BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Hangoluon on ndang dao sian hamatean. Ido hata ni natua-tuatta (Hidup ini tidak lepas dari kematian). Itu memang benar adanya. Dimana setelah kehidupan di dunia ini, akan diakhiri dengan sebuah kematian.
Sebelumnya kita telah membicarakan Turi-turian tentang Perkawinan dan Kelahiran Anak dalam tradisi budaya Batak Toba. Kali ini, kembali kami memaparkan sebuah turi-turian tentang melaksanakan Upacara Adat Kematian dan Mangapuli Dalam Budaya Batak.
Baca Juga:
Tata Cara Perkawinan dalam Budaya Batak Toba
Tradisi Mamoholi (Menyambut Kelahiran Anak) Dalam Budaya Batak
Upacara Adat Kematian Dalam Budaya Batak
Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati. Untuk yang mati ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati). Tetapi bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan kematian tersebut mendapat perlakuan adat: mayatnya ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas masyarakat Batak) sebelum dikuburkan.
Ulos penutup mayat untuk mate poso-poso berasal dari orang tuanya, sedangkan untuk mate dakdanak dan mate bulung, ulos dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang mati.
Baca Juga: Inilah Jenis Ulos Batak dan Fungsinya dalam Budaya Batak
Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang yang mati:
1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alangan / mate punu),
2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar),
3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon),
4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan
5. Telah bercucu tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua).
Mate Saurmatua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara, karena mati saat semua anaknya telah berumah tangga. Memang masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua bulung (mati ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan) (Sinaga,1999:37–42). Namun keduanya dianggap sama sebagai konsep kematian ideal (meninggal dengan tidak memiliki tanggungan anak lagi).
Mangapuli Dalam Budaya Batak
Kegiatan Mangapuli dalam adat batak adalah memberikan penghiburan kepada keluarga yang sedang berduka cita. Hanya saja Mangapuli tidak dilakukan secara asal-asal, semua ada prosedurnya dan prosedur ini erat hubunganya dengan adat Batak Toba. Kita dan Pihak Keluarga datang membawa makanan, minuman untuk dimakan bersama-sama di rumah duka. Keluarga yang berduka sama sekali tidak direpotkan dengan makanan namun cukup menyediakan piring-piring, dan air putih saja.
Dan pihak keluarga yang berduka juga biasanya menyampaikan terimakasih kepada orang-orang yang sudah datang memberikan penghiburan (dukungan moril) kepada keluarga yang ditinggalkan yang biasa disebut Mangampu hasuhuton.
Demikianlah turi-turian tentang Upacara Adat Kematian dan Mangapuli Dalam Budaya Batak yang bisa kami paparkan. Bila ada kekurangan atau kelebihan mengenai turi-turian diatas, mohon memberi masukan berupa saran atau kritikan. Harapan kami, semoga Turi-Turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Salam. Tuhan Memberkati. Horas.***
Editor: Tim Batak Network
Sumber: Net. TINJAKSTAR Maret 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Saur Matua, Adat Batak (herlina.org) |
Sebelumnya kita telah membicarakan Turi-turian tentang Perkawinan dan Kelahiran Anak dalam tradisi budaya Batak Toba. Kali ini, kembali kami memaparkan sebuah turi-turian tentang melaksanakan Upacara Adat Kematian dan Mangapuli Dalam Budaya Batak.
Baca Juga:
Tata Cara Perkawinan dalam Budaya Batak Toba
Tradisi Mamoholi (Menyambut Kelahiran Anak) Dalam Budaya Batak
Upacara Adat Kematian Dalam Budaya Batak
Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati. Untuk yang mati ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati). Tetapi bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan kematian tersebut mendapat perlakuan adat: mayatnya ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas masyarakat Batak) sebelum dikuburkan.
Ulos penutup mayat untuk mate poso-poso berasal dari orang tuanya, sedangkan untuk mate dakdanak dan mate bulung, ulos dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang mati.
Baca Juga: Inilah Jenis Ulos Batak dan Fungsinya dalam Budaya Batak
Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang yang mati:
1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alangan / mate punu),
2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar),
3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon),
4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan
5. Telah bercucu tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua).
Mate Saurmatua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara, karena mati saat semua anaknya telah berumah tangga. Memang masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua bulung (mati ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan) (Sinaga,1999:37–42). Namun keduanya dianggap sama sebagai konsep kematian ideal (meninggal dengan tidak memiliki tanggungan anak lagi).
Mangapuli Dalam Budaya Batak
Kegiatan Mangapuli dalam adat batak adalah memberikan penghiburan kepada keluarga yang sedang berduka cita. Hanya saja Mangapuli tidak dilakukan secara asal-asal, semua ada prosedurnya dan prosedur ini erat hubunganya dengan adat Batak Toba. Kita dan Pihak Keluarga datang membawa makanan, minuman untuk dimakan bersama-sama di rumah duka. Keluarga yang berduka sama sekali tidak direpotkan dengan makanan namun cukup menyediakan piring-piring, dan air putih saja.
Dan pihak keluarga yang berduka juga biasanya menyampaikan terimakasih kepada orang-orang yang sudah datang memberikan penghiburan (dukungan moril) kepada keluarga yang ditinggalkan yang biasa disebut Mangampu hasuhuton.
Demikianlah turi-turian tentang Upacara Adat Kematian dan Mangapuli Dalam Budaya Batak yang bisa kami paparkan. Bila ada kekurangan atau kelebihan mengenai turi-turian diatas, mohon memberi masukan berupa saran atau kritikan. Harapan kami, semoga Turi-Turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Salam. Tuhan Memberkati. Horas.***
Editor: Tim Batak Network
Sumber: Net. TINJAKSTAR Maret 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia

