Tari Tradisional Angkola Sumatera Utara
Daerah Tapanuli Selatan adalah daerah yang di tempati oleh suku Angkola.
Suku Angkola memiliki tarian adat, seperti :
1. Tarian Tradisional Rondang Bulan
Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis Angkola yang menari dengan riang di bawah
pancaran sinar bulan purnama. Rondang Bulan sendiri berarti "Terang Bulan".
2. Tarian Tradisional Onang-onang atau Tor-tor
Tor-tor di tanah Batak itu ada sedikit perbedaan antar sub etnis, baik musik ataupun gerakan
tangannya. Tor-tor di Tapanuli Selatan diiringi oleh Gondang Sembilan yang sering juga disebut
Onang-onang, karena ada lirik musik pengiringnya yang berbunyi Onang-onang Ile Baya Onang.
3. Tarian Tradisional Turke-turke
Tarian Turke-turke yang berarti timang-timang. Tarian ini menceritakan seorang kakak yang
berperan sebagai seorang ibu yang selalu menjaga adiknya, seorang kakak mulai memandikan,
menimang, menidurkan, seorang adik tersebut di kala ibu mereka sedang pergi berladang.
4. Tarian Tradisional Karanjang
4. Tarian Tradisional Karanjang
Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara
Suku Mandailing adalah salah satu suku adat yang ada di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Mereka datang di bawah pengaruh Kaum Padri yang memerintah Minangkabau di Tanah Datar. Hasilnya, suku ini di pengaruhi oleh budaya islam. Suku ini juga tersebar di Malaysia, tepatnya di Selangor dan Perak. Suku ini juga memiliki keterkaitan dengan Suku Angkola.
Sebagai salah satu suku adat di Sumatera Utara, suku Mandailing juga memiliki beragam kesenian dan budaya tradisi. Salah satunya adalah tari tradisional. Berbagai jenis kebudayaan lokal di Kabupaten ini telah mengalami perubahan dan disesuaikan dengan norma-norma agama. Berikut ini adalah tarian tradisional yang berasal dari Mandailing, Sumatera Utara :
1. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Tari Endeng Endeng
Tari Endeng-Endeng adalah sebuah tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Tari Endeng-Endeng ini menggambarkan semangat dan ekspresi gembira masyarakat sehari-hari, serta ungkapan kegembiraan Naposo Nauli Bulung (Muda-Mudi) saat tertanam dan panen raya.
Dalam penampilannya, tari Endeng-Endeng dimainkan oleh sepuluh pemain yakni dua orang bertugas sebagai vokalis, satu orang pemain keyboard, satu orang pemain tamborin, lima orang penabuh gendang dan seorang pemain ketipung (gendang kecil). Biasanya lagu yang dibawakan berbahasa Tapanuli Selatan. Setiap tampil, kesenian ini memakan waktu empat jam. Daya tarik kesenian ini adalah joget dan tariannya yang ceria, sesuai dengan lagu-lagu yang dibawakan.
2. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung
Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung adalah merupakan jenis tarian Tor-Tor Sumatera Utara yang khusus di tarikan oleh pemuda-pemuda dan pemudi secara berpasangan. Penampilan tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung biasanya terdiri dari 3 penari wanita dan 3 penari pria, dibarisan terdepan (Na Isembar) adalah para anak gadis yang memiliki marga yang sama misalnya Nasution, maka dibarisan belakang (Pengayapi) adalah para pemuda yang (Harus) bermarga lain misalnya Lubis atau sebaliknya para anak gadis di barisan depan (Na Isembar) bermarga Nasution, sedangkan dibarisan belakang (Panyembar) harus bermarga Lubis atau marga-marga lain seperti Rangkuti, Pulungan, Matondang, Daulae, dan Batubara.
3. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Guro-Guro Aron Terang Bulan
Tari Guro-Guro Aron adalah arena muda-mudi untuk saling kenal dan sebagai lembaga untuk mendidik anak muda-mudi mengenal adat. Dahulu acara ini dibuat sebagai salah satu alat untuk membudayakan seni tari agar dikenal dan disenangi oleh muda-mudi dalam rangka pelestariannya. Acar ini dilengkapi dengan alat-alat musik khas yakni : Sarune, Gendang (Singindungi dan Singanaki) juga dari penganak.
4. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Tor-Tor Tepak
Tor-Tor Tepak dilakukan pada saat upacara perkawinan Horja Godang Haroan Boru (Datangnya pengantin/ Horja Godang untuk perkawinan). Tortor Tepak adalah jenis tari persembahan atau tari pembuka untuk sidang adat pada masyarakat Mandailing yang dilaksanakan pada saat upacara perkawinan Horja Godang Haroan Boru, yang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh.
5. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Sarama Datu
Dalam upacara ritual seperti Paturun Sibaso (Marsibaso) atau disebut juga pasusur begu, tarian Sarama diiringi oleh ensambel musik Gordang Sambilan, sedangkan penarinya satu orang yang dinamakan Sibaso, adalah tokoh Shaman dalam religi lama orang Mandailing yang disebut Si Pelebegu.
Di masa lalu, upacara ritual Paturun Sibaso diselenggarakan manakala pada suatu huta atau banua terjadi musibah besar seperti mewabahnya penyakit kolera dan musim kemarau atau sebaliknya musim penghujan yang berkepanjangan sehingga mengganggu aktifitas pertanian penduduk setempat, yang pada akhirnya akan menimbulkan kelaparan karena habisnya persediaan padi (beras) sebagai makanan pokok mereka. Untuk mengatasi Bala Na Godang (Bencana Besar) tersebut, mereka meminta pertolongan begu, yaitu roh-roh leluhur, melalui perantaraan Sibaso karena menurut keyakinan mereka dahulu hanya Sibaso inilah yang dapat berkomunikasi dengan begu.
Upacara ritual Paturun Sibaso dahulu dilaksanakan di alaman bolak (Halaman Luas) dari Bagas Godang (Istana Raja), yang dihadiri oleh Raja, Namora Natoras, Si Tuan Najaji (Penduduk Setempat) dan seorang tokoh supranatural bernama Datu yang sangat besar peranannya, terutama untuk memimpin pelaksanaan upacara-upacara ritual. Ketika itu, datu dipandang sebagai "Gudang Ilmu" karena ia memiliki berbagai macam kearifan tradisional (Traditional Wisdom) yang sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup komunitas huta atau banua.
Dalam upacara ritual Paturun Sibaso disediakan makanan khusus untuk Sibaso, yaitu parlaslas, yang diletakkan di atas sebuah nampan antara lain berisi Garing (Ikan Jurung) yang dibakar dan Pege (Lengkuas), serta Ngiro (Air Nira) di dalam Tanduk Ni Orbo (Wadah yang terbuat dari tanduk kerbau). Setelah Gordang Sambilan dimainkan dengan Gondang (Repertoar Musik) khusus bernama Mamele Begu, Sibaso pun menari-nari dan kemudian mengalami kesurupan (Trance). Dalam keadaan kesurupan ini, Sibaso meminta makan dan minum. Setelah makan dan minum, Sibaso kembali menari-nari. Tidak lama kemudian, sang Datu menghampiri Sibaso untuk memberitahukan adanya suatu peristiwa Bala Na Godang (Musibah Besar) yang sedang melanda penduduk dan memohon kepada Sibaso agar berkenan menanyakan apa penyebab dan bagaimana solusinya kepada begu karena pemduduk sudah tidak mampu lagi untuk mengatasinya. Setelah itu, Sibaso memberitahukan apa penyebab dan bagaimana caranya mengatasi musibah besar itu kepada sang Datu. Setelah itu, Sibaso pun terjatuh, lalu tidak sadarkan diri (Pingsan). Beberapa saat kemudian ia pun sadar kembali seperti semula, yakni keadaannya sebelum upacara ritual tersebut dimulai.
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
2. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung
Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung adalah merupakan jenis tarian Tor-Tor Sumatera Utara yang khusus di tarikan oleh pemuda-pemuda dan pemudi secara berpasangan. Penampilan tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung biasanya terdiri dari 3 penari wanita dan 3 penari pria, dibarisan terdepan (Na Isembar) adalah para anak gadis yang memiliki marga yang sama misalnya Nasution, maka dibarisan belakang (Pengayapi) adalah para pemuda yang (Harus) bermarga lain misalnya Lubis atau sebaliknya para anak gadis di barisan depan (Na Isembar) bermarga Nasution, sedangkan dibarisan belakang (Panyembar) harus bermarga Lubis atau marga-marga lain seperti Rangkuti, Pulungan, Matondang, Daulae, dan Batubara.
3. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Guro-Guro Aron Terang Bulan
Tari Guro-Guro Aron adalah arena muda-mudi untuk saling kenal dan sebagai lembaga untuk mendidik anak muda-mudi mengenal adat. Dahulu acara ini dibuat sebagai salah satu alat untuk membudayakan seni tari agar dikenal dan disenangi oleh muda-mudi dalam rangka pelestariannya. Acar ini dilengkapi dengan alat-alat musik khas yakni : Sarune, Gendang (Singindungi dan Singanaki) juga dari penganak.
4. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Tor-Tor Tepak
Tor-Tor Tepak dilakukan pada saat upacara perkawinan Horja Godang Haroan Boru (Datangnya pengantin/ Horja Godang untuk perkawinan). Tortor Tepak adalah jenis tari persembahan atau tari pembuka untuk sidang adat pada masyarakat Mandailing yang dilaksanakan pada saat upacara perkawinan Horja Godang Haroan Boru, yang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh.
5. Tari Tradisional Mandailing Sumatera Utara - Sarama Datu
Dalam upacara ritual seperti Paturun Sibaso (Marsibaso) atau disebut juga pasusur begu, tarian Sarama diiringi oleh ensambel musik Gordang Sambilan, sedangkan penarinya satu orang yang dinamakan Sibaso, adalah tokoh Shaman dalam religi lama orang Mandailing yang disebut Si Pelebegu.
Di masa lalu, upacara ritual Paturun Sibaso diselenggarakan manakala pada suatu huta atau banua terjadi musibah besar seperti mewabahnya penyakit kolera dan musim kemarau atau sebaliknya musim penghujan yang berkepanjangan sehingga mengganggu aktifitas pertanian penduduk setempat, yang pada akhirnya akan menimbulkan kelaparan karena habisnya persediaan padi (beras) sebagai makanan pokok mereka. Untuk mengatasi Bala Na Godang (Bencana Besar) tersebut, mereka meminta pertolongan begu, yaitu roh-roh leluhur, melalui perantaraan Sibaso karena menurut keyakinan mereka dahulu hanya Sibaso inilah yang dapat berkomunikasi dengan begu.
Upacara ritual Paturun Sibaso dahulu dilaksanakan di alaman bolak (Halaman Luas) dari Bagas Godang (Istana Raja), yang dihadiri oleh Raja, Namora Natoras, Si Tuan Najaji (Penduduk Setempat) dan seorang tokoh supranatural bernama Datu yang sangat besar peranannya, terutama untuk memimpin pelaksanaan upacara-upacara ritual. Ketika itu, datu dipandang sebagai "Gudang Ilmu" karena ia memiliki berbagai macam kearifan tradisional (Traditional Wisdom) yang sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup komunitas huta atau banua.
Dalam upacara ritual Paturun Sibaso disediakan makanan khusus untuk Sibaso, yaitu parlaslas, yang diletakkan di atas sebuah nampan antara lain berisi Garing (Ikan Jurung) yang dibakar dan Pege (Lengkuas), serta Ngiro (Air Nira) di dalam Tanduk Ni Orbo (Wadah yang terbuat dari tanduk kerbau). Setelah Gordang Sambilan dimainkan dengan Gondang (Repertoar Musik) khusus bernama Mamele Begu, Sibaso pun menari-nari dan kemudian mengalami kesurupan (Trance). Dalam keadaan kesurupan ini, Sibaso meminta makan dan minum. Setelah makan dan minum, Sibaso kembali menari-nari. Tidak lama kemudian, sang Datu menghampiri Sibaso untuk memberitahukan adanya suatu peristiwa Bala Na Godang (Musibah Besar) yang sedang melanda penduduk dan memohon kepada Sibaso agar berkenan menanyakan apa penyebab dan bagaimana solusinya kepada begu karena pemduduk sudah tidak mampu lagi untuk mengatasinya. Setelah itu, Sibaso memberitahukan apa penyebab dan bagaimana caranya mengatasi musibah besar itu kepada sang Datu. Setelah itu, Sibaso pun terjatuh, lalu tidak sadarkan diri (Pingsan). Beberapa saat kemudian ia pun sadar kembali seperti semula, yakni keadaannya sebelum upacara ritual tersebut dimulai.
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
Etnis Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat. Pakpak memiliki khasanah tarian tradisional yang identik dengan pola kehidupan sehari-hari suku Pakpak. Tari tradisional Pakpak kerap ditampilkan dalam acara adat maupun acara biasa. Tari dalam Bahasa Pakpak adalah Tatak.
Berikut jenis tarian tradisional Pakpak :
1. Tari Tatak Menapu Kopi/ Memupu
Kopi merupakan salah satu jenis hasil pertanian di Tanah Pakpak. Tatak Muat Kopi ini menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen kopi, menumbuk kopi dan menjemur kopi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi (petani) di kampungnya saat datang musim panen.
2. Tari Tatak Garo Garo
Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Tatak Garo Garo merupakan tatak yang menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang mencari pasangan di kampungnya namun tidak juga menemukannya karena pemuda yang dicari sedang pergi merantau ke kampung seberang. Suatu ketika mereka bertemu dan akhirnya pemuda tersebut membawa pulang sang kekasih. Tatak ini biasa diiringi dengan lagu pertangis-tangis Menci. Masyarakat Pakpak sendiri menari-kan tarian ini ketika masa panen tiba yang menandakan sukacita masyarakat atas panen yang berlimpah.
3. Tari Tatak Dembas Simanguda
Tari ini menceritakan tentang doa dan mohon berkat petani yang disampaikan kepada nenek moyang (Sarat spiritual magis yaitu animisme karena menyebut berkali-kali "Mpung") agar diberi kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan pekerjaan.
4. Tari Tatak Muat Page/ Menabi Page
Tatak Muat Page/ Menabi Page menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen padi, mengerrik (Memisahkan padi dari batangnya dengan menggunakan telapak kaki), membawa pulang kerumah yang dilakukan oleh pemuda-pemudi di kampungnya saat datang musim panen. Taktak ini menggambarkan kegembiraan dari para muda-mudi. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu, para muda-mudi di daerah Pakpak hanya dapat bertemu dan berbicara lebih dekat satu sama lain pada saat masa panen. Tatak ini menggambarkan tentang kegembiraan dalam memanen padi.
5. Tari Tatak Renggisa
Renggisa merupakan jenis burung yang selalu setia terbang bersama pasangannya. Tatak Renggisa ini menceritakan tentang keserasian sepasang Renggisa yang berwarna putih dengan Renggisa yang berwarna hitam terbang melewati bukit-bukit sambil mengepakkan sayapnya secara bergantian sehingga menghasilkan suara yang enak didengar. Cerita ini diibaratkan dengan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan saling setia antara yang satu dengan yang lainnya.
6. Tari Tatak Menerser Page (Tintoa Serser)
Tatak ini diciptakan dari kegiatan masyarakat saat panen Padi, Tatak ini menggambarkan bagaimana proses bercocok tanam mulai dari memanen padi "menabi", mengerrik, membersihkan dan membawa pulang hasil panen padi tersebut.
7. Tari Tatak Nantampuk Emas
Tatak Nantampuk Mas berarti tarian putri Nantampuk Mas, dinamakan Nantampuk Mas, karena dulunya Tatak ini hanya ditarikan oleh putri raja (Beru Pertaki) yang bergelar Nantampuk Mas. Dalam kesehariannya, sang putri selalu mengisi waktu senggangnya dengan menari bersama para dayang di kediamannya, atau yang dalam bahasa Pakpak disebut jero. Dikarenakan ketidaksengajaan para dayang menarikan Tatak tersebut di luar istana, membuat Tatak ini akhirnya di kenal oleh masyarakat Pakpak di luar istana.
Pada masa sekarang ini, masyarakat Pakpak lebih mengenal Tatak Nantampuk Mas sebagai Tatak persembahan ini ingin menunjukkan bagaimana keramah tamahan perempuan-perempuan Pakpak kepada para tamu-tamu undangan, yang biasanya di pertunjukan dalam upacara seremonial pemerintahan maupun acara hiburan yang dipertunjukkan di lapangan maupun gedung-gedung pemerintahan.
Penarinya terdiri atas tiga atau tujuh orang perempuan maupun lebih, namun harus ganjil dan merupakan perempuan-perempuan pilihan yang berambut panjang serta merupakan gadis-gadis tercantik yang ada di suku tersebut.
Tatak Nantampuk Mas merupakan salah satu seni tari tradisi yang ada pada masyarakat Pakpak yang sudah terintegrasi menjadi identitas mereka.
Tatak Nantampuk Mas ini diiringi oleh repertoar Anggun Pola yang terdiri atas alat musik kalondang, kucapi, lobat, gendang sitellu-telludan gung sada rabaan.
Pada masa sekarang ini, tatak Nantampuk Mas ini dapat kita lihat pada upacara-upacara seremonial adat, pemerintahan, maupun hiburan yang ditampilkan pada saat menyambut tamu-tamu atau undangan pada sebuah acara. Tatak Nantampuk Mas ini selalu ditampilkan untuk tetap terjaga kelestariannya.
Agar generasi muda sekarang tidak lupa ataupun dapat mengetahui keberadaan Tatak Nantampuk Mas ini.
8. Tari Tatak Tirismo Lae Bangkuang
9. Tari Tatak Ndembas
Tarian ini mirip dengan Tatak Nantampuk Emas, perbedaannya kalau Tatak ini boleh di tari kan oleh kaum ibu-ibu. Disebut Tatak Ndembas, karena tarian ini di tari kan sambil bernyanyi dan umumnya tarian ini merupakan ungkapan penyesalan ataupun pelampiasan dari para ibu-ibu yang mengalami kawin paksa ataupun yang mengalami tekanan-tekanan sehingga mengharuskan untuk menikah. Isi daripada nyanyian yang dinyanyikan pun juga merupakan ungkapan-ungkapan kekesalan ataupun hal-hal yang mengganjal di hati dikarenakan mereka tidak dapat melawan kata orangtuanya.
10. Tari Tatak Perampuk-ampuk
Tatak ini menggambarkan tentang keharmonisan yang terjalin antara kaum muda-mudi yang ada dalam kebudayaan masyarakat Pakpak.
11. Tari Tatak Balang Cikua
Dalam kepercayaan suku Pakpak Balang Cikua "Cangcorang" dapat memberikan informasi kepada kita dengan menggunakan kaki depannya apabila kita bertanya kepadanya. Tatak Balang Cikua ini menceritakan tentang sepasang muda-mudi yang tersesat di hutan dan tidak tau arah pulang dan dari kepercayaan tersebut muda-mudi tersebut menangkap Balang Cikua "Cangcorang" dan bertanya kemana arah untuk keluar dari hutan.
12. Tari Tatak Mendedohi/ Menganjaki Takal-Takal
Taktak ini dulunya adalah rangkaian upacara ritual bagi orang Pakpak, dimana mereka menginjak-injak kepala musuh atau tawanan yang sudah di penggal dan kemudian di rebus. Namun sekarang tatak ini di tari kan dengan menggunakan replika kepala manusia untuk di injak dan sudah menjadi bagian pertunjukan bagi masyarakat Pakpak.
13. Tari Tatak Persembahan
Tari Tatak ini biasanya dibawakan pada pembukaan acara dan bertujuan untuk memberikan sambutan dan selamat datang kepada para tamu dan undangan dalam suatu kegiatan. Tari ini biasa diiringi dengan lagu.
14. Tari Tatak Memuro
Tatak Memuro menceritakan tentang kegiatan menjaga tanaman padi ditengah sawah yang penuh dengan kesunyian dan berusaha untuk melindungi tanaman padi dari berbagai ancaman binatang perusak seperti burung, tikus dan hewan-hewan perusak lainnya.
15. Tari Tatak Mengindangi
Tatak ini menggambarkan tentang suasana menumbuk padi pada masyarakat Pakpak. Dan Tari ini menggambarkan tentang muda-mudi mulai dari tahap berkenalan hingga menjalin hubungan pada saat menumbuk padi. Pada saat perempuan mulai menumbuk padi, maka pemuda-pemuda yang ada di kampung tersebut akan berdatangan karena mendengar suara tumbukan lesung. Sehingga terjadilah perkenalan dengan saling berbalas pantun.
16. Tari Tatak Mendedah
Tatak ini menggambarkan tentang bagaimana seorang ibu mengasuh bayinya. Tatak ini hanya dilakukan oleh para perempuan.
17. Tari Tatak Kuda-Kuda
18. Tari Tatak Graha (Persiapan Perang)
19. Tari Tatak Moccak/Moncak (Tari Pencak Silat)
20. Tari Tatak Ranggo Jodi
21. Tari Tatak Nandorbin
22. Tari Tatak Kipudung
23. Tari Tatak Adat
24. Tari Tatak Mersulangat
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
TINJAKSTAR
Mei 14, 2017
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBerikut jenis tarian tradisional Pakpak :
1. Tari Tatak Menapu Kopi/ Memupu
Kopi merupakan salah satu jenis hasil pertanian di Tanah Pakpak. Tatak Muat Kopi ini menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen kopi, menumbuk kopi dan menjemur kopi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi (petani) di kampungnya saat datang musim panen.
2. Tari Tatak Garo Garo
Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Tatak Garo Garo merupakan tatak yang menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang mencari pasangan di kampungnya namun tidak juga menemukannya karena pemuda yang dicari sedang pergi merantau ke kampung seberang. Suatu ketika mereka bertemu dan akhirnya pemuda tersebut membawa pulang sang kekasih. Tatak ini biasa diiringi dengan lagu pertangis-tangis Menci. Masyarakat Pakpak sendiri menari-kan tarian ini ketika masa panen tiba yang menandakan sukacita masyarakat atas panen yang berlimpah.
3. Tari Tatak Dembas Simanguda
Tari ini menceritakan tentang doa dan mohon berkat petani yang disampaikan kepada nenek moyang (Sarat spiritual magis yaitu animisme karena menyebut berkali-kali "Mpung") agar diberi kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan pekerjaan.
4. Tari Tatak Muat Page/ Menabi Page
Tatak Muat Page/ Menabi Page menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen padi, mengerrik (Memisahkan padi dari batangnya dengan menggunakan telapak kaki), membawa pulang kerumah yang dilakukan oleh pemuda-pemudi di kampungnya saat datang musim panen. Taktak ini menggambarkan kegembiraan dari para muda-mudi. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu, para muda-mudi di daerah Pakpak hanya dapat bertemu dan berbicara lebih dekat satu sama lain pada saat masa panen. Tatak ini menggambarkan tentang kegembiraan dalam memanen padi.
5. Tari Tatak Renggisa
Renggisa merupakan jenis burung yang selalu setia terbang bersama pasangannya. Tatak Renggisa ini menceritakan tentang keserasian sepasang Renggisa yang berwarna putih dengan Renggisa yang berwarna hitam terbang melewati bukit-bukit sambil mengepakkan sayapnya secara bergantian sehingga menghasilkan suara yang enak didengar. Cerita ini diibaratkan dengan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan saling setia antara yang satu dengan yang lainnya.
6. Tari Tatak Menerser Page (Tintoa Serser)
Tatak ini diciptakan dari kegiatan masyarakat saat panen Padi, Tatak ini menggambarkan bagaimana proses bercocok tanam mulai dari memanen padi "menabi", mengerrik, membersihkan dan membawa pulang hasil panen padi tersebut.
7. Tari Tatak Nantampuk Emas
Tatak Nantampuk Mas berarti tarian putri Nantampuk Mas, dinamakan Nantampuk Mas, karena dulunya Tatak ini hanya ditarikan oleh putri raja (Beru Pertaki) yang bergelar Nantampuk Mas. Dalam kesehariannya, sang putri selalu mengisi waktu senggangnya dengan menari bersama para dayang di kediamannya, atau yang dalam bahasa Pakpak disebut jero. Dikarenakan ketidaksengajaan para dayang menarikan Tatak tersebut di luar istana, membuat Tatak ini akhirnya di kenal oleh masyarakat Pakpak di luar istana.
Pada masa sekarang ini, masyarakat Pakpak lebih mengenal Tatak Nantampuk Mas sebagai Tatak persembahan ini ingin menunjukkan bagaimana keramah tamahan perempuan-perempuan Pakpak kepada para tamu-tamu undangan, yang biasanya di pertunjukan dalam upacara seremonial pemerintahan maupun acara hiburan yang dipertunjukkan di lapangan maupun gedung-gedung pemerintahan.
Penarinya terdiri atas tiga atau tujuh orang perempuan maupun lebih, namun harus ganjil dan merupakan perempuan-perempuan pilihan yang berambut panjang serta merupakan gadis-gadis tercantik yang ada di suku tersebut.
Tatak Nantampuk Mas merupakan salah satu seni tari tradisi yang ada pada masyarakat Pakpak yang sudah terintegrasi menjadi identitas mereka.
Tatak Nantampuk Mas ini diiringi oleh repertoar Anggun Pola yang terdiri atas alat musik kalondang, kucapi, lobat, gendang sitellu-telludan gung sada rabaan.
Pada masa sekarang ini, tatak Nantampuk Mas ini dapat kita lihat pada upacara-upacara seremonial adat, pemerintahan, maupun hiburan yang ditampilkan pada saat menyambut tamu-tamu atau undangan pada sebuah acara. Tatak Nantampuk Mas ini selalu ditampilkan untuk tetap terjaga kelestariannya.
Agar generasi muda sekarang tidak lupa ataupun dapat mengetahui keberadaan Tatak Nantampuk Mas ini.
8. Tari Tatak Tirismo Lae Bangkuang
9. Tari Tatak Ndembas
Tarian ini mirip dengan Tatak Nantampuk Emas, perbedaannya kalau Tatak ini boleh di tari kan oleh kaum ibu-ibu. Disebut Tatak Ndembas, karena tarian ini di tari kan sambil bernyanyi dan umumnya tarian ini merupakan ungkapan penyesalan ataupun pelampiasan dari para ibu-ibu yang mengalami kawin paksa ataupun yang mengalami tekanan-tekanan sehingga mengharuskan untuk menikah. Isi daripada nyanyian yang dinyanyikan pun juga merupakan ungkapan-ungkapan kekesalan ataupun hal-hal yang mengganjal di hati dikarenakan mereka tidak dapat melawan kata orangtuanya.
10. Tari Tatak Perampuk-ampuk
Tatak ini menggambarkan tentang keharmonisan yang terjalin antara kaum muda-mudi yang ada dalam kebudayaan masyarakat Pakpak.
11. Tari Tatak Balang Cikua
Dalam kepercayaan suku Pakpak Balang Cikua "Cangcorang" dapat memberikan informasi kepada kita dengan menggunakan kaki depannya apabila kita bertanya kepadanya. Tatak Balang Cikua ini menceritakan tentang sepasang muda-mudi yang tersesat di hutan dan tidak tau arah pulang dan dari kepercayaan tersebut muda-mudi tersebut menangkap Balang Cikua "Cangcorang" dan bertanya kemana arah untuk keluar dari hutan.
12. Tari Tatak Mendedohi/ Menganjaki Takal-Takal
Taktak ini dulunya adalah rangkaian upacara ritual bagi orang Pakpak, dimana mereka menginjak-injak kepala musuh atau tawanan yang sudah di penggal dan kemudian di rebus. Namun sekarang tatak ini di tari kan dengan menggunakan replika kepala manusia untuk di injak dan sudah menjadi bagian pertunjukan bagi masyarakat Pakpak.
13. Tari Tatak Persembahan
Tari Tatak ini biasanya dibawakan pada pembukaan acara dan bertujuan untuk memberikan sambutan dan selamat datang kepada para tamu dan undangan dalam suatu kegiatan. Tari ini biasa diiringi dengan lagu.
14. Tari Tatak Memuro
Tatak Memuro menceritakan tentang kegiatan menjaga tanaman padi ditengah sawah yang penuh dengan kesunyian dan berusaha untuk melindungi tanaman padi dari berbagai ancaman binatang perusak seperti burung, tikus dan hewan-hewan perusak lainnya.
15. Tari Tatak Mengindangi
Tatak ini menggambarkan tentang suasana menumbuk padi pada masyarakat Pakpak. Dan Tari ini menggambarkan tentang muda-mudi mulai dari tahap berkenalan hingga menjalin hubungan pada saat menumbuk padi. Pada saat perempuan mulai menumbuk padi, maka pemuda-pemuda yang ada di kampung tersebut akan berdatangan karena mendengar suara tumbukan lesung. Sehingga terjadilah perkenalan dengan saling berbalas pantun.
16. Tari Tatak Mendedah
Tatak ini menggambarkan tentang bagaimana seorang ibu mengasuh bayinya. Tatak ini hanya dilakukan oleh para perempuan.
17. Tari Tatak Kuda-Kuda
18. Tari Tatak Graha (Persiapan Perang)
19. Tari Tatak Moccak/Moncak (Tari Pencak Silat)
20. Tari Tatak Ranggo Jodi
21. Tari Tatak Nandorbin
22. Tari Tatak Kipudung
23. Tari Tatak Adat
24. Tari Tatak Mersulangat
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
Tari pada masyarakat Karo disebut "Landek". Dalam budaya Karo, penyajian Landek sangat kontekstual. Dengan kata lain, keberadaan Landek ditentukan dengan konteks penyajiannya. Selain itu setiap gerakan-gerakan dalam Landek masyarakat juga berhubungan dengan perlambangan-perlambangan dan makna-makna tertentu.
1. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Piso Surit
Piso Surit adalah salah satu lagu, syair, serta tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil.
Lagu Piso Surit Karya Djaga Depan dalam bahasa Karo, dengan lagu yang bernuansa tradisional Karo berkembang (dibuatkan) tariannya yang dikenal dengan tarian Piso Surit.
2. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Gundala-Gundala
Tari Gundala-Gundala adalah sebuah tari tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Seberaya Tanah Karo. Tarian Gundala-Gundala ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu sebagai kostumnya. Tari Gundala-Gundala ini dilakukan untuk mendatangkan hujan.
3. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Baka
Tari Baka merupakan tarian tradisional masyarakat suku Karo. Tarian ini menggambarkan seorang paranormal/ orang pintar yang sedang menyembuhkan orang sakit. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Karo pada zaman dahulu, masyarakat di dataran tinggi Karo masih mengandalkan orang pintar atau paranormal. Hampir semua masalah yang ada disampaikan kepada orang pintar atau paranormal. Khususnya untuk masalah penyakit, masyarakat akan membawanya kepada orang pintar untuk disembuhkan. Dalam proses penyembuhannya orang pintar atau paranormal menggunakan sebuah keranjang dan mangkok khusus untuk tempat ramuan-ramuan obat.
4. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Tongkat
Tari Tradisional dari Tanah Karo yang satu ini menggambarkan kepercayaan orang Karo akan adanya roh halus, masyarakat Karo masih mempercayai adanya kekuatan gaib dan roh halus yang akan mendatangkan hal yang negatif pada kehidupan manusia. Dalam beberapa kegiatan kebudayaan, manusia yang memiliki ilmu gaib masih berperan penting untuk berhubungan dengan roh-roh halus. Tari tongkat ini menggambarkan bagaimana manusia yang memiliki ilmu gaib ini mengusir roh-roh jahat yang masuk ke suatu tempat di pedesaan. Manusia tersebut menggunakan sebuah tongkat khusus yang disebut tongkat malaikat dan tongkat panaluan.
5. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Ndikkar
Tari Ndikkar lebih dikenal sebagai tarian bela diri atau pecak silat ala Tanah Karo Sumatera Utara. Ndikkar adalah bentuk pertahanan diri tradisional Karo atau Pencak Silat yang tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan kebudayaan masyarakat Karo. Ndikkar memiliki ciri-ciri : gerakan yang sangat lambat dan lembut tetapi disaat-saat tertentu gerakan tarian ini akan terlihat keras dan cepat. Khususnya masyarakat Karo, mereka mempelajari Pencak Silat hanya untuk pertahanan diri sendiri. Pada saat ini Ndikkar lebih banyak berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat.
1. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Piso Surit
Piso Surit adalah salah satu lagu, syair, serta tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil.
Lagu Piso Surit Karya Djaga Depan dalam bahasa Karo, dengan lagu yang bernuansa tradisional Karo berkembang (dibuatkan) tariannya yang dikenal dengan tarian Piso Surit.
2. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Gundala-Gundala
Tari Gundala-Gundala adalah sebuah tari tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Seberaya Tanah Karo. Tarian Gundala-Gundala ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu sebagai kostumnya. Tari Gundala-Gundala ini dilakukan untuk mendatangkan hujan.
3. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Baka
Tari Baka merupakan tarian tradisional masyarakat suku Karo. Tarian ini menggambarkan seorang paranormal/ orang pintar yang sedang menyembuhkan orang sakit. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Karo pada zaman dahulu, masyarakat di dataran tinggi Karo masih mengandalkan orang pintar atau paranormal. Hampir semua masalah yang ada disampaikan kepada orang pintar atau paranormal. Khususnya untuk masalah penyakit, masyarakat akan membawanya kepada orang pintar untuk disembuhkan. Dalam proses penyembuhannya orang pintar atau paranormal menggunakan sebuah keranjang dan mangkok khusus untuk tempat ramuan-ramuan obat.
4. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Tongkat
Tari Tradisional dari Tanah Karo yang satu ini menggambarkan kepercayaan orang Karo akan adanya roh halus, masyarakat Karo masih mempercayai adanya kekuatan gaib dan roh halus yang akan mendatangkan hal yang negatif pada kehidupan manusia. Dalam beberapa kegiatan kebudayaan, manusia yang memiliki ilmu gaib masih berperan penting untuk berhubungan dengan roh-roh halus. Tari tongkat ini menggambarkan bagaimana manusia yang memiliki ilmu gaib ini mengusir roh-roh jahat yang masuk ke suatu tempat di pedesaan. Manusia tersebut menggunakan sebuah tongkat khusus yang disebut tongkat malaikat dan tongkat panaluan.
5. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Ndikkar
Tari Ndikkar lebih dikenal sebagai tarian bela diri atau pecak silat ala Tanah Karo Sumatera Utara. Ndikkar adalah bentuk pertahanan diri tradisional Karo atau Pencak Silat yang tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan kebudayaan masyarakat Karo. Ndikkar memiliki ciri-ciri : gerakan yang sangat lambat dan lembut tetapi disaat-saat tertentu gerakan tarian ini akan terlihat keras dan cepat. Khususnya masyarakat Karo, mereka mempelajari Pencak Silat hanya untuk pertahanan diri sendiri. Pada saat ini Ndikkar lebih banyak berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat.
6. Guro-Guro Aron (Terang Bulan)
Guro-Guro Aron adalah arena muda-mudi Karo untuk saling kenal dan sebagai lembaga untuk mendidik anak muda-mudi mengenal adat. Dahulu acara ini dibuat sebagai salah satu alat untuk membudayakan seni tari Karo agar dikenal dan disenangi oleh muda-mudi dalam rangka pelestariannya. Acara ini dilengkapi dengan alat-alat musik khas Karo yakni : Sarune, Gendang (Singindungi dan Singanaki), juga dari penganak Dairi.
7. Tari Karo Lima Serangkai
Tari Lima Serangkai adalah tarian yang dipadu dari lima jenis tari yaitu Tari Morah-Morah, Tari Perakut, Tari Cipa Jok, Tari Patam-Patam Lance dan Tari Kabang Kiung. Setelah itu muncul pula Tari Piso Surit, Tari Terang Bulan, Tari Roti Manis dan Tari Tanam Padi.
Etnis Simalungun mendiami wilayah Kota Pematang Siantar dan juga Kabupaten Simalungun. Tari dalam Bahasa Simalungun adalah Tortor. Seni tari tradisional dari Kabupaten Simalungun identik dengan makna-makna kehidupan masyarakat Simalungun. Berikut jenis tarian dari Kabupaten ini:
- Tari Tortor Huda-huda/ Toping-toping
Tortor Huda-huda/ Toping-toping yaitu tarian yang dilakukan untuk menghibur keluarga maupun orang yang melayat di mana orang yang meninggal tersebut sudah berusia lanjut. Tarian ini dulunya digunakan untuk menghibur keluarga raja karena anaknya meninggal agar tidak larut dalam kesedihan. Dan sekarang juga tarian ini sudah digunakan dalam konteks pertunjukan seperti yang diadakan dalam pesta Rondang Bittang. Tarian ini menggunakan media topeng dengan sepasang pemain toping-toping dan satu orang pemain Huda-huda yang menirukan gerakan kuda dan diiringi oleh alat-alat musik tradisional Sumatera Utara yang disebut Gonrang Sidua-dua terdiri dari 5 orang pemain masing-masing memainkan perangkat musik Sarunei Bolon, dua orang penabuh gonrang, satu orang penabuh mongmongan dan satu orang penabuh ogung.
Adapun penggunaan topeng pada tari Toping-toping ini terdiri dari 3 macam, yaitu Topeng Dalahi (Topeng yang menyerupai wajah pria yang juga dikenakan oleh penari pria), Topeng Daboru (topeng yang menyerupai wajah wanita, dan dikenakan oleh penari wanita) serta Topeng Huda-huda (Topeng yang menyerupai paruh burung enggang, dibentuk dari jalinan kain).
Topeng Huda-huda dipercaya oleh masyarakat Simalungun sebagai pengantar roh orang yang sudah meninggal kehadapan Dibata.
- Tari Manduda
Tari Manduda adalah tari tradisional yang berasal dari Simalungun Sumatera Utara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya. Tari Manduda menggambarkan kehidupan petani yang sedang turun kesawah dengan suasana gembira, mulai menanam padi hingga sampai kepada suasana menuai padi. Gerak memotong padi, mengirik dan menampis padi tergambar melalui motif-motif gerakannya yang lemah gemulai dan lincah.
- Tari Tortor Somba
Tortor Sombah yaitu Tortor yang digunakan untuk menyambut tamu (tondong) yang datang dalam sebuah acara maupun upacara. Tortor ini dilakukan sebagai tanda penghormatan terhadap keluarga maupun tamu yang datang.
Penampilan Tor-tor tak dapat berjalan tanpa iringan ensambel godang yang juga hanya dimainkan dalam upacara adat.
Karena tarian adat, gerakan tor-tor mengandung makna. Misalnya gerak tangan yang mempunyai tiga bentuk :
1. Sombah Artinya menyembah atau menghormati orang yang lebih tinggi kedudukannya dalam adat.
2. Tolak Bala Artinya merupakan simbol untuk menolak bala yang datang dari luar dan simbol untuk
memberikan berkat.
3. Meminta Doa dalam Bahasa Angkola (Mandailing) disebut Mangido Tua Sahala, Artinya memohon perlindungan Tuhan dan meminta restu kepada Mora (seorang yang diangkat sebagai pemimpin adat dilingkungan yang sedang mengadakan pernikahan).
- Tari Haroan Bolon
Nyanyian atau Tarian Haroan Bolon merupakan lagu iringan tari tradisional berjudul Haroan Bolon, Salah satu tarian tradisional Simalungun yang diciptakan oleh Tuan Taralamsyah Saragih pada tahun 1959. Haroan Bolon merupakan tarian klosal atau sendratari yang berkisah tentang rangkaian proses kerja disawah mulai dari pembibitan, menanam benih, perawatan, panen, hingga pada proses menumbuk padi menjadi beras.
Komposer dan penata tari itu adalah Tuan Taralamsyah Saragih, lahir di Pematang Raya, Simalungun pada tanggal 18 Agustus 1918 dari keluarga keturunan Raja Simalungun, sejak kecil Taralamsyah Saragih telah menunjukkan bakat seni yang melekat dalam dirinya, terutama dibidang seni musik dan seni tari. Dia sangat mencintai seni musik dan tari. Sebagai komposer, karya-karyanya beranjak dari tradisi etnik Simalungun dan Melayu.
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
TINJAKSTAR
April 20, 2017
New Google SEO
Bandung, Indonesia- Tari Tortor Huda-huda/ Toping-toping
Tortor Huda-huda/ Toping-toping yaitu tarian yang dilakukan untuk menghibur keluarga maupun orang yang melayat di mana orang yang meninggal tersebut sudah berusia lanjut. Tarian ini dulunya digunakan untuk menghibur keluarga raja karena anaknya meninggal agar tidak larut dalam kesedihan. Dan sekarang juga tarian ini sudah digunakan dalam konteks pertunjukan seperti yang diadakan dalam pesta Rondang Bittang. Tarian ini menggunakan media topeng dengan sepasang pemain toping-toping dan satu orang pemain Huda-huda yang menirukan gerakan kuda dan diiringi oleh alat-alat musik tradisional Sumatera Utara yang disebut Gonrang Sidua-dua terdiri dari 5 orang pemain masing-masing memainkan perangkat musik Sarunei Bolon, dua orang penabuh gonrang, satu orang penabuh mongmongan dan satu orang penabuh ogung.
Adapun penggunaan topeng pada tari Toping-toping ini terdiri dari 3 macam, yaitu Topeng Dalahi (Topeng yang menyerupai wajah pria yang juga dikenakan oleh penari pria), Topeng Daboru (topeng yang menyerupai wajah wanita, dan dikenakan oleh penari wanita) serta Topeng Huda-huda (Topeng yang menyerupai paruh burung enggang, dibentuk dari jalinan kain).
Topeng Huda-huda dipercaya oleh masyarakat Simalungun sebagai pengantar roh orang yang sudah meninggal kehadapan Dibata.
- Tari Manduda
Tari Manduda adalah tari tradisional yang berasal dari Simalungun Sumatera Utara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya. Tari Manduda menggambarkan kehidupan petani yang sedang turun kesawah dengan suasana gembira, mulai menanam padi hingga sampai kepada suasana menuai padi. Gerak memotong padi, mengirik dan menampis padi tergambar melalui motif-motif gerakannya yang lemah gemulai dan lincah.
- Tari Tortor Somba
Tortor Sombah yaitu Tortor yang digunakan untuk menyambut tamu (tondong) yang datang dalam sebuah acara maupun upacara. Tortor ini dilakukan sebagai tanda penghormatan terhadap keluarga maupun tamu yang datang.
Penampilan Tor-tor tak dapat berjalan tanpa iringan ensambel godang yang juga hanya dimainkan dalam upacara adat.
Karena tarian adat, gerakan tor-tor mengandung makna. Misalnya gerak tangan yang mempunyai tiga bentuk :
1. Sombah Artinya menyembah atau menghormati orang yang lebih tinggi kedudukannya dalam adat.
2. Tolak Bala Artinya merupakan simbol untuk menolak bala yang datang dari luar dan simbol untuk
memberikan berkat.
3. Meminta Doa dalam Bahasa Angkola (Mandailing) disebut Mangido Tua Sahala, Artinya memohon perlindungan Tuhan dan meminta restu kepada Mora (seorang yang diangkat sebagai pemimpin adat dilingkungan yang sedang mengadakan pernikahan).
- Tari Haroan Bolon
Nyanyian atau Tarian Haroan Bolon merupakan lagu iringan tari tradisional berjudul Haroan Bolon, Salah satu tarian tradisional Simalungun yang diciptakan oleh Tuan Taralamsyah Saragih pada tahun 1959. Haroan Bolon merupakan tarian klosal atau sendratari yang berkisah tentang rangkaian proses kerja disawah mulai dari pembibitan, menanam benih, perawatan, panen, hingga pada proses menumbuk padi menjadi beras.
Komposer dan penata tari itu adalah Tuan Taralamsyah Saragih, lahir di Pematang Raya, Simalungun pada tanggal 18 Agustus 1918 dari keluarga keturunan Raja Simalungun, sejak kecil Taralamsyah Saragih telah menunjukkan bakat seni yang melekat dalam dirinya, terutama dibidang seni musik dan seni tari. Dia sangat mencintai seni musik dan tari. Sebagai komposer, karya-karyanya beranjak dari tradisi etnik Simalungun dan Melayu.
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
Dalam bahasa Batak, tari disebut Tortor. Suku Batak Toba berasal dari Kabupaten Samosir di sekitar kawasan Danau Toba. Suku Batak memiliki tarian yang amat beragam dan juga memiliki fungsinya masing-masing.
Seorang tokoh seni Togarma Naibaho (pendiri sanggar seni Tortor) menjelaskan, kata "Tortor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama mengentak. Adapun tujuan tarian Tortor ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Dan tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui. Tari Tortor pun memiliki tiga pesan utama. Pesan pertama adalah menunjukkan rasa takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kemudian dilanjutkan pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara. Barulah dilanjutkan ke tema apa dalam upacara itu.
Menurut sejarah, tari Tortor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan masuk ke patung-patung batu yang merupakan simbol leluhur. Patung-patung tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki jinjit-jinjit dan gerakan tangan.
Sejak sekitar abad ke-13 Tari Tortor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tortor. Dulunya, tradisi Tortor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun setelah masuknya Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Dikawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut Tumba atau juga biasa disebut Pahae Do Mula Ni Tumba.
Tari Tortor menjadi salah satu kesenian yang paling menonjol dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba. Manortor (menari, bahasa Batak Toba) merupakan lambang bentuk syukur kepada Mulajadi Nabolon, dewa pencipta alam semesta, dan rasa hormat kepada hula-hula dalam konsep kekeluargaan mereka. Oleh karena itu, tari ini biasanya dilakukan dalam upacara ritual ataupun dalam upacara adat, seperti acara pernikahan.
Tortor Batak Toba adalah jenis tarian Purba dari Batak Toba. Secara fisik Tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan Tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara. Sedangkan, musik tradisi masyarakat Batak Toba ialah Gondang. Gondang Batak Toba merupakan musik esembel. Tortor dan musik Gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Tortor disajikan dengan musik Gondang, dan musik Gondang dimainkan dengan dipadu tarian Tortor. Ketika musik Gondang dan Tari Tortor bergabung disebut juga Margondang. Sekarang, Margondang digunakan ketika pesta, acara adat, dan acara religi.
Tortor dan musik Gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua Ni Gondang, sehingga berkat dari Gondang Sabangunan.
Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari Hasuhutan (Yang mempunyai hajat akan meminta permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut: "Amang Pardoal Pargonci" :
1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na
jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion".
2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada,
ompungta paidua, sahat tu papituhon".
3. "Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo".
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.
Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan atau adu pencak silat (monsak) atau adu tenaga batin dan lain-lain.
Berikut ini 4 macam jenis tari Tortor yang merupakan tarian tradisional Suku Batak Toba dari Sumatera Utara:
1. Tari Tortor Sawan Pangurason (Tari Pembersihan)
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta
terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
2. Tari Tortor Somba
Tortor Somba adalah tari Tortor untuk menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa, Raja serta para
undangan agar mendapat berkat dan restu dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bekerja.
3. Tari Tortor Tunggal Panaluan
4. Tari Tortor Sipitu Sawan (Tari Tujuh Cawan)
Tortor Sipitu Sawan adalah Tari Tortor yang menceritakan ketika Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa) pertama kali menurunkan orang Batak di Pusuk Buhit dan kembali menurunkan 7 (Tujuh) bidadari di Pusuk Buhit sambil menari dengan tujuh sawan yang berisi air dari 7 sumber mata air dan diperas dengan jeruk purut bertujuan membersihkan manusia yang sudah berbuat dosa agar hidup damai, rukun dan saling menghormati. Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya Piso Sipitu Sasarung (Pisau Tujuh Sarung).
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
TINJAKSTAR
Maret 30, 2017
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSeorang tokoh seni Togarma Naibaho (pendiri sanggar seni Tortor) menjelaskan, kata "Tortor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama mengentak. Adapun tujuan tarian Tortor ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Dan tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui. Tari Tortor pun memiliki tiga pesan utama. Pesan pertama adalah menunjukkan rasa takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kemudian dilanjutkan pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara. Barulah dilanjutkan ke tema apa dalam upacara itu.
Menurut sejarah, tari Tortor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan masuk ke patung-patung batu yang merupakan simbol leluhur. Patung-patung tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki jinjit-jinjit dan gerakan tangan.
Sejak sekitar abad ke-13 Tari Tortor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tortor. Dulunya, tradisi Tortor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun setelah masuknya Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Dikawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut Tumba atau juga biasa disebut Pahae Do Mula Ni Tumba.
Tari Tortor menjadi salah satu kesenian yang paling menonjol dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba. Manortor (menari, bahasa Batak Toba) merupakan lambang bentuk syukur kepada Mulajadi Nabolon, dewa pencipta alam semesta, dan rasa hormat kepada hula-hula dalam konsep kekeluargaan mereka. Oleh karena itu, tari ini biasanya dilakukan dalam upacara ritual ataupun dalam upacara adat, seperti acara pernikahan.
Tortor Batak Toba adalah jenis tarian Purba dari Batak Toba. Secara fisik Tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan Tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara. Sedangkan, musik tradisi masyarakat Batak Toba ialah Gondang. Gondang Batak Toba merupakan musik esembel. Tortor dan musik Gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Tortor disajikan dengan musik Gondang, dan musik Gondang dimainkan dengan dipadu tarian Tortor. Ketika musik Gondang dan Tari Tortor bergabung disebut juga Margondang. Sekarang, Margondang digunakan ketika pesta, acara adat, dan acara religi.
Tortor dan musik Gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua Ni Gondang, sehingga berkat dari Gondang Sabangunan.
Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari Hasuhutan (Yang mempunyai hajat akan meminta permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut: "Amang Pardoal Pargonci" :
1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na
jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion".
2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada,
ompungta paidua, sahat tu papituhon".
3. "Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo".
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.
Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan atau adu pencak silat (monsak) atau adu tenaga batin dan lain-lain.
Berikut ini 4 macam jenis tari Tortor yang merupakan tarian tradisional Suku Batak Toba dari Sumatera Utara:
1. Tari Tortor Sawan Pangurason (Tari Pembersihan)
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta
terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
2. Tari Tortor Somba
Tortor Somba adalah tari Tortor untuk menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa, Raja serta para
undangan agar mendapat berkat dan restu dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bekerja.
3. Tari Tortor Tunggal Panaluan
Tortor Tunggal Panaluan adalah tari Tortor yang sangat sakral bagi orang Batak. Karena menurut
orang Batak, tari Tortor Tunggal Panaluan ini merupakan media manusia dengan Mulajadi Nabolon
(Yang Maha Kuasa).
Tortor Tunggal Panaluan dilaksanakan seorang dukun (Datu Bolon) atas perintah Sang Raja
dengan tujuan untuk menolak bala, meminta atau menolak hujan, mengangkat pemimpin atau
seorang raja, membentuk kampung baru atau mengambil keputusan untuk berperang. Sebab tongkat
Tunggal Panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua Atas, Benua Tengah dan
Benua Bawah.
Tunggal Panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua Atas, Benua Tengah dan
Benua Bawah.
4. Tari Tortor Sipitu Sawan (Tari Tujuh Cawan)
Tortor Sipitu Sawan adalah Tari Tortor yang menceritakan ketika Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa) pertama kali menurunkan orang Batak di Pusuk Buhit dan kembali menurunkan 7 (Tujuh) bidadari di Pusuk Buhit sambil menari dengan tujuh sawan yang berisi air dari 7 sumber mata air dan diperas dengan jeruk purut bertujuan membersihkan manusia yang sudah berbuat dosa agar hidup damai, rukun dan saling menghormati. Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya Piso Sipitu Sasarung (Pisau Tujuh Sarung).
Batak | Cerita Batak | Sejarah Batak | Batak Pakpak | Batak Toba | Batak Karo | Batak Mandailing | Batak Simalungun | Batak Angkola | Sejarah Batak | Lagu Batak | Perkawinan Batak | Pernikahan Batak | Adat Batak | Tentang Batak | Foto Batak | Tarian Batak | Pakaian Batak | Ulos Batak | Artikel Batak | Kami Batak
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia





