BATAK NETWORK - Horasma dihita saluhutnya. Turi-turian kali ini adalah tentang Kedekatan Presiden Joko Widodo atau yang biasa disapa dengan JOKOWI dengan Halak Hita. Untuk selanjutnya bagaimana Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak, mari kita simak bersama dibawah ini, seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Inilah 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal mempunyai perhatian lebih kepada orang-orang di luar Pulau Jawa, ketimbang presiden sebelumnya.
Hal ini barangkali dampak dari kebijakan pembangunan Jokowi yang tidak lagi Jawa-Sentris seperti para pendahulunya, melainkan Indonesia-Sentris, yakni pembangunan merata seluruh Indonesia.
Kecintaan Jokowi pada orang di luar Pulau Jawa ini seakan mendapat tempat di hati orang Batak, yang sejak dulu menginginkan presiden yang tidak pilih kasih.
Sikap Jokowi itu kemudian membuat sebagian orang Batak meyakini bahwa sang presiden memang nyaman dekat dengan halak hita.
Berikut adalah 4 bukti kedekatan Jokowi dengan orang Batak:
Jokowi Menang Telak di Tanah Batak
Orang Batak ikut memberi kontribusi signifikan bagi kemenangan pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Bagaimana tidak, di 4 kabupaten pemekaran Tapanuli Utara (baca: Tano Batak) yaitu : Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir dan Humbang Hasundutan, Jokowi-JK menang mutlak di atas 90 persen.
Kemenangan telak Jokowi-JK di Tanah Batak ini secara tidak langsung juga hukuman bagi pasangan Prabowo-Hatta, yang banyak menjual isu SARA dalam kampanyenya.
Berikut perbandingan perolehan suara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK di Tano Batak pada Pilpres 2014:
Dua Menteri Koordinator Orang Batak
Meski sempat sedikit mengecewakan orang Batak karena mencoret nama Maruarar Sirait sehingga tidak ada halak hita dalam Kabinet Kerja, Presiden Jokowi cepat mengobatinya.
Pada perombakan (reshuffle) kabinet pertama Agustus 2015, Jokowi langsung memasukkan dua orang menteri asal Batak sekaligus ke dalam Kabinet Kerja. Posisinya pun tidak tanggung-tanggung, yakni menteri koordinator.
Mereka adalah Luhut Pandjaitan sebagai Menko Polhukam dan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian. Dengan demikian, dari empat menteri koordinator yang ada, dua atau separuhnya adalah dijabat orang Batak. Luar biasa!
Perhatikan Wisata Danau Toba
Baru pada era Presiden Jokowi, wisata Danau Toba mendapat perhatian lebih. Bersama 9 detinasi wisata lain di Indonesia, Jokowi ingin menjadikan Danau Toba sebagai ‘Bali’ baru.
Tidak hanya itu, Jokowi juga bertekad membuat Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Tekad ini jelas bukan omong kosong jika melihat langkah konkret sang presiden.
Misalnya, Jokowi langsung memerintahkan memperlebar Bandara Silangit, Tapanuli Utara, sehingga sekarang sudah bisa didarati oleh sejumlah maskapai dari Jakarta.
Kemudian, Jokowi segera membentuk Badan Otorita Danau Toba. Lembaga ini akan mempercepat pembangunan wisata di danau huta kita tercinta.
Perhatikan Warga Karo Terdampak Sinabung
Tidak hanya Danau Toba yang menjadi perhatian Presiden Jokowi. Kepala pemerintahan juga terus memantau ancaman bencana yang tiba-tiba datang dari erupsi Sinabung.
Hingga kini sudah dua tahap relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap pengungsi Sinabung. Bahkan, pada relokasi tahap II, pemerintah memberi kebebasan kepada pengungsi untuk membangun huniannya sendiri.
Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan dana Rp 110 juta per kepala keluarga yang terdiri atas Rp 59,4 juta untuk penyediaan tanah serta pembangunan rumah dan Rp 50,6 juta untuk lahan pertanian.
Pada bencana erupsi Sinabung yang menewaskan sedikitnya 7 orang Sabtu (21/5), pemerintah Jokowi juga langsung memberi santunan tiga hari setelah kejadian, sebesar Rp 140 juta.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Presiden Jokowi dan Ibu Iriana dengan pakaian adat Batak di Karnaval Danau Toba.(foto:ist) |
Inilah 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal mempunyai perhatian lebih kepada orang-orang di luar Pulau Jawa, ketimbang presiden sebelumnya.
Hal ini barangkali dampak dari kebijakan pembangunan Jokowi yang tidak lagi Jawa-Sentris seperti para pendahulunya, melainkan Indonesia-Sentris, yakni pembangunan merata seluruh Indonesia.
Kecintaan Jokowi pada orang di luar Pulau Jawa ini seakan mendapat tempat di hati orang Batak, yang sejak dulu menginginkan presiden yang tidak pilih kasih.
Sikap Jokowi itu kemudian membuat sebagian orang Batak meyakini bahwa sang presiden memang nyaman dekat dengan halak hita.
Berikut adalah 4 bukti kedekatan Jokowi dengan orang Batak:
Jokowi Menang Telak di Tanah Batak
Orang Batak ikut memberi kontribusi signifikan bagi kemenangan pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Bagaimana tidak, di 4 kabupaten pemekaran Tapanuli Utara (baca: Tano Batak) yaitu : Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir dan Humbang Hasundutan, Jokowi-JK menang mutlak di atas 90 persen.
![]() |
| Presiden Jokowi diulosi di Bandara Silangit - Foto: Setpres |
Kemenangan telak Jokowi-JK di Tanah Batak ini secara tidak langsung juga hukuman bagi pasangan Prabowo-Hatta, yang banyak menjual isu SARA dalam kampanyenya.
Berikut perbandingan perolehan suara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK di Tano Batak pada Pilpres 2014:
- Tapanuli Utara: Prabowo-Hatta 11.615 (8,78%) dan Jokowi-JK 120.744 (91,22%)
- Samosir: Prabowo-Hatta 3.346 (5,54%) dan Jokowi-JK 57.030 (94,46%)
- Toba Samosir: Prabowo-Hatta 8.154 (9,30%) dan Jokowi-JK 79.525 (90,70%)
- Humbang Hasundutan: Prabowo-Hatta 8.284 (9,63%) dan Jokowi-JK 77.704 (90,37%)
Dua Menteri Koordinator Orang Batak
Meski sempat sedikit mengecewakan orang Batak karena mencoret nama Maruarar Sirait sehingga tidak ada halak hita dalam Kabinet Kerja, Presiden Jokowi cepat mengobatinya.
![]() |
| Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dan Menko Perekonomian Darmin Nasution - Foto: straitstimes.com / batakgaul.com |
Pada perombakan (reshuffle) kabinet pertama Agustus 2015, Jokowi langsung memasukkan dua orang menteri asal Batak sekaligus ke dalam Kabinet Kerja. Posisinya pun tidak tanggung-tanggung, yakni menteri koordinator.
Mereka adalah Luhut Pandjaitan sebagai Menko Polhukam dan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian. Dengan demikian, dari empat menteri koordinator yang ada, dua atau separuhnya adalah dijabat orang Batak. Luar biasa!
Perhatikan Wisata Danau Toba
Baru pada era Presiden Jokowi, wisata Danau Toba mendapat perhatian lebih. Bersama 9 detinasi wisata lain di Indonesia, Jokowi ingin menjadikan Danau Toba sebagai ‘Bali’ baru.
![]() |
| Presiden Jokowi menikmati keindahan alam Danau Toba - Foto: Setpres / Batakgaul.com |
Tidak hanya itu, Jokowi juga bertekad membuat Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Tekad ini jelas bukan omong kosong jika melihat langkah konkret sang presiden.
Misalnya, Jokowi langsung memerintahkan memperlebar Bandara Silangit, Tapanuli Utara, sehingga sekarang sudah bisa didarati oleh sejumlah maskapai dari Jakarta.
Kemudian, Jokowi segera membentuk Badan Otorita Danau Toba. Lembaga ini akan mempercepat pembangunan wisata di danau huta kita tercinta.
Perhatikan Warga Karo Terdampak Sinabung
Tidak hanya Danau Toba yang menjadi perhatian Presiden Jokowi. Kepala pemerintahan juga terus memantau ancaman bencana yang tiba-tiba datang dari erupsi Sinabung.
![]() |
| Presiden Jokowi kunjungi pengungsi Sinabung - Foto: Setpres |
Hingga kini sudah dua tahap relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap pengungsi Sinabung. Bahkan, pada relokasi tahap II, pemerintah memberi kebebasan kepada pengungsi untuk membangun huniannya sendiri.
Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan dana Rp 110 juta per kepala keluarga yang terdiri atas Rp 59,4 juta untuk penyediaan tanah serta pembangunan rumah dan Rp 50,6 juta untuk lahan pertanian.
Pada bencana erupsi Sinabung yang menewaskan sedikitnya 7 orang Sabtu (21/5), pemerintah Jokowi juga langsung memberi santunan tiga hari setelah kejadian, sebesar Rp 140 juta.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Turi-turian dibahasan sadarion adalah tentang 'Marsiadapari', Gotong Royong Ala Orang Batak. Marsiadapari ini merupakan salah satu Gaya Hidup Orang Batak.
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Marsiadapari - Foto: batakgaul.com |
Seperti apa makna dari Marsiadapari ini, simak turi-turian singkat berikut seperti yang dilansir oleh Batakgaul.com.
Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.
Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…
Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!
Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.
“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.
Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.
Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.
“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.
Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.
Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?
Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?
Jelas, masih tetap eksis kawan. Bahkan, masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!
Namun, harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.
Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.
Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.
Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.
Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si pir ni tondi) yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).
Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul.
Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama (Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa).
Bagaimana menurut Anda tentang turi-turian Gotong Royong "Marsiadapari" di atas. Yang jelas adalah bahwa Gotong Royong "Marsiadapari" adalah Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan. Mari kita lestarikan sampai kapanpun. Semoga bermanfaat. Horas. Tuhan memberkati.
Penulis: batakgaul.com
Editor: @bataknetwork TINJAKSTAR Februari 27, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Gotong Royong "Marsiadapari" Gaya Hidup Orang Batak Yang Tak Terlepaskan
Posted by FACE BATAK on Senin, 27 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami datang kehadapan Amang dohot Inang yang kami hormati untuk berbagi turi-turian yang baik bagi kawula muda batak.
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu |
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
- Bona Ni Ari (Tulang dari ompu kandung)
- Bona Tulang (Tulang dari ayah)
- Ompu Bao (kedua orangtua dari ibu kandung)
- Tulang (Saudara laki-laki ibu kandung)
- Nantulang (istri tulang)
- Lae (anak laki-laki tulang)
- Bao (besan)
- Paramaan/Tulang Na Poso (panggilan kepada anak laki-laki dari abang namboru oleh namboru/amangboru).
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
- Ompu Parsadaan (Ompu yang bisa dilacak sebagai persamaan antara dua orang semarga) yang merupakan tingkat tertinggi dalam susunan hubungan partuturan
- Ompu Mangulahi (Ompu dari Ompu)
- Ama Mangulahi (bapak dari ompu suhut)
- Ompu Suhut (Ompu kandung/ayahnya ayah)
- Ama Suhut (Ayah kandung)
- Haha (Abang kandung)
- Anggi (Adik kandung)
- Anak
- Pahompu (cucu cewek dan cowok)
- Nini (cicit laki-laki)
- Nono (cicit perempuan)
- Ondok-ondok (cucu dari cucu laki-laki)
- Ompu Boru (orang tua perempuan dari ayah)
- Ina Pangintubu (ibu kandung)
- Haha Boru (istri dari abang kandung)
- Anggi Boru (istri adik laki-laki).
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
- Ito (saudara perempuan satu marga, anak perempuan dari namboru)
- Lae (anak laki-laki tulang, anak laki-laki dari namboru)
- Amangboru (Suami dari saudara perempuan ayah)
- Namboru (Saudara perempuan ayah)
- Hela (suami dari anak perempuan)
- Boru (anak kandung perempuan)
- Ito Mangulahi (Namboru kandung ayah kandung)
- Lae Mangulahi (Suami dari Ito Mangulahi)
- Bere (semua keturunan dari adik/kakak perempuan)
- Pariban (anak perempuan dari tulang)
- Tulang rorobot (tulang ibu beserta keturunannya)
- Nantulang rorobot (istri dari tulang rorobot).
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu
Posted by FACE BATAK on Jumat, 10 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Salah satu kelebihan dari Suku Batak adalah memiliki Tulisan Batak. Tulisan Batak ini biasa disebut SURAT BATAK. Dan kelima sub suku Batak seperti Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola-Mandailing, memilikinya (Surat Batak, red).
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Sampul Buku SURAT BATAK oleh Dr. Uli Kozok, 2009. (Sumber: ulikozok.com) |
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
![]() |
| Ina ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
- Bunyi [e] (hatadingan)
- Bunyi [ŋ] (haminsaran)
- Bunyi [u] (haborotan)
- Bunyi [i] (hauluan)
- Bunyi [o] (sihora)
- Pangolat (tanda untuk menghilangkan bunyi [a] pada ina ni surat)
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
![]() |
| Anak ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan
Posted by FACE BATAK on Jumat, 07 Oktober 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali Blog ini berbagi tentang HABATAKON. Topik kali ini adalah mengenai Perempuan Batak. Tahukah Anda Bahwa Perempuan Batak itu Bukanlah Perempuan Biasa? Beta tasimak ma mengenai turi-turian on, songon na dilansir situs batakmulana.com.
Perempuan Batak itu Bukanlah Perempuan Biasa!
Sejauh apa kita menyadari peran penting seorang perempuan Batak dalam hidup kita, baik dalam acara adat maupun di luar konsep adat tersebut? Sadarkah bahwasanya tanpa kehadiran seorang boru, maka acara adat tak akan bisa terlaksana? Sudahkan kita menghargai boru, dan meletakkan sejenak superior kita?
Boru ni raja sudah sepatutnya untuk dihormati dan dimuliakan. Dalam pengertian, bahwasanya perempuan Batak patut ditempatkan di tempat terbaik. Budaya Batak sendiri, sebenarnya sudah sejak dahulu menempatkan wanita pada posisi yang sangat penting.
Bukan tanpa alasan, atau untuk membela perempuan Batak secara sepihak atau mengedepankan perempuan dibanding laki-laki, tapi kenyataan, ada aturan yang mesti diingat sebagai acuan untuk hal ini. Masyarakat Batak yang memang menganut system patrilineal, tidak berarti kaum Adam Batak menjadi pemegang kedudukan superior di dalam keluarga dan masyarakat.
Perempuan Batak bukan perempuan biasa.
Perempuan Batak yang dalam kenyataannya juga sering kita jumpai lengkap dengan perjuangannya bertahan hidup, memenuhi kebutuhan keluarganya dan selalu tahu bagaimana bersikap menghadapi dunia yang makin hari makin keras. Perempuan Batak, secara umum, benar-benar menonjolkan sikap rajani, daya juang yang tinggi yang memang patut dihormati. Perempuan Batak dipersiapkan untuk memegang posisi penting di tengah-tengah keluarga. Terlebih setelah menikah. Setelah menikah, maka seorang perempuan Batak diharuskan memegang 4 posisi dalam keluarga, yaitu:
1. Menjadi istri bagi suaminya,
2. Menjadi 'ibu kedua' bagi adik-adik suaminya,
3. Menjadi ibu dari anak-anaknya,
4. Dan menjadi boru dalam tiap ulaon-ulaon keluarga dari pihaknya.
Seorang ibu bagi Batak adalah guru yang paling handal bagi keluarganya. Sosok seorang ibu Batak adalah figur yang paling berperan dalam mendidik dan mengajarkan adat dan falsafah hidup Batak kepada anak-anaknya. Kelembutan dan kecerewetan berpadu dalam diri seorang perempuan Batak, tidak peduli apakah perempuan itu masih berstatus lajang atau sudah menikah. Namun, perempuan Batak tidak begitu saja bersikap tanpa tahu situasi dan kondisi. Perempuan Batak adalah wanita terkuat di dunia yang bisa dengan sukses berpegang teguh pada konsep kehormatan dan penghormatan, yaitu kepatutan, moral, etika, sensitivitas, dignity, pride, wisdom, tradisi adat -istiadat, dan sebagainya.
Sudah saatnya mengubah pola pikir yang menganggap perempuan Batak sebagai kaum lemah dan pelengkap saja. Perlu diingat, wanita Batak telah di’daftarkan’ dan ditetapkan untuk dihormati. Hal ini dibuktikan dengan adanya 4 bulatan dengan titik hitam pada relief atau gorga Rumah Adat Batak. Keempat bulatan dengan titik hitam tersebut adalah symbol payudara wanita, yang melambangkan Ibu, Kasih Sayang, Kehidupan dan Kesuburan. Perempuan Batak bukan perempuan biasa. Mereka lebih dari apa yang ada di atas canda tawa. Mereka adalah sumber hidup yang seharusnya dihargai dan dihormati, bukan dikuasai.
Sumber: www.batakmulana.com TINJAKSTAR Juni 15, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Photo Ilustrasi Perempuan Batak Bukan Perempuan Biasa (Foto: batakmulana.com) |
Perempuan Batak itu Bukanlah Perempuan Biasa!
Sejauh apa kita menyadari peran penting seorang perempuan Batak dalam hidup kita, baik dalam acara adat maupun di luar konsep adat tersebut? Sadarkah bahwasanya tanpa kehadiran seorang boru, maka acara adat tak akan bisa terlaksana? Sudahkan kita menghargai boru, dan meletakkan sejenak superior kita?
Boru ni raja sudah sepatutnya untuk dihormati dan dimuliakan. Dalam pengertian, bahwasanya perempuan Batak patut ditempatkan di tempat terbaik. Budaya Batak sendiri, sebenarnya sudah sejak dahulu menempatkan wanita pada posisi yang sangat penting.
Bukan tanpa alasan, atau untuk membela perempuan Batak secara sepihak atau mengedepankan perempuan dibanding laki-laki, tapi kenyataan, ada aturan yang mesti diingat sebagai acuan untuk hal ini. Masyarakat Batak yang memang menganut system patrilineal, tidak berarti kaum Adam Batak menjadi pemegang kedudukan superior di dalam keluarga dan masyarakat.
Perempuan Batak bukan perempuan biasa.
Perempuan Batak yang dalam kenyataannya juga sering kita jumpai lengkap dengan perjuangannya bertahan hidup, memenuhi kebutuhan keluarganya dan selalu tahu bagaimana bersikap menghadapi dunia yang makin hari makin keras. Perempuan Batak, secara umum, benar-benar menonjolkan sikap rajani, daya juang yang tinggi yang memang patut dihormati. Perempuan Batak dipersiapkan untuk memegang posisi penting di tengah-tengah keluarga. Terlebih setelah menikah. Setelah menikah, maka seorang perempuan Batak diharuskan memegang 4 posisi dalam keluarga, yaitu:
1. Menjadi istri bagi suaminya,
2. Menjadi 'ibu kedua' bagi adik-adik suaminya,
3. Menjadi ibu dari anak-anaknya,
4. Dan menjadi boru dalam tiap ulaon-ulaon keluarga dari pihaknya.
Seorang ibu bagi Batak adalah guru yang paling handal bagi keluarganya. Sosok seorang ibu Batak adalah figur yang paling berperan dalam mendidik dan mengajarkan adat dan falsafah hidup Batak kepada anak-anaknya. Kelembutan dan kecerewetan berpadu dalam diri seorang perempuan Batak, tidak peduli apakah perempuan itu masih berstatus lajang atau sudah menikah. Namun, perempuan Batak tidak begitu saja bersikap tanpa tahu situasi dan kondisi. Perempuan Batak adalah wanita terkuat di dunia yang bisa dengan sukses berpegang teguh pada konsep kehormatan dan penghormatan, yaitu kepatutan, moral, etika, sensitivitas, dignity, pride, wisdom, tradisi adat -istiadat, dan sebagainya.
Sudah saatnya mengubah pola pikir yang menganggap perempuan Batak sebagai kaum lemah dan pelengkap saja. Perlu diingat, wanita Batak telah di’daftarkan’ dan ditetapkan untuk dihormati. Hal ini dibuktikan dengan adanya 4 bulatan dengan titik hitam pada relief atau gorga Rumah Adat Batak. Keempat bulatan dengan titik hitam tersebut adalah symbol payudara wanita, yang melambangkan Ibu, Kasih Sayang, Kehidupan dan Kesuburan. Perempuan Batak bukan perempuan biasa. Mereka lebih dari apa yang ada di atas canda tawa. Mereka adalah sumber hidup yang seharusnya dihargai dan dihormati, bukan dikuasai.
Sumber: www.batakmulana.com TINJAKSTAR Juni 15, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tahukah Anda Bahwa Perempuan Batak itu Bukanlah Perempuan Biasa!
Posted by FACE BATAK on Rabu, 15 Juni 2016
BATAK NETWORK - Hora ma dihita saluhutna. Kembali kami berbagi turi-turian tentang Habatakon. Adapun turi-turian tsb adalah mengenai fenomena Sastra Batak yang mulai hampir punah. Mari kita simak bersama di bawah ini. Sebelumnya, Harapan kami, semoga turi-turian ini bisa bermanfaat. Bila ada kekurangan silahkan luangkan waktu Anda untuk memberi masukan di kolom komentar yang tersedia.
Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Arus globalisasi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat - selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.
Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.
" Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha ", ima tutu..., sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata "hamu" . "Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha", namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.
"Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami" akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara "maminta gondang" (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu "Poco-poco" dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah "Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?" Jika jawaban atas pertanyaan ini "Ya", kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban "tidak" dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.
Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.
IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI
Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai "sorang" tali pusar bayi disebut "anggi-anggi ni dakdanak" atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah "pusokna". Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai "Si unsok" (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah 'si butet".
Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf "C" dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar "Samat" atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul "Pulo Samosir" penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : .....gok disi hassang nang eme nang baoang......
Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah "di tataring". Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai "sibaso". Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan "Bidan Bersalin".
Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan "Silinduat" (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut "marporhas".
Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai "painundun" (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti "duduk dengan punggung membelakangi sesuatu". Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.
Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan "inang pangintubu" (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah "pagodang-godanghon" ( baca : pagodang-godakkon).
Istilah "orang tua asuh" yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah "mardangka ni salohot, marnata na sumolhot". Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.
Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.
Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah "carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu". Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).
BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN
Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Pardamean Simamora. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Simamora atau Duma br.Simamora. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis "patrilinial", sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.
Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip "anak sihahaan" sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai "pemimpin" bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.
Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.
Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut "Nunga ditutung hudonna".
Oleh : Waldemar Simamora *)
*) Penulis adalah Pengasuh Rubrik Budaya Batak pada MM Liputan Bona Pasogit, tinggal di Simarangkir Julu Tarutung.
Sumber: batak.blogspot.co.id TINJAKSTAR Juni 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Arus globalisasi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat - selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.
Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.
" Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha ", ima tutu..., sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata "hamu" . "Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha", namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.
"Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami" akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara "maminta gondang" (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu "Poco-poco" dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah "Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?" Jika jawaban atas pertanyaan ini "Ya", kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban "tidak" dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.
Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.
IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI
Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai "sorang" tali pusar bayi disebut "anggi-anggi ni dakdanak" atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah "pusokna". Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai "Si unsok" (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah 'si butet".
Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf "C" dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar "Samat" atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul "Pulo Samosir" penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : .....gok disi hassang nang eme nang baoang......
Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah "di tataring". Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai "sibaso". Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan "Bidan Bersalin".
Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan "Silinduat" (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut "marporhas".
Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai "painundun" (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti "duduk dengan punggung membelakangi sesuatu". Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.
Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan "inang pangintubu" (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah "pagodang-godanghon" ( baca : pagodang-godakkon).
Istilah "orang tua asuh" yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah "mardangka ni salohot, marnata na sumolhot". Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.
Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.
Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah "carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu". Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).
BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN
Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Pardamean Simamora. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Simamora atau Duma br.Simamora. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis "patrilinial", sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.
Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip "anak sihahaan" sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai "pemimpin" bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.
Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.
Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut "Nunga ditutung hudonna".
Oleh : Waldemar Simamora *)
*) Penulis adalah Pengasuh Rubrik Budaya Batak pada MM Liputan Bona Pasogit, tinggal di Simarangkir Julu Tarutung.
Sumber: batak.blogspot.co.id TINJAKSTAR Juni 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tentang Habatakon: Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Posted by FACE BATAK on Rabu, 01 Juni 2016
BATAK NETWORK - Horasma di hita saluhutna. Kembali Batak Network berbagi Turi-turian palas ni roha (baca cerita yang menyenangkan). Kali ini kita akan membahasi Daftar marga Suku Batak, baik Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak dan Angkola. Penasaran? Yuk kita simak di bawah ini.
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Tulisan ini dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Mohon maaf, apabila ada kekeliruan dan kekurangannya mohon dikoreksi ulang.
A.
1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN
B.
8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR
D.
34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)
G.
45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR
H.
53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK
K.
72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI
L.
74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP
M.
95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P.
141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOHANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU
T.
328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN
Tj ( C).
350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)
U.
353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU
KAROKARO:
355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI
TARIGAN
375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO
PERANGINANGIN
387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR
GINTING
406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA
SEMBIRING
421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KELOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA
MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK
SINAGA
440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI
DAMANIK
448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK
SARAGI
453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP
PURBA
461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK
468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)
Demikianlah tulisan Batak Network mengenai Daftar Marga Batak. Semoga bermanfaat dan berguna. Sekali lagi, bila ada kekurangan bahkan kelebihan, mohon segera diberi komentar, karena komentar Anda sangat berguna untuk situs ini. Salam penuh kasih dari Tuhan, Horas. Tuhan memberkati.
Tulisan ini disadur dari Halaman Facebook Batak
Sumber: Halaman Facebook Batak dan Group Anak Siantar (GAS)
Keterangan Tambahan: Mohon dicermati, bahwa tulisan ini hanya pemaparan Marga berdasarkan Abjad, bukan pembagian marga (ompu marompu-ompu) = Sotung dirippu hamu hami namamola-mola, palias i. = Sekali lagi berdasarkan Abjad. Bisa jadi dua kali ditulis, misalnya 290. SIRINGORINGO sama dengan 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO. Bila memang ada marga yang tidak tercanctum di atas, nanti kita update tapi di kolom tersendiri, karena diatas merupakan tulisan dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Satu hal, kami disini bukan pateal-patealhon. Kami senang dikritik dan diberi tanggapan. Justru kami semakin tambah pengetahuan bila ada masukan. Mauliate. TINJAKSTAR Mei 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Tulisan ini dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Mohon maaf, apabila ada kekeliruan dan kekurangannya mohon dikoreksi ulang.
A.
1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN
B.
8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR
D.
34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)
G.
45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR
H.
53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK
K.
72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI
L.
74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP
M.
95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P.
141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOHANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU
T.
328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN
Tj ( C).
350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)
U.
353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU
KAROKARO:
355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI
TARIGAN
375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO
PERANGINANGIN
387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR
GINTING
406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA
SEMBIRING
421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KELOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA
MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK
SINAGA
440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI
DAMANIK
448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK
SARAGI
453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP
PURBA
461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK
468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)
Demikianlah tulisan Batak Network mengenai Daftar Marga Batak. Semoga bermanfaat dan berguna. Sekali lagi, bila ada kekurangan bahkan kelebihan, mohon segera diberi komentar, karena komentar Anda sangat berguna untuk situs ini. Salam penuh kasih dari Tuhan, Horas. Tuhan memberkati.
Tulisan ini disadur dari Halaman Facebook Batak
Sumber: Halaman Facebook Batak dan Group Anak Siantar (GAS)
![]() |
| Saya bangga jadi orang Batak (Foto: Google.com) |
Keterangan Tambahan: Mohon dicermati, bahwa tulisan ini hanya pemaparan Marga berdasarkan Abjad, bukan pembagian marga (ompu marompu-ompu) = Sotung dirippu hamu hami namamola-mola, palias i. = Sekali lagi berdasarkan Abjad. Bisa jadi dua kali ditulis, misalnya 290. SIRINGORINGO sama dengan 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO. Bila memang ada marga yang tidak tercanctum di atas, nanti kita update tapi di kolom tersendiri, karena diatas merupakan tulisan dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Satu hal, kami disini bukan pateal-patealhon. Kami senang dikritik dan diberi tanggapan. Justru kami semakin tambah pengetahuan bila ada masukan. Mauliate. TINJAKSTAR Mei 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Posted by FACE BATAK on Jumat, 20 Mei 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Sebagai media khusus / tentang BATAK, kami kembali berbagi sesuatu hal yang ada hubungannya dengan budaya Batak. Kali ini kita akan berbicara tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak".
Barangkali Ada yang ingin jadi Parsinabung, bolehlah luangkan waktu sejenak untuk mengetahui lebih dalam tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak". Sebuah ulasan dan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Thomson Hutasoit seperti yang telah dilansir Blog Redaksi Deteksi. Lebih lanjut mari kita simak bersama-sama di bawah ini.
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak-Toba.
Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabung atau Parsaut di dalam Batak-Toba disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.
Komunitas Batak-Toba dengan falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni somba Marhula-hula, manat Mardongan Tubu, dan elek Marboru merupakan pranata tata hubungan interaksi Batak-Toba, termasuk di dalam melaksanakan adat-budaya yang merupakan peradaban serta jati diri Batak-Toba dimanapun berada.
Baca Juga: Dalihan Na Tolu: Falsafah Hidup Orang Batak Yang Turun Temurun Sampai Hari Ini
Batak-Toba terkenal sebagai masyarakat beradat dan beradab yang diwarisi sejak zaman nenek moyang dan hingga kini dipertahankan serta dilestarikan untuk merekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yakni; marhula-hula, mardongan tubu, dan marboru, bere/ibebere.
Hubungan interaksi kekeluargaan dan kekerabatan na mardongan tubu ataupun satu marga yang hingga kini sudah ada generasi ke 20-25 (baca: sundut 20-25) tetap sedemikian kompak, harmonis menjadikan keakraban Batak, khususnya Batak-Toba merupakan suatu hubungan istimewa jika dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain di atas dunia ini.
Bila diperhatikan dengan cermat kata kunci perekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Batak-Toba tidak terlepas dari falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) apalagi bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai posisi masing-masing menurut adat-budaya warisan leluhur.
Prinsip somba (baca: hormat), manat (baca: hati-hati), elek (baca: sayang, pengayom) adalah salah satu gambaran karakter berpikir dan bertindak Batak-Toba. Sehingga bila prinsip somba, manat, dan elek selalu dikedepankan di dalam hubungan komunikasi antar sesama maka kekompakan, keakraban pasti tercipta dengan baik dan benar. Semua pihak harus menyadari hak dan tanggung jawab sesuai aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi pedoman pola tingkah laku Batak-Toba. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, bahwa kemajuan yang tidak dilandasi karakter, jati diri bangsa akan mengeliminasi seseorang dari komunitas bangsanya, serta capaian kemajuan tanpa fondasi.
Sebaliknya, bila generasi Batak-Toba sudah meninggalkan prinsip somba, manat, dan elek maka akan sulit melakukan komunikasi yang baik dan benar antar sesama karena tidak bisa lagi memosisikan diri dengan tepat sesuai adat-budaya Batak-Toba yang menjadi nilai luhur warisan nenek moyang.
Parsinabung atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak, khususnya Batak-Toba.
Tingkatan Panamboli inilah biasanya (baca: Kota Medan) menjadi Parsinabung atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak-Toba. Kedudukan Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).
Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabung atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabung atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabung atau Parsaut sedang berbicara.
Posisi strategis Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar sesuai aturan berseminar.
Demikian halnya, seorang Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak, khususnya Batak-Toba.
Umpama Batak-Toba mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabung atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.
Karena Parsinabung atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabung atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabung atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabung atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabung atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.
Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabung atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.
Kualifikasi Parsinabung atau Parsaut
Karena itu, seorang Parsinabung atau Parsaut harus memiliki kualifikasi antara lain;
1.Seseorang yang sudah manggarar adat (baca: Marunjuk/Mangadati, Manggarar Sulang-sulang ni pahompu) karena menurut konsep dasar adat Batak-Toba seseorang yang belum manggarar adat tidak layak menerima adat. Konon lagi menjadi Parsinabung atau Parsaut yang memikul hak dan tanggung jawab adat satu marga. Apakah layak dan masuk akal seseorang yang belum mangadati menuntut adat kepada pihak lain ? Bukankah prinsip dasar adat Batak, khususnya Batak-Toba adalah menerima dan memberi (baca: manjalo dohot mangalehon) ketentuan adat-budaya yang menjadi pranata aturan komunitas ?
7.Tidak reaktif dan paranoid (baca: ndang olo mananggoi hata, manang pantang so ummalo) yaitu mengomentari, menyela, mengkritik lawan bicara (baca: sesama Parsinabung atau Parsaut) karena merasa paling pintar dan paling tahu apa yang sedang diperbincangkan.
8.Memiliki kemampuan diplomasi yang baik untuk mencari solusi permasalahan disebabkan kemungkinan perbedaan adat-istiadat antar komunitas dengan ilmu pengetahuan, kemampuan berdiplomasi, pemahaman dan kemahiran nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi kearifan lokal di dalam kesetaraan dan kesejajaran. Parsinabung atau Parsaut harus mampu membangun diplomasi, lobi, serta kesepakatan melalui musyawarah diatas fondasi saling menghormati, sehingga tidak ada salah satu pihak dibawah tekanan, intervensi maupun dominasi.
9.Memahami psikologi massa, yaitu mengetahui dan memahami situasi kondisi pihak-pihak yang terlibat pada acara pesta atau ulaon adat, bukan syor sendiri. Parsinabung atau Parsaut harus pintar membaca situasi kondisi setempat, waktu, maupun psikologi seluruh pihak-pihak. Hal ini bertujuan agar seluruh prosesi adat-budaya mendatangkan kegembiraan, kebahagiaan, bukan sebaliknya, justru menimbulkan berbagai protes misalnya, Parsinabung atau Parsaut berbicara bertele-tele, melantur, mengambang yang hanya menyita waktu tanpa arti dan makna hakiki apapun.
10.Demokratis (baca: hata ninta), yakni memberi ruang partisipasi keterlibatan para pihak karena keterlibatan seluruh pihak di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba merupakan sukses pelaksanaan pesta atau ulaon adat yang mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang punya hajatan (baca: hasuhuton).
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lupa bahwa parjambaran pada Batak-Toba ada tiga jenis, yakni; jambar hata, jambar juhut, dohot jambar hepeng (baca: berbicara, daging, dan uang), sehingga apabila pihak-pihak yang seharusnya berhak mendapatkan parjambaran terabaikan akan timbul ekses negatif dikemudian hari. Dalam bahasa Batak-Toba disebut “ di tean mangolu, di tanom jongjong, di apus bulung rata”. Artinya, dihitung tetapi tidak diperhitungkan atau tidak berarti apa-apa. Hal ini sangat menyakitkan karena kedatangannya pada sebuah pesta atau ulaon adat seperti “raja naro” yaitu tamu tak diundang. Selain daripada itu, seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut harus selalu berusaha menghindarkan kata-kata menurut saya, aku (baca: ningku), tetapi menurut kami, kita (baca: hami, hita) karena apa yang diutarakan seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut adalah mengatasnamakan komunitas.
Dari berbagai kualifikasi seperti diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi seorang Parsinabung atau Parsaut di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba sangat lah strategis karena itu harus merupakan pilihan putera-putera terbaik dari suatu komunitas yang bertindak atas nama komunitas tersebut.
Karena merupakan personifikasi komunitas maka seorang Parsinabung atau Parsaut perlu dipersiapkan melalui kaderisasi terencana, terprogram, dan berkesinambungan agar tidak terputus mata rantai regenerasi alamiah. Artinya, Parsinabung atau Parsaut yang mumpuni tidak pernah kering pada suatu komunitas tertentu.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lagi hanya mengandalkan pengetahuan yang sering dilihat atau terjadi (baca: na niida, na somal diulahon halak) seperti ungkapan yang mengatakan, ”Eme na masak digagat ursa, ima na masa ima taula”, tetapi benar-benar melalui penggalian nilai-nilai luhur adat-budaya agar seluruh pelaksanaan pesta atau ulaon adat-budya tidak hanya bermakna seremonial buang-buang waktu dan biaya saja.
Peranan Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut untuk mengatur, mengarahkan, memandu, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi ulaon adat-budya sangatlah diperlukan dengan tetap mempertahankan, melestarikan nilai-nilai luhur original adat-budaya walaupun singkat padat, tetapi tepat sasaran, sarat arti dan makna. Dengan demikian pelaksanaan adat-budaya bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien tetapi tetap lestari nilai original.
Parsinabung atau Parsaut adalah sistem demokrasi musyawarah bertingkat berjenjang yang belakangan ini dikenal paradigma dari bawah ke atas (Bottom Up) merupakan salah satu nilai adat-budaya Batak-Toba yang perlu digali maksimal menjadi sebuah model manajemen publik ataupun pemerintahan demokratis seperti demokrasi Pancasila yang dianut republik ini.
Nilai-nilai luhur adat-budaya seperti ini tumbuh subur ditengah-tengah komunitas masyarakat bumi Nusantara, dan ada baiknya jika diinventarisasi maksimal untuk memperkuat hasanah budaya nasional, dan tidak mustahil akan menjadi kajian akademik bermakna luar biasa dalam sistem pemerintahan berdasar kearifan lokal. Horas !
Penulis: Drs. Thomson Hutasoit
Sumber: Blog Redaksi Deteksi TINJAKSTAR Mei 19, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Barangkali Ada yang ingin jadi Parsinabung, bolehlah luangkan waktu sejenak untuk mengetahui lebih dalam tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak". Sebuah ulasan dan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Thomson Hutasoit seperti yang telah dilansir Blog Redaksi Deteksi. Lebih lanjut mari kita simak bersama-sama di bawah ini.
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak-Toba.
Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabung atau Parsaut di dalam Batak-Toba disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.
Komunitas Batak-Toba dengan falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni somba Marhula-hula, manat Mardongan Tubu, dan elek Marboru merupakan pranata tata hubungan interaksi Batak-Toba, termasuk di dalam melaksanakan adat-budaya yang merupakan peradaban serta jati diri Batak-Toba dimanapun berada.
Baca Juga: Dalihan Na Tolu: Falsafah Hidup Orang Batak Yang Turun Temurun Sampai Hari Ini
Batak-Toba terkenal sebagai masyarakat beradat dan beradab yang diwarisi sejak zaman nenek moyang dan hingga kini dipertahankan serta dilestarikan untuk merekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yakni; marhula-hula, mardongan tubu, dan marboru, bere/ibebere.
Hubungan interaksi kekeluargaan dan kekerabatan na mardongan tubu ataupun satu marga yang hingga kini sudah ada generasi ke 20-25 (baca: sundut 20-25) tetap sedemikian kompak, harmonis menjadikan keakraban Batak, khususnya Batak-Toba merupakan suatu hubungan istimewa jika dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain di atas dunia ini.
Bila diperhatikan dengan cermat kata kunci perekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Batak-Toba tidak terlepas dari falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) apalagi bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai posisi masing-masing menurut adat-budaya warisan leluhur.
Prinsip somba (baca: hormat), manat (baca: hati-hati), elek (baca: sayang, pengayom) adalah salah satu gambaran karakter berpikir dan bertindak Batak-Toba. Sehingga bila prinsip somba, manat, dan elek selalu dikedepankan di dalam hubungan komunikasi antar sesama maka kekompakan, keakraban pasti tercipta dengan baik dan benar. Semua pihak harus menyadari hak dan tanggung jawab sesuai aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi pedoman pola tingkah laku Batak-Toba. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, bahwa kemajuan yang tidak dilandasi karakter, jati diri bangsa akan mengeliminasi seseorang dari komunitas bangsanya, serta capaian kemajuan tanpa fondasi.
Sebaliknya, bila generasi Batak-Toba sudah meninggalkan prinsip somba, manat, dan elek maka akan sulit melakukan komunikasi yang baik dan benar antar sesama karena tidak bisa lagi memosisikan diri dengan tepat sesuai adat-budaya Batak-Toba yang menjadi nilai luhur warisan nenek moyang.
Parsinabung atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak, khususnya Batak-Toba.
Tingkatan Panamboli inilah biasanya (baca: Kota Medan) menjadi Parsinabung atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak-Toba. Kedudukan Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).
Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabung atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabung atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabung atau Parsaut sedang berbicara.
Posisi strategis Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar sesuai aturan berseminar.
Demikian halnya, seorang Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak, khususnya Batak-Toba.
Umpama Batak-Toba mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabung atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.
Karena Parsinabung atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabung atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabung atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabung atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabung atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.
Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabung atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.
Kualifikasi Parsinabung atau Parsaut
Karena itu, seorang Parsinabung atau Parsaut harus memiliki kualifikasi antara lain;
1.Seseorang yang sudah manggarar adat (baca: Marunjuk/Mangadati, Manggarar Sulang-sulang ni pahompu) karena menurut konsep dasar adat Batak-Toba seseorang yang belum manggarar adat tidak layak menerima adat. Konon lagi menjadi Parsinabung atau Parsaut yang memikul hak dan tanggung jawab adat satu marga. Apakah layak dan masuk akal seseorang yang belum mangadati menuntut adat kepada pihak lain ? Bukankah prinsip dasar adat Batak, khususnya Batak-Toba adalah menerima dan memberi (baca: manjalo dohot mangalehon) ketentuan adat-budaya yang menjadi pranata aturan komunitas ?
Sehingga seseorang yang tidak pernah memberi (baca: manggarar adat) bagimana dia berhak menerima (baca: manjalo) adat dari pihak lain. Apalagi bertindak sebagai raja adat (baca: Parsinabung atau Parsaut) ? Ini adalah salah satu elemen paling dasar menentukan layak tidaknya seseorang Parsinabung atau Parsaut pada Batak-Toba.2.Seseorang harus na Gabe (baca: Maranak, Marboru) bukan hanya didasarkan pada kecakapan, kepintaran berbicara saja, tetapi memiliki kualifikasi na Gabe. Karena seorang raja Parsinabung atau Parsaut di dalam memberikan wejangan, umpasa atau poda natur kepada pihak lain bertindak atas nama oppu ataupun marga. Kedudukan seseorang telah ditentukan Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak seorang pun bisa menolaknya seperti dikatakan umpama, ”Tu ginjang ninna porda, tu toru pambarbaran. Tu ginjang ninna roha, patoruhon do sibaran”. “ Ndada simanuk-manuk si bontar andora, Ndada si todo turpuk siahut lomo ni roha”. “Andilo na hinan hadang-hadangan saonari, turpuk ni badan na hinan ingkon jaloon ma saonari”. Artinya, apa yang telah digariskan sang Pencipta terhadap seseorang tidak ada yang mampu menolaknya. Na Gabe, Na Marurat (baca: holan baoa), Na Marbulung (baca: holan boru/punu), dan ada pula tidak berketurunan (baca: purpur).
Jenis kategorial ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap diri seseorang sehingga harus diterima sebagai garis kehidupan atau takdir (baca: turpuk, gurat-gurat ni tangan) manusia.3.Kestabilan emosi, sejuk, dan karakter luhur (baca: lambok, sorta, lambas, hormat, raja) agar mampu menjadi panutan atau tiruan kepada pihak lain. Parsinabung atau Parsaut tidak bisa orang emosional, merasa paling pintar dan menggurui pihak lain karena ulaon adat adalah, “aek toba tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut”, bukan hata dokhu. Artinya, ulaon adat adalah kata sepakat bersama, bukan adu urat leher (baca: jogal rungkung, jogal baut) memaksakan kehendak kepada pihak lain. Pesta atau ulaon adat bukan seminar atau diskusi publik sehingga harus dihindarkan perdebatan yang memicu pergesekan atau perselisihan. Mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan harus selalu diusahakan dengan sopan-santun, lembut, tenang, jelas dan tegas karena pembicaraan yang diutarakan dengan lembut dan tenang akan mendapat respons positif dari lawan bicara. Sebaliknya, setiap perkataan yang terlontar dilatari emosi serta ego pribadi akan mendapat umpan balik keras, bahkan kasar sebagai dampak timbal-balik atau reaksi dari perkataan tidak sejuk tersebut.
Parsinabung, atau Parsaut tidak boleh menonjolkan ego pribadi, tetapi justru harus menyadari bahwa dirinya adalah personifikasi komunitas yang diwakilinya. Sehingga segala tindak tanduknya pada saat mengemban tugas Parsinabung atau Parsaut akan berdampak secara langsung terhadap komunitas (baca: oppu, marga) bersangkutan.4.Memiliki kehati-hatian (baca: manat), hormat (baca: somba), serta sayang, pengayom (baca: elek) sebagaimana falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) dan mampu menjaga harmoni hubungan antar sesama, termasuk kepada Dongan Sahuta. Sikap dan sifat sebagaimana disebutkan merupakan syarat dasar yang perlu dimiliki seorang Parsinabung atau Parsaut karena sangat mustahil mampu menjadi seorang Parsinabung atau Parsaut yang mantap tanpa mengerti, memahami, serta mengamalkan arti dan makna Dalihan Na Tolu (DNT) paopat Sihal-sihal (Baca: Dongan Sahuta). Umpama Batak-Toba mengatakan, ”Tarida do imbo sian soarana, tarida do hau sian parbuena, tarida do gaja sian bogas ni patna”. Artinya, eksistensi seseorang dibuktikan pola tingkah lakunya. Parsinabung atau Parsaut tidak bisa serampangan tetapi harus hati-hati (baca: anit, enet, ampit, tutur, nonor, jamot, tiar, tiur, tota) seperti umpama mengatakan, ”Jamot si ida hutu, jamotan si ida gomit. Jamot unang tarrobung, anit sotung tarsulandit”. Karena bisa saja akibat kekurang hati-hatian Parsinabung atau Parsaut menimbulkan ekses negatif kepada hasuhuton, keluarga ataupun kerabat.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh berikhtiar memuaskan hasrat dan kehendak pribadi (baca: pasombu-sombu tagas), melainkan berupaya keras memperbaiki yang kurang baik dengan prinsip, ”Pauk-pauk hudali, pauk-pauk tarugi, na tading diulahi, na hurang di pauli. Asa nakkok si puti, turun si deak, tusi na ummuli, tusi ma ta pareak”. Artinya, bila ada yang kurang pas pada suatu pesta atau ulaon adat, Parsinabung atau Parsaut harus mampu untuk memberi solusi yang terbaik, bukan sebaliknya justru menambah kekeruhan (baca: manggunturi, manggaori, manggugai) pada ulaon adat tersebut. Ulaon adat harus mampu melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan seperti ungkapan menyatakan “Sinuan bulu sibahen n alas, Sinuan partuturan sibahen na horas”. Artinya, ulaon adat adalah salah satu wadah untuk membangun dan mempererat harmoni hubungan keluarga dan kekerabatan, bukan sebaliknya.5.Menguasai bahasa Batak-Toba dengan baik dan benar (baca: marhata Batak na polin) karena seorang Parsinabung atau Parsaut adalah personifikasi lembaga adat-budaya Batak-Toba sehingga dituntut kemampuan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang merupakan salah satu unsur adat-budaya. Bila seorang Parsinabung atau Parsaut mampu berbicara dengan bahasa Batak-Toba tulen, termasuk pada saat penyampaian umpasa ataupun umpama maka jiwa, nurani kebatakan akan terasa tersentuh, bergelora, maka umpasa atau umpama akan bernas, penuh arti dan makna nilai-nilai luhur budaya original.
Sebaliknya, bila Parsinabung atau Parsaut berbahasa Batak-Toba sepotong-sepotong atau janggal akan mengundang kelucuan, serta perasaan geli (baca: geok) bagi pendengarnya. Menyampaikan umpasa atau umpama bukan sekadar untaian kata-kata seperti pantun, tetapi makna kata yang saling berkaitan menjadi sebuah petuah, wejangan, nasehat (baca: poda natur) serta permintaan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa terhadap yang punya hajatan (baca: hasuhuton).6.Tidak tamak dan rakus (baca: ndang mongkus, ndang ahut, ndang ormus) pada parjambaran, baik jambar hata, jambar uang maupun jambar daging (baca: jagal). Parsinabung atau Parsaut harus selalu mengutamakan kepentingan umum, bukan sebaliknya, menggunakan segala kesempatan untuk kepentingan pribadi. Bila seorang Parsinabung atau Parsaut selalu berkaedah untuk keuntungan pribadi akan menuai ocehan ataupun cibiran yang pada akhirnya menjatuhkan marwah atau martabat bersangkutan. Pendaulatan seseorang sebagai Parsinabung atau Parsaut harus disadari adalah sebuah pelimpahan kepercayaan dari suatu komunitas terhadap seseorang karena memiliki karakter unggul sesuai dengan aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya Batak-Toba. Ada adagium mengatakan,” ingkon pos do roha manjaga na pinadar”. Artinya, seseorang harus dipercayai menjaga titipan, jangan seperti pagar makan tanaman. Milik bersama tidak boleh dijadikan milik sendiri yang di dalam bahasa Batak-Toba disebut, ”ndang boi ripe-ripe gabe pangumpolan”.
Dumenggan do marbagi di bulung ni sarapit-pit unang apala mardua di bulung ni dulang manang sorat mamboan taban-taban. Artinya, lebih bagus sama rata sama rasa daripada mendapat banyak sementara yang lain tidak mendapat sama sekali (baca: adong na borat mamboan jambar, na deba luangan manang ndang dapotan) karena hal itu merupakan cerminan ketidakadilan serta diskriminasi.
7.Tidak reaktif dan paranoid (baca: ndang olo mananggoi hata, manang pantang so ummalo) yaitu mengomentari, menyela, mengkritik lawan bicara (baca: sesama Parsinabung atau Parsaut) karena merasa paling pintar dan paling tahu apa yang sedang diperbincangkan.
Seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu menjadi pendengar yang baik sekaligus pembicara yang baik pula. Mampu menahan diri walaupun ada hal-hal yang kurang tepat atau pas (baca: na hurang ampit, dasip, andos) di dalam pembicaraan lawan Parsinabung atau Parsaut. Tidak boleh mendikte lawan bicara, menggurui, apalagi mengintervensi karena hal itu akan menimbulkan ketersinggungan dan ketidaksenangan pihak lain.
8.Memiliki kemampuan diplomasi yang baik untuk mencari solusi permasalahan disebabkan kemungkinan perbedaan adat-istiadat antar komunitas dengan ilmu pengetahuan, kemampuan berdiplomasi, pemahaman dan kemahiran nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi kearifan lokal di dalam kesetaraan dan kesejajaran. Parsinabung atau Parsaut harus mampu membangun diplomasi, lobi, serta kesepakatan melalui musyawarah diatas fondasi saling menghormati, sehingga tidak ada salah satu pihak dibawah tekanan, intervensi maupun dominasi.
Dialog antar Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah komunikasi dua arah yang sejajar dan setara saling menguntungkan melahirkan kebahagiaan bersama, seperti umpama mengatakan, ”Sinuan bulu sibahen na las, sinuan partuturan sibahen na horas”. Segala upaya untuk menggapai hal itu menjadi ikhtiar dasar Parsinabung atau Parsaut pada suatu acara pesta atau ulaon adat.
9.Memahami psikologi massa,
10.Demokratis (baca: hata ninta), yakni memberi ruang partisipasi keterlibatan para pihak karena keterlibatan seluruh pihak di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba merupakan sukses pelaksanaan pesta atau ulaon adat yang mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang punya hajatan (baca: hasuhuton).
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lupa bahwa parjambaran pada Batak-Toba ada tiga jenis, yakni; jambar hata, jambar juhut, dohot jambar hepeng (baca: berbicara, daging, dan uang), sehingga apabila pihak-pihak yang seharusnya berhak mendapatkan parjambaran terabaikan akan timbul ekses negatif dikemudian hari. Dalam bahasa Batak-Toba disebut “ di tean mangolu, di tanom jongjong, di apus bulung rata”. Artinya, dihitung tetapi tidak diperhitungkan atau tidak berarti apa-apa. Hal ini sangat menyakitkan karena kedatangannya pada sebuah pesta atau ulaon adat seperti “raja naro” yaitu tamu tak diundang. Selain daripada itu, seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut harus selalu berusaha menghindarkan kata-kata menurut saya, aku (baca: ningku), tetapi menurut kami, kita (baca: hami, hita) karena apa yang diutarakan seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut adalah mengatasnamakan komunitas.
Dari berbagai kualifikasi seperti diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi seorang Parsinabung atau Parsaut di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba sangat lah strategis karena itu harus merupakan pilihan putera-putera terbaik dari suatu komunitas yang bertindak atas nama komunitas tersebut.
Karena merupakan personifikasi komunitas maka seorang Parsinabung atau Parsaut perlu dipersiapkan melalui kaderisasi terencana, terprogram, dan berkesinambungan agar tidak terputus mata rantai regenerasi alamiah. Artinya, Parsinabung atau Parsaut yang mumpuni tidak pernah kering pada suatu komunitas tertentu.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lagi hanya mengandalkan pengetahuan yang sering dilihat atau terjadi (baca: na niida, na somal diulahon halak) seperti ungkapan yang mengatakan, ”Eme na masak digagat ursa, ima na masa ima taula”, tetapi benar-benar melalui penggalian nilai-nilai luhur adat-budaya agar seluruh pelaksanaan pesta atau ulaon adat-budya tidak hanya bermakna seremonial buang-buang waktu dan biaya saja.
Peranan Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut untuk mengatur, mengarahkan, memandu, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi ulaon adat-budya sangatlah diperlukan dengan tetap mempertahankan, melestarikan nilai-nilai luhur original adat-budaya walaupun singkat padat, tetapi tepat sasaran, sarat arti dan makna. Dengan demikian pelaksanaan adat-budaya bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien tetapi tetap lestari nilai original.
Parsinabung atau Parsaut adalah sistem demokrasi musyawarah bertingkat berjenjang yang belakangan ini dikenal paradigma dari bawah ke atas (Bottom Up) merupakan salah satu nilai adat-budaya Batak-Toba yang perlu digali maksimal menjadi sebuah model manajemen publik ataupun pemerintahan demokratis seperti demokrasi Pancasila yang dianut republik ini.
Nilai-nilai luhur adat-budaya seperti ini tumbuh subur ditengah-tengah komunitas masyarakat bumi Nusantara, dan ada baiknya jika diinventarisasi maksimal untuk memperkuat hasanah budaya nasional, dan tidak mustahil akan menjadi kajian akademik bermakna luar biasa dalam sistem pemerintahan berdasar kearifan lokal. Horas !
Penulis: Drs. Thomson Hutasoit
Sumber: Blog Redaksi Deteksi TINJAKSTAR Mei 19, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Posted by FACE BATAK on Kamis, 19 Mei 2016
BATAK NETWORK - Horas ma di hita saluhutna. Kali ini kita berbagi tentang Artis batak yang tentunya bergenre Wanita alias Boru Ni Raja i. Tulisan ini bukanlah hasil pemikiran kami. Disini kami hanya berbagi artikel yang kami sadur dari situs jejaring sosial terbesar Youtube. Yuk langsung kita simak saja di bawah ini.
Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak
Suku Batak memang sangat identik dengan berbagai hal. Dari logat bahasa, marga hingga kecantikan wajah dari keturunan mereka masih membuat banyak mata terpukau. Yah, seperti yang banyak kita ketahui, banyak orang Batak yang menghiasi dunia hiburan Indonesia baik sebagai penyanyi, presenter maupun pemain film.
Nah, penasarankan siapa saja artis Indonesia yang memiliki darah keturunan suku Batak ini? Berikut ini Selebupdate sudah rangkumkan deretan artis Indonesia yang merupakan keturunan Batak, tapi yang cantik-cantik. Siapa saja ya mereka? Yuk Intip berita selengkapnya.
1. Feby Febiola
Artis cantik yang sedang ramai dibicarakan oleh publik ini juga merupakan wanita keturunan Batak. Meskipun lahir di Jakarta pada tanggal 24 Mei 37 tahun silam, istri dari Franky Sihombing ini tak pernah sedikitpun lupa dengan garis keturunan yang melekat dalam darahnya.
Tak hanya ingat dengan tanah kelahiran orang tuanya, Nyatanya Feby sangat bangga karena ia terlahir sebagai wanita keturunan Batak. Seperti dalam komentarnya berikut ini. “emang kenapa kalau batak? im proud dibilang batak..”. Yah, jelas terlihat bagaimana bangganya Feby sebagai orang Batak.
2. Meisya Siregar
Siapa yang tak kenal dengan Meisya Siregar. Wanita cantik ini ternyata memiliki banyak penggemar baik wanita maupun pria yang ada di Indonesia ini. Bukan hanya dari kalangan masyarakat saja, ternyanta Meisya juga memiliki penggemar berat dari kalangan selebriti. Ialah Bebi Romeo yang kini menjadi suaminya.
Presenter sekaligus model yang lahir di Bandung ini ternyata juga merupakan wanita yang memiliki darah Suku Batak. Meisya Najelina Siregar merupakan anak bungsu dari Emir Syawal Siregar dan Masitah Lubis. Yap, dimana kedua orangtuanya adalah orang Batak asli.
3. Annisa Pohan
Mantu Mantan Presiden RI ini memang kerap mendapatkan pujian dari banyak kalangan. Tak hanya cantik di luar saja, Annisa Pohan juga dikenal sebagai salah satu sosok wanita yang memiliki kecantikan dalam dirinya. Yah, selain cantik, finalis dari Gadis Sampul tahun 1997 ini juga dikenal sebagai wanita cerdas dan berpendidikan.
Kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki Annisa tak hanya membuat bangga keluarga besar SBY maupun kedua orang tuanya. Yah, sebagian besar orang Batak sangat bangga karena ada sosok wanita keturunan mereka yang memiliki integritas tinggi terhadap kemajuan bangsa Indonesia.
4. Astrid Tiar
Artis yang memulai kariernya di bidang hiburan sebagai Gadis Sampul pada tahun 2000 ini memang sangat cantik dan membuat para pria tergila-gila kepadanya. Tak hanya paras ayunya ketika menggunakan make-up, wanita yang lahir pada tanggal 12 Juli 1986 juga terlihat cantik dan awet muda.
Seperti beberapa artis sebelumnya, pemilik nama Astrid Tiar Yosephine Panjaitan ini juga wanita keturunan Batak. Saking cintanya dengan suku Batak, pada tahun 2012 lalu, Astrid resmi menikah dengan seorang dokter yang bernama Gerhard Reinaldi Situmorang. Yah, lelaki tersebut juga merupakan sosok keturunan Batak juga.
5. Atiqah Hasiholan
Wanita yang menikah dengan Rio Dewanto pada tahun 2013 lalu memang diidolakan oleh banyak pria di Indonesia. Tak hanya cantik, Atiqah Hasiholan juga memiliki bakat luar biasa yang membuat namanya semakin melejit. Salah satunya adalah ketika ia bermain film dan juga berjalan di atas catwalk.
Bakatnya dalam dunia akting ini bukan hanya dari pengalaman saja. Namun ia mendapatkan tersebut dari ibunya yang merupakan aktivis organisasi sosial dan juga seniman populer di kalangan orang Batak. Ialah Ratna Sarumpaet seniman Indonesia yang banyak menggeluti dunia panggung teater.
Video Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak
Demikianlah turi-turian mengenai topik diatas, Mungkin Anda bertanya kenapa 5 orang saja, kan masih banyak Boru Batak yang berkarir sebagai artis ibukota. Seperti yang kami ungkapkan diatas, ini kami hanya menampilkan apa yang ada, atau barangkali hanya kelima artis keturunan / boru batak itu yang terkenal dimata para pecinta dunia artis. Songoni ma jolo hata sian hami. Molo adong nasalah manang nahurang, ba manjolo maaf mahami. Horas..
Sumber: https://youtu.be/h9PO1NirrOQ TINJAKSTAR Mei 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak
Suku Batak memang sangat identik dengan berbagai hal. Dari logat bahasa, marga hingga kecantikan wajah dari keturunan mereka masih membuat banyak mata terpukau. Yah, seperti yang banyak kita ketahui, banyak orang Batak yang menghiasi dunia hiburan Indonesia baik sebagai penyanyi, presenter maupun pemain film.
Nah, penasarankan siapa saja artis Indonesia yang memiliki darah keturunan suku Batak ini? Berikut ini Selebupdate sudah rangkumkan deretan artis Indonesia yang merupakan keturunan Batak, tapi yang cantik-cantik. Siapa saja ya mereka? Yuk Intip berita selengkapnya.
1. Feby Febiola
Artis cantik yang sedang ramai dibicarakan oleh publik ini juga merupakan wanita keturunan Batak. Meskipun lahir di Jakarta pada tanggal 24 Mei 37 tahun silam, istri dari Franky Sihombing ini tak pernah sedikitpun lupa dengan garis keturunan yang melekat dalam darahnya.
Tak hanya ingat dengan tanah kelahiran orang tuanya, Nyatanya Feby sangat bangga karena ia terlahir sebagai wanita keturunan Batak. Seperti dalam komentarnya berikut ini. “emang kenapa kalau batak? im proud dibilang batak..”. Yah, jelas terlihat bagaimana bangganya Feby sebagai orang Batak.
2. Meisya Siregar
Siapa yang tak kenal dengan Meisya Siregar. Wanita cantik ini ternyata memiliki banyak penggemar baik wanita maupun pria yang ada di Indonesia ini. Bukan hanya dari kalangan masyarakat saja, ternyanta Meisya juga memiliki penggemar berat dari kalangan selebriti. Ialah Bebi Romeo yang kini menjadi suaminya.
Presenter sekaligus model yang lahir di Bandung ini ternyata juga merupakan wanita yang memiliki darah Suku Batak. Meisya Najelina Siregar merupakan anak bungsu dari Emir Syawal Siregar dan Masitah Lubis. Yap, dimana kedua orangtuanya adalah orang Batak asli.
3. Annisa Pohan
Mantu Mantan Presiden RI ini memang kerap mendapatkan pujian dari banyak kalangan. Tak hanya cantik di luar saja, Annisa Pohan juga dikenal sebagai salah satu sosok wanita yang memiliki kecantikan dalam dirinya. Yah, selain cantik, finalis dari Gadis Sampul tahun 1997 ini juga dikenal sebagai wanita cerdas dan berpendidikan.
Kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki Annisa tak hanya membuat bangga keluarga besar SBY maupun kedua orang tuanya. Yah, sebagian besar orang Batak sangat bangga karena ada sosok wanita keturunan mereka yang memiliki integritas tinggi terhadap kemajuan bangsa Indonesia.
4. Astrid Tiar
Artis yang memulai kariernya di bidang hiburan sebagai Gadis Sampul pada tahun 2000 ini memang sangat cantik dan membuat para pria tergila-gila kepadanya. Tak hanya paras ayunya ketika menggunakan make-up, wanita yang lahir pada tanggal 12 Juli 1986 juga terlihat cantik dan awet muda.
Seperti beberapa artis sebelumnya, pemilik nama Astrid Tiar Yosephine Panjaitan ini juga wanita keturunan Batak. Saking cintanya dengan suku Batak, pada tahun 2012 lalu, Astrid resmi menikah dengan seorang dokter yang bernama Gerhard Reinaldi Situmorang. Yah, lelaki tersebut juga merupakan sosok keturunan Batak juga.
5. Atiqah Hasiholan
Wanita yang menikah dengan Rio Dewanto pada tahun 2013 lalu memang diidolakan oleh banyak pria di Indonesia. Tak hanya cantik, Atiqah Hasiholan juga memiliki bakat luar biasa yang membuat namanya semakin melejit. Salah satunya adalah ketika ia bermain film dan juga berjalan di atas catwalk.
Bakatnya dalam dunia akting ini bukan hanya dari pengalaman saja. Namun ia mendapatkan tersebut dari ibunya yang merupakan aktivis organisasi sosial dan juga seniman populer di kalangan orang Batak. Ialah Ratna Sarumpaet seniman Indonesia yang banyak menggeluti dunia panggung teater.
Video Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak
Demikianlah turi-turian mengenai topik diatas, Mungkin Anda bertanya kenapa 5 orang saja, kan masih banyak Boru Batak yang berkarir sebagai artis ibukota. Seperti yang kami ungkapkan diatas, ini kami hanya menampilkan apa yang ada, atau barangkali hanya kelima artis keturunan / boru batak itu yang terkenal dimata para pecinta dunia artis. Songoni ma jolo hata sian hami. Molo adong nasalah manang nahurang, ba manjolo maaf mahami. Horas..
Sumber: https://youtu.be/h9PO1NirrOQ TINJAKSTAR Mei 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak
Posted by FACE BATAK on Rabu, 04 Mei 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Tak bisa dipungkiri, bahwa salah satu obat siteres (baca stress) adalah dengan cara menghibur diri. Tentunya untuk menghibur dirisendiri ini pun banyak caranya juga. Ada yang bepergian kesuatu tempat wisata, ada menonton film di bioskop, bercanda ria dengan kawan-kawan, dan satu lagi membaca tulisan yang ada hubungannya hiburan. Kali ini, kami akan mengajak Anda sekalian untuk membaca tulisan yang bisa membuat Anda TERTAWA terpingkal-pingkal.
Perlu Anda Tahu bahwa TERTAWA itu sehat. Oleh karena itu, mari kita TERTAWA sebelum Anda di-TERTAWA-i (hehehehe)
HUMOR BATAK POPULER: Mari Luangkan Waktu Untuk Tertawa Hilangkan Suntuk
Di bawah ini, Anda dan saya akan membaca beberapa tulisan berupa anekdot atau Humor Khas Ala Batak yang berhasil kami sadur dari Halaman Facebook Batak Network dengan menggunakan Hastag #AsaMekkelHita. Lebih lanjut, mari kita simak berikut agar kita sama-sama TERTAWA.
REQUEST LAGU
Radio di medan...
Penelpon : Hallo, Radio Silindung Na Uli ?
Penyiar : Iya benar. Selamat pagi.. Ini dengan siapa?
Penelpon : Saya Poltak
Penyiar : Pak Poltak, mau kirim2 salam atau mau curhat nih?
Penelpon : Saya curhat dulu lah.... Begini Ito Na Uli, tadi saya menemukan sebuah tas di jalan di Perbaungan, berisi uang 20 juta, batu akik, kartu ATM, kartu kredit, kartu diskon, KTP dan SIM atas nama Bapak Panjaitan.
Penyiar : Waaah luar biasa, jaman sekarang ternyata masih ada orang jujur seperti bapak . Jadi Bapak mau kembalikan uang dan akik tersebut melalui radio ini?
Penelpon : Oh bukan Ito, saya mau request lagu, tolong putarkan lagu yang judulnya "RELAKANLAH" dari Eddy Silitonga.. lagu ini spesial buat Pak Panjaitan...
Penyiar : Bah ....mate hita... !@#$$^$@!
Hahahahaaahah
"Togar TIDAK mau masuk surga..!"
DALAM pelajaran agama, Bu Guru bertanya kepada para murid di sebuah sekolah dasar.
"Anak- anak...! Siapa yang mau masuk surga..?" tanya Bu Guru.
Mendengar pertanyaan itu, serempak para murid menjwb : "Sayaaaa...!"
Namun ternyata seorang murid bernama Togar yang duduk di belakang diam saja. Melihat itu Ibu Guru mengulang kembali pertanyaannya, "Siapa yang mau masuk neraka...?"
"Tidak mauuuuuuu ....!" seru para murid. Dan Togar tetap diam saja.
Ibu guru pun mendekat dan bertanya : "Togar, kamu mau masuk surga atau neraka...?"
"Tidak kedua- duanya Bu Guru...!" : jawab Togar dengan takzim.
"Lho....! Kenapa..?" : selidik Bu Guru.
"Masalahnya begini Bu, waktu ayah saya mau meninggal beliau berpesan, Togar apapun yang terjadi kamu harus masuk Angkatan Laut...!" : ujar Togar dengan mantap.
Ibu Guru: @#$@#$$
Lae Togar di Hotel
Lantaran Togar dari kampung, baru jual Haminjon (Kemenyan) 4 ton di Sipahutar, dia bergaya mau nginap di Hotel berbintang.
Togar : "Ku pesan kamar yg ada tempat tidur besar, televisi besar, kamar mandi besar, kulkas besar Sama ruangan kamar yg besar dan pake AC "
Resepsionis: "Baik pak, segera RoomBoy kami akan mengantar
bapak ke kamar yg bapak minta, terima kasih."
RoomBoy: "Mari masuk pak."
Baru beberapa menit Si Togar Masuk, dia langsung Marah
Togar : "Woi, Aku memang dari kampung Sipahutar, Tapi jangan sepele kali kau dongan...baru jual Haminjon aku 4 ton ya, Kenapa kau kasih aku kamar kecil, enggak ada Tolilet, Tipi, Tempat tidur dan Jendela... Apa maksudmu,mau kulotak kan kepala otak ko tuh? geger otak ko nantik ya? jgn sampai jg ku sobek2 nanti mulutmu, tak kau kenal aku dari Sipahutar dekat Garoga !!!
RoomBoy: "Maaf pak, kita masih di LIFT."
Hahahaha
Kuliah Minta Motor
Ada anak dr Sipiongot kuliah di ITB, suatu saat dia ngirim sms ke bapaknya dikampung Medan:
"Pak,semua kawan-kawanku ke kampus naik Kijang, Kuda, Phanter, Jaguar dan Tiger, kirimlah dulu uang biar ku beli macam gitu,kepinginnya aku Pak.."
Balas bapaknya : "Kek mana lah kubikin nak, gak ada uang bapak untuk beli macam gitu, kalau gak gini ajalah, Kebetulan bapak kan baru beli babi dikampung, naik babi ajalah kau ke ke kampus ya nak..."
Butet, Ucok, Tulang, Inang
Abang : Tahu kau dek, aku itu BUTET sama kau bah
Adek: Apa pula itu abang...
Abang: Itu..... Butet, Botul botUl kesanTET sama kau .hahahaha
Adek: kalo begitu aku UCOK sama kaulah abang....
Abang: Apa pula itu,,,,
Adek: UCOK, Udah cocok bang....hahaha
Abang: Kalo abang udah BUTET sama adek, dan Adek dah UCOK sama abang, kita TULANG saja kalo gitu...
Adek: Bah... apalagi itu bang
Abang: sudah TULANG aja kita Tunangan langsung... hahahaha
Adek: kalo begitu aku INANG bang
Abang: Inang? Apa pula itu....
Adek: INANG - Ingin di pinang ama abang.... heheheh
KISAH SI UCOK YG PANDAI
Alkisah Ini ada Ucok di suruh bapak nya ke warung Bapak memanggil Ucok anaknya, umur 7 tahun kelas 2 SD.
"Cok.. ini uang... kau pergi ke warung belikan coca cola... buat bapak satu, buat ibu satu, buat kakak satu, dan buat kau satu. Jadi berapa belinya?"
Dgn polos Ucok menjawab: "tiga... pak".
"Coba kau hitung lagi... bapak satu, ibu satu, kakak satu, kau satu. Berapa jadinya?".
Ucok: "tiga, pak".
Bapak mulai marah...
"Payah kali kau ini. Di sekolah apa kau gak diajari ngitung....
Coba hitung lagi...!!
Bapak satu, ibu satu, kakak satu, trus kau satu!!! Jadi berapa coca cola nya...???"
Ucok sambil nangis: "tigaaa, pak...... karena aku mau FANTAAAAAAAA Pak,,,,,
Demikianlah Humor Khas Ala Batak yang bisa kami bagikan, harapan kami semoga Anda sekalian Terhibur. Ingat satuhal bahwa Tertawa Itu Menyehatkan. Salam. Tuhan Memberkati. Horas. ***
Sumber Humor Batak: Halaman Facebook Batak Network TINJAKSTAR April 26, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Perlu Anda Tahu bahwa TERTAWA itu sehat. Oleh karena itu, mari kita TERTAWA sebelum Anda di-TERTAWA-i (hehehehe)
HUMOR BATAK POPULER: Mari Luangkan Waktu Untuk Tertawa Hilangkan Suntuk
Di bawah ini, Anda dan saya akan membaca beberapa tulisan berupa anekdot atau Humor Khas Ala Batak yang berhasil kami sadur dari Halaman Facebook Batak Network dengan menggunakan Hastag #AsaMekkelHita. Lebih lanjut, mari kita simak berikut agar kita sama-sama TERTAWA.
![]() |
| Humor Batak - Foto Ilustrasi |
REQUEST LAGU
Radio di medan...
Penelpon : Hallo, Radio Silindung Na Uli ?
Penyiar : Iya benar. Selamat pagi.. Ini dengan siapa?
Penelpon : Saya Poltak
Penyiar : Pak Poltak, mau kirim2 salam atau mau curhat nih?
Penelpon : Saya curhat dulu lah.... Begini Ito Na Uli, tadi saya menemukan sebuah tas di jalan di Perbaungan, berisi uang 20 juta, batu akik, kartu ATM, kartu kredit, kartu diskon, KTP dan SIM atas nama Bapak Panjaitan.
Penyiar : Waaah luar biasa, jaman sekarang ternyata masih ada orang jujur seperti bapak . Jadi Bapak mau kembalikan uang dan akik tersebut melalui radio ini?
Penelpon : Oh bukan Ito, saya mau request lagu, tolong putarkan lagu yang judulnya "RELAKANLAH" dari Eddy Silitonga.. lagu ini spesial buat Pak Panjaitan...
Penyiar : Bah ....mate hita... !@#$$^$@!
Hahahahaaahah
"Togar TIDAK mau masuk surga..!"
DALAM pelajaran agama, Bu Guru bertanya kepada para murid di sebuah sekolah dasar.
"Anak- anak...! Siapa yang mau masuk surga..?" tanya Bu Guru.
Mendengar pertanyaan itu, serempak para murid menjwb : "Sayaaaa...!"
Namun ternyata seorang murid bernama Togar yang duduk di belakang diam saja. Melihat itu Ibu Guru mengulang kembali pertanyaannya, "Siapa yang mau masuk neraka...?"
"Tidak mauuuuuuu ....!" seru para murid. Dan Togar tetap diam saja.
Ibu guru pun mendekat dan bertanya : "Togar, kamu mau masuk surga atau neraka...?"
"Tidak kedua- duanya Bu Guru...!" : jawab Togar dengan takzim.
"Lho....! Kenapa..?" : selidik Bu Guru.
"Masalahnya begini Bu, waktu ayah saya mau meninggal beliau berpesan, Togar apapun yang terjadi kamu harus masuk Angkatan Laut...!" : ujar Togar dengan mantap.
Ibu Guru: @#$@#$$
![]() |
| Humor Batak - Foto Ilustrasi |
Lae Togar di Hotel
Lantaran Togar dari kampung, baru jual Haminjon (Kemenyan) 4 ton di Sipahutar, dia bergaya mau nginap di Hotel berbintang.
Togar : "Ku pesan kamar yg ada tempat tidur besar, televisi besar, kamar mandi besar, kulkas besar Sama ruangan kamar yg besar dan pake AC "
Resepsionis: "Baik pak, segera RoomBoy kami akan mengantar
bapak ke kamar yg bapak minta, terima kasih."
RoomBoy: "Mari masuk pak."
Baru beberapa menit Si Togar Masuk, dia langsung Marah
Togar : "Woi, Aku memang dari kampung Sipahutar, Tapi jangan sepele kali kau dongan...baru jual Haminjon aku 4 ton ya, Kenapa kau kasih aku kamar kecil, enggak ada Tolilet, Tipi, Tempat tidur dan Jendela... Apa maksudmu,mau kulotak kan kepala otak ko tuh? geger otak ko nantik ya? jgn sampai jg ku sobek2 nanti mulutmu, tak kau kenal aku dari Sipahutar dekat Garoga !!!
RoomBoy: "Maaf pak, kita masih di LIFT."
Hahahaha
![]() |
| Humor Batak - Foto Ilustrasi |
Kuliah Minta Motor
Ada anak dr Sipiongot kuliah di ITB, suatu saat dia ngirim sms ke bapaknya dikampung Medan:
"Pak,semua kawan-kawanku ke kampus naik Kijang, Kuda, Phanter, Jaguar dan Tiger, kirimlah dulu uang biar ku beli macam gitu,kepinginnya aku Pak.."
Balas bapaknya : "Kek mana lah kubikin nak, gak ada uang bapak untuk beli macam gitu, kalau gak gini ajalah, Kebetulan bapak kan baru beli babi dikampung, naik babi ajalah kau ke ke kampus ya nak..."
Butet, Ucok, Tulang, Inang
Abang : Tahu kau dek, aku itu BUTET sama kau bah
Adek: Apa pula itu abang...
Abang: Itu..... Butet, Botul botUl kesanTET sama kau .hahahaha
Adek: kalo begitu aku UCOK sama kaulah abang....
Abang: Apa pula itu,,,,
Adek: UCOK, Udah cocok bang....hahaha
Abang: Kalo abang udah BUTET sama adek, dan Adek dah UCOK sama abang, kita TULANG saja kalo gitu...
Adek: Bah... apalagi itu bang
Abang: sudah TULANG aja kita Tunangan langsung... hahahaha
Adek: kalo begitu aku INANG bang
Abang: Inang? Apa pula itu....
Adek: INANG - Ingin di pinang ama abang.... heheheh
KISAH SI UCOK YG PANDAI
Alkisah Ini ada Ucok di suruh bapak nya ke warung Bapak memanggil Ucok anaknya, umur 7 tahun kelas 2 SD.
"Cok.. ini uang... kau pergi ke warung belikan coca cola... buat bapak satu, buat ibu satu, buat kakak satu, dan buat kau satu. Jadi berapa belinya?"
Dgn polos Ucok menjawab: "tiga... pak".
"Coba kau hitung lagi... bapak satu, ibu satu, kakak satu, kau satu. Berapa jadinya?".
Ucok: "tiga, pak".
Bapak mulai marah...
"Payah kali kau ini. Di sekolah apa kau gak diajari ngitung....
Coba hitung lagi...!!
Bapak satu, ibu satu, kakak satu, trus kau satu!!! Jadi berapa coca cola nya...???"
Ucok sambil nangis: "tigaaa, pak...... karena aku mau FANTAAAAAAAA Pak,,,,,
![]() |
| Humor Batak - Foto Ilustrasi |
Demikianlah Humor Khas Ala Batak yang bisa kami bagikan, harapan kami semoga Anda sekalian Terhibur. Ingat satuhal bahwa Tertawa Itu Menyehatkan. Salam. Tuhan Memberkati. Horas. ***
Sumber Humor Batak: Halaman Facebook Batak Network TINJAKSTAR April 26, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
HUMOR BATAK POPULER: Mari Luangkan Waktu Untuk Tertawa Hilangkan Suntuk
Posted by FACE BATAK on Selasa, 26 April 2016
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia
















![Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak Wow Keren - Ini Dia [Artis Batak] Deretan Artis Indonesia Yang Keturunan Batak](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzeBspntxxPxhldnpKyaufxC8XN5vmB7A_-PLXthf2kicHOF7IqhC-9IeMn1lcRGrCspjW6rUZ3uTESfVLpLiIFj9nEYYy_xr-MLJVOXVWvVqiM9cNpAxvyLWpaIefqrmuMReJQvQg9go/s1600/Ini+Dia+5+Artis+Cantik+Indonesia+Keturunan+Batak.jpg)



