpurukpun juga masih ku ingat. Kalau kau masih ingat gak, ketika kita naik motor berdua kau selalu tertidur, ketika kita mau nonton bioskop yang akhirnya tidak jadi gara-gara harga tiketnya mahal, dan ketika kamu mendorong motorku saat motorku kehabisan bensin? Kenangan manis itulah yang membuat aku kuat untuk menjalani hidup ini meski tanpamu.
Aku banyak mendengar tentang dirimu dari si Uli, dia selalu bercerita tentang kehidupanmu yang sangat penuh dengan air mata. Setiap mendengar semua penderitaanmu itu, aku selalu menangis, sangat berat rasanya ketika kudengar setiap kabar tentangmu.
Terlebih ketika kecelakaan menimpamu,
Itu yang membuatku terasa sedih kali.
Untuk itulah aku datang memenuhi janjiku, janji yang pernah ku ucapkan ketika kita masih sama-sama. Semoga dengan keadaan yang sekarang kamu bisa bahagia,dan melanjutkan hidupmu,menggapai mimpimu yang tertunda,tak usah lagi kau ingat2 masa lalu mu,biarlah itu jadi pelajaran berhaga buatmu melangkah kedepan.
Tak bisa ku beri materi samamu sampai dengan sekarang ini, karena aku pun putra batak yang miskin, yang harus memperjuangkan segala orang disekitarku,hanya kekayaan cinta ini lah yang bisa kupersembahkan padamu termasuk nyawaku yang terucap didalam janjiku.
Pesanku janganlah lupa untuk tetap selalu berdoa.
Salam : Togar "
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Sebelumnya, mari kita simak berita di bawah ini.
PERKARA KECIL
Betul, Pak Aher, Bapak benar sekali. Sangat benar. Peristiwa Sabuga kemarin memang hanya perkara kecil. Terlalu kecil. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman orang-orang percaya di Jepang abad ke-17 yang dilukiskan dalam novel tadi--atau pengalaman serupa lainnya, baik yang tercatat dalam kitab martir maupun tidak. Dan, tentu saja, tidak sebanding dengan pengalaman Laki-Laki yang diseret dari Taman Getsemani untuk nantinya disalibkan di Golgota itu.
Terima kasih, Pak Aher, telah mengingatkan kami akan hal itu. Terima kasih telah, secara tidak langsung, mengingatkan kami untuk tidak cengeng dan merengek-rengek mengharapkan belas kasihan negara, yang Anda wakili.
Junjungan kami sendiri menasihati kami, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12)
Benar. Peristiwa Bandung itu bukanlah penganiayaan. Itu hanya perkara kecil.
Oleh karena itu, Sekali lagi kami mengucapkan Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil.***
Editor: Tim Batak Network
Penulis: Arie Saptajie
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Desember 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan |
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berpendapat, pembubaran acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal di Gedung Sabuga, Bandung, tadi malam merupakan perkara kecil.
"Itu kan kejadian kecil yang tidak mengganggu apa-apa saya kira," kata Ahmad Heryawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (7/12).
Aher, sapaan Ahmad, berpendapat, pembubaran bisa dihindari apabila ada musyawarah sehingga semua pihak dapat menahan diri dan saling menghormati.
Hingga kini, kata Aher, dia belum mendapatkan laporan detail mengenai pembubaran kebaktian itu. Menurutnya, informasi detail dan lengkap diketahui pihak terkait termasuk pemerintah kota Bandung.
"Sebab, secara langsung kami tidak terkait. Itu kan yang menangani Polresta Bandung, MUI Bandung, kalau pemerintah hanya Kesbangpol, Wali Kota Bandung," tuturnya.
Dia menyatakan membantu menyelesaikan dan mencari akar permasalahan sehingga tidak mengganggu toleransi bermasyarakat dan membuat suasana membaik.
"Kami bangun saling pengertian. Jangan memperkeruh persoalan yang dapat memicu persoalan baru," kata dia.
Ketua PAS Muhammad Roin sebelumnya mengatakan, KKR seharusnya diadakan di rumah ibadah. Hal tersebut, sambung dia, sesuai dengan Surat Peraturan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006.
Acara Kebaktian Natal Umat Kristen yang menghadirkan Pendeta Stephen Tong untuk sesi kedua sedianya dilaksanakan pada pukul 18.30 WIB di Gedung Sabuga. Acara sesi pertama yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB untuk anak-anak tetap berjalan normal.
Peserta KKR membubarkan diri dengan tertib pada pukul 20.30 WIB. Ketika situasi itu terjadi, sejumlah aparat kepolisian melakukan pengamanan di seputaran Gedung Sabuga.
Sumber: cnnindonesia.com
PERKARA KECIL
Betul, Pak Aher, Bapak benar sekali. Sangat benar. Peristiwa Sabuga kemarin memang hanya perkara kecil. Terlalu kecil. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman orang-orang percaya di Jepang abad ke-17 yang dilukiskan dalam novel tadi--atau pengalaman serupa lainnya, baik yang tercatat dalam kitab martir maupun tidak. Dan, tentu saja, tidak sebanding dengan pengalaman Laki-Laki yang diseret dari Taman Getsemani untuk nantinya disalibkan di Golgota itu.
Terima kasih, Pak Aher, telah mengingatkan kami akan hal itu. Terima kasih telah, secara tidak langsung, mengingatkan kami untuk tidak cengeng dan merengek-rengek mengharapkan belas kasihan negara, yang Anda wakili.
Junjungan kami sendiri menasihati kami, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12)
![]() |
| Alkitab, Kitab Matius 5:10-12 |
Benar. Peristiwa Bandung itu bukanlah penganiayaan. Itu hanya perkara kecil.
Oleh karena itu, Sekali lagi kami mengucapkan Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil.***
Editor: Tim Batak Network
Penulis: Arie Saptajie
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Desember 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Terimakasih Pak Aher Sudah mengatakan Pembubaran Kebaktian Natal sebagai Perkara Kecil
Posted by FACE BATAK on Rabu, 07 Desember 2016
BATAK NETWORK - Catatan: Uraian ini panjang-lebar. Silakan meluangkan waktu dan menyiapkan pikiran yang jernih dan tenang untuk membacanya. Jangan asal gusar, lalu berkomentar.
Salah satu hal yang mengganggu benak saya: Kenapa tidak sedikit orang yang malah gusar ketika diperhadapkan pada gagasan bahwa orang Kristen, orang percaya dalam era Perjanjian Baru, tidak perlu lagi membayar persepuluhan? Kenapa kabar yang semestinya memerdekakan ini malah membuat sebagian orang tersinggung?
Jika disederhanakan kira-kira begini. Dalam era Perjanjian Lama (PL), persepuluhan adalah bagian tak terpisahkan dari paket hukum Taurat di bawah imamat Lewi, suatu kewajiban yang harus dijalani oleh bangsa Israel. Mereka yang taat akan memperoleh berkat; mereka yang tidak taat akan terkena kutuk laknat.
Dalam era Perjanjian Baru (PB), yang dimulai dari pencurahan darah dan kematian Yesus Kristus di kayu salib, dimulai pula sebuah imamat baru, imamat yang rajani. Alih-alih hukum Taurat, Allah mencurahkan kasih karunia demi kasih karunia. Alih-alih menuntut umat-Nya dengan berbagai kewajiban agama, Allah mengundang kita untuk menjalin hubungan pribadi dengan Dia, hubungan antara Bapa dan anak-anak kesayangan-Nya: menyambut dan merayakan kasih-Nya serta hidup oleh kasih-Nya itu--mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita. Kita diberkati dan dibenarkan bukan karena ketaatan kita, melainkan karena penebusan Kristus. Kita tidak lagi berada di bawah ancaman kutuk; sebaliknya, di dalam Kristus, Dia "telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Kita dibenarkan dan dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya. Dia mengasihi kita dengan kasih yang kekal: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Jika kita tidak taat, kita tidak lagi kena kutuk laknat. Sebaliknya, Dia akan mendisiplinkan kita sebagai Bapa yang penyayang. Pendisiplinan-Nya itu untuk kebaikan, pemulihan, dan pendewasaan kita, bukan untuk menghancurkan dan membinasakan kita. Allah turut bekerja dalam segala aspek kehidupan kita bukan untuk mendatangkan kecelakaan, melainkan untuk mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan.
Alangkah radikalnya perbedaan antara PL dan PB!
Perubahan ini tentu berdampak pula dalam hal pemberian atau persembahan finansial. Tidak ada lagi persembahan wajib. Tidak ada lagi persembahan minimal. Dan, terlebih lagi, tidak ada lagi embel-embel motivasi berkat atau intimidasi kutuk dalam persembahan.
Lalu, apakah kita lalu jadi pelit dan kikir? Tidak perlu memberi sama sekali? Justru sebaliknya! Kita diundang untuk memberi menurut apa yang ada pada kita. Kita diundang untuk memberi dengan sukarela. Kita diundang untuk memberi dengan penuh sukacita. Kita diundang untuk memberi dengan penuh rasa syukur. Kita diundang untuk kaya dalam kemurahan hati! Bukan memberi karena mengharapkan imbalan berkat berlipat ganda. Bukan memberi agar terhindar dari ancaman kutuk laknat. Melainkan, memberi dengan murah hati karena Allah sudah terlebih dahulu dan akan senantiasa bermurah hati kepada kita, melimpahi kita dengan kasih karunia demi kasih karunia.
Nah, bukankah itu konsep persembahan yang lebih tinggi daripada pesepuluhan? Lebih mulia? Namun, mengapa tidak sedikit orang malah gusar dan tersinggung ketika dinyatakan bahwa kita tidak perlu lagi memberikan persepuluhan dan diundang untuk memberikan persembahan sukarela? Bukankah itu seharusnya merupakan warta gembira yang memerdekakan?
Jika yang gusar dan tersinggung adalah pihak yang dengan cara tertentu mendapatkan keuntungan dari persepuluhan--yah, bagaimana lagi, saya tidak akan membahasnya di sini.
Yang membuat saya heran, orang-orang yang diwajibkan untuk membayar persepuluhan pun tidak sedikit yang gusar dan tersinggung ketika diberi tahu bahwa persepuluhan itu tidak perlu dilakukan lagi.
Beberapa dalih yang lumayan sering saya simak: "Saya memberikan persepuluhan karena iman." (Suatu kewajiban tidak perlu diimani, bro, cukup ditaati.) "Saya memberikan persepuluhan karena saya mengasihi Tuhan." (Hm, kalau kamu mengasihi, mengapa melakukan kewajiban yang mengandung ancaman? Kasih melenyapkan ancaman.) "Saya memberikan persepuluhan untuk membuktikan Ketuhanan Yesus atas hidup saya, bahwa Dialah yang utama dalam hidup saya, dimulai dari keuangan saya." (Hm, kalau utama, mengapa hanya sepersepuluh?) "Kalau kepada pemerintah saja kita membayar pajak, masak kita keberatan membayar persepuluhan kepada Tuhan?" (Jadi, sampean menyamakan pemerintahan manusia dengan pemerintahan Allah?)
Dalih-dalih itu, jika dicermati, berangkat dari pola pikir PL. Kitalah yang memegang beban dan tanggung jawab untuk membuktikan kesalehan kita--dengan ketaatan, dengan membayar persepuluhan, dan sebagainya. Kita lupa bahwa segala kesalehan kita itu seperti kain kotor. Kita lalai bahwa kita bukan dibenarkan oleh perbuatan saleh kita, melainkan oleh pembenaran melalui karya keselamatan Kristus--satu kali untuk selama-lamanya. Kita merasa dituntut untuk terus-menerus menunjukkan kasih kita kepada Allah. Kita lalai bahwa Allahlah yang terus-menerus mengasihi kita dengan kasih yang kekal, dan kita tinggal menerima, menikmati, dan merayakannya. Kita alpa bahwa Allah adalah Bapa yang memperlakukan kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya.
Mungkin gambaran duniawi ini bisa mencerahkan kita. Dalam hubungan yang wajar antara seorang ayah dan anak: Seberapa keras seorang anak harus menunjukkan kasihnya--dengan melalukan berbagai kewajiban--kepada sang ayah? Seberapa keras seorang anak harus membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh anak sang ayah? Adakah ayah yang menuntut anaknya "membayar persepuluhan" (apa pun bentuknya) kepadanya?
Namun, bukankah kita perlu berlatih untuk taat? O, iya. Betul. Setuju sekali. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat tajam antara (1) berlatih taat untuk menghindari hukuman atau kutukan dan (2) berlatih taat sebagai bagian dari proses pembelajaran, pertumbuhan, dan pendewasaan karakter. Persepuluhan mengandung ancaman hukuman bagi yang tidak taat, maka persepuluhan bukan alat yang tepat sebagai sarana untuk berlatih ketaatan.
Jika dirunut lebih jauh, dalih-dalih itu berakar pada pola pikir pemberontakan manusia di Taman Eden, yang diawali dari ketidakpercayaan kepada karakter Allah. Tampaknya kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa ALLAH ITU SUNGGUH-SUNGGUH BAIK. Benarkah Allah mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa menuntut kita melakukan sesuatu sebagai balasannya? Benarkah Allah memberkati dan melindungi kita tanpa terkecuali? Bukankah Allah mengirimkan gempa bumi dan tsunami dan kebangkrutan kepada orang-orang jahat? Bukankah kita harus hidup kudus agar terhindar dari murka Allah? Kita merasa masih harus melakukan kewajiban tertentu, baru Allah akan mengasihi, memberkati, dan melindungi kita (dari belalang pelahap atau monster-monster setan belang lainnya). Kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Allah itu Mahabaik dan tidak pernah berbuat jahat, bahkan kepada musuh-musuh-Nya. Bahwa Dia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa "setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang." Kita menganggap Allah itu gampang gusar dan tersinggung bilamana kita lalai melakukan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Singkatnya, kita mempertanyakan kebaikan Allah.
Sebaliknya, lagi-lagi, kita meletakkan diri kita sebagai pemegang kontrol. Jika kita berbuat begini, Allah akan melakukan ini. Jika kita berbuat begitu, Allah akan melakukan itu. Kita yang mengontrol karakter Allah. Dan, kita sedang menciptakan Allah menurut rupa dan gambar kita.
What an insult to His character!
Penulis: Arie Saptaji
Sumber: Facebook TINJAKSTAR November 11, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi: Memberi Persembahan (Foto: Net) |
Salah satu hal yang mengganggu benak saya: Kenapa tidak sedikit orang yang malah gusar ketika diperhadapkan pada gagasan bahwa orang Kristen, orang percaya dalam era Perjanjian Baru, tidak perlu lagi membayar persepuluhan? Kenapa kabar yang semestinya memerdekakan ini malah membuat sebagian orang tersinggung?
Jika disederhanakan kira-kira begini. Dalam era Perjanjian Lama (PL), persepuluhan adalah bagian tak terpisahkan dari paket hukum Taurat di bawah imamat Lewi, suatu kewajiban yang harus dijalani oleh bangsa Israel. Mereka yang taat akan memperoleh berkat; mereka yang tidak taat akan terkena kutuk laknat.
Dalam era Perjanjian Baru (PB), yang dimulai dari pencurahan darah dan kematian Yesus Kristus di kayu salib, dimulai pula sebuah imamat baru, imamat yang rajani. Alih-alih hukum Taurat, Allah mencurahkan kasih karunia demi kasih karunia. Alih-alih menuntut umat-Nya dengan berbagai kewajiban agama, Allah mengundang kita untuk menjalin hubungan pribadi dengan Dia, hubungan antara Bapa dan anak-anak kesayangan-Nya: menyambut dan merayakan kasih-Nya serta hidup oleh kasih-Nya itu--mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita. Kita diberkati dan dibenarkan bukan karena ketaatan kita, melainkan karena penebusan Kristus. Kita tidak lagi berada di bawah ancaman kutuk; sebaliknya, di dalam Kristus, Dia "telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Kita dibenarkan dan dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya. Dia mengasihi kita dengan kasih yang kekal: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Jika kita tidak taat, kita tidak lagi kena kutuk laknat. Sebaliknya, Dia akan mendisiplinkan kita sebagai Bapa yang penyayang. Pendisiplinan-Nya itu untuk kebaikan, pemulihan, dan pendewasaan kita, bukan untuk menghancurkan dan membinasakan kita. Allah turut bekerja dalam segala aspek kehidupan kita bukan untuk mendatangkan kecelakaan, melainkan untuk mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan.
Alangkah radikalnya perbedaan antara PL dan PB!
Perubahan ini tentu berdampak pula dalam hal pemberian atau persembahan finansial. Tidak ada lagi persembahan wajib. Tidak ada lagi persembahan minimal. Dan, terlebih lagi, tidak ada lagi embel-embel motivasi berkat atau intimidasi kutuk dalam persembahan.
Lalu, apakah kita lalu jadi pelit dan kikir? Tidak perlu memberi sama sekali? Justru sebaliknya! Kita diundang untuk memberi menurut apa yang ada pada kita. Kita diundang untuk memberi dengan sukarela. Kita diundang untuk memberi dengan penuh sukacita. Kita diundang untuk memberi dengan penuh rasa syukur. Kita diundang untuk kaya dalam kemurahan hati! Bukan memberi karena mengharapkan imbalan berkat berlipat ganda. Bukan memberi agar terhindar dari ancaman kutuk laknat. Melainkan, memberi dengan murah hati karena Allah sudah terlebih dahulu dan akan senantiasa bermurah hati kepada kita, melimpahi kita dengan kasih karunia demi kasih karunia.
Nah, bukankah itu konsep persembahan yang lebih tinggi daripada pesepuluhan? Lebih mulia? Namun, mengapa tidak sedikit orang malah gusar dan tersinggung ketika dinyatakan bahwa kita tidak perlu lagi memberikan persepuluhan dan diundang untuk memberikan persembahan sukarela? Bukankah itu seharusnya merupakan warta gembira yang memerdekakan?
Jika yang gusar dan tersinggung adalah pihak yang dengan cara tertentu mendapatkan keuntungan dari persepuluhan--yah, bagaimana lagi, saya tidak akan membahasnya di sini.
Yang membuat saya heran, orang-orang yang diwajibkan untuk membayar persepuluhan pun tidak sedikit yang gusar dan tersinggung ketika diberi tahu bahwa persepuluhan itu tidak perlu dilakukan lagi.
Beberapa dalih yang lumayan sering saya simak: "Saya memberikan persepuluhan karena iman." (Suatu kewajiban tidak perlu diimani, bro, cukup ditaati.) "Saya memberikan persepuluhan karena saya mengasihi Tuhan." (Hm, kalau kamu mengasihi, mengapa melakukan kewajiban yang mengandung ancaman? Kasih melenyapkan ancaman.) "Saya memberikan persepuluhan untuk membuktikan Ketuhanan Yesus atas hidup saya, bahwa Dialah yang utama dalam hidup saya, dimulai dari keuangan saya." (Hm, kalau utama, mengapa hanya sepersepuluh?) "Kalau kepada pemerintah saja kita membayar pajak, masak kita keberatan membayar persepuluhan kepada Tuhan?" (Jadi, sampean menyamakan pemerintahan manusia dengan pemerintahan Allah?)
Dalih-dalih itu, jika dicermati, berangkat dari pola pikir PL. Kitalah yang memegang beban dan tanggung jawab untuk membuktikan kesalehan kita--dengan ketaatan, dengan membayar persepuluhan, dan sebagainya. Kita lupa bahwa segala kesalehan kita itu seperti kain kotor. Kita lalai bahwa kita bukan dibenarkan oleh perbuatan saleh kita, melainkan oleh pembenaran melalui karya keselamatan Kristus--satu kali untuk selama-lamanya. Kita merasa dituntut untuk terus-menerus menunjukkan kasih kita kepada Allah. Kita lalai bahwa Allahlah yang terus-menerus mengasihi kita dengan kasih yang kekal, dan kita tinggal menerima, menikmati, dan merayakannya. Kita alpa bahwa Allah adalah Bapa yang memperlakukan kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya.
Mungkin gambaran duniawi ini bisa mencerahkan kita. Dalam hubungan yang wajar antara seorang ayah dan anak: Seberapa keras seorang anak harus menunjukkan kasihnya--dengan melalukan berbagai kewajiban--kepada sang ayah? Seberapa keras seorang anak harus membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh anak sang ayah? Adakah ayah yang menuntut anaknya "membayar persepuluhan" (apa pun bentuknya) kepadanya?
Namun, bukankah kita perlu berlatih untuk taat? O, iya. Betul. Setuju sekali. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat tajam antara (1) berlatih taat untuk menghindari hukuman atau kutukan dan (2) berlatih taat sebagai bagian dari proses pembelajaran, pertumbuhan, dan pendewasaan karakter. Persepuluhan mengandung ancaman hukuman bagi yang tidak taat, maka persepuluhan bukan alat yang tepat sebagai sarana untuk berlatih ketaatan.
Jika dirunut lebih jauh, dalih-dalih itu berakar pada pola pikir pemberontakan manusia di Taman Eden, yang diawali dari ketidakpercayaan kepada karakter Allah. Tampaknya kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa ALLAH ITU SUNGGUH-SUNGGUH BAIK. Benarkah Allah mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa menuntut kita melakukan sesuatu sebagai balasannya? Benarkah Allah memberkati dan melindungi kita tanpa terkecuali? Bukankah Allah mengirimkan gempa bumi dan tsunami dan kebangkrutan kepada orang-orang jahat? Bukankah kita harus hidup kudus agar terhindar dari murka Allah? Kita merasa masih harus melakukan kewajiban tertentu, baru Allah akan mengasihi, memberkati, dan melindungi kita (dari belalang pelahap atau monster-monster setan belang lainnya). Kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Allah itu Mahabaik dan tidak pernah berbuat jahat, bahkan kepada musuh-musuh-Nya. Bahwa Dia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa "setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang." Kita menganggap Allah itu gampang gusar dan tersinggung bilamana kita lalai melakukan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Singkatnya, kita mempertanyakan kebaikan Allah.
Sebaliknya, lagi-lagi, kita meletakkan diri kita sebagai pemegang kontrol. Jika kita berbuat begini, Allah akan melakukan ini. Jika kita berbuat begitu, Allah akan melakukan itu. Kita yang mengontrol karakter Allah. Dan, kita sedang menciptakan Allah menurut rupa dan gambar kita.
What an insult to His character!
Penulis: Arie Saptaji
Sumber: Facebook TINJAKSTAR November 11, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas. Salam. Kali ini kami akan mengajak Anda untuk menyimak sebuah Kisah Inspiratif Dari Seorang Ibu Tua. Ini adalah sebuah kisah nyata dan penulis sempat bercakap-cakap dengan si ibu ini. "Otik Na Tarbereng Nakkin" (Sedikit yang terlihatku tadi), demikian kata sipenulis. Lebih lanjut simak kisah ini.
"Aku Akan Tetap Berjalan Bila Mentari Masih Bersinar"
Berjalan dengan badan tertunduk demi mencari botol bekas minuman plastik dan kalengan mencari pekerjaan rutinitas yang dilakukan tiap harinya.
Nenek yang usianya diperkirakan 60-an tahun lebih ini kerap terlihat dilokasi keramaian layaknya pesta dan acara - acara melibatkan massa yang terselenggara di seputaran kota Siantar ini.
Ibu yang bertempat tinggal di sekitaran ex Terminal Parluasan ini telah melakoni pekerjaan ini semenjak 20 tahun sejak di tinggal suaminya, dirinya mencari sesuap nasi untuk kebutuhan "Kampung Tengah (Perut -red)" dari hasil kumpulan botol bekas minuman untuk ditukarkan kepada penampung barang bekas itu untuk mendapatkan recehan- recehan
Berjalan dan berjalan di keramaian hingga menjadi pusat perhatian khalayak menjadi sebuah kebiasaan yang terlakoni, rasa malu yang sudah tersisih bahkan sirna menjadi modal utama dalam kumpulkan eks botol minuman itu.
Bila dirinya tidak mendapatkan acara - acara dengan kumpulan massa di dalamnya, maka dirinya pun memilih untuk berjalan berkeliling di pinggiran jalan mencari peruntungan untuk mendapatkan rezeki dari barang - barang bekas yang tidak terpakai orang lain.
Teriknya mentari dan derasnya guyuran hujan bukanlah sebuah hambatan, hanya mentari menjadi jam kerja yang dipergunakan dalam mencari sesuap nasi itu.
Bila saja mentari masih bersinar maka dirinya akan terus berjalan, namun bila mentari sudah mulai berganti dengan cahaya rembulan maka drinya pun akan bersandar beralaskan karton yang juga menjadi pembaringan melepas lelah sembari nikmati indahnya rembulan malam itu.
"Aku masih di beri kaki dan tangan yang lengkap jadi aku mau pergunaan anugerah itu untuk mencari nafkah, pengemis bukanlah tujuan hidupku meskipun ragaku sudah mulai lemah", tegasnya singkat sambil berlalu.
Penulis: Ewin dari Siantar
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Agustus 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ibu Tua Yang Berjuang Hidup Tanpa Mengemis |
"Aku Akan Tetap Berjalan Bila Mentari Masih Bersinar"
Berjalan dengan badan tertunduk demi mencari botol bekas minuman plastik dan kalengan mencari pekerjaan rutinitas yang dilakukan tiap harinya.
Nenek yang usianya diperkirakan 60-an tahun lebih ini kerap terlihat dilokasi keramaian layaknya pesta dan acara - acara melibatkan massa yang terselenggara di seputaran kota Siantar ini.
Ibu yang bertempat tinggal di sekitaran ex Terminal Parluasan ini telah melakoni pekerjaan ini semenjak 20 tahun sejak di tinggal suaminya, dirinya mencari sesuap nasi untuk kebutuhan "Kampung Tengah (Perut -red)" dari hasil kumpulan botol bekas minuman untuk ditukarkan kepada penampung barang bekas itu untuk mendapatkan recehan- recehan
Berjalan dan berjalan di keramaian hingga menjadi pusat perhatian khalayak menjadi sebuah kebiasaan yang terlakoni, rasa malu yang sudah tersisih bahkan sirna menjadi modal utama dalam kumpulkan eks botol minuman itu.
![]() |
| Ibu Tua Yang Berjuang Hidup Tanpa Mengemis |
Bila dirinya tidak mendapatkan acara - acara dengan kumpulan massa di dalamnya, maka dirinya pun memilih untuk berjalan berkeliling di pinggiran jalan mencari peruntungan untuk mendapatkan rezeki dari barang - barang bekas yang tidak terpakai orang lain.
Teriknya mentari dan derasnya guyuran hujan bukanlah sebuah hambatan, hanya mentari menjadi jam kerja yang dipergunakan dalam mencari sesuap nasi itu.
Bila saja mentari masih bersinar maka dirinya akan terus berjalan, namun bila mentari sudah mulai berganti dengan cahaya rembulan maka drinya pun akan bersandar beralaskan karton yang juga menjadi pembaringan melepas lelah sembari nikmati indahnya rembulan malam itu.
![]() |
| Ibu Tua Yang Berjuang Hidup Tanpa Mengemis |
"Aku masih di beri kaki dan tangan yang lengkap jadi aku mau pergunaan anugerah itu untuk mencari nafkah, pengemis bukanlah tujuan hidupku meskipun ragaku sudah mulai lemah", tegasnya singkat sambil berlalu.
Penulis: Ewin dari Siantar
Sumber: Facebook TINJAKSTAR Agustus 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
"Aku Akan Tetap Berjalan Bila Mentari Masih Bersinar" - Kisah Inspiratif Dari Seorang Ibu Tua
Posted by FACE BATAK on Sabtu, 27 Agustus 2016
BATAK NETWORK - Semua PETINJU profesional memiliki PELATIH. Bahkan, petinju LEGENDARIS sehebat MOH ALI sekalipun memiliki PELATIH. Yaitu ANGELO DUNDEE yang membantu ALI menjadi JUARA dunia 3 kali.
Padahal jika mereka BERDUA disuruh BERTANDING sangat JELAS Angelo Dundee tidak akan pernah MENANG.
Mungkin kita ber-tanya-tanya, mengapa MOH ALI butuh PELATIH kalau JELAS dia pasti MENANG melawan pelatihnya?
KETAHUILAH.
Bahwa MOH ALI butuh PELATIH bukan karena pelatihnya lebih HEBAT tapi karena ia membutuhkan seseorang untuk MELIHAT hal-hal yang "TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"
Hal yang tidak dapat kita LIHAT dengan MATA sendiri itu yang disebut : "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA".
Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" dengan bantuan orang lain.
Dalam HIDUP kita BUTUH seseorang untuk MENGAWAL kehidupan kita, SEKALIGUS untuk MENGINGATKAN kita seandainya PRIORITAS hidup kita mulai BERGESER.
Kita butuh orang lain YANG :
*. MENASIHATI
*. MENGINGATKAN
*. MENEGUR
Jika Kita MULAI melakukan SESUATU hal yang KELIRU yang MUNGKIN tidak kita SADARI.
Kita butuh KERENDAHAN HATI untuk :
*. Menerima KRITIKAN
*. Menerima NASEHAT
*. Menerima TEGURAN
Itulah yang justru menyelamatkan kita.
Kita bukan Manusia SEMPURNA. Jadi, biarkan orang lain menjadi "MATA" Kita di area 'BLIND SPOT' Kita, sehingga Kita bisa MELIHAT apa yang tidak BISA kita LIHAT dengan 'PANDANGAN' kita SENDIRI.
Mari Kita saling nasehat- menasehati dalam KEBAIKAN dan KESABARAN.
"Demi depan yg lebih baik lagi".
Oleh: Rico Emor
Sumber: Akun Facebook Rico Emor TINJAKSTAR Juli 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Petinju Moh. Ali bersama pelatihnya Angelo Dundee. (Foto: Google) |
Padahal jika mereka BERDUA disuruh BERTANDING sangat JELAS Angelo Dundee tidak akan pernah MENANG.
Mungkin kita ber-tanya-tanya, mengapa MOH ALI butuh PELATIH kalau JELAS dia pasti MENANG melawan pelatihnya?
KETAHUILAH.
Bahwa MOH ALI butuh PELATIH bukan karena pelatihnya lebih HEBAT tapi karena ia membutuhkan seseorang untuk MELIHAT hal-hal yang "TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"
Hal yang tidak dapat kita LIHAT dengan MATA sendiri itu yang disebut : "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA".
Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" dengan bantuan orang lain.
Dalam HIDUP kita BUTUH seseorang untuk MENGAWAL kehidupan kita, SEKALIGUS untuk MENGINGATKAN kita seandainya PRIORITAS hidup kita mulai BERGESER.
Kita butuh orang lain YANG :
*. MENASIHATI
*. MENGINGATKAN
*. MENEGUR
Jika Kita MULAI melakukan SESUATU hal yang KELIRU yang MUNGKIN tidak kita SADARI.
Kita butuh KERENDAHAN HATI untuk :
*. Menerima KRITIKAN
*. Menerima NASEHAT
*. Menerima TEGURAN
Itulah yang justru menyelamatkan kita.
Kita bukan Manusia SEMPURNA. Jadi, biarkan orang lain menjadi "MATA" Kita di area 'BLIND SPOT' Kita, sehingga Kita bisa MELIHAT apa yang tidak BISA kita LIHAT dengan 'PANDANGAN' kita SENDIRI.
Mari Kita saling nasehat- menasehati dalam KEBAIKAN dan KESABARAN.
"Demi depan yg lebih baik lagi".
Oleh: Rico Emor
Sumber: Akun Facebook Rico Emor TINJAKSTAR Juli 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Renungan: Dalam Hidup Kita BUTUH Seseorang untuk MENGAWAL, MENGINGATKAN Kita!
Posted by FACE BATAK on Rabu, 20 Juli 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini, kita mencoba memaparkan sebuah renungan bagi sahabat-sahabat kita yang beragama Kristen. Barangkali tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Jalan TUHAN sempurna dan indah pada waktu-Nya
Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (Kejadian 41:16 )
Selama bertahun-tahun kelihatannya musuh-musuh Yusuf menang atas diri Yusuf. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya oleh karena visi (mimpi), dan perlakuan khusus dari ayahnya. Kemudian Yusuf dijual dan dibawa ke Mesir (lihat di Kejadian 37). Di Kejadian 40:15 dia berkata : “Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini."
Ia tidak berbuat jahat, tetapi ia dijebloskan ke dalam penjara. Meskipun demikian, dalam setiap krisis yang terjadi dalam hidupnya, ia tetap yakin bahwa TUHAN menyertai dia. I a tidak menuduh TUHAN tidak perduli terhadap dirinya.
Waktu Yusuf dipanggil Firaun untuk menafsirkan mimpinya, Yusuf dengan tegas mengatakan bahwa TUHANlah yang akan menyingkapkan tafsiran mimpi itu. Saat Yusuf dibebaskan dari penjara pun sudah ditentukan secara sempurna oleh DIA yang “…. karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11).
Walau Yusuf banyak mengalami kejadian yang pahit. Ia tetap menjaga agar hatinya tetap lembut, hangat, dan manis terhadap TUHAN.
Dalam kehidupan kita pun ada saat-saat kelihatannya TUHAN sedang diam saja. Namun sesungguhnya cara TUHAN bekerja lain dari cara manusia. Tentu saja Bapa Surgawi kita yang hikmat-NYA sempurna sedang bekerja menyelesaikan kehendak-Nya. Allah tidak dapat kita nilai melalui keadaan sekeliling kita. Pujilah TUHAN dalam segala keadaan hidup kita. Janganlah menunggu samapi kesulitan berlalu, baru kita memuji-Nya.
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! “ (Roma 11:33)
Perenungan: TUHAN mengizinkan banyak penderitaan menimpa kehidupan kita, karena melalui semuanya itu kta dapat mengalami kuasa TUHAN bekerja dalam diri kita, membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.
Oleh: Robert Silaen
Sumber: Akun facebook Robert Silaen II TINJAKSTAR Juli 17, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Foto ilustrasi (Sumber: Google) |
Jalan TUHAN sempurna dan indah pada waktu-Nya
Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (Kejadian 41:16 )
Selama bertahun-tahun kelihatannya musuh-musuh Yusuf menang atas diri Yusuf. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya oleh karena visi (mimpi), dan perlakuan khusus dari ayahnya. Kemudian Yusuf dijual dan dibawa ke Mesir (lihat di Kejadian 37). Di Kejadian 40:15 dia berkata : “Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini."
Ia tidak berbuat jahat, tetapi ia dijebloskan ke dalam penjara. Meskipun demikian, dalam setiap krisis yang terjadi dalam hidupnya, ia tetap yakin bahwa TUHAN menyertai dia. I a tidak menuduh TUHAN tidak perduli terhadap dirinya.
Waktu Yusuf dipanggil Firaun untuk menafsirkan mimpinya, Yusuf dengan tegas mengatakan bahwa TUHANlah yang akan menyingkapkan tafsiran mimpi itu. Saat Yusuf dibebaskan dari penjara pun sudah ditentukan secara sempurna oleh DIA yang “…. karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11).
Walau Yusuf banyak mengalami kejadian yang pahit. Ia tetap menjaga agar hatinya tetap lembut, hangat, dan manis terhadap TUHAN.
Dalam kehidupan kita pun ada saat-saat kelihatannya TUHAN sedang diam saja. Namun sesungguhnya cara TUHAN bekerja lain dari cara manusia. Tentu saja Bapa Surgawi kita yang hikmat-NYA sempurna sedang bekerja menyelesaikan kehendak-Nya. Allah tidak dapat kita nilai melalui keadaan sekeliling kita. Pujilah TUHAN dalam segala keadaan hidup kita. Janganlah menunggu samapi kesulitan berlalu, baru kita memuji-Nya.
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! “ (Roma 11:33)
Perenungan: TUHAN mengizinkan banyak penderitaan menimpa kehidupan kita, karena melalui semuanya itu kta dapat mengalami kuasa TUHAN bekerja dalam diri kita, membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.
Oleh: Robert Silaen
Sumber: Akun facebook Robert Silaen II TINJAKSTAR Juli 17, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Renungan: Jalan TUHAN sempurna dan indah pada waktu-Nya
Posted by FACE BATAK on Minggu, 17 Juli 2016
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia










