BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini, kita akan bernyanyi bersama-sama lagu rohani batak yang berjudul "Songon Solu di Tonga Tao" (Bagaikan Perahu di Tengah Danau / Lautan).
Lirik Lagu Rohani Batak Songon Solu di Tonga Tao
Song on solu di Tonga tao
Mangeol-eol di ullus-ullus alogoi
Tudos tusima ngolukki siganup ari
Ditikki sohutanda dope Tuhani
Saonari rohakku Dame
Dung jumpang au-ma Jesus Sipangolu au
Di dalan hasintongani do dapot au
Nasonang dibagasan damei
Dung Tuhan Jesus mian dinasa ngolukki
Dang hahurangan au, dibahen Tuhanki
Nasoadong dison, dapot ahu do i Tuhan
Godang di pasu-pasu
Lam gatda hadameon, sonang rohakki
Tong so hea do marsak ahu dingoluki
Hupujima goarMu o Tuhan Debata
Saleleng ngolukki
Terjemahan dan Artinya:
Bagaikan Perahu di tengah danau (laut)
Terombang-ambing ditiup angin
Seperti itulah hidup setiap hari
Sebelum aku mengenal-Mu Tuhan
Sekarang hati damai
Setelah aku berjumpa dengan Yesus, Penghidup Jiwaku
Di Jalan Kebenaranlah aku bertemu
Penuh suka cita dan damai sejahtera.
Setelah Tuhan Yesus bersemayam di daman hidupku
Aku tidak pernah kekurangan apapun dibuat-Nya
Yang tadinya tidak ada, kini aku dapatkan Tuhan
Berkat-Mu yang melimpah
Semakin melimpah kedamaian, jiwaku pun senang
Tidak ada lagi kegelisahan dihidupku
Kupuji Nama-Mu O Allah Bapa
Selama hiupku
TINJAKSTAR
Agustus 26, 2017
New Google SEO
Bandung, IndonesiaLirik Lagu Rohani Batak Songon Solu di Tonga Tao
Song on solu di Tonga tao
Mangeol-eol di ullus-ullus alogoi
Tudos tusima ngolukki siganup ari
Ditikki sohutanda dope Tuhani
Saonari rohakku Dame
Dung jumpang au-ma Jesus Sipangolu au
Di dalan hasintongani do dapot au
Nasonang dibagasan damei
Dung Tuhan Jesus mian dinasa ngolukki
Dang hahurangan au, dibahen Tuhanki
Nasoadong dison, dapot ahu do i Tuhan
Godang di pasu-pasu
Lam gatda hadameon, sonang rohakki
Tong so hea do marsak ahu dingoluki
Hupujima goarMu o Tuhan Debata
Saleleng ngolukki
Terjemahan dan Artinya:
Bagaikan Perahu di tengah danau (laut)
Terombang-ambing ditiup angin
Seperti itulah hidup setiap hari
Sebelum aku mengenal-Mu Tuhan
Sekarang hati damai
Setelah aku berjumpa dengan Yesus, Penghidup Jiwaku
Di Jalan Kebenaranlah aku bertemu
Penuh suka cita dan damai sejahtera.
Setelah Tuhan Yesus bersemayam di daman hidupku
Aku tidak pernah kekurangan apapun dibuat-Nya
Yang tadinya tidak ada, kini aku dapatkan Tuhan
Berkat-Mu yang melimpah
Semakin melimpah kedamaian, jiwaku pun senang
Tidak ada lagi kegelisahan dihidupku
Kupuji Nama-Mu O Allah Bapa
Selama hiupku
BATAK NETWORK - Horasma dihita saluhutnya. Turi-turian kali ini adalah tentang Kedekatan Presiden Joko Widodo atau yang biasa disapa dengan JOKOWI dengan Halak Hita. Untuk selanjutnya bagaimana Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak, mari kita simak bersama dibawah ini, seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Inilah 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal mempunyai perhatian lebih kepada orang-orang di luar Pulau Jawa, ketimbang presiden sebelumnya.
Hal ini barangkali dampak dari kebijakan pembangunan Jokowi yang tidak lagi Jawa-Sentris seperti para pendahulunya, melainkan Indonesia-Sentris, yakni pembangunan merata seluruh Indonesia.
Kecintaan Jokowi pada orang di luar Pulau Jawa ini seakan mendapat tempat di hati orang Batak, yang sejak dulu menginginkan presiden yang tidak pilih kasih.
Sikap Jokowi itu kemudian membuat sebagian orang Batak meyakini bahwa sang presiden memang nyaman dekat dengan halak hita.
Berikut adalah 4 bukti kedekatan Jokowi dengan orang Batak:
Jokowi Menang Telak di Tanah Batak
Orang Batak ikut memberi kontribusi signifikan bagi kemenangan pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Bagaimana tidak, di 4 kabupaten pemekaran Tapanuli Utara (baca: Tano Batak) yaitu : Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir dan Humbang Hasundutan, Jokowi-JK menang mutlak di atas 90 persen.
Kemenangan telak Jokowi-JK di Tanah Batak ini secara tidak langsung juga hukuman bagi pasangan Prabowo-Hatta, yang banyak menjual isu SARA dalam kampanyenya.
Berikut perbandingan perolehan suara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK di Tano Batak pada Pilpres 2014:
Dua Menteri Koordinator Orang Batak
Meski sempat sedikit mengecewakan orang Batak karena mencoret nama Maruarar Sirait sehingga tidak ada halak hita dalam Kabinet Kerja, Presiden Jokowi cepat mengobatinya.
Pada perombakan (reshuffle) kabinet pertama Agustus 2015, Jokowi langsung memasukkan dua orang menteri asal Batak sekaligus ke dalam Kabinet Kerja. Posisinya pun tidak tanggung-tanggung, yakni menteri koordinator.
Mereka adalah Luhut Pandjaitan sebagai Menko Polhukam dan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian. Dengan demikian, dari empat menteri koordinator yang ada, dua atau separuhnya adalah dijabat orang Batak. Luar biasa!
Perhatikan Wisata Danau Toba
Baru pada era Presiden Jokowi, wisata Danau Toba mendapat perhatian lebih. Bersama 9 detinasi wisata lain di Indonesia, Jokowi ingin menjadikan Danau Toba sebagai ‘Bali’ baru.
Tidak hanya itu, Jokowi juga bertekad membuat Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Tekad ini jelas bukan omong kosong jika melihat langkah konkret sang presiden.
Misalnya, Jokowi langsung memerintahkan memperlebar Bandara Silangit, Tapanuli Utara, sehingga sekarang sudah bisa didarati oleh sejumlah maskapai dari Jakarta.
Kemudian, Jokowi segera membentuk Badan Otorita Danau Toba. Lembaga ini akan mempercepat pembangunan wisata di danau huta kita tercinta.
Perhatikan Warga Karo Terdampak Sinabung
Tidak hanya Danau Toba yang menjadi perhatian Presiden Jokowi. Kepala pemerintahan juga terus memantau ancaman bencana yang tiba-tiba datang dari erupsi Sinabung.
Hingga kini sudah dua tahap relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap pengungsi Sinabung. Bahkan, pada relokasi tahap II, pemerintah memberi kebebasan kepada pengungsi untuk membangun huniannya sendiri.
Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan dana Rp 110 juta per kepala keluarga yang terdiri atas Rp 59,4 juta untuk penyediaan tanah serta pembangunan rumah dan Rp 50,6 juta untuk lahan pertanian.
Pada bencana erupsi Sinabung yang menewaskan sedikitnya 7 orang Sabtu (21/5), pemerintah Jokowi juga langsung memberi santunan tiga hari setelah kejadian, sebesar Rp 140 juta.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Presiden Jokowi dan Ibu Iriana dengan pakaian adat Batak di Karnaval Danau Toba.(foto:ist) |
Inilah 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal mempunyai perhatian lebih kepada orang-orang di luar Pulau Jawa, ketimbang presiden sebelumnya.
Hal ini barangkali dampak dari kebijakan pembangunan Jokowi yang tidak lagi Jawa-Sentris seperti para pendahulunya, melainkan Indonesia-Sentris, yakni pembangunan merata seluruh Indonesia.
Kecintaan Jokowi pada orang di luar Pulau Jawa ini seakan mendapat tempat di hati orang Batak, yang sejak dulu menginginkan presiden yang tidak pilih kasih.
Sikap Jokowi itu kemudian membuat sebagian orang Batak meyakini bahwa sang presiden memang nyaman dekat dengan halak hita.
Berikut adalah 4 bukti kedekatan Jokowi dengan orang Batak:
Jokowi Menang Telak di Tanah Batak
Orang Batak ikut memberi kontribusi signifikan bagi kemenangan pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Bagaimana tidak, di 4 kabupaten pemekaran Tapanuli Utara (baca: Tano Batak) yaitu : Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir dan Humbang Hasundutan, Jokowi-JK menang mutlak di atas 90 persen.
![]() |
| Presiden Jokowi diulosi di Bandara Silangit - Foto: Setpres |
Kemenangan telak Jokowi-JK di Tanah Batak ini secara tidak langsung juga hukuman bagi pasangan Prabowo-Hatta, yang banyak menjual isu SARA dalam kampanyenya.
Berikut perbandingan perolehan suara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK di Tano Batak pada Pilpres 2014:
- Tapanuli Utara: Prabowo-Hatta 11.615 (8,78%) dan Jokowi-JK 120.744 (91,22%)
- Samosir: Prabowo-Hatta 3.346 (5,54%) dan Jokowi-JK 57.030 (94,46%)
- Toba Samosir: Prabowo-Hatta 8.154 (9,30%) dan Jokowi-JK 79.525 (90,70%)
- Humbang Hasundutan: Prabowo-Hatta 8.284 (9,63%) dan Jokowi-JK 77.704 (90,37%)
Dua Menteri Koordinator Orang Batak
Meski sempat sedikit mengecewakan orang Batak karena mencoret nama Maruarar Sirait sehingga tidak ada halak hita dalam Kabinet Kerja, Presiden Jokowi cepat mengobatinya.
![]() |
| Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dan Menko Perekonomian Darmin Nasution - Foto: straitstimes.com / batakgaul.com |
Pada perombakan (reshuffle) kabinet pertama Agustus 2015, Jokowi langsung memasukkan dua orang menteri asal Batak sekaligus ke dalam Kabinet Kerja. Posisinya pun tidak tanggung-tanggung, yakni menteri koordinator.
Mereka adalah Luhut Pandjaitan sebagai Menko Polhukam dan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian. Dengan demikian, dari empat menteri koordinator yang ada, dua atau separuhnya adalah dijabat orang Batak. Luar biasa!
Perhatikan Wisata Danau Toba
Baru pada era Presiden Jokowi, wisata Danau Toba mendapat perhatian lebih. Bersama 9 detinasi wisata lain di Indonesia, Jokowi ingin menjadikan Danau Toba sebagai ‘Bali’ baru.
![]() |
| Presiden Jokowi menikmati keindahan alam Danau Toba - Foto: Setpres / Batakgaul.com |
Tidak hanya itu, Jokowi juga bertekad membuat Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Tekad ini jelas bukan omong kosong jika melihat langkah konkret sang presiden.
Misalnya, Jokowi langsung memerintahkan memperlebar Bandara Silangit, Tapanuli Utara, sehingga sekarang sudah bisa didarati oleh sejumlah maskapai dari Jakarta.
Kemudian, Jokowi segera membentuk Badan Otorita Danau Toba. Lembaga ini akan mempercepat pembangunan wisata di danau huta kita tercinta.
Perhatikan Warga Karo Terdampak Sinabung
Tidak hanya Danau Toba yang menjadi perhatian Presiden Jokowi. Kepala pemerintahan juga terus memantau ancaman bencana yang tiba-tiba datang dari erupsi Sinabung.
![]() |
| Presiden Jokowi kunjungi pengungsi Sinabung - Foto: Setpres |
Hingga kini sudah dua tahap relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap pengungsi Sinabung. Bahkan, pada relokasi tahap II, pemerintah memberi kebebasan kepada pengungsi untuk membangun huniannya sendiri.
Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan dana Rp 110 juta per kepala keluarga yang terdiri atas Rp 59,4 juta untuk penyediaan tanah serta pembangunan rumah dan Rp 50,6 juta untuk lahan pertanian.
Pada bencana erupsi Sinabung yang menewaskan sedikitnya 7 orang Sabtu (21/5), pemerintah Jokowi juga langsung memberi santunan tiga hari setelah kejadian, sebesar Rp 140 juta.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Rencana pernikahan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, dengan Bobby Nasution semakin jelas ketika keduanya resmi bertunangan. Cincin pengikat cinta pun sudah melingkar di jari mereka masing-masing.
"I said YES," demikian kata Ayang, sapaan akrab putri semata wayang Jokowi, atas lamaran Bobby lewat akun Instagramnya belum lama ini.
Meski belum diumumkan kapan tepatnya waktu pernikahan Ayang dan Bobby, namun sejumlah spekulasi sudah bermunculan.
Misalnya, boru apa yang akan diberikan kepada putri sang presiden seandainya pernikahan dilakukan dengan adat Batak (Mandailing), selain tentunya adat Jawa. Hal ini pun kerap ditanyakan oleh para warganet di akun Instagram Ayang.
"Penasaran entar dibuat jadi boru apa?" tanya @samosir_echaa.
Di tengah keingintahuan publik, khususnya orang Batak, sejumlah pihak menduga Ayang akan diberi boru Regar alias Siregar. Marga ini diambil dari ibu Bobby, Ade Hanifah Boru Siregar.
Mengangkat boru untuk calon istri dengan disesuaikan marga ibu kandung adalah hal yang lumrah dalam adat Batak. Sebab, boru ibu kandung sama dengan pariban si anak, dan ini dianggap baik bagi adat Batak.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu/@ayanggkahiyang |
"I said YES," demikian kata Ayang, sapaan akrab putri semata wayang Jokowi, atas lamaran Bobby lewat akun Instagramnya belum lama ini.
Meski belum diumumkan kapan tepatnya waktu pernikahan Ayang dan Bobby, namun sejumlah spekulasi sudah bermunculan.
Misalnya, boru apa yang akan diberikan kepada putri sang presiden seandainya pernikahan dilakukan dengan adat Batak (Mandailing), selain tentunya adat Jawa. Hal ini pun kerap ditanyakan oleh para warganet di akun Instagram Ayang.
![]() |
| Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu/@ayanggkahiyang |
"Penasaran entar dibuat jadi boru apa?" tanya @samosir_echaa.
Di tengah keingintahuan publik, khususnya orang Batak, sejumlah pihak menduga Ayang akan diberi boru Regar alias Siregar. Marga ini diambil dari ibu Bobby, Ade Hanifah Boru Siregar.
Mengangkat boru untuk calon istri dengan disesuaikan marga ibu kandung adalah hal yang lumrah dalam adat Batak. Sebab, boru ibu kandung sama dengan pariban si anak, dan ini dianggap baik bagi adat Batak.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Hubungan Presiden Jokowi dengan orang Batak ke depan tampaknya akan semakin dekat. Apalagi, kalau tidak ada kendala berarti, sang presiden sebentar lagi akan berbesan dengan halak hita.
Rencana pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu, semakin jelas setelah lewat akun Instagramnya belum lama ini dia menulis, "I said YES."
Di postingan tersebut, Ayang, sapaan akrabnya, juga mengunggah foto diri sedang tersenyum sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ini bukti Ayang sudah tunangan!
Ya dengan siapa lagi, kalau bukan dengan Bobby Nasution, pacarnya yang selama ini fotonya sering diposting di akun @ayanggkahiyang.
Rencana pernikahan Ayang dengan Bobby yang merupakan Anak Medan ini ditanggapi positif oleh para netizen, khususnya orang Batak.
“Waah, mantap kali,” tulis akun @melaninainggolan.
Adapun akun @doblack berkomentar, "Ingat mbak, orang batak setia looo ❤️❤️❤️"
Penelusuran media ini, Bobby dan Ayang saling kenal karena satu kampus di IPB alias cinlok. Ayah kandung Bobby diketahui sudah berpulang.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Kahiyang Ayu dan Presiden Jokowi/@ayanggkahiyang |
Rencana pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu, semakin jelas setelah lewat akun Instagramnya belum lama ini dia menulis, "I said YES."
Di postingan tersebut, Ayang, sapaan akrabnya, juga mengunggah foto diri sedang tersenyum sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ini bukti Ayang sudah tunangan!
Ya dengan siapa lagi, kalau bukan dengan Bobby Nasution, pacarnya yang selama ini fotonya sering diposting di akun @ayanggkahiyang.
Rencana pernikahan Ayang dengan Bobby yang merupakan Anak Medan ini ditanggapi positif oleh para netizen, khususnya orang Batak.
“Waah, mantap kali,” tulis akun @melaninainggolan.
Adapun akun @doblack berkomentar, "Ingat mbak, orang batak setia looo ❤️❤️❤️"
Penelusuran media ini, Bobby dan Ayang saling kenal karena satu kampus di IPB alias cinlok. Ayah kandung Bobby diketahui sudah berpulang.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas madihita saluhutna. Turi-turian kali ini masih seputar tentang Raja Sisingamangaraja XII. Turi-turian ini melansir dari Media Online TobaDream beberapa tahun yang lalu, tentang "Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII".
Beberapa waktu lalu, wartawan majalah TAPIAN Hotman Jonathan Lumbangaol, Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba berkesempatan mewawancara cucu Sisingamangaraja XII, Raja Napatar.
Ramah. Tidak ada basa-basi, seperti namanya Napatar yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Kesan pertama bertemu dengan pria kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941 adalah orang yang bersahabat. Suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini agak serius kalau diajak ngomong. Berikut ini petikan wawancara itu, yang dimuat di majalah Tapian edisi November 2008 :
Inilah Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII
Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?
Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja,. Tidak ada yang tahu saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.
Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.
Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).
Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?
Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.
Mengapa tulang-belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?
Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953 Soekarno datang ke Balige naik helikopter. Dia berpidato di Lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya yang terakhir ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige ini yang pertama dicetuskan orang Batak perang melawan Belanda”.
Setelah itu, ia menanyakan kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Dari sinilah perang Batak yang terkenal itu, itu kata Soekarno. Sejak dari situ menjadi diskusi para tokoh Batak masa itu, termasuk salah satu anaknya Sisingamangaraja XII Raja Sabidan ketika itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara setuju.
Jadi, dibuatlah rapat. Sebab kuburan di Tarutung dianggap sebagai makam tawanan. Jadi, Sisingamangaraja XII tidak lagi dilihat sebagai Sisingamangaraja XII, tetapi Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.
Anda masih ingat prosesi pemindahan makam itu; umur berapa Anda waktu itu?
Saya masih ingat ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang belulang itu dikawal haba-haba (hujan deras disertai putting beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting beliung itu berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Dan menyapu bersih semua kotoran yang ada di sekitar makam. Lalu angin itu menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja XII. Ini fakta karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.
Ketika prosesi pemindahan tulang belulang raja Sisingamangaraja XII itu Soekarno datang?
Oh nggak. Hanya waktu itu ia mengirim telegramnya mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang cucu laki-laki. Saya dan dua adik saya tambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Katika itu hanya tinggal satu anak, ayah saya Raja Barita.
Jadi, istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, setelah Raja Parlopuk. Yang ada keturunannya sampai sekarang hanya dari raja Buntal dan Raja Barita. Sementara dari Patuan Anggi anaknya Pulo Batu meninggal saat umur tiga tahun. Ia meninggal dalam pengungsian, jatuh ke jurang dengan penjaganya.
Saat itu, rombongan Sisingamangaraja XII pisah-pisah. Namun, beberapa kali ada datang pada kami mengaku-gaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku. Sebab, kalaulah ia benar seharusnya sudah lebih tua dari ayah saya. Jadi kami tidak percaya. Jadi sekarang cucu Sisingamangaraja XII hanya 5 orang lagi. Sayalah yang paling tua.
Apa yang membuat Sisingamangaraja XII tertangkap?
Sebenarnya, menurut cerita bahwa Sisingamangaraja XII tertangkap karena ada tiga orang yang berhianat. Kalau dulu Pollung, Hutapaung terkenal sebagai pendukung Sisingamangaraja XII. Maka tidak pernah Belanda bisa berhasil tembus ke daerah ini. Lalu, di Samosir Ompu Babiat Situmorang, ia dengan pasukannya juga raja yang dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda, mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading. Sampai sekarang masih ada di Harianboho. Jadi merekalah Panglima pasukan Sisingamangaraja XII untuk menghancurkan Belanda. Lalu di Dairi. Disana ada gua Simaningkir, Parlilitan. Ia di bawah air terjun. Dari tengah-tengahnya ada pintu masuk. Inilah dipercaya sebagai Benteng Sisingamangaraja XII melatih semua pasukannya.
Dari mana Sisingamangaraja XII membiayai pasukaannya?
Dia tidak memungut pajak. Tetapi katanya di daerah Dolok Pinapan antara Parlilitan dan Pakkat di sana ada tambang emas.
Soal kepahlawan Siboru Lopian?
Dulu, beberapa kali rohnya si Lopian datang ke orang-orang tertentu. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. “Pasombuon muna do holan ahu di tombak on (tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan ini,” katanya. Sebab, semua keturunan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, Jawa Barat kami sudah satukan di makam keluarga persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Aek Sibulbulon untuk mengambil tulang-belulangnya Lopian.
Tetapi tidak mungkin lagi diambil kan? Karena, konon dia juga ditenggelamkan ke dalam sungai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara adat, hanya segumpal tanah untuk dibawah ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi boru Lopian trans pada siapapun.
Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau bahwa kuburan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini sian harungguan ikkon seketton nami angka namacoba mambuat i. (Kami akan bertindak jika ada yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Namun, akhirnya setelah kita berikan pengertian mereka minta kami untuk mangulosi mereka. 43 margalah mereka yang harus diulosi. Sebenarnya mereka mau minta, perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, sebenarnya bukan kami yang menentukan. Tetapi kalau bupati meminta kuburan Lopian di Dairi kami tidak menolak.
Sementara beberapa tahun yang lalu Tarnama Sinambela mendirikan patung Si Boru Lopian di Porsea.
Bisa anda ceritakan bagaimana prosesi pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII?
Untuk menjadi pengemban Raja Sisingamangaraja ada prosesinya. Saat Raja Sisingamangaraja XI wafat, Raja Parlopuk anak sulung yang harus menjalankan tampuk pemerintahan. Namun semuanya harus karena kesepakatan Si Onom Ompu. Sebab sudah tiga kali dilaksanakan pesta margondang, namun Raja Parlopuk tidak bisa membuktikan syarat-syarat yang diminta. Seperti memanggil hujan. Sementara Patuan Bosar bisa memenuhinya. Waktu itu ia masih ke Aceh, dari sanalah ia bisa mengerti bahasa Arab. Dan bergaul dengan orang-orang Aceh. Ia pulang dari Aceh saat ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya Ia tidak mau menjadi Raja, hanya karena masyarakat setempat memaksa ia harus mau menerimanya.
Jadi Sisingamangaraja XI lah yang menulis pustaha kerajaan 24 jilid. Hanya pada kepemimpinan Sisingamangaraja XI lah ada penulisan tentang sejarah. Dan buku ini sudah dibawa ke Belanda dan masih ada di museum Belanda. Kami pernah meminta ke Belanda. Tapi menurut mereka, mereka ingin memberikan itu jika sudah ada gedung yang ber- AC. Tetapi karena belum ada kemampuan keluarga, hal ini masih terkatung-katung.
Mengapa tidak ada yang meneruskan (menjadi) Sisingamangaraja ke-XIII?
Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga tadi. Biasanya dilakukan penunjukan di Onan Bale, Di Bakara. Biasanya dalam acaranya, dibunyikan gondang. Pengangkatan Sisingamangaraja juga selalu karena ada masalah genting; ada penyakit atau musim paceklik. Ketika itu menurut mereka hanya jabatan Sisingamangaraja yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Sionom Ompu itu siapa. Apakah keturunan Si Raja Oloan?
Bukan. Yang disebut Sionom Ompu di Bakkara itu adalah marga Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang dan tambah dua marga lain Marbun dan Purba. Itulah marga penghuni Bakkara. Bukan Siraja Oloan. Sebab Naibaho dan Sihotang itu di Samosir. Dan mereka itulah raja-raja di Bakkara.
Bagaimana pendapat Amang tentang beberapa pendapat dinasti Sisingamangaraja yang tidak hanya berasal dari satu Marga. Ada yang mengatakan Sisingamangaraja itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?
Bisa jadi. Hanya dari 1 sampai duabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang sejak semula kelahiran Sisingamangaraja pertama hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu, ia lahir setelah 19 bulan. Tetapi kalau disebut tidak mesti Sinambela, saya kira harus dari keturunan Sisingamangaraja. Saya kira harus dari induknya.
Apakah benar keluarga Sisingamangaraja XII dipaksa memeluk agama Kristen?
Tahun 1907 semua keturunan Sisingamangaraja ke XII masuk sebagai Tawanan di Pearaja Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk agama Kristen setelah itu dibaptis. Ketika itu tinggal 5 anak raja Sisingamangaraja XII. Raja Buntal, Pakilin dan yang lain setelah besar dan disekolahkan ke Jawa. Sebenarnya untuk pembuangan. Sebab, Belanda melihat jika besar takutnya nantinya jadi berpengaruh. Jadi mereka dua orang Di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor, di Kudus meninggal di sana, dan satu di Bandung.
Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah mereka selesai masa belajar mereka pulang lagi ke Tapanuli. Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil Zending Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan menjadi camat di Teluk Dalam Nias.
Sepulang dari Teluk Dalam, ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Dan perkawinannya dibiayai Belanda di Porsea. Dengan semua resepsi Adat Batak. Belanda membawa es cream dari Pematang Siantar. Jadi semua undangan makan es cream waktu itu. Sementara Raja Buntal menikah juga dibiayai Belanda hanya dengan gaya Belanda.
Siapa Raja Tobing itu?
Jadi karena terimakasih dari ompung boru Sagala terhadap kebaikan Raja Henokh Tobing, diberikanlah putrinya Sunting Mariam menikah dengan putranya. Sementara Raja Pontas Tobing memberikan tanah tahanan keluarga di Pearaja Tarutung.
Raja Pontas dianggap mengkhianati Sisingamangaraja XII. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangaraja XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja XII muncul yang datang ternyata Belanda. Sebenarnya bukan masalah Kristen, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan raja Pontas-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari raja ini minta tanah ini kembali digugat (bersebelahan dengan Pusat HKBP), dekat Rumah Raja Pontas. Saya bilang, itu tanah yang diberikan Belanda, tetapi tanah itu kami yang meninggali. Berikutnya pemerintah memberikan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan. Maka itu hak kami.
Sejak kapan Sisingamangaraja XII melakukan perang terhadap Belanda?
Setelah Belanda menjadikan Tarutung tahun 1876 sebagai daerah jajahan Belanda.Tahun 1877 rapat raksa di Balige atas reaksi Sisingamangaraja untuk menentang Belanda. Raja-raja Toba dikumpulkan. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama, Kita akan perang dengan Belanda, Kedua, Kita tidak anti terhadap Zending. (Ketiga) Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut untuk rapat itu.
Dari sanalah dimulai perang melawan Belanda. Itulah yang disebut Perang Pulas. Dimulai di Bahal Batu daerah Humbang, Lintong Nihuta. Dilanjutkan di Tangga Batu, Balige. Pertempuran Pertama Sisingamangaraja XII masih bisa mengalahkan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamangaraja XII mundur menjadikan perang Gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirlah Sisingamangaraja XII ke arah Dairi.
Kalau tempat-tempat keramat Sisingamangaraja masihkah dilestarikan sampai saat ini?
Hariara parjuaratan, disanalah Sisingamangaraja pertama dulu bergantungan, Ini masih ada. Di bawahnya itu ada komplek kerajaan Sisingamangaraja. Di bawah komplek ini ada Batu Siungkap-Ungkapon.
Masa Nippon ini pernah dicoba selidiki. Tali ini diulurkan dua gulung, tali diikatkan sampai habis tidak sampai menyentuh tanah. Konon setiap kerbau yang disembelih darahnya dimasukkan ke dalam batu siungkap-ungkapon. Sementara tombak Sulu-sulu itu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini mereka sudah berikan tanda-tanda tombak Sulu-sulu. Jadi ada disana disebut tempat pemujaan. Jadi kalau marpangir (keramas) di batu inilah berjemur. Lalu dekat pantai ini ada Aek Sipangolu (air kehidupan).
Di dekat Aek Sipangolu ada namanya Batu Hudulhundulan dikenal tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Dan didekatnya ada Hariara. Katanya kalau cabangnya patah menandakan telah meninggal Sisingamangaraja. Kalau ada rantingnya yang patah itu berarti keturunannya yang meninggal. Katanya kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunnya akan menari-nari terbalik. Sisingamangaraja XI makamnya ada di Bakkara.
Apa arti lambang Sisingamangaraja itu?
Kalau yang putih menggambarkan “Partondi Hamalimon” mengambarkan tetang agama. Kalau yang merah Parsinabul dihabonaran yang berarti menyunjung tinggi kebenaran. Kalau yang bulat mengambarkan “Mataniari Sidomppakkon” matahari yang tidak bisa ditentang menggambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa. Sementara pisau yang kembar menggambarkan keadilan sosial. Itu semua ada sejak Sisingamangaraja pertama.
Piso Gaja Dompak itu sekarang dimana?
Di Museum Nasional. Saya juga baru tahun lalu melihat itu. Sebelum acara pesta 100 tahun Sisingamangaraja XII kami diajak melihat Piso Gaja Dompak itu. Kami diantar ke tempatnya Piso Gaja Dompak itu, saya kenalkan diri. Saya melihat sarungnya sudah lapuk. Gajah itu memang ada. Saya ingat dulu yang menyimpan Piso Gaja Dompak ini Sunting Mariam putrinya yang nomor dua. Dia meninggal 1979. Dulu saya ingat pesannya bahwa di ujung pangkal pisau ini ada permata merah. Lalu kepala museum mengelap dan memang kelihatan mutiara merah.
Kalau dulu Piso Gaja Dompak itu memang selalu dibawa?
Selalu dibawa. Memang itulah kekuatannya, salah satu penambah keyakinan.***
Sumber: tobadreams.wordpress.com TINJAKSTAR April 26, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Raja Napatar Sinambela - Cucu Sisingmangaraja ke XII (Foto: Ist) |
Beberapa waktu lalu, wartawan majalah TAPIAN Hotman Jonathan Lumbangaol, Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba berkesempatan mewawancara cucu Sisingamangaraja XII, Raja Napatar.
Ramah. Tidak ada basa-basi, seperti namanya Napatar yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Kesan pertama bertemu dengan pria kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941 adalah orang yang bersahabat. Suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini agak serius kalau diajak ngomong. Berikut ini petikan wawancara itu, yang dimuat di majalah Tapian edisi November 2008 :
Inilah Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII
Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?
Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja,. Tidak ada yang tahu saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.
Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.
Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).
Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?
Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.
Mengapa tulang-belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?
Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953 Soekarno datang ke Balige naik helikopter. Dia berpidato di Lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya yang terakhir ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige ini yang pertama dicetuskan orang Batak perang melawan Belanda”.
Setelah itu, ia menanyakan kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Dari sinilah perang Batak yang terkenal itu, itu kata Soekarno. Sejak dari situ menjadi diskusi para tokoh Batak masa itu, termasuk salah satu anaknya Sisingamangaraja XII Raja Sabidan ketika itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara setuju.
Jadi, dibuatlah rapat. Sebab kuburan di Tarutung dianggap sebagai makam tawanan. Jadi, Sisingamangaraja XII tidak lagi dilihat sebagai Sisingamangaraja XII, tetapi Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.
Anda masih ingat prosesi pemindahan makam itu; umur berapa Anda waktu itu?
Saya masih ingat ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang belulang itu dikawal haba-haba (hujan deras disertai putting beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting beliung itu berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Dan menyapu bersih semua kotoran yang ada di sekitar makam. Lalu angin itu menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja XII. Ini fakta karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.
Ketika prosesi pemindahan tulang belulang raja Sisingamangaraja XII itu Soekarno datang?
Oh nggak. Hanya waktu itu ia mengirim telegramnya mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang cucu laki-laki. Saya dan dua adik saya tambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Katika itu hanya tinggal satu anak, ayah saya Raja Barita.
Jadi, istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, setelah Raja Parlopuk. Yang ada keturunannya sampai sekarang hanya dari raja Buntal dan Raja Barita. Sementara dari Patuan Anggi anaknya Pulo Batu meninggal saat umur tiga tahun. Ia meninggal dalam pengungsian, jatuh ke jurang dengan penjaganya.
Saat itu, rombongan Sisingamangaraja XII pisah-pisah. Namun, beberapa kali ada datang pada kami mengaku-gaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku. Sebab, kalaulah ia benar seharusnya sudah lebih tua dari ayah saya. Jadi kami tidak percaya. Jadi sekarang cucu Sisingamangaraja XII hanya 5 orang lagi. Sayalah yang paling tua.
Apa yang membuat Sisingamangaraja XII tertangkap?
Sebenarnya, menurut cerita bahwa Sisingamangaraja XII tertangkap karena ada tiga orang yang berhianat. Kalau dulu Pollung, Hutapaung terkenal sebagai pendukung Sisingamangaraja XII. Maka tidak pernah Belanda bisa berhasil tembus ke daerah ini. Lalu, di Samosir Ompu Babiat Situmorang, ia dengan pasukannya juga raja yang dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda, mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading. Sampai sekarang masih ada di Harianboho. Jadi merekalah Panglima pasukan Sisingamangaraja XII untuk menghancurkan Belanda. Lalu di Dairi. Disana ada gua Simaningkir, Parlilitan. Ia di bawah air terjun. Dari tengah-tengahnya ada pintu masuk. Inilah dipercaya sebagai Benteng Sisingamangaraja XII melatih semua pasukannya.
Dari mana Sisingamangaraja XII membiayai pasukaannya?
Dia tidak memungut pajak. Tetapi katanya di daerah Dolok Pinapan antara Parlilitan dan Pakkat di sana ada tambang emas.
Soal kepahlawan Siboru Lopian?
Dulu, beberapa kali rohnya si Lopian datang ke orang-orang tertentu. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. “Pasombuon muna do holan ahu di tombak on (tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan ini,” katanya. Sebab, semua keturunan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, Jawa Barat kami sudah satukan di makam keluarga persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Aek Sibulbulon untuk mengambil tulang-belulangnya Lopian.
Tetapi tidak mungkin lagi diambil kan? Karena, konon dia juga ditenggelamkan ke dalam sungai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara adat, hanya segumpal tanah untuk dibawah ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi boru Lopian trans pada siapapun.
Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau bahwa kuburan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini sian harungguan ikkon seketton nami angka namacoba mambuat i. (Kami akan bertindak jika ada yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Namun, akhirnya setelah kita berikan pengertian mereka minta kami untuk mangulosi mereka. 43 margalah mereka yang harus diulosi. Sebenarnya mereka mau minta, perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, sebenarnya bukan kami yang menentukan. Tetapi kalau bupati meminta kuburan Lopian di Dairi kami tidak menolak.
Sementara beberapa tahun yang lalu Tarnama Sinambela mendirikan patung Si Boru Lopian di Porsea.
Bisa anda ceritakan bagaimana prosesi pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII?
Untuk menjadi pengemban Raja Sisingamangaraja ada prosesinya. Saat Raja Sisingamangaraja XI wafat, Raja Parlopuk anak sulung yang harus menjalankan tampuk pemerintahan. Namun semuanya harus karena kesepakatan Si Onom Ompu. Sebab sudah tiga kali dilaksanakan pesta margondang, namun Raja Parlopuk tidak bisa membuktikan syarat-syarat yang diminta. Seperti memanggil hujan. Sementara Patuan Bosar bisa memenuhinya. Waktu itu ia masih ke Aceh, dari sanalah ia bisa mengerti bahasa Arab. Dan bergaul dengan orang-orang Aceh. Ia pulang dari Aceh saat ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya Ia tidak mau menjadi Raja, hanya karena masyarakat setempat memaksa ia harus mau menerimanya.
Jadi Sisingamangaraja XI lah yang menulis pustaha kerajaan 24 jilid. Hanya pada kepemimpinan Sisingamangaraja XI lah ada penulisan tentang sejarah. Dan buku ini sudah dibawa ke Belanda dan masih ada di museum Belanda. Kami pernah meminta ke Belanda. Tapi menurut mereka, mereka ingin memberikan itu jika sudah ada gedung yang ber- AC. Tetapi karena belum ada kemampuan keluarga, hal ini masih terkatung-katung.
Mengapa tidak ada yang meneruskan (menjadi) Sisingamangaraja ke-XIII?
Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga tadi. Biasanya dilakukan penunjukan di Onan Bale, Di Bakara. Biasanya dalam acaranya, dibunyikan gondang. Pengangkatan Sisingamangaraja juga selalu karena ada masalah genting; ada penyakit atau musim paceklik. Ketika itu menurut mereka hanya jabatan Sisingamangaraja yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Sionom Ompu itu siapa. Apakah keturunan Si Raja Oloan?
Bukan. Yang disebut Sionom Ompu di Bakkara itu adalah marga Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang dan tambah dua marga lain Marbun dan Purba. Itulah marga penghuni Bakkara. Bukan Siraja Oloan. Sebab Naibaho dan Sihotang itu di Samosir. Dan mereka itulah raja-raja di Bakkara.
Bagaimana pendapat Amang tentang beberapa pendapat dinasti Sisingamangaraja yang tidak hanya berasal dari satu Marga. Ada yang mengatakan Sisingamangaraja itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?
Bisa jadi. Hanya dari 1 sampai duabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang sejak semula kelahiran Sisingamangaraja pertama hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu, ia lahir setelah 19 bulan. Tetapi kalau disebut tidak mesti Sinambela, saya kira harus dari keturunan Sisingamangaraja. Saya kira harus dari induknya.
Apakah benar keluarga Sisingamangaraja XII dipaksa memeluk agama Kristen?
Tahun 1907 semua keturunan Sisingamangaraja ke XII masuk sebagai Tawanan di Pearaja Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk agama Kristen setelah itu dibaptis. Ketika itu tinggal 5 anak raja Sisingamangaraja XII. Raja Buntal, Pakilin dan yang lain setelah besar dan disekolahkan ke Jawa. Sebenarnya untuk pembuangan. Sebab, Belanda melihat jika besar takutnya nantinya jadi berpengaruh. Jadi mereka dua orang Di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor, di Kudus meninggal di sana, dan satu di Bandung.
Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah mereka selesai masa belajar mereka pulang lagi ke Tapanuli. Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil Zending Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan menjadi camat di Teluk Dalam Nias.
Sepulang dari Teluk Dalam, ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Dan perkawinannya dibiayai Belanda di Porsea. Dengan semua resepsi Adat Batak. Belanda membawa es cream dari Pematang Siantar. Jadi semua undangan makan es cream waktu itu. Sementara Raja Buntal menikah juga dibiayai Belanda hanya dengan gaya Belanda.
Siapa Raja Tobing itu?
Jadi karena terimakasih dari ompung boru Sagala terhadap kebaikan Raja Henokh Tobing, diberikanlah putrinya Sunting Mariam menikah dengan putranya. Sementara Raja Pontas Tobing memberikan tanah tahanan keluarga di Pearaja Tarutung.
Raja Pontas dianggap mengkhianati Sisingamangaraja XII. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangaraja XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja XII muncul yang datang ternyata Belanda. Sebenarnya bukan masalah Kristen, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan raja Pontas-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari raja ini minta tanah ini kembali digugat (bersebelahan dengan Pusat HKBP), dekat Rumah Raja Pontas. Saya bilang, itu tanah yang diberikan Belanda, tetapi tanah itu kami yang meninggali. Berikutnya pemerintah memberikan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan. Maka itu hak kami.
Sejak kapan Sisingamangaraja XII melakukan perang terhadap Belanda?
Setelah Belanda menjadikan Tarutung tahun 1876 sebagai daerah jajahan Belanda.Tahun 1877 rapat raksa di Balige atas reaksi Sisingamangaraja untuk menentang Belanda. Raja-raja Toba dikumpulkan. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama, Kita akan perang dengan Belanda, Kedua, Kita tidak anti terhadap Zending. (Ketiga) Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut untuk rapat itu.
Dari sanalah dimulai perang melawan Belanda. Itulah yang disebut Perang Pulas. Dimulai di Bahal Batu daerah Humbang, Lintong Nihuta. Dilanjutkan di Tangga Batu, Balige. Pertempuran Pertama Sisingamangaraja XII masih bisa mengalahkan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamangaraja XII mundur menjadikan perang Gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirlah Sisingamangaraja XII ke arah Dairi.
Kalau tempat-tempat keramat Sisingamangaraja masihkah dilestarikan sampai saat ini?
Hariara parjuaratan, disanalah Sisingamangaraja pertama dulu bergantungan, Ini masih ada. Di bawahnya itu ada komplek kerajaan Sisingamangaraja. Di bawah komplek ini ada Batu Siungkap-Ungkapon.
Masa Nippon ini pernah dicoba selidiki. Tali ini diulurkan dua gulung, tali diikatkan sampai habis tidak sampai menyentuh tanah. Konon setiap kerbau yang disembelih darahnya dimasukkan ke dalam batu siungkap-ungkapon. Sementara tombak Sulu-sulu itu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini mereka sudah berikan tanda-tanda tombak Sulu-sulu. Jadi ada disana disebut tempat pemujaan. Jadi kalau marpangir (keramas) di batu inilah berjemur. Lalu dekat pantai ini ada Aek Sipangolu (air kehidupan).
Di dekat Aek Sipangolu ada namanya Batu Hudulhundulan dikenal tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Dan didekatnya ada Hariara. Katanya kalau cabangnya patah menandakan telah meninggal Sisingamangaraja. Kalau ada rantingnya yang patah itu berarti keturunannya yang meninggal. Katanya kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunnya akan menari-nari terbalik. Sisingamangaraja XI makamnya ada di Bakkara.
Apa arti lambang Sisingamangaraja itu?
Kalau yang putih menggambarkan “Partondi Hamalimon” mengambarkan tetang agama. Kalau yang merah Parsinabul dihabonaran yang berarti menyunjung tinggi kebenaran. Kalau yang bulat mengambarkan “Mataniari Sidomppakkon” matahari yang tidak bisa ditentang menggambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa. Sementara pisau yang kembar menggambarkan keadilan sosial. Itu semua ada sejak Sisingamangaraja pertama.
Piso Gaja Dompak itu sekarang dimana?
Di Museum Nasional. Saya juga baru tahun lalu melihat itu. Sebelum acara pesta 100 tahun Sisingamangaraja XII kami diajak melihat Piso Gaja Dompak itu. Kami diantar ke tempatnya Piso Gaja Dompak itu, saya kenalkan diri. Saya melihat sarungnya sudah lapuk. Gajah itu memang ada. Saya ingat dulu yang menyimpan Piso Gaja Dompak ini Sunting Mariam putrinya yang nomor dua. Dia meninggal 1979. Dulu saya ingat pesannya bahwa di ujung pangkal pisau ini ada permata merah. Lalu kepala museum mengelap dan memang kelihatan mutiara merah.
Kalau dulu Piso Gaja Dompak itu memang selalu dibawa?
Selalu dibawa. Memang itulah kekuatannya, salah satu penambah keyakinan.***
Sumber: tobadreams.wordpress.com TINJAKSTAR April 26, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII
Posted by FACE BATAK on Rabu, 26 April 2017
BATAK NETWORK - Horas madihita saluhutna. Kali ini Batak Network berbagi informasi tentang Nama-nama Raja Sisingamangaraja 1 Sampai 12. Tulisan ini berdasarkan Blog Sopobatak. Yuk kita simak di bawah ini.
Inilah Nama-nama Raja Sisingamangaraja 1 Sampai 12
Siapapun pasti tahu bahwa Sisingamangaraja 12 adalah Pahlawan Nasional dari wilayah Tapanuli. Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya melawan kolonial Belanda. Namun, adakah yang tahu siapa sesungguhnya nama Raja Sisingamangaraja 12?
Tak banyak yang tahu, sebab pelajaran sejarah di sekolah-sekolah juga tak fokus mengajarkan hal itu. Sisingamangaraja XII ternyata bernama Raja Patuan Bosar Sinambela atau Ompu Pulau Batu Sinambela.
Nah, bagaimana dengan nama-nama Sisingamangaraja 1 sampai 11? Berikut nama-namanya:
Sisingamangaraja I : Raja Manghuntal Sinambela
Sisingamangaraja II : Ompu Raja Tinaruan Sinambela
SSisingamangaraja III : Raja Itubungna Sinambela
Sisingamangaraja IV : Tuan Sorimangaraja Sinambela
Sisingamangaraja V : Raja Pallongos Sinambela
Sisingamangaraja VI : Raja Pangulbuk Sinambela
Sisingamangaraja VII : Ompu Tuan Lombut Sinambela
Sisingamangaraja VIII : Raja Ompu Sohalompoan Sinambela
Sisingamangaraja IX : Raja Ompu Sotaronggal Sinambela
Sisingamangaraja X : Raja Si Lompo Ompu Sinambela (Ompu Tuan Nabolon Sinambela)
Sisingamangaraja XI : Raja Ompu Sohahuaon Sinambela
Sisingamangaraja XII : Raja Patuan Bosar Sinambela (Raja Ompu Pulo Batu Sinambela)
Itu satu versi. Versi lain ada juga menuliskan seperti ini:
Singamangaraja II, Ompu Raja Tinaruan
Singamangaraja III, Raja Itubungna.
Singamangaraja IV, Tuan Sorimangaraja.
Singamangaraja V, Raja Pallongos.
Singamangaraja VI, Raja Pangolbuk.
Singamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.
Singamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal.
Singamangaraja IX, Ompu Sohalompoan.
Singamangaraja X, Ompu Tuan Na Bolon.
Sisingamangaraja XI, Ompu Sohahuaon.
Sisingamangaraja XII, Raja Patuan Bosar Ompu Pulo Batu
Khusus untuk Raja Sisingamangaraja ke 12, sepanjang ia bergerilya di masa penjajahan Belanda, 3 anaknya ikut mendampingi yaitu Raja Patuan Anggi Sinambela, Raja Patuan Nagari Sinambela dan Putri Lopian Sinambela. Ketiga anaknya tewas di tangan tentara Belanda.
Informasi ini dikumpulkan dari berbagai sumber di internet. Mungkin saja salah atau ada hal-hal yang kurang tepat. Tentu, bagi yang memiliki informasi lebih akurat bisa memberi saran atau perbaikan. Artikel ini hanya bersifat informatif. Mauliate. Horas jala gabe ma.
Editor: BN
Sumber: sopobatak.blogspot.co.id TINJAKSTAR April 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Dua versi lukisan wajah Sisingamarangaraja XII. (Foto; pojoksatu.id / sopobatak.blogspot.co.id) |
Inilah Nama-nama Raja Sisingamangaraja 1 Sampai 12
Siapapun pasti tahu bahwa Sisingamangaraja 12 adalah Pahlawan Nasional dari wilayah Tapanuli. Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya melawan kolonial Belanda. Namun, adakah yang tahu siapa sesungguhnya nama Raja Sisingamangaraja 12?
Tak banyak yang tahu, sebab pelajaran sejarah di sekolah-sekolah juga tak fokus mengajarkan hal itu. Sisingamangaraja XII ternyata bernama Raja Patuan Bosar Sinambela atau Ompu Pulau Batu Sinambela.
Nah, bagaimana dengan nama-nama Sisingamangaraja 1 sampai 11? Berikut nama-namanya:
Sisingamangaraja I : Raja Manghuntal Sinambela
Sisingamangaraja II : Ompu Raja Tinaruan Sinambela
SSisingamangaraja III : Raja Itubungna Sinambela
Sisingamangaraja IV : Tuan Sorimangaraja Sinambela
Sisingamangaraja V : Raja Pallongos Sinambela
Sisingamangaraja VI : Raja Pangulbuk Sinambela
Sisingamangaraja VII : Ompu Tuan Lombut Sinambela
Sisingamangaraja VIII : Raja Ompu Sohalompoan Sinambela
Sisingamangaraja IX : Raja Ompu Sotaronggal Sinambela
Sisingamangaraja X : Raja Si Lompo Ompu Sinambela (Ompu Tuan Nabolon Sinambela)
Sisingamangaraja XI : Raja Ompu Sohahuaon Sinambela
Sisingamangaraja XII : Raja Patuan Bosar Sinambela (Raja Ompu Pulo Batu Sinambela)
Itu satu versi. Versi lain ada juga menuliskan seperti ini:
Singamangaraja II, Ompu Raja Tinaruan
Singamangaraja III, Raja Itubungna.
Singamangaraja IV, Tuan Sorimangaraja.
Singamangaraja V, Raja Pallongos.
Singamangaraja VI, Raja Pangolbuk.
Singamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.
Singamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal.
Singamangaraja IX, Ompu Sohalompoan.
Singamangaraja X, Ompu Tuan Na Bolon.
Sisingamangaraja XI, Ompu Sohahuaon.
Sisingamangaraja XII, Raja Patuan Bosar Ompu Pulo Batu
Khusus untuk Raja Sisingamangaraja ke 12, sepanjang ia bergerilya di masa penjajahan Belanda, 3 anaknya ikut mendampingi yaitu Raja Patuan Anggi Sinambela, Raja Patuan Nagari Sinambela dan Putri Lopian Sinambela. Ketiga anaknya tewas di tangan tentara Belanda.
Informasi ini dikumpulkan dari berbagai sumber di internet. Mungkin saja salah atau ada hal-hal yang kurang tepat. Tentu, bagi yang memiliki informasi lebih akurat bisa memberi saran atau perbaikan. Artikel ini hanya bersifat informatif. Mauliate. Horas jala gabe ma.
Editor: BN
Sumber: sopobatak.blogspot.co.id TINJAKSTAR April 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Turi-turian dibahasan sadarion adalah tentang 'Marsiadapari', Gotong Royong Ala Orang Batak. Marsiadapari ini merupakan salah satu Gaya Hidup Orang Batak.
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Marsiadapari - Foto: batakgaul.com |
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Gotong Royong "Marsiadapari" Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan
Posted by FACE BATAK on Senin, 27 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami datang kehadapan Amang dohot Inang yang kami hormati untuk berbagi turi-turian yang baik bagi kawula muda batak.
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu |
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
- Bona Ni Ari (Tulang dari ompu kandung)
- Bona Tulang (Tulang dari ayah)
- Ompu Bao (kedua orangtua dari ibu kandung)
- Tulang (Saudara laki-laki ibu kandung)
- Nantulang (istri tulang)
- Lae (anak laki-laki tulang)
- Bao (besan)
- Paramaan/Tulang Na Poso (panggilan kepada anak laki-laki dari abang namboru oleh namboru/amangboru).
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
- Ompu Parsadaan (Ompu yang bisa dilacak sebagai persamaan antara dua orang semarga) yang merupakan tingkat tertinggi dalam susunan hubungan partuturan
- Ompu Mangulahi (Ompu dari Ompu)
- Ama Mangulahi (bapak dari ompu suhut)
- Ompu Suhut (Ompu kandung/ayahnya ayah)
- Ama Suhut (Ayah kandung)
- Haha (Abang kandung)
- Anggi (Adik kandung)
- Anak
- Pahompu (cucu cewek dan cowok)
- Nini (cicit laki-laki)
- Nono (cicit perempuan)
- Ondok-ondok (cucu dari cucu laki-laki)
- Ompu Boru (orang tua perempuan dari ayah)
- Ina Pangintubu (ibu kandung)
- Haha Boru (istri dari abang kandung)
- Anggi Boru (istri adik laki-laki).
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
- Ito (saudara perempuan satu marga, anak perempuan dari namboru)
- Lae (anak laki-laki tulang, anak laki-laki dari namboru)
- Amangboru (Suami dari saudara perempuan ayah)
- Namboru (Saudara perempuan ayah)
- Hela (suami dari anak perempuan)
- Boru (anak kandung perempuan)
- Ito Mangulahi (Namboru kandung ayah kandung)
- Lae Mangulahi (Suami dari Ito Mangulahi)
- Bere (semua keturunan dari adik/kakak perempuan)
- Pariban (anak perempuan dari tulang)
- Tulang rorobot (tulang ibu beserta keturunannya)
- Nantulang rorobot (istri dari tulang rorobot).
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu
Posted by FACE BATAK on Jumat, 10 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami hadir kehadapan Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Sdra/Sdri. yang kami hormati, tarnulobi tu hamu Natua-tua nami. Kali ini media Batak Network akan berbagi tentang sebuah renungan, yaitu "Cinta Tulus Putra Batak". Tulisan ini kami sadur dari sebuah forum facebook yang berlabel Group Anak Siantar (GAS), Senin (6/2/2017).
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - "Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan |
Lebih lanjut, mari kita simak bersama berikut di bawah ini.
"Cinta Tulus Putra Batak" - Sebuah Renungan
Hubungan "Rosma" boru batak dengan "Togar" putra batak sudah berjalan hampir lima tahun. Rosma memang sangat cantik, sedangkan Togar bohinape holan pas-pasan (Wajahnya pas-pasan ala kadanya)
Selama ini hubungan mereka berjalan sangat harmonis. Rosma mengenal betul watak Togar yang begitu penyayang, tulus dalam mencintainya, dan baik meskipun suaranya agak lantang karena memang sudah ciri khas dari orang batak.
Rosma sangat mencintai Togar. Apalagi Togar pernah berjanji,
Togar mengatakan "Rosma hasianku (sayangku) ingatlah kataku ini, dalam keadaan apapun aku tidak akan pernah meninggalkan kau, apa yang kupunya semua akan kuberikan asal kau bahagia sekalipun itu nyawaku."
Namun setelah perjalanan panjang, cerita cinta Rosma dan Togar pun goyah oleh karena kejenuhan yang bersarang di hati si Rosma.
Dia mulai berfikir "Cem mana lah ini kalo sudah menikah,mana mungkin bisa si Togar bikin aku bahagia, kerjanya pun cuma buruh, tak cukuplah dengan ketulusan cinta saja" bisik Rosma dalam hatinya.
Apalagi di kaum batak, sudah tak asing dengan kalimat (hepeng do mangatur negara on). Ini yang membuat Rosma mulai ingin meninggalkan Togar yaitu "Materi". Selama berhubungan dengan Togar, Rosma memang selalu mendapatkan semua ketulusan cinta dari Togar, tapi hanya materi dan sesuatu yang mewahlah yang Rosma tidak pernah dapatkan dari Togar selama ini.
Pada suatu hari rosma berkenalan dengan seorang pria bernama Martin. Martin seorang eksekutif muda yang terbilang sukses sebagai tokke (Bos), Koperasi.
Ini yang membuat rosma tidak menolak saat Uli yang tak lain sahabatnya memperkenalkan Martin pada dirinya.
Singkat cerita perkenalan merekapun berlanjut hingga akhirnya Rosma mengambil keputusan untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Togar demi Martin.
Setelah memutuskan hubungan dengan Togar satu bulan setelah perkenalan itu Rosma dan Martin pun akhirnya menjalin cinta. Rosma terlihat bahagia menjalin cinta dengan Martin. Martin sangat memanjakan Rosma dengan membelikan apapun yang dia inginkan. Dan hal inilah yang tidak pernah ia dapatkan dari Togar selama menjalin hub.
Akhirnya mereka pun menikah. Awalnya Rosma sangat bahagia dengan pernikahan dan kehidupannya yang bergelimangan harta. Tetapi keadaan berubah, ketika sikap Martin seiring waktu mulai berubah, Martin mulai menjadi suami yang kasar, tak ada lagi kelembutan pada sikap Martin seperti saat berpacaran. Sikap Martin yang tempramental membuat tangannya mudah memukuli Rosma.
Dan suatu Ketika dia pun didatangi seorang wanita yang mengaku mantan istri Martin. Ia datang untuk meminta tanggung jawab Martin untuk membiayai anaknya yang sudah beranjak dewasa. Rosma terkejut dan terlihat shock atas kenyataan ini, apalagi ketika Irma mantan istri Martin ini menceritakan semua perilaku Martin sebenarnya.
Tak pikir lama setelah mendengar semua kebenaran dari Irma, Rosma pun akhirnya meninggalkan rumah Martin. Tapi niat Rosma untuk pergi dari rumah diketahui oleh Martin. Martin pun mengejar Rosma agar tidak pergi dari rumah. Namun Rosma tetap berlari sekuat tenaganya hingga suatu kejadian naas menimpa dirinya, sebuah mobil mini bus menabrak tubuh Rosma. Peristiwa kecelakaan itu pun membuat ginjalnya rusak dan tak hanya itu, Rosma juga mengalami buta.
Setelah kejadian itu, Martin meninggalkan Rosma. Rosma menjalani hidupnya sendiri dengan ditemani sebuah tongkat yang membantunya menentukan arah berjalan. Entah berapa lama ia akan bertahan dengan penyakitnya yang hanya memiliki satu ginjal dan kebutaan. Dalam tangisan kelelahannya tanpa sadar rosma pun tertidur.
***
Begitu terkejutnya Rosma ketika terbangun ternyata ia mampu melihat, Rosma mengusap-usap matanya tanda tak percaya apa yang terjadi. Ia pun melihat sekelilingnya dan merasa aneh, karna ia sudah ada di rumah sakit. Ketika suster datang, Rosma pun menanyakan apa yang terjadi "Sus, kenapalah aku bisa ada di rumah sakit, siapa yang mengantar saya?" tanya Rosma "
Susterpun tak menjawab panjang, suster hanya memberikan sesuatu kepada si Rosma. "Ini mbak, ada surat dari sesorang yang mengantarkan mbak kesini." jawab suster. Tanpa pikir panjang rosma pun meraih kertas itu dan langsung membacanya dengan seksama.
"Apa kabar Rosma? semoga kau baik-baik saja. Selama ini walaupun aku jauh, Aku tetap memperhatikanmu, bahkan pernikahanmu yang membuat aku terpurukpun juga masih ku ingat. Kalau kau masih ingat gak, ketika kita naik motor berdua kau selalu tertidur, ketika kita mau nonton bioskop yang akhirnya tidak jadi gara-gara harga tiketnya mahal, dan ketika kamu mendorong motorku saat motorku kehabisan bensin? Kenangan manis itulah yang membuat aku kuat untuk menjalani hidup ini meski tanpamu.
Aku banyak mendengar tentang dirimu dari si Uli, dia selalu bercerita tentang kehidupanmu yang sangat penuh dengan air mata. Setiap mendengar semua penderitaanmu itu, aku selalu menangis, sangat berat rasanya ketika kudengar setiap kabar tentangmu.
Terlebih ketika kecelakaan menimpamu,
Itu yang membuatku terasa sedih kali.
Untuk itulah aku datang memenuhi janjiku, janji yang pernah ku ucapkan ketika kita masih sama-sama. Semoga dengan keadaan yang sekarang kamu bisa bahagia,dan melanjutkan hidupmu,menggapai mimpimu yang tertunda,tak usah lagi kau ingat2 masa lalu mu,biarlah itu jadi pelajaran berhaga buatmu melangkah kedepan.
Tak bisa ku beri materi samamu sampai dengan sekarang ini, karena aku pun putra batak yang miskin, yang harus memperjuangkan segala orang disekitarku,hanya kekayaan cinta ini lah yang bisa kupersembahkan padamu termasuk nyawaku yang terucap didalam janjiku.
Pesanku janganlah lupa untuk tetap selalu berdoa.
Salam : Togar "
Tak terasa Rosma mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak, keinginannya bertemu Togar pun tidak tertahan lagi.
"Sus, kemana sekarang Togar suster?" rosma dengan suara tangis yang tertahan dan suaranya yang serak. Suster hanya terdiam.
Rosma mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan suster itu pun menjawab "Saudara Togar... Togar sudah meninggal saat operasi, untuk mendonorkan Mata dan ginjalnya buat mbak rosma, hanya surat itu yang terakhir yang diberikan oleh Sdr Togar." jawab suster dengan terbata-bata.
Sedetik itu pun Rosma diam dan tak berkata apa-apa.
Ia pun melihat kembali surat itu seraya menangis sambil memeluk erat surat dari Togar. Rosma menangis histeris dengan menyebut nama Togar.
Pesan moral : Harta memang bisa membeli apa-apa tapi cinta tak dapat dibeli dengan harta... Unang gulut di arta.(Jangan Rakus dimateri).
Demikian Renungan kita kali ini. Semoga Bermanfaat. Selamat Beratifitas. Tuhan Memberkati. Horas.
Sumber: Group Anak Siantar (GAS) TINJAKSTAR Februari 05, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Bagaimana menurut Bapak/Ibu, Abang/Adik, Sdra/Sdri yang kami hormati mengenai topik kali ini, yaitu ketika Imam Besar FPI Habib Rizieq Pake Ulos di Medan. Tentunya ada yang Pro dan Kontra. Sebelum memberi komentar, kami ingin mengajak Anda sekalian menyimak ulasan di bawah ini.
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Imam Besar FPI Habib Rizieq di Medan - Foto : benardosinambela.id |
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini kami ingin mengajak Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Sdra./Sdri bersantai-ria sejenak. Anggap saja ini sebagai Obat Buang Suntuk alias BETE. Apakah Anda sudah siap-siap tertawa tebahak-bahak... Yuk Kita Tawa
"BAHASA BATAK KOK DILAWAN..!!"
Ada orang bule Australia datang ke Pulau samosir, dan bertanya kepada seorang pendeta HKBP.
Bule : "Kenapa pendeta kalau berkhotbah, kitabnya masih menggunakan bahasa batak? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"
Pendeta: "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, jemaat tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata yang saya beritakan bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."
Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang pendeta yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menjelaskan dan kalah dengan bahasa batak
Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"
Pendeta : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"
Bule : "Rice!"
Pendeta : "Orang disini. menyebutnya " EME" kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan BORAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MONIS, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya ( INDAHAN ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya RIMA RIMA, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan KORAK, inggris masih menyebut RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa batak ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...
Si Bule : oh...ido hape...????yes yes yes zzzzzzz
Hahahahaha
=====================
" TERNYATA SALAH KETIK " JUGA PUNYA ARTI
Aku dari ht BARAT, mau ke ht BALIAN ehh ternyata hawanya SIREGAR, jalannya pun MANURUNG TORUSSS.., banyak pula TOBING TOBING, serta POHAN POHAN,alahh makkk.., MEDANnya ini banyak NENGGOLAN NENGGOLANnya gas...??!, tak taunya sore itu celanaku SANGKOT dan ROBET, aku bawalah ke PANJAITAN, hehee.. aku kira harganya NAPI70an ehh ternyata PANGA1000an..??, terus aku dikejar2 si RAJAGUKGUK sama si NAGA .., aku carilah si PARLINDUNGAN yang banyak TAMBUNAN TAMBUNANnya.., karna aku katanya mau dibakar oleh si BATU BARA, kebetulan waktu itu aku bawa si PISO2.., tak cabut pisonya eehhh ternyata SITOMPUL..!!?, hujan begitu lebat sore itu.., MARPAUNG lah aku ke suatu kampung,pas di sili TONGA kampung itu kan gas..??, ketemulah aku sama si SAGALA bisa.., OPPUNG SUNGGUHHH aku mau bertanya..??, bagaimana SARAnyaGIHHH..??, aku sampai ke 7an dan SELAMAT...??, itulah ceritaku ..??, jadi diminta dengan HARAHAP maklum.., biar kita sampai ke pang GABEAN..& si MAMORA... #AsaMekkelHita #BatakNetwork
Biarkan Foto Ini Berbicara - Humor Batak dalam Gambar Meme
Demikianlah sedikit mengenai Humor Batak Terbaru diatas, Harapan kami, semoga para Pembaca Budiman merasa terhibur yah dan semoga bermanfaat. #AsaMekkelHita. Horas. Tuhan Memberkati. (BN) TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - Humor Batak |
"BAHASA BATAK KOK DILAWAN..!!"
Ada orang bule Australia datang ke Pulau samosir, dan bertanya kepada seorang pendeta HKBP.
Bule : "Kenapa pendeta kalau berkhotbah, kitabnya masih menggunakan bahasa batak? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"
Pendeta: "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, jemaat tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata yang saya beritakan bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."
Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang pendeta yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menjelaskan dan kalah dengan bahasa batak
Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa batak itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"
Pendeta : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"
Bule : "Rice!"
Pendeta : "Orang disini. menyebutnya " EME" kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan BORAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MONIS, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya ( INDAHAN ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya RIMA RIMA, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan KORAK, inggris masih menyebut RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa batak ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...
Si Bule : oh...ido hape...????yes yes yes zzzzzzz
Hahahahaha
=====================
" TERNYATA SALAH KETIK " JUGA PUNYA ARTI
Aku dari ht BARAT, mau ke ht BALIAN ehh ternyata hawanya SIREGAR, jalannya pun MANURUNG TORUSSS.., banyak pula TOBING TOBING, serta POHAN POHAN,alahh makkk.., MEDANnya ini banyak NENGGOLAN NENGGOLANnya gas...??!, tak taunya sore itu celanaku SANGKOT dan ROBET, aku bawalah ke PANJAITAN, hehee.. aku kira harganya NAPI70an ehh ternyata PANGA1000an..??, terus aku dikejar2 si RAJAGUKGUK sama si NAGA .., aku carilah si PARLINDUNGAN yang banyak TAMBUNAN TAMBUNANnya.., karna aku katanya mau dibakar oleh si BATU BARA, kebetulan waktu itu aku bawa si PISO2.., tak cabut pisonya eehhh ternyata SITOMPUL..!!?, hujan begitu lebat sore itu.., MARPAUNG lah aku ke suatu kampung,pas di sili TONGA kampung itu kan gas..??, ketemulah aku sama si SAGALA bisa.., OPPUNG SUNGGUHHH aku mau bertanya..??, bagaimana SARAnyaGIHHH..??, aku sampai ke 7an dan SELAMAT...??, itulah ceritaku ..??, jadi diminta dengan HARAHAP maklum.., biar kita sampai ke pang GABEAN..& si MAMORA... #AsaMekkelHita #BatakNetwork
Biarkan Foto Ini Berbicara - Humor Batak dalam Gambar Meme
Humor Batak Gambar Meme - Kenangan Indah Waktu Masih kecil
Humor Batak Gambar Meme - Sesuatu di Acara Pesta alias Mapes (Mangan Pesta)
Demikianlah sedikit mengenai Humor Batak Terbaru diatas, Harapan kami, semoga para Pembaca Budiman merasa terhibur yah dan semoga bermanfaat. #AsaMekkelHita. Horas. Tuhan Memberkati. (BN) TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas! Artikel yang akan kita bahas dan diskusikan kali ini berjudul "Zona Halal di Tanah Haram" yang ditulis oleh Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora, dari situs benardosinambela.id. Sangat menarik sekali untuk di ulas. Lebih lanjut simak di bawah ini.
Zona Halal di Tanah Haram
Ada yang aneh dan sangat-sangat melukai hati, itu akibat dari wacana salah seorang pejabat Provinsi Sumatera Utara mengenai zonasi halal dengan alasan agar para wisatawan penikmat makanan "halal" dalam katergori Agama tertentu kedepannya mendapat jaminan kepastian makanan dan minuman yang dimakan tidak mengakibatkan mereka ber-dosa.
Kok makanan bisa memberi dosa ya? Aneh sekali, apakah manusia-manusia seperti itu tidak punya mata dan pikiran? Sehingga perlu dibuat zona yang notabanenya akan memperbesar ruang perbedaan antara aku dan kamu. Artinya kita semuakan bisa melihat dan memilih lalu memutuskan mana makanan yang bisa dan tidak bisa kita makan, itu urusan pribadi masing-masing sajalah, semua bisa mikir kok, gak usah di zona-zonain.
Pembuatan zonasi ini tidak sesuai dengan semangat pembangunan pariwisata Danau Toba, itu melenceng kawan, kita ingin menjual keindahan, kenyamanan dan kegembiraan serta kepastian kebahagiaan untuk para pengunjung kedepannya, bukan untuk menjual "sorga" atau memastikan orang yang berkunjung kesana tidak menambah “dosa”-nya dengan makan-makanan jualan rakyat.
Ini semacam pemaksaan yang terstruktural, ya kalau mau mengembangkan wisata, silahkan saja eksplor keindahannya, kearifan budayanya dan kulinernya, itu yang mau kita jual. Bukan mau menciptakan ruang pemisah antara masyarakat yang selama ini hidup disana berdampingan dan harmonis menjadi terbelah dengan pemahaman konyol seperti itu.
Kok pejabat Sumatera Utara seperti ini serasa mengajari anak bayi makan aja ya? Dikasih pisang, dikuliti lalu di masukkan kemulutnya, itupun anak bayi masih tau mana makanan yang enak atau tidak, kalu gak enak paling-paling dibuang. Aneh sekali, kepada wisatawan kok perlakuan seperti itu? Emang mereka tak tau mana yang baik untuk dikonsumsi agar tidak menambah dosa? Aneh kau ini pejabat, kok fanatismemu kau bawa-bawa ke Danau Toba? Mengganggu bangat itu, hilang rasa optimis ke-Bangsa-an ku melihat kinerja seperti itu.
Aku tidak persoalkan apa yang pejabat ini yakini, tapi jangan paksakan itu untuk diterapkan di tanah yang mayoritas dimiliki, diusahai dan ditempati para kaum yang tidak se-keyakinan dengan label “halal” itu, tak lakupun tak apa-apalah. Lihat dong dengan lebih dekat, kita beradat saja masih membaur kok, makanpun di pesta adat masih sering bersamaan, kok malah strategi pembangunan wisata nasional seperti itu dimanfaatkan untuk memberi jarak antara masyarakat dengan kekuatan jabatan yang mereka punya?
Halal itu yang bersih, sehat, bergizi dan enak. Tak ada makanan yang sejak kelahirannya diharamkan oleh Tuhan. Manusia yang membuatnya jadi haram, menerka-nerka indikator yang tepat untuk jalan mulus ke sorga.
Berfikirlah untuk menata, bukan membunuh mata pencaharian rakyat kecil dengan melempar isu sektarian seperti itu. Mau dikemanakan para peternak babi kelak? Trus, para pedagang makanan yang non-muslim yang berjualan selama ini mau dikasih lebel agar tidak boleh jualannya di beli dengan alasan “haram” atau diusir dari zona “halal” itu? Bah... Hebat sekali konsep pejabat ini ya?
Lama-lama, kopi Lintong yang dimasak namboruku juga nanti kau bilang Haram karena dia beragama lain dari yang kau anut, supaya mpok mu yang satu keyakinan dengan mu bisa berjualan kopi impor dan dapat untung gede dari sana, akhirnya penduduk lokal hanya sebagai penonton. Politik ekonomi bisa-bisa aja, tapi jangan bawa-bawa Agama ya.
Sadarlah kalau tanah itu milik rakyat setempat, orang-orang yang kau cap nantinya menjual makanan "haram" hanya karena tidak se-keyakinan dengan anda. Selama ini juga pedagang disana hidup berdampingan, saling berbagi pengalaman. Mau yang jualan saksang, ayam ataupun daging kuda rendang sampai daging kerbau rendang sama-sama akur, tentram dan damai.
Kopi itu akan tetap berwarna hitam dan terasa pahit dimanapun, jadi jangan buat kehidupan rakyat lokal yang sudah hitam dan pahit selama ini semakin hitam dan pahit setelah adanya proyek destinasi wisata nasional ini.
Oleh: Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Danau Toba - Ilustrasi by benardosinambela.id |
Zona Halal di Tanah Haram
Ada yang aneh dan sangat-sangat melukai hati, itu akibat dari wacana salah seorang pejabat Provinsi Sumatera Utara mengenai zonasi halal dengan alasan agar para wisatawan penikmat makanan "halal" dalam katergori Agama tertentu kedepannya mendapat jaminan kepastian makanan dan minuman yang dimakan tidak mengakibatkan mereka ber-dosa.
Kok makanan bisa memberi dosa ya? Aneh sekali, apakah manusia-manusia seperti itu tidak punya mata dan pikiran? Sehingga perlu dibuat zona yang notabanenya akan memperbesar ruang perbedaan antara aku dan kamu. Artinya kita semuakan bisa melihat dan memilih lalu memutuskan mana makanan yang bisa dan tidak bisa kita makan, itu urusan pribadi masing-masing sajalah, semua bisa mikir kok, gak usah di zona-zonain.
Pembuatan zonasi ini tidak sesuai dengan semangat pembangunan pariwisata Danau Toba, itu melenceng kawan, kita ingin menjual keindahan, kenyamanan dan kegembiraan serta kepastian kebahagiaan untuk para pengunjung kedepannya, bukan untuk menjual "sorga" atau memastikan orang yang berkunjung kesana tidak menambah “dosa”-nya dengan makan-makanan jualan rakyat.
Ini semacam pemaksaan yang terstruktural, ya kalau mau mengembangkan wisata, silahkan saja eksplor keindahannya, kearifan budayanya dan kulinernya, itu yang mau kita jual. Bukan mau menciptakan ruang pemisah antara masyarakat yang selama ini hidup disana berdampingan dan harmonis menjadi terbelah dengan pemahaman konyol seperti itu.
Kok pejabat Sumatera Utara seperti ini serasa mengajari anak bayi makan aja ya? Dikasih pisang, dikuliti lalu di masukkan kemulutnya, itupun anak bayi masih tau mana makanan yang enak atau tidak, kalu gak enak paling-paling dibuang. Aneh sekali, kepada wisatawan kok perlakuan seperti itu? Emang mereka tak tau mana yang baik untuk dikonsumsi agar tidak menambah dosa? Aneh kau ini pejabat, kok fanatismemu kau bawa-bawa ke Danau Toba? Mengganggu bangat itu, hilang rasa optimis ke-Bangsa-an ku melihat kinerja seperti itu.
Aku tidak persoalkan apa yang pejabat ini yakini, tapi jangan paksakan itu untuk diterapkan di tanah yang mayoritas dimiliki, diusahai dan ditempati para kaum yang tidak se-keyakinan dengan label “halal” itu, tak lakupun tak apa-apalah. Lihat dong dengan lebih dekat, kita beradat saja masih membaur kok, makanpun di pesta adat masih sering bersamaan, kok malah strategi pembangunan wisata nasional seperti itu dimanfaatkan untuk memberi jarak antara masyarakat dengan kekuatan jabatan yang mereka punya?
Halal itu yang bersih, sehat, bergizi dan enak. Tak ada makanan yang sejak kelahirannya diharamkan oleh Tuhan. Manusia yang membuatnya jadi haram, menerka-nerka indikator yang tepat untuk jalan mulus ke sorga.
Berfikirlah untuk menata, bukan membunuh mata pencaharian rakyat kecil dengan melempar isu sektarian seperti itu. Mau dikemanakan para peternak babi kelak? Trus, para pedagang makanan yang non-muslim yang berjualan selama ini mau dikasih lebel agar tidak boleh jualannya di beli dengan alasan “haram” atau diusir dari zona “halal” itu? Bah... Hebat sekali konsep pejabat ini ya?
Lama-lama, kopi Lintong yang dimasak namboruku juga nanti kau bilang Haram karena dia beragama lain dari yang kau anut, supaya mpok mu yang satu keyakinan dengan mu bisa berjualan kopi impor dan dapat untung gede dari sana, akhirnya penduduk lokal hanya sebagai penonton. Politik ekonomi bisa-bisa aja, tapi jangan bawa-bawa Agama ya.
Sadarlah kalau tanah itu milik rakyat setempat, orang-orang yang kau cap nantinya menjual makanan "haram" hanya karena tidak se-keyakinan dengan anda. Selama ini juga pedagang disana hidup berdampingan, saling berbagi pengalaman. Mau yang jualan saksang, ayam ataupun daging kuda rendang sampai daging kerbau rendang sama-sama akur, tentram dan damai.
Kopi itu akan tetap berwarna hitam dan terasa pahit dimanapun, jadi jangan buat kehidupan rakyat lokal yang sudah hitam dan pahit selama ini semakin hitam dan pahit setelah adanya proyek destinasi wisata nasional ini.
Oleh: Benardo Sinambela - Siporsuk Na Mamora
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutnya. Kembali kami memaparkan tentang budaya halak hita menganai SINAMOT. Tulisan ini kami sadur dari log.viva.co.id. Mari simak selanjutnya di bawah ini.
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - Pernikahan Batak Toba (Sumber: Disini) |
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Posted by FACE BATAK on Selasa, 27 Desember 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Salah satu kelebihan dari Suku Batak adalah memiliki Tulisan Batak. Tulisan Batak ini biasa disebut SURAT BATAK. Dan kelima sub suku Batak seperti Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola-Mandailing, memilikinya (Surat Batak, red).
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [Å‹], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Sampul Buku SURAT BATAK oleh Dr. Uli Kozok, 2009. (Sumber: ulikozok.com) |
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
![]() |
| Ina ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
- Bunyi [e] (hatadingan)
- Bunyi [Å‹] (haminsaran)
- Bunyi [u] (haborotan)
- Bunyi [i] (hauluan)
- Bunyi [o] (sihora)
- Pangolat (tanda untuk menghilangkan bunyi [a] pada ina ni surat)
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [Å‹], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
![]() |
| Anak ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan
Posted by FACE BATAK on Jumat, 07 Oktober 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kali ini kita berbagi tentang sebuah peristiwa Isu Begu Ganjang yang lagi trending topik di berbagai media online, khususnya media online daerah dari Sumatera Utara. Sebelumnya simak dulu berita yang beredar di bawah ini.
Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya
Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di Sumatera Utara, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. Selain itu gejala ini menjadi tantangan serius bagi kehadiran kekristenan dalam karya pastoralnya di tengah-tengah jemaat.
Paparan ini bukan bermaksud menjawab segala persoalan yang muncul sehubungan dengan begu ganjang, tapi hanya sebatas memberikan sedikit pemahaman terminologis dan sikap pastoral apa yang bisa dilakukan berhadapan dengan isu begu ganjang.
Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku Batak Toba sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Batak Toba (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang Batak Toba kuno telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang Batak Toba kuno sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.
Masyarakat Batak Toba kuno telah berhasil mengembangkan suatu bentuk keagamaan primitif dengan menampilkan tokoh keallahan, diantaranya Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia, Debata Natolu yang terdiri dari Bataraguru, Soripada, dan Mangalabulan, dan terakhir adalah Debata Asiasi sebagai lambang kesatuan serta totalitas.
Zat kehidupan
Selanjutnya, masyarakat Batak Toba kuno percaya, disamping para Debata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tondi dan begu.
Tondi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tondi. Tondi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang Batak Toba kuno mengenal dua jenis tondi, yaitu: tondi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tondi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tondi-nya.
Kehadiran tondi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tondi, atau kepergian tondi dari tubuh manusia. Bila kepergian tondi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tondi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian (R. Pasaribu, 1988:130-131).
Rasa takut
Apabila orang meninggal dunia, maka tondi berobah menjadi begu (Ph.L.Tobing, 1956:101). Jadi roh-roh yang menjadi begu inilah yang menimbulkan rasa takut bagi manusia yang masih hidup. Adanya rasa takut menjadi faktor utama aktivitas orang Batak Toba kuno untuk mengkultuskannya. Ini pula menjadi dasar ritus (kebaktian), yaitu upaya menghormati dan memuja begu sesuai keyakinannya (R.Pasaribu, 1988:125).
Pada umumnya begu dibagi dua golongan, yaitu (1) begu dari orang yang sudah meninggal, dan (2) begu lain yang berkeliaran di alam semesta yang secara umum dalam bahasa sehari-hari biasa disebut hantu (Parkin, 1978:148). Menurut sifatnya ada begu yang jahat dan begu yang baik (Marbun-Harahap, 1987:30). Sebenarnya orang Batak Toba kuno tidak menyebut begu kepada arwah orang yang dihormatinya. Arwah orang yang dicintai dan dihormati biasa disebut dengan sumangot (roh yang dipuja) dan sombaon (roh yang disembah).
Sehubungan dengan itulah ada ritus pemujaan nenek moyang berupa penggalian tulang belulang dari kuburan sementara (mangongkal holi) dan pemakaman kembali yang dilakukan bagi leluhur yang dianggap memiliki pengaruh istimewa. Melalui penghormatan, misalnya, dalam upacara adat diharap, bahwa roh nenek moyang akan diangkat menjadi sumangot. Bila dilakukan penghormatan lebih besar lagi bagi sumangot dan keturunannya menjadi kelompok besar, maka sumangot menjadi sombaon. Sombaon dipandang sebagai roh yang berkuasa dan harus dihormati, malah dipercaya dekat dengan para Debata yang menguasai kehidupan manusia.
Ada bermacam ragam sebutan untuk arwah orang mati yang dinamai begu, antara lain adalah begu laos bagi arwah orang yang semasa hidupnya merupakan pengemis, begu gunung untuk arwah orang yang sewaktu hidup bekerja sebagai pandai besi, konon arwahnya ditempatkan oleh Mulajadi Nabolon di puncak gunung. Begu jau adalah arwah orang yang tidak dikenal, begu nurnur bagi arwah orang yang mati tapi tempatnya belum sempat diukur sewaktu dimakamkan, begu siharhar untuk orang yang mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Sementara begu antuk (roh pemukul) dan begu ganjang adalah sebutan bagi begu yang dapat memukul orang dengan tiba-tiba hingga menemui ajalnya. Kedua jenis begu ini dianggap banyak menyebarkan penyakit menular seperti kolera, sampar dan sebagainya.
Demikian ulasan singkat mengenai paham orang Batak Toba kuno tentang begu dalam koteks ‘pneumatologi’ Batak Toba tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di Sumatera Utara sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
Pendampingan pastoral?
Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat atau umat yang menyebarluaskan isu begu ganjang sebetulnya dibutuhkan pendekatan pastoral yang bijaksana.
Terlepas dari persoalan apakah memang begu ganjang ada atau tidak, menarik untuk mengamati mengapa masyarakat menghembuskan isu begu ganjang tersebut. Berbagai faktor, misalnya, kecemburuan sosial, persoalan ekonomi, dan persaingan politis bisa mendasari orang memunculkan isu begu ganjang. Kegersangan dan kehampaan iman kristiani serta kebuntuan dalam menghadapi segala jenis persoalan kehidupan sehari-hari juga dapat merangsang orang untuk cepat melemparkan tanggungjawab dan kesalahan kepada pihak lain. Dengan meminjam terminologi begu ganjang orang merasa lebih gampang menghakimi pihak lawan atau orang lain yang tidak disenangi sebagai pihak yang bersalah, sumber permasalahan, dan penderitaan, maka harus segera dibinasakan.
Berhadapan dengan gejala ini beberapa kebijakan pastoral yang barangkali bisa dilakukan adalah:
Pertama, memberikan penjelasan yang benar secara antropologis, historis dan sosiologis kepada jemaat seputar begu ganjang, sehingga orang mengerti latar belakang kemunculan kata begu ganjang pada masyarakat.
Kedua, menggalakkan diskusi dan seminar secara teratur mengenai isu yang hangat di masyarakat, sehingga umat merasa terlibat dan turut memikirkan pemecahan atas persoalan yang muncul di antara mereka.
Ketiga, mengadakan pendekatan dan pendampingan pastoral kepada kedua belah pihak baik korban atau pihak yang dituduh memelihara begu ganjang, maupun kelompok masyarakat yang yang sudah dan/atau potensial bertindak anarkis.
Demikian turi-turian ini kami sampaikan, semoga bisa berguna dan bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Lihat Video di bawah ini:
Sumber: Facebook TINJAKSTAR September 05, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya |
Isu Begu Ganjang, Warga Lempari Rumah Sembiring di Lapangan Bola Bawah
LINTAS PULIK-SIANTAR, Gara-gara isu begu ganjang, ratusan masyarakat dari Kelurahan Pardamean dan Kelurahan Parhorasan Nauli menyerbu rumah yang ditempati S Sembiring/br Perangin-angin yang terletak di Lapangan Bola Bawah Jalan Farel Pasaribu No.141,Minggu malam (5/9/2016).
Dalam kejadian ini, masyarakat sempat melempari rumah S Sembiring dengan batu hingga beberapa jendela kaca berpecahan. Diduga,masyakat terprovokasi adanya informasi bahwa keluarga S Sembiring diduga pelihara begu ganjang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari masyarakat,emosi warga memuncak karena adanya salah seorang warga kesurupan di rumah S Sembiring.
"Pak Tarigan (50 thn) yang kesurupan itu. Anehnya, (yang kesurupan) tak sadar datang ke rumah S Sembiring sekira pukul 21.00 WIB saat hujan turun,"kata salah seorang warga yang enggan namanya disebutkan, Senin (5/9/2016).
Salah seorang pemuda malah meminta kepolisian untuk mendampingi masyarakat,untuk menggeledah rumah S Sembiring.
"Kita minta untuk didampingi,agar warga bisa masuk ke rumah S Sembiring. Sehingga penasaran warga selama 3-4 tahun dapat terjawab,"ucap pemuda yang masih berkumpul di lokasi kejadian.
Saat ini, masih berlangsung mediasi di Kantor Kecamatan Siantar Marihat antara warga Kelurahan Pardamean dan Kelurahan Parhorasan Nauli dengan keluarga S Sembiring/br Perangin-angin. Mediasi ini dipimpin Camat Siantar Marihat,Danramil 02/SS. (http://www.lintaspublik.com/2016/09/isu-begu-ganjang-warga-lempari-rumah.html)
Fenomena Begu Ganjang dan Tantangan Pastoralnya
Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di Sumatera Utara, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. Selain itu gejala ini menjadi tantangan serius bagi kehadiran kekristenan dalam karya pastoralnya di tengah-tengah jemaat.
Paparan ini bukan bermaksud menjawab segala persoalan yang muncul sehubungan dengan begu ganjang, tapi hanya sebatas memberikan sedikit pemahaman terminologis dan sikap pastoral apa yang bisa dilakukan berhadapan dengan isu begu ganjang.
Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku Batak Toba sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Batak Toba (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang Batak Toba kuno telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang Batak Toba kuno sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.
Masyarakat Batak Toba kuno telah berhasil mengembangkan suatu bentuk keagamaan primitif dengan menampilkan tokoh keallahan, diantaranya Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia, Debata Natolu yang terdiri dari Bataraguru, Soripada, dan Mangalabulan, dan terakhir adalah Debata Asiasi sebagai lambang kesatuan serta totalitas.
Zat kehidupan
Selanjutnya, masyarakat Batak Toba kuno percaya, disamping para Debata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tondi dan begu.
Tondi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tondi. Tondi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang Batak Toba kuno mengenal dua jenis tondi, yaitu: tondi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tondi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tondi-nya.
Kehadiran tondi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tondi, atau kepergian tondi dari tubuh manusia. Bila kepergian tondi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tondi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian (R. Pasaribu, 1988:130-131).
Rasa takut
Apabila orang meninggal dunia, maka tondi berobah menjadi begu (Ph.L.Tobing, 1956:101). Jadi roh-roh yang menjadi begu inilah yang menimbulkan rasa takut bagi manusia yang masih hidup. Adanya rasa takut menjadi faktor utama aktivitas orang Batak Toba kuno untuk mengkultuskannya. Ini pula menjadi dasar ritus (kebaktian), yaitu upaya menghormati dan memuja begu sesuai keyakinannya (R.Pasaribu, 1988:125).
Pada umumnya begu dibagi dua golongan, yaitu (1) begu dari orang yang sudah meninggal, dan (2) begu lain yang berkeliaran di alam semesta yang secara umum dalam bahasa sehari-hari biasa disebut hantu (Parkin, 1978:148). Menurut sifatnya ada begu yang jahat dan begu yang baik (Marbun-Harahap, 1987:30). Sebenarnya orang Batak Toba kuno tidak menyebut begu kepada arwah orang yang dihormatinya. Arwah orang yang dicintai dan dihormati biasa disebut dengan sumangot (roh yang dipuja) dan sombaon (roh yang disembah).
Sehubungan dengan itulah ada ritus pemujaan nenek moyang berupa penggalian tulang belulang dari kuburan sementara (mangongkal holi) dan pemakaman kembali yang dilakukan bagi leluhur yang dianggap memiliki pengaruh istimewa. Melalui penghormatan, misalnya, dalam upacara adat diharap, bahwa roh nenek moyang akan diangkat menjadi sumangot. Bila dilakukan penghormatan lebih besar lagi bagi sumangot dan keturunannya menjadi kelompok besar, maka sumangot menjadi sombaon. Sombaon dipandang sebagai roh yang berkuasa dan harus dihormati, malah dipercaya dekat dengan para Debata yang menguasai kehidupan manusia.
Ada bermacam ragam sebutan untuk arwah orang mati yang dinamai begu, antara lain adalah begu laos bagi arwah orang yang semasa hidupnya merupakan pengemis, begu gunung untuk arwah orang yang sewaktu hidup bekerja sebagai pandai besi, konon arwahnya ditempatkan oleh Mulajadi Nabolon di puncak gunung. Begu jau adalah arwah orang yang tidak dikenal, begu nurnur bagi arwah orang yang mati tapi tempatnya belum sempat diukur sewaktu dimakamkan, begu siharhar untuk orang yang mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Sementara begu antuk (roh pemukul) dan begu ganjang adalah sebutan bagi begu yang dapat memukul orang dengan tiba-tiba hingga menemui ajalnya. Kedua jenis begu ini dianggap banyak menyebarkan penyakit menular seperti kolera, sampar dan sebagainya.
Demikian ulasan singkat mengenai paham orang Batak Toba kuno tentang begu dalam koteks ‘pneumatologi’ Batak Toba tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di Sumatera Utara sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
Pendampingan pastoral?
Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat atau umat yang menyebarluaskan isu begu ganjang sebetulnya dibutuhkan pendekatan pastoral yang bijaksana.
Terlepas dari persoalan apakah memang begu ganjang ada atau tidak, menarik untuk mengamati mengapa masyarakat menghembuskan isu begu ganjang tersebut. Berbagai faktor, misalnya, kecemburuan sosial, persoalan ekonomi, dan persaingan politis bisa mendasari orang memunculkan isu begu ganjang. Kegersangan dan kehampaan iman kristiani serta kebuntuan dalam menghadapi segala jenis persoalan kehidupan sehari-hari juga dapat merangsang orang untuk cepat melemparkan tanggungjawab dan kesalahan kepada pihak lain. Dengan meminjam terminologi begu ganjang orang merasa lebih gampang menghakimi pihak lawan atau orang lain yang tidak disenangi sebagai pihak yang bersalah, sumber permasalahan, dan penderitaan, maka harus segera dibinasakan.
Berhadapan dengan gejala ini beberapa kebijakan pastoral yang barangkali bisa dilakukan adalah:
Pertama, memberikan penjelasan yang benar secara antropologis, historis dan sosiologis kepada jemaat seputar begu ganjang, sehingga orang mengerti latar belakang kemunculan kata begu ganjang pada masyarakat.
Kedua, menggalakkan diskusi dan seminar secara teratur mengenai isu yang hangat di masyarakat, sehingga umat merasa terlibat dan turut memikirkan pemecahan atas persoalan yang muncul di antara mereka.
Ketiga, mengadakan pendekatan dan pendampingan pastoral kepada kedua belah pihak baik korban atau pihak yang dituduh memelihara begu ganjang, maupun kelompok masyarakat yang yang sudah dan/atau potensial bertindak anarkis.
Demikian turi-turian ini kami sampaikan, semoga bisa berguna dan bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Lihat Video di bawah ini:
Sumber: Facebook TINJAKSTAR September 05, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia

































