HORAS — Sudah menjadi tradisi bagi kita bangso Batak bila ada upacara Adat Saur Matua Para keturunan yang Meninggal tidak lagi Mangandung/meratap, tapi sudah "mangembas/menari" dengan sukacita.
Saya tidak ingin mempermasalahkan itu, tapi yang belakangan saya lihat, para keturunannya maupun para pelayat yang datang untuk memberi penghormatan tidak lagi manjalo "Tua ni Gondang" kalau memang Gondang Sangunan disediakan, atau Organ Tunggal yang sudah bisa memainkan instrumen Gondang.
Tapi justru meminta lagu "Poco-poco" dari Maluku dan belakangan meminta lagu "Maumere" dari Timor NTT.
Bahhh,... Bea do on.. Apakah tidak ada Lagu Batak yang layak untuk dibawakan sebagai lagu dengan syair Batak dan Irama Nuansa Gondang?
Semoga kita makin mencintai Budaya kita,, Horas...
Choky Pardede TINJAKSTAR Mei 18, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Horas diucapkan pada saat berjumpa maupun saat akan berpisah. Horas juga digunakan sebagai salam pembuka dan penutup dalam setiap acara Batak.
Jika seseorang mengucapkan salam "horas" kepada anda sahutlah dengan mengucapkan "horas" juga. Ini akan membantu menciptakan suasana yang bersahabat dan bersemangat.Arti kata HORAS
Karena artinya yang sangat indah dan penuh makna itulah maka banyak orang Batak menamai anaknya dengan nama "Horas".- H: holong masihaholongan = kasih mengasihi
- O: on do sada dalan nadumenggan = inilah jalan yang terbaik
- R: rap tu dolok rap tu toruan = seia sekata
- A: asa Taruli pasu-pasu = supaya kita diberkati
- S: Saleleng di hangoluan=selama kita hidup
Dikutip dari berbagai sumber TINJAKSTAR Juli 19, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
Karena sebagai orang yang berdarah Batak jika melangsungkan perkawinan/pernikahan harus melalui berbagai macam ritual adat istiadat perkawinan adat Batak. Perkawinan adat Batak Toba memiliki aturan-aturan tertentu yang harus ditaati karena ada perkawinan yang dilarang adat batak toba, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan dibuang atau diusir dari kampung juga dicoret dari tatanan silsilah keluarga.
Dijaman sekarang ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dulu kala itu, kini sebagian orang Batak sudah ada melanggarnya.
Ada 5 Perkawinan Yang Dilarang Adat Batak Toba
5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba- Namarpandan
- Namarito
- Dua Punggu Saparihotan
- Pariban Na So Boi Olion
- Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Namarpandan
Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:- Hutabarat - Silaban Sitio
- Manullang - Panjaitan
- Sinambela - Panjaitan
- Sibuea - Panjaitan
- Sitorus - Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
- Sitorus Pane - Nababan
- Naibaho - Lumbantoruan
- Silalahi - Tampubolon
- Sihotang - Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
- Manalu - Banjarnahor
- Simanungkalit - Banjarnahor
- Simamora Debataraja - Manurung
- Simamora Debataraja - Lumbangaol
- Nainggolan - Siregar
- Tampubolon - Sitompul
- Pangaribuan - Hutapea
- Purba - Lumbanbatu
- Pasaribu - Damanik
- Sinaga Bonor Suhutnihuta - Situmorang Suhutnihuta
- Sinaga Bonor Suhutnihuta - Pandeangan Suhutnihuta
Namarito
Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpanya seprti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak “Tungkot Tunggal Panaluan“? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak “Linduak” kembar laki-laki dan perempuan. Anak “Linduak” adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.Dua Punggu Saparihotan
Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.Pariban Na So Boi Olion
Pariban Na So Boi Olion - Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya?Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan “Jadian” atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.
Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang
Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.inilah 5 Larangan dalam perkawinan adat batak toba yang dirangkum oleh Horas.web.id
Sumber- Perkawinan adat batak toba.
- Gambar nikah semarga. TINJAKSTAR Februari 09, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
Didalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Paratur ni parhundulon atau posisi duduk adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.
Petuah nenek moyang kita:
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:
amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
- LEBANLEBAN TUTUR
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.
Ini lah tata cara adat batak toba. TINJAKSTAR Februari 09, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| OMPU RAJA SILAHISABUNGAN |
Khusus menyoal Raja Silahisabungan, ketiga pendekar ini juga tidak luput menuliskan garis-garis tarombo yang tentunya ini sangat bernilai dan patut diacungi jempol. Secara umum, dari ketiga tulisan pendekar tarombo sangatlah klop alias singkron. Walaupun ada perbedaan hanya mungkin akibat redaktur dan teks yang belum bersesuaian.
Berikut adalah tarombo keturunan RAJA SILAHISABUNGAN dalam buku PUSTAHA BATAK karya WM. Hutagalung Pangururan Januari 192, pada halaman 250 tertulis :
1. SIHALOHO ( LOHORAJA)
2. SITUNGKIR ( TUNGKIRRAJA )
3. SONDI ( SONDIRAJA )
4. SIDABUTAR / SINABUTAR ( BUTARRAJA )
5. SIDABARIBA / SINABARIBA ( DABARIBARAJA )
6. SIDEBANG / SINABANG ( DEBANGRAJA )
7. PINTUBATU ( BATURAJA )
8. TAMBUN ( TAMBUNRAJA)
Sumber: http://sayhaleluya.wordpress.com TINJAKSTAR Februari 02, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon
GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)
*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).
Tatea Bulan artinya "Tertayang Bbulan" = "Tertatang Bulan". Raja Isombaon (Raja Isumbaon)
Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.
2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.
Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.
PENJABARAN
* RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.
* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).
Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.
Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.
Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.
SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.
Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.
SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.
PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.
NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.
SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.
ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.
SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.
* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.
Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. Datu Dalu (Sahangmaima).
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.
Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
2. Tinendang, Tangkar.
3. Matondang.
4. Saruksuk.
5. Tarihoran.
6. Parapat.
7. Rangkuti.
Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.
Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.
SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.
SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Malau
2. Manik
3. Ambarita
4. Gurning
Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining
Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.
Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:
1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
2. Op Raja Marihot
3. Op Marhajang
4. Op Rajani Umbul
Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).
Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.
Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki
1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
Keturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)
2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
Keturunan antara lain J ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com)
3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.
Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita
TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).
Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.
Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.
Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)
Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.
Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung):
SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.
TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.
SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.
MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.
Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.
Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.
Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.
Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.
NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.
Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:
Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.
Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.
NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.
Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
2. Si Paet Tua.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
4. Si Raja Oloan.
5. Si Raja Huta Lima.
Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.
Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.
Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
3. Pangaribuan, Hutapea.
Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sihaloho.
2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
4. Sidabutar.
5. Sidabariba, Solia.
6. Sidebang, Boliala.
7. Pintubatu, Sigiro.
8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.
Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
3. Bangkara.
4. Sinambela, Dairi.
5. Sihite, Sileang.
6. Simanullang.
Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Maha.
2. Sambo.
3. Pardosi, Sembiring Meliala.
Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.
Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sitompul.
2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.
Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.
(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.
***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).
Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:
"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"
artinya:
"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"
Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
1. Marbun dengan Sihotang
2. Panjaitan dengan Manullang
3. Tampubolon dengan Sitompul.
4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
5. Nahampun dengan Situmorang.
Catatan:
Sebagain isi tarombo ini saya kutip dari internet, dan sebagian lagi saya padankan dengan buku tarombo Ambarita. [Domu Ambarita] TINJAKSTAR Juli 21, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sitohang adalah salah satu marga yang turun dari seorang leluhur yang dikenal dengan nama Ompu Tuan Situmorang. Marga-marga lain yang lahir dari Op. Tuan Situmorang adalah Situmorang sendiri, Siringo-ringo dan Sitohang. Op. Tuan Situmorang adalah anak laki-laki pertama dari ketujuh anak Si Raja Lontung.
Op. Tuan Situmorang memiliki dua orang anak yaitu: Panoparaja dan Op. Pangaribuan. Panopa Raja memiliki dua anak yaitu Op. Niambolas dan Parhujobung. Sedangkan Op. Pangaribuan hanya memiliki seorang anak yaitu Raja Babiat. Op. Niambolas memiliki dua anak yaitu Lumban Pande dan Lumban Nahor. Parhujobung memiliki dua anak yaitu Suhutnihuta dan Tuan Ringo (Siringo-ringo). Sedangkan Raja Babiat memiliki tiga orang anak yaitu: Dari Mangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga) dan Op. Bonanionan (Sitohang Toruan).Ompu tuan Situmorang kepada ketujuh cicitnya Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta (ketiganya hingga saat ini tetap menggunakan marga SITUMORANG), Siringo-ringo dan ketiga saudaranya yang lain Dori Mangambat, Raja Itubungna dan Ompu Bonanionan (ketiga yang terakhir ini umumnya saat ini menggunakan marga SITOHANG) berpesan agar keturunan ketujuh cicitnya itu dipanggil dengan pomparan ni “SIPITU AMA”.
Op. Tuan Situmorang selanjutnya berpesan juga kepada ketujuh cicitnya itu agar mereka semua memperlakukan anak yang lain sebagai anak diri sendiri: “Sisada lulu di anak, sisada lulu diboru” . Dan bahwa keturunan mereka bertujuh tidak boleh saling menikah satu sama lain sampai akhir zaman. Ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi mengiyakan dan menerima pesannya sebagai padan (janji).Sumber:http://sitohanguntuktapanuli.wordpress.com/ TINJAKSTAR Juli 19, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Hubungan Sitohang, Siringo-ringo, Situmorang dengan Si Pitu Ama
Posted by FACE BATAK on Kamis, 19 Juli 2012
Saya perkenalkan singkat web Heritage siringoringo
Situs ini dibuat dengan menggunakan MyHeritage.com. ini adalah sebuah sistem yang sangat hebat yang memungkinkan siapa saja dapat berkomunikasi dan dan mengetahui hubungan keluarga.
dengan harapan kita dapat memberikan masukan termasuk melengkapi tarombo keluarga besar Siringoringo dengan cara click di sini untuk mengkontak admin (revoldi siringoringo).
Nah untuk langsung bergabung dengan web HERITAGE SIRINGORINGO langsung saja klik disini

Dengan harapan melalui postingan ini web Heritage Siringoringo semakin ramai dan kita Siringoringo , berkumpul bersama, berbagi bersama... thanks. Horas, njuahjuah, jahowu
Keluarga besar siringoringo , marga siringoringo, tarombo siringoringo, warisan siringoringo, partuturan siringoringo, pomparan siringiringo, Tuan Ringo
Jika artikel ini menurut anda bermanfaat silahkan di sebarkan kepada keluarga siringoringo, dengan harapan seluruh keluarga siringoringo mengerti akan Siringoringo,.. Terima kasih - Via Kevinringo TINJAKSTAR Juni 18, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Selain Batak Dalle dan Batak Pesisir, sering juga terdengar istilah Karo Melayu. Mereka ini adalah keturunan Karo yang juga beradaptasi dan berakulturasi menjadi orang Melayu. Umumnya mereka berdomisili di Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, sebagian Asahan, dan daerah Langkat.
Mereka adalah warga Karo Jahe (Karo bawah) yang wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Melayu Deli, Kesultanan Bedagai, dan Kesultanan Langkat. Oleh kesultanan2 Melayu tersebut mereka tidak dijadikan sebagai warga taklukan, akan tetapi diakui sebagai warga kerajaan tersebut. Selama berabad mereka menjadi orang Melayu dengan membuang merga(marga) Karonya, memeluk agama Islam dan berbahasa Melayu dalam kesehariannya.
Kesultanan Melayu Langkat, Kesultanan Melayu Deli, Kesultanan Bedagai, dan Kerajaan Haru, Kerajaan Wampu di Medan sesungguhnya menurut catatan sejarah juga didirikan oleh orang-orang Batak Karo yang juga mengadopsi budaya Melayu dalam segenap aspek kehidupannya. Oleh sebab itu kesatuan antara Pihak Kesultanan dengan warga Karo Melayu seolah tidak terpisahkan, karena memang mereka umumnya berasal dari Suku Karo dengan sedikit campuran Melayu dari pesisir pantai.
Istilah Karo Melayu
Dalam perkembangan selanjutnya juga banyak berdatangan orang Karo Gunung (karo Atas) dari daerah Tanah Karo ke wilayah Langkat, Medan, Deli Serdang, dan Bedagai. Mereka pun akhirnya juga mengubah identitas diri mereka menjadi orang Melayu. Mereka inilah yang sekarang dikenal dengan istilah Karo Melayu.Seperti para Batak Dalle di Sumatera Timur, para Karo Melayu ini pun akhirnya juga mulai banyak yang kembali menyadari asal usul keluarganya. Pada tahun 1950-sekarang, mulai banyak mereka yg kembali menggunakan Merga (marga) Karonya. Akan tetapi budaya, bahasa daerah Karo, dan adat istiadat Karo mereka yang sudah hilang selama beberapa generasi memang sukar untuk dikembalikan. Sehingga mereka tetap diklasifikasikan sebagai warga Karo Melayu.
Istilah Batak Dalle dan Batak Pesisir jarang disebutkan untuk orang-orang Karo Melayu ini, karena lebih umum disebut Karo Melayu, dan mereka pun cenderung lebih suka mengklasifikasikan dirinya sebagai orang Melayu.
Tentu saja itu adalah hak mereka.
Istilah Karo Melayu = Batak Pesisir = Batak Dalle
Sumber:
http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783 TINJAKSTAR Januari 04, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Batak Pesisir itu sebenarnya orang Batak yang berada di Pinggiran Pantai. Mereka hidup bersama macam macam Kaum. Tetapi lebih dominan hidup bersama Puak Minang, Puak Melayu dan juga sesama Batak. Mata pencarian orang Batak Pesisir adalah Nelayan pada umumnya. Bukan bertani. Dikarenakan tanah nya tidak cocok untuk bercocok tanam. Tanah Pantai mempunyai serapan air asin yang banyak dan juga berpasir. Cuma beberapa tanaman yang hidup seperti Kelapa dan sedikit sayuran. Anda tahukan hidup nelayan itu bagaimana?
Mereka harus mengarungi lautan lepas berbulan bulan untuk mencari ikan guna penghidupan mereka. Dan mereka pun kebanyakan bertransaksi dilautan. Jarang sekali bertransaksi di daratan. Dari kejadian ini bisa saja mereka singgah di daratan/pulau untuk beristirahat sekalian mengisi bahan bahan makanan serta air tawar untuk minuman. Yang mana tempat mereka bersinggah terdapat suku suku lain di daratan/pulau tersebut. Mereka pun singgah dalam waktu lama, tergantung keadaan cuaca juga. Selama masa itu mungkin terjadi asimilasi bahasa. Dan tak jarang mereka pun menetap disana ataupun sebaliknya nelayan lain juga menetap ditempat asal mereka. Jadi tak heran kalau terjadi pencampuran bahasa dan adat budaya.
Contoh kehidupan seperti ini bisa kita lihat juga di daerah Sibolga, Barus, Sorkam, Manduamas (Tapanuli Tengah/Sibolga) dan seputaran Bukit Barisan, seperti: Batu Mundam, Singkuang, Tabuyung, Reniate dll (Mandailing Natal).
Pada umumnya mereka bisa 3 bahasa sekaligus. Yang dominan mereka mengerti Bahasa Minang, Batak dan Melayu.
Orang Batak Pesisir di Daerah ini juga memakai marga mereka dikarenakan mereka juga mempunyai Raja Raja Marga. Daerah Tapanuli Tengah ( Barus-Sorkam-Manduamas-Tukka) /Sibolga dulu nya dipimpin oleh Raja Hutagalung, Raja Tanjung, Raja Pasaribu, Raja Sitompul, Raja Tarihoran. Dan di Mandailing Natal ( Daerah Bukit Barisan ) tepatnya di Tabuyung dipimpin oleh Raja Hutasuhut. Dan orang orang Batak perantauan yang datang ke daerah ini juga memakai marga mereka supaya lebih diterima atau memudahkan diri untuk bersosialisasi. Orang orang dari Puak Minang juga semuanya memakai marga Ibu nya untuk memudahkan mereka bersosialisasi. Kecuali dari Puak Melayu, dikarenakan tidak memakai sistem marga. Tetapi mereka bisa diterima.
Di Sibolga dan Daerah Bukit Barisan terkenal sekali para Pedagangnya yang tidak bisa ditipu sama sekali. Dikarenakan : apabila mereka bertransaksi dengan Puak Minang, mereka bisa berkomunikasi dengan Bahasa Minang. Dan apabila mereka bertransaksi dengan Puak Batak, mereka juga bisa berkomunikasi dengan Bahasa Batak. Jadi pantasnya mereka disebut sebagai Batak Pesisir atau Batak Campuran.
Terserah andalah mau memposisikan mereka seperti apa.
Inilah istilah Batak Pesisir,
yang bersumber dari http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783 TINJAKSTAR Januari 04, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Istilah Batak Dalle banyak digunakan untuk orang-orang Batak atau Keturunan Batak yang sudah tidak paham lagi berbahasa Batak.Sekarang ini mereka sering mendapat sebutan "Dale".
DALE adalah sebutan untuk orang Batak Dari Tanjung bale atau dari ledong,karena pada umumnya mereka menggunakan marga tapi tak mengerti Paradaton.
Batak DALLE
- Keturunan Batak apa saja (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, Karo dan Pakpak) yang sudah tidak bisa berbahasa Batak karena tinggal di daerah rantau yang tidak didominasi oleh suku Batak.
Catatan : Sebutan Dalle tidak pernah ditujukan untuk warga dan keturunan Batak Gayo, Batak Alas, Batak Kluet dan Batak Singkil yang wilayahnya termasuk Prov. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Juga tidak umum disebutkan kepada orang-orang Batak Rao yang wilayahnya masuk Prov. Sumatera Barat. Begitu juga dengan Batak di Rokan yang wilayahnya sekarang masuk dalam beberapa kecamatan dalam Kabupaten Rokan Hulu Prov. Riau. Serta tidak lazim disebutkan untuk keturunan Batak (umumnya Batak Mandailing dan Batak Angkola) yang banyak bermukim di Malaysia sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Tidak pernah digunakan untuk warga Suku Lubu yang bahasa daerahnya banyak memiliki kemiripan dengan dialek Mandailing. Dan yang pasti tidak diperuntukkan utk keturunan Nias, karena etnis Nias memang bukan termasuk Suku Batak. Nias memiliki etnis, Hukum Adat, bahasa daerah, dan Budaya sendiri yang tidak memiliki akar sejarah yang sama dengan Suku Batak secara umum. Suku Nias lebih dekat kekerabatannya dengan Suku Mentawai (masuk Prov. Sumatera Barat) dan Suku Enggano (Masuk Prov. Bengkulu). - Sebutan Dalle juga umum diberikan kepada warga Melayu keturunan Batak yang banyak bermukim di wilayah sepanjang pesisir pantai Timur Sumatera Utara (Tebing Tinggi, Asahan, Kisaran, Tanjung Balai, Batubara, labuhan Batu, dsk). Mereka ini adalah keturunan para perantau Halak Batak yang menetap di daerah tanah Melayu tersebut berabad yang silam, kemudian mengadopsi budaya Melayu dan agama Islam dalam kehidupan kesehariannya. Mereka membuang marga Bataknya dan benar-benar terabsorbsi menjadi Suku Melayu selama beberapa generasi.
Mereka ini adalah keturunan warga beberapa Kesultanan Melayu di Pesisir Timur yang pada awal pendiriannya sebenarnya juga didirikan oleh orang Batak Asli ex para Panglima Paderi bersuku Batak yang diangkat oleh Belanda menjadi Sultan-Sultan di daerah pesisir pantai Timur. (Salah satu bentuk Politik Devide et Impera Belanda untuk memecah kekuatan persatuan Suku-suku Batak di masa lalu).
Selain itu juga di akhir abad ke-19 banyak perantau Batak dari Toba dan sebagian juga dari Simalungun yang didatangkan Belanda untuk menjadi tenaga kerja perkebunan sebelum masuknya kuli kontrak dari Jawa di awal abad ke-20. Mereka kemudian menetap dan mengubah identitas dirinya sebagai orang Melayu dan memeluk agama Islam dalam segenap aspek kehidupannya.
Kesadaran akan identitas diri dan asal muasal keluarga baru mulai booming di sekitar tahun 1950-sekarang ini. Saat itu mulai terbuka informasi dan catatan sejarah yang masih bisa ditelusuri walaupun masih secara umum bahwa sebagian diantara orang Melayu tersebut ternyata adalah murni keturunan Batak. Umumnya keturunan Batak Toba, Simalungun, dan juga Karo.
Sejak itu tumbuhlah kesadaran mereka untuk kembali menggunakan marganya. Hal tersebut terus berlangsung hingga kini secara bertahap sebagai suatu fenomena sensasional yang membanggakan.
Sayang sekali kembalinya mereka menggunakan Marga Batak keluarga besar nenek moyangnya tersebut, kerap tidak didukung oleh pengetahuan akan silsilah Tarombo yang pasti. Hal ini disebabkan sudah terputus selama beberapa generasi dan menjadi orang Melayu.
Disamping itu juga tidak didukung dengan pengetahuan Bahasa Batak karena memang mereka tinggal di wilayah yang murni berbahasa daerah Melayu dan juga bahasa Nasional Indonesia. Begitu pula dengan pengetahuan adat dan budaya Batak yang memang telah hilang dari akar keluarga besar mereka selama beberapa generasi sebelumnya.
Sumber:
http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783 TINJAKSTAR Januari 04, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia










