BATAK NETWORK - Rencana pernikahan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, dengan Bobby Nasution semakin jelas ketika keduanya resmi bertunangan. Cincin pengikat cinta pun sudah melingkar di jari mereka masing-masing.
"I said YES," demikian kata Ayang, sapaan akrab putri semata wayang Jokowi, atas lamaran Bobby lewat akun Instagramnya belum lama ini.
Meski belum diumumkan kapan tepatnya waktu pernikahan Ayang dan Bobby, namun sejumlah spekulasi sudah bermunculan.
Misalnya, boru apa yang akan diberikan kepada putri sang presiden seandainya pernikahan dilakukan dengan adat Batak (Mandailing), selain tentunya adat Jawa. Hal ini pun kerap ditanyakan oleh para warganet di akun Instagram Ayang.
"Penasaran entar dibuat jadi boru apa?" tanya @samosir_echaa.
Di tengah keingintahuan publik, khususnya orang Batak, sejumlah pihak menduga Ayang akan diberi boru Regar alias Siregar. Marga ini diambil dari ibu Bobby, Ade Hanifah Boru Siregar.
Mengangkat boru untuk calon istri dengan disesuaikan marga ibu kandung adalah hal yang lumrah dalam adat Batak. Sebab, boru ibu kandung sama dengan pariban si anak, dan ini dianggap baik bagi adat Batak.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu/@ayanggkahiyang |
"I said YES," demikian kata Ayang, sapaan akrab putri semata wayang Jokowi, atas lamaran Bobby lewat akun Instagramnya belum lama ini.
Meski belum diumumkan kapan tepatnya waktu pernikahan Ayang dan Bobby, namun sejumlah spekulasi sudah bermunculan.
Misalnya, boru apa yang akan diberikan kepada putri sang presiden seandainya pernikahan dilakukan dengan adat Batak (Mandailing), selain tentunya adat Jawa. Hal ini pun kerap ditanyakan oleh para warganet di akun Instagram Ayang.
![]() |
| Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu/@ayanggkahiyang |
"Penasaran entar dibuat jadi boru apa?" tanya @samosir_echaa.
Di tengah keingintahuan publik, khususnya orang Batak, sejumlah pihak menduga Ayang akan diberi boru Regar alias Siregar. Marga ini diambil dari ibu Bobby, Ade Hanifah Boru Siregar.
Mengangkat boru untuk calon istri dengan disesuaikan marga ibu kandung adalah hal yang lumrah dalam adat Batak. Sebab, boru ibu kandung sama dengan pariban si anak, dan ini dianggap baik bagi adat Batak.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Segera Dinikahi Orang Batak, Putri Jokowi Diangkat Boru Siregar?
Posted by FACE BATAK on Jumat, 30 Juni 2017
BATAK NETWORK - Hubungan Presiden Jokowi dengan orang Batak ke depan tampaknya akan semakin dekat. Apalagi, kalau tidak ada kendala berarti, sang presiden sebentar lagi akan berbesan dengan halak hita.
Rencana pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu, semakin jelas setelah lewat akun Instagramnya belum lama ini dia menulis, "I said YES."
Di postingan tersebut, Ayang, sapaan akrabnya, juga mengunggah foto diri sedang tersenyum sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ini bukti Ayang sudah tunangan!
Ya dengan siapa lagi, kalau bukan dengan Bobby Nasution, pacarnya yang selama ini fotonya sering diposting di akun @ayanggkahiyang.
Rencana pernikahan Ayang dengan Bobby yang merupakan Anak Medan ini ditanggapi positif oleh para netizen, khususnya orang Batak.
“Waah, mantap kali,” tulis akun @melaninainggolan.
Adapun akun @doblack berkomentar, "Ingat mbak, orang batak setia looo ❤️❤️❤️"
Penelusuran media ini, Bobby dan Ayang saling kenal karena satu kampus di IPB alias cinlok. Ayah kandung Bobby diketahui sudah berpulang.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Kahiyang Ayu dan Presiden Jokowi/@ayanggkahiyang |
Rencana pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu, semakin jelas setelah lewat akun Instagramnya belum lama ini dia menulis, "I said YES."
Di postingan tersebut, Ayang, sapaan akrabnya, juga mengunggah foto diri sedang tersenyum sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ini bukti Ayang sudah tunangan!
Ya dengan siapa lagi, kalau bukan dengan Bobby Nasution, pacarnya yang selama ini fotonya sering diposting di akun @ayanggkahiyang.
Rencana pernikahan Ayang dengan Bobby yang merupakan Anak Medan ini ditanggapi positif oleh para netizen, khususnya orang Batak.
“Waah, mantap kali,” tulis akun @melaninainggolan.
Adapun akun @doblack berkomentar, "Ingat mbak, orang batak setia looo ❤️❤️❤️"
Penelusuran media ini, Bobby dan Ayang saling kenal karena satu kampus di IPB alias cinlok. Ayah kandung Bobby diketahui sudah berpulang.
Sumber: Batakgaul.com TINJAKSTAR Juni 30, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Kembali kami datang kehadapan Amang dohot Inang yang kami hormati untuk berbagi turi-turian yang baik bagi kawula muda batak.
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu |
Bagi anak muda Batak yang lahir di pangarantoan (perantauan), pasti suka bingung harus manggil apa ketika berjumpa dengan sanak keluarga dalam sebuah pesta atau arisan.
Kalau masih ompung, tulang, namboru, tentunya gampang kali diingat. Nah, bagimana kalau sudah tulang rorobot ataupun ito mangulahi. Langsung deh kita tepar,,,, ha-ha-ha.
Ups... sabar dulu, jangan langsung tepar ya... Di sinilah pentingnya kita belajar adat dan budaya kita sendiri. Satu hal, bahwa Batak itu Unik dan menjunjung tinggi kehormatan dalam bertutur sapa. Dalam partuturan atau panggilan kekerabatan dalam adat Batak Toba setidaknya ada 36 jenis partuturan yang wajib kita tahu.
Partuturan ini pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari Falsafah Hidup Batak Toba, yaitu Dalihan Natolu, yaitu: Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu (Sabutuha) dan Elek Marboru.
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu, menurut pengelompokan Dalihan Na Tolu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Hula-hula"
Tutur sapa dalam hula-hula terdiri dari delapan, yakni:
- Bona Ni Ari (Tulang dari ompu kandung)
- Bona Tulang (Tulang dari ayah)
- Ompu Bao (kedua orangtua dari ibu kandung)
- Tulang (Saudara laki-laki ibu kandung)
- Nantulang (istri tulang)
- Lae (anak laki-laki tulang)
- Bao (besan)
- Paramaan/Tulang Na Poso (panggilan kepada anak laki-laki dari abang namboru oleh namboru/amangboru).
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Dongan Tubu (Sabutuha)"
Partuturan dalam Dongan Sabutuha ada 16 jenis, yakni
- Ompu Parsadaan (Ompu yang bisa dilacak sebagai persamaan antara dua orang semarga) yang merupakan tingkat tertinggi dalam susunan hubungan partuturan
- Ompu Mangulahi (Ompu dari Ompu)
- Ama Mangulahi (bapak dari ompu suhut)
- Ompu Suhut (Ompu kandung/ayahnya ayah)
- Ama Suhut (Ayah kandung)
- Haha (Abang kandung)
- Anggi (Adik kandung)
- Anak
- Pahompu (cucu cewek dan cowok)
- Nini (cicit laki-laki)
- Nono (cicit perempuan)
- Ondok-ondok (cucu dari cucu laki-laki)
- Ompu Boru (orang tua perempuan dari ayah)
- Ina Pangintubu (ibu kandung)
- Haha Boru (istri dari abang kandung)
- Anggi Boru (istri adik laki-laki).
Kalau dijumlahkan Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba dalam "Hula-hula" dan "Dongan Tubu (Sabutuha)", maka akan berjumlah 24. Angka ini merupakan cerminan pada sistem waktu Batak Toba, yaitu dua belas jam Kerajaan Matahari dan dua belas jam Kerajaan Bulan dalam sehari.
Seperti terbitnya bulan, matahari dan bumi yang bergerak menurut sistemnya, demikian juga hubungan tutur sapa tersebut memerankan peranannya masing-masing demi keteraturan masyarakat. Bagaimana, Keren kali kan budaya Batak itu
Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba Dalam "Boru"
Tutur sapa dalam Boru terdiri dari 12, yakni:
- Ito (saudara perempuan satu marga, anak perempuan dari namboru)
- Lae (anak laki-laki tulang, anak laki-laki dari namboru)
- Amangboru (Suami dari saudara perempuan ayah)
- Namboru (Saudara perempuan ayah)
- Hela (suami dari anak perempuan)
- Boru (anak kandung perempuan)
- Ito Mangulahi (Namboru kandung ayah kandung)
- Lae Mangulahi (Suami dari Ito Mangulahi)
- Bere (semua keturunan dari adik/kakak perempuan)
- Pariban (anak perempuan dari tulang)
- Tulang rorobot (tulang ibu beserta keturunannya)
- Nantulang rorobot (istri dari tulang rorobot).
Sebenarnya Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang kami paparkan diatas, belum cukup untuk memahami kompleksitas keluarga Batak. Sebagai orang tua, alangkah baiknya bila nilai-nilai budaya adat istiadat Batak Toba ini selalu diajarkan kepada generasi-generasi muda batak. Sebaliknya, sebagai Anak Muda Batak, jangan malu untuk bertanya langsung kepada orangtua, keluarga, atau kepada siapa saja yang bisa dituakan (panutan). Dengan begitu, kita tidak dianggap tidak tahu adat atau martutur.
Zaman mungkin berubah, tapi kita jangan sampai masa bodoh apalagi malu sama yang namanya budaya dan adat batak. Justru inilah yang harus kita jaga kelestariannya sampai kapanpun. Inilah kebanggan dari Bangso Batak yaitu menjunjung tinggi kehormatan Batak. Oleh karena itu, mari kita Bangga akan Budaya Kita, dan tetap belajar. Tahukah Anda, Saya Bangga Jadi Orang Batak.
Demikianlah turi-turian mengenai "Partuturan (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu". Harapan kami, semoga Turi-turian ini bisa berguna dan bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas. TINJAKSTAR Februari 10, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah 36 ‘Partuturan’ (Tutur Sapa) Batak Toba yang Wajib Kita Tahu
Posted by FACE BATAK on Jumat, 10 Februari 2017
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Bagaimana menurut Bapak/Ibu, Abang/Adik, Sdra/Sdri yang kami hormati mengenai topik kali ini, yaitu ketika Imam Besar FPI Habib Rizieq Pake Ulos di Medan. Tentunya ada yang Pro dan Kontra. Sebelum memberi komentar, kami ingin mengajak Anda sekalian menyimak ulasan di bawah ini.
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Imam Besar FPI Habib Rizieq di Medan - Foto : benardosinambela.id |
Habib Rizieq Manis Pake Ulos
Melihat dari perkembangan kasus AHOK beserta tekanan publik sampai hari ini, sepertinya AHOK akan masuk penjara,
Persaanku juga begitu tentang perkembangan kasusku hari ini, tentu berdasarkan hitung-hitungan konsekuensi hukumnya, sayapun akan masuk penjara. Kalaupun tidak, itu adalah diluar dugaan dan logika ku.
Mudah-mudahan kami nanti tidak bertemu disatu momen saat bersama-sama sebagai terpidana, tapi itu tidak mungkin, dia di Jawa dan aku di Sumatera Utara. Kalaupun mungkin, maka aku adalah orang yang paling beruntung, sebabnya karena akan banyak waktuku bersamanya untuk berdiskusi panjang lebar soal kehidupan dan hal-hal lain.
Dari pengalaman ini, aku lebih baik memposisikan diri sebagai pengagumnya ketimbang saya harus menjadi pengagum orang-orang sesama Batak pribumi tetapi tidak merefresentasikan ajaran-ajaran petuah nenek moyang orang Batak.
Yang paling menyedihkan, malah ada yang bangga mengolok-ngolok Budaya batak dengan alasan katanya karena ajaran kepercayaan Iman "Kristiani"-nya.
Dan lagi dibandingkan mereka, lebih baik juga aku memikirkan soal Habib Rizieq yang masih mau diulosi pertanda penghargaannya terhadap budaya Batak di Medan.
Jangan ada yang beranggapan bahwa Batak itu adalah Kristen dan Kristen itu adalah Batak. Itu adalah pendapat keliru, Batak itu adalah kelompok sosial yang damai dan tuan rumah yang ramah. Asal dengan catatan bisa menghargai adat dan budaya yang berlaku ditempat dimana para tamu menginjakkan kaki.
Batak yang sekarang lebih banyak mewarisi sikap penjajah Belanda, mereka bilang mereka adalah pemenang peradaban Batak yang mayoritas Kristen, bahkan sampai pada puncak kesenangan ketika untuk itupun mereka harus menanggalkan budaya warisan para leluhurnya.
Sementara mereka jadi "Agamais Fanatik", mereka melupakan jasa dan petuah nenek moyang demi yang mereka bilang "keselamatan" dan demi tiket masuk “surga”.
Mereka bilang pulak, untuk menjadi anak-anak Allah harus mengikuti dan menjadi seperti Yesus (dalam konteks kepercayaan Kristen). Makin berbahaya apabila mereka berfikir untuk meng-Israel-kan dan atau meng-Arab-kan (dalam konteks budaya) orang Batak atau suku lain yang masuk didalamnya (Agamais Fanatik).
Aku suka gayamu Ahok dan aku juga salut samamu Habib Rizieq. Mereka berdua ini sama-sama pernah di ulosi oleh orang Batak. Ingat kawan-kawan, Batak bukan dalam konteks mayoritas pemeluk agama atau gen, Batak itu adalah kelompok sosial. Maka untuk itu tidak ada hak kita membatasi orang memakai ulos dan accessories Batak yang lain, pemeluk dan suku manapun sah-sah saja memakai ulos, yang salah ketika budaya dijadikan komoditi politik, pahami itu kawan-kawan, agar supaya kamu jangan terjebak dalam kesempitan berfikir karena surga yang di angan-angan itu.
Aku paham kalau ini berlawanan dengan logika berfikirmu, karena otakmu sudah banyak dicekoki paham import yang jualan mimpi "surga", maka jangan lupa membacanya sambil minum kopi Lintong dan lappet atau ombus-ombus sekalian sarapan pagi ini.
Penulis: Benardo Sinambela
Sumber: benardosinambela.id TINJAKSTAR Januari 25, 2017 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutnya. Kembali kami memaparkan tentang budaya halak hita menganai SINAMOT. Tulisan ini kami sadur dari log.viva.co.id. Mari simak selanjutnya di bawah ini.
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Ilustrasi - Pernikahan Batak Toba (Sumber: Disini) |
5 Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, mahar mengambil peranan penting. Tak hanya sebagai syarat sah menikah, tapi juga perlambangan tentang kesungguhan serta seberapa besar perjuangan si pria untuk calon mempelainya. Makanya, makin mahal mahar yang diberikan, maka apresiasi dan restu yang diberikan kepada si pria juga makin tinggi. Meskipun begitu, mahar tak selalu harus direalisasikan dengan mahal, sesuai dengan kemampuan saja.
Tapi, dalam beberapa adat, mahar memang mau tak mau harus ditebus dengan mahal, Sinamot misalnya. Ya, tradisi mahar Batak ini mematok harga yang tinggi kepada si pria. Apalagi jika si wanitanya memiliki kriteria-kriteria khusus. Makanya, tak heran kalau ada ungkapan yang mengatakan Sinamot bisa bikin pria langsung jatuh miskin. Tapi tentu saja ini ungkapan yang melebih-lebihkan.
Lalu bagaimana Tentang Sinamot itu sendiri? Seberapa besar sih harganya, lalu kenapa harus ada Sinamot dalam pernikahan orang Batak? Hal-hal tersebut akan kamu ketahui lewat ulasan berikut.
1. Sinamot Adalah Bukti Kesungguhan Pria
Bagi orang-orang Batak, wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Makanya, mereka tak hanya dihormati dan disayangi, tapi juga diperjuangkan. Apalagi bagi yang ingin meminangnya. Butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istri. Salah satunya ya lewat Sinamot itu.
Keberadaan Sinamot hukumnya adalah wajib. Tak hanya sebagai syarat sah nikah, tapi juga perlambangan perjuangan. Di Batak takkan ada seorang bapak pun yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa Sinamot oleh seorang pria. Sinamot jadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Ini jadi indikasi jika si wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.
2. Sinamot Ditentukan Oleh Kedua Belah Pihak
Penentuan harga Sinamot tak hanya menjadi hak si keluarga mempelai wanita, tapi juga si pria. Jadi, sebelum terjadi pernikahan, keluarga besar kedua pihak akan bertemu untuk berdiskusi tentang Sinamot yang diberikan. Jadi, semacam tawar menawar begitu dengan taruhan pernikahan.
Entah bagaimana mekanisme tawar menawar Sinamot ini. Yang jelas pasti ada tarik ulur harga di situ. Pihak si wanita menawarkan harga, kemudian akan ditawar oleh pihak pria. Begitu terus sampai terjadi kesepakatan di antara keduanya setelah mempertimbangkan banyak hal. Dalam diskusi Sinamot ini juga bisa terlihat bagaimana besarnya perjuangan si pria. Kalau ia menawar terlalu murah padahal mampu, kemungkinan besar restu mertua akan sulit turun.
3. Patokan Harga Sinamot yang Bikin Pusing
Meskipun ada tawar menawar sebelum Sinamot diberikan, tapi sebenarnya mahar ini punya patokan alias standar harga sendiri. Parameter harganya pun beragam dan itu selalu berkaca kepada si wanitanya. Mulai dari tingkat pendidikan, jabatan pekerjaan, posisi di keluarga, sampai fisik. Makin tinggi parameternya, Sinamot bisa dipatok puluhan juta.
Tak hanya status dari si wanita, harga Sinamot juga bisa dipengaruhi oleh keluarganya. Makin terpandang, maka Sinamot pun membumbung. Tak hanya itu, Sinamot juga masih bisa dipengaruhi harganya dari kesan masyarakat kepada si wanita. Makin baik dikenalnya, biasanya makin mahal maharnya. Dari sini akhirnya kita tahu kenapa pria-pria batak begitu keukeuh ingin kaya, karena mahar nikahnya saja semahal ini.
4. Sinamot Tak Selalu Mahal
Sinamot di luaran sana terkenal akan pamornya sebagai mahar ekstrem. Memang sih kalau dilihat dari patokan harganya, Sinamot memang bisa bikin struk. Tapi, sekali lagi, ini sebenarnya masih sangat bisa dibicarakan alias nego. Sinamot memang melangit harganya, tapi bisa jadi sangat kecil jika kondisinya tak memungkinkan.
Misalnya, ternyata si mempelai pria ternyata tak begitu kaya begitu pula dengan si wanita. Maka kemudian disepakati kalau Sinamot yang diberikan kecil. Hal seperti ini juga terjadi dan sudah dianggap sebagai perjuangan besar si pria mengingat kondisi finansialnya yang juga biasa-biasa.
5. Sinamot, Tameng Perceraian Efektif Orang Batak
Selain kegigihannya untuk jadi orang sukses, satu lagi sangat hebat soal orang-orang Batak. Ya, orang-orang sana rata-rata sangat awet kalau menikah. Rahasianya sendiri ada beberapa, salah satunya ya Sinamot tadi. Mahar mahal ini ternyata mencegah orang-orang Batak untuk bercerai.
Alasannya sendiri ya jelas karena harga Sinamot yang sangat mahal. Bayangkan saja uang puluhan juta yang diperoleh dengan susah payah jadi tak punya nilai gara-gara perceraian. Perjuangan untuk menikah itu susah, makanya orang-orang Batak berpikir ribuan kali untuk melayangkan talak. Di samping itu, perceraian akan juga memengaruhi hubungan dari keluarga besar.
Inilah alasan kenapa laki-laki itu harus bekerja dan kaya. Pasalnya, jika tidak demikian mereka bakal jomblo selamanya. Apalagi Sinamot makin tinggi saja harganya, kalau kata meme-meme di internet. Terlepas dari ini, Sinamot adalah bukti nyata dari kesungguhan pria. Makanya, semakin mahal sinamot, sang pria bakal makin membuat keluarga terutama ayah dan ibu si mempelai makin yakin. Salut dengan pria-pria Batak!
Demikianlah artikel mengenai "Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak". Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati. Horas.
Laporan: Tim BT
Sumber: Log Viva TINJAKSTAR Desember 27, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Lima Fakta Unik Sinamot, Mahar Pernikahan Ala Batak
Posted by FACE BATAK on Selasa, 27 Desember 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Salah satu kelebihan dari Suku Batak adalah memiliki Tulisan Batak. Tulisan Batak ini biasa disebut SURAT BATAK. Dan kelima sub suku Batak seperti Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola-Mandailing, memilikinya (Surat Batak, red).
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Sampul Buku SURAT BATAK oleh Dr. Uli Kozok, 2009. (Sumber: ulikozok.com) |
Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya seperti Surat Ulu di Bengkulu dan Sumatra Selatan, Surat Incung di Kerinci, dan Had Lampung . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batak di Sumatra, yaitu Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis aksara dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisa nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai'i at Manoa, dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Penggunaan
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.
Ina ni surat
Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
![]() |
| Ina ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Anak ni surat
Anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
- Bunyi [e] (hatadingan)
- Bunyi [ŋ] (haminsaran)
- Bunyi [u] (haborotan)
- Bunyi [i] (hauluan)
- Bunyi [o] (sihora)
- Pangolat (tanda untuk menghilangkan bunyi [a] pada ina ni surat)
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
![]() |
| Anak ni Sura (Sumber: Wikipedia) |
Demikian sekilas turi-turian mengenai Surat Batak. Semoga berguna dan bermanfaat. Di bawah ini kami melampirkan Sumber dan Referensi tentang Surat Batak, silahkan cari informasi lebih lanjut. Ingat satu hal, bahwa Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan. Tuhan memberkati. Horas.
Sumber dan Referensi:
- Wikipedia Indonesia
- Website Uli Kozok TINJAKSTAR Oktober 07, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Suku Batak Memiliki Surat Batak, Mari Kita Jaga dan Lestarikan
Posted by FACE BATAK on Jumat, 07 Oktober 2016
BATAK NETWORK - Ketika Presiden RI yang ke 7 Ir. Joko Widodo menghadiri acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT) pada tanggal 20 - 21 Agustus 2016 silam, ternyata meninggalkan pergunjingan menarik dan layak di bahas serta di ulas di berbagai media, khususnya di media-media sosial. Adapun ulasan tsb adalah Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT. Ada yang pro dan ada pula yang kontra, dan bagi yang kontra ini adalah mereka-mereka barisan sakit hati (haters) kepada Jokowi (panggilan akrab Presiden Ir. Joko Widodo) dan bahkan yang tidak tahu sejarah atau makna ULOS Batak sebenarnya. Oleh karena itu, kami mencoba mengajak Anda sekalian untuk menyimak ulasan mengenai Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT tsb. Berikut paparannya.
Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Oleh: Birgaldo Sinaga
Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, Presiden Jokowi menerima pemberian Ulos Ragidup dan Penutup Kepala beserta tongkat.
Bagi masyarakat Batak Ulos merupakan harta kekayaan paling berharga. Pada awal abad 13 dulu, tekstil belum ada. Manusia yang hidup di banyak pelosok nusantara masih banyak yang tubuhnya bertelanjang atau menutupi tubuhnya dengan cawat dari kulit pohon. Masyarakat Batak yang mendiami Danau Toba menutupi tubuhnya dengan ulos. Inilah pakaian asli Batak yang dikerjakan dengan proses yang sangat rumit dan lama.
Pembuatan ulos menjadi pekerjaan paling sulit dan lama karena dikerjakan melalui proses pemintalan kapas menjadi benang lalu memilinnya kemudian menenunnya satu persatu benang benang yang sudah diberi pewarna.
Bagaimana sih pembuatan ulos Batak itu terutama yang dipakai Presiden Jokowi? Yuk simak penjelasannya yang saya kutip dari tulisan Oloan Pardede.
Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.
Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.
Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.
Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.
Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
Ulos Ragi Hidup.
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita.
Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.
Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga (dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain.
Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.
Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang.
Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.
Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).
Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.
Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan di daerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
Salam
Penulis: Birgaldo Sinaga
Sumber: Akun Facebook Birgaldo Sinaga TINJAKSTAR Agustus 23, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
![]() |
| Perhatikan Foto Kiri: Pakaian Adat Batak Toba, Foto Kanan: Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Memakai Ulos Adat Batak Toba. Tidak ada perbedaannya. |
Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Oleh: Birgaldo Sinaga
Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, Presiden Jokowi menerima pemberian Ulos Ragidup dan Penutup Kepala beserta tongkat.
Bagi masyarakat Batak Ulos merupakan harta kekayaan paling berharga. Pada awal abad 13 dulu, tekstil belum ada. Manusia yang hidup di banyak pelosok nusantara masih banyak yang tubuhnya bertelanjang atau menutupi tubuhnya dengan cawat dari kulit pohon. Masyarakat Batak yang mendiami Danau Toba menutupi tubuhnya dengan ulos. Inilah pakaian asli Batak yang dikerjakan dengan proses yang sangat rumit dan lama.
Pembuatan ulos menjadi pekerjaan paling sulit dan lama karena dikerjakan melalui proses pemintalan kapas menjadi benang lalu memilinnya kemudian menenunnya satu persatu benang benang yang sudah diberi pewarna.
![]() |
| Presiden RI Ir. Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo Memakai Ulos Pada Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 20 - 21 Agustus 2016 (Sumber Foto: Okezone.com) |
Bagaimana sih pembuatan ulos Batak itu terutama yang dipakai Presiden Jokowi? Yuk simak penjelasannya yang saya kutip dari tulisan Oloan Pardede.
Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.
Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.
Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.
Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.
Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
![]() |
| Pakaian Adat Batak Toba (Sumber Foto: Google.com) |
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
Ulos Ragi Hidup.
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita.
Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.
Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga (dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain.
Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.
Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang.
Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.
Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).
Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.
Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan di daerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
Salam
Penulis: Birgaldo Sinaga
Sumber: Akun Facebook Birgaldo Sinaga TINJAKSTAR Agustus 23, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Yuk Mengenal Ulos Yang Di Pakai Presiden Jokowi Ketika menghadiri KKPDT
Posted by FACE BATAK on Selasa, 23 Agustus 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Dison rodo hami nanaeng paboahon saotik turi-turian. Ima taringot Umpasa di Halak Hita Bangso Batak. Ale, parjolo mandok santabi ma hami tu hamu natua-tua nami amang dohot inang soripada, dohot tu hamu ale dongan. Dang namanggurui hami, holan marbagi turi-turian do. Tujuan nami holan sada do, ima asa tetap do hita ingot tu akka hata-hata na denggan taringot tu habatakonta.
Pada dasarnya, Gaya Hidup Orang Batak dalam menjalankan Adat Istiadat Bangso Batak tidak lepas dari berbalas pantun, di acara Pesta-Pesta Batak, apapun jenis pestanya. Berbalas pantun ini biasa disebut mar-UMPASA, UMPASA bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia sehari-hari adalah PANTUN. Makna yang terkandung di dalam kata UMPASA ini sangatlah dalam, dan biasanya kata UMPASA ini adalah Pesan atau Nasehat bagi kita. Di akhir pengucapan hata UMPASA ini akan dijawab oleh khalayak umum dengan sebutan "EMMATUTU" atau "IMATUTU", yang artinya SEPAKAT atau SETUJU, atau bahasa gaulnya YES.
Tahukah Anda bahwa di zaman sekarang ini, yaitu zaman modern atau biasa disebut zaman smartphone, kata-kata UMPASA masih terus digunakan. Mungkin inilah salah satu uniknya Adat Batak. Luar biasa bukan. Situs ini mencoba kembali memaparkan beberapa Kumpulan Umpasa dalam Budaya Adat Batak Toba yang berhasil kami himpun dari beberapa media (blog) di internet, tentu tujuannya agar kita selaku kawula muda Batak tetap dan selalu mempertahankan budaya kita. Lebih lanjut simak di bawah ini.
Kumpulan Umpasa dalam Budaya Adat Batak Toba
(Buat orang-orang muda)
UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.
(Untuk pasangan saat tukar cincin)
(Untuk pasangan yang baru menikah)
Lagu batak tentang marsirang adong, umpasa halak batak di na laho marsirang tong do adong. Songonon ma akka umpasa batak na lao marsirang :
Umpasa Batak sidohonon molo dohot iba mangadopi natua tua namanjalo sipanganon sian angka anakkonna
Sumber: http://dohotb.blogspot.co.id/2012/04/umpasa-ni-halak-batak.html TINJAKSTAR Agustus 02, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Pada dasarnya, Gaya Hidup Orang Batak dalam menjalankan Adat Istiadat Bangso Batak tidak lepas dari berbalas pantun, di acara Pesta-Pesta Batak, apapun jenis pestanya. Berbalas pantun ini biasa disebut mar-UMPASA, UMPASA bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia sehari-hari adalah PANTUN. Makna yang terkandung di dalam kata UMPASA ini sangatlah dalam, dan biasanya kata UMPASA ini adalah Pesan atau Nasehat bagi kita. Di akhir pengucapan hata UMPASA ini akan dijawab oleh khalayak umum dengan sebutan "EMMATUTU" atau "IMATUTU", yang artinya SEPAKAT atau SETUJU, atau bahasa gaulnya YES.
Tahukah Anda bahwa di zaman sekarang ini, yaitu zaman modern atau biasa disebut zaman smartphone, kata-kata UMPASA masih terus digunakan. Mungkin inilah salah satu uniknya Adat Batak. Luar biasa bukan. Situs ini mencoba kembali memaparkan beberapa Kumpulan Umpasa dalam Budaya Adat Batak Toba yang berhasil kami himpun dari beberapa media (blog) di internet, tentu tujuannya agar kita selaku kawula muda Batak tetap dan selalu mempertahankan budaya kita. Lebih lanjut simak di bawah ini.
Kumpulan Umpasa dalam Budaya Adat Batak Toba
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaonUMPASA NI NAPOSO BULUNG.
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
Sada silompa gadong, dua sitiop puli,
Sada pe hami na mandok hata, Naung sude ma hami taruli.
Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).
Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).
Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).
(Buat orang-orang muda)
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.
Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.
Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do
Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata
UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.
(Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,UMPASA TU NA BARU MARBAGAS.
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.
Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.
Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.
Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.
(Untuk pasangan yang baru menikah)
Dakka ni arirang, peak di tonga onan,UMPASA MANGAMPU
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.
Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.
Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.
Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.
Bulung ni Taen tu bulung ni TulanAKKA UMPASA NA ASING
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.
Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.
Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.
Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.
Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.
Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.
Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.
Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.
Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,Umpasa ni Halak Batak
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.
Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.
Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.
Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.
Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobungUmpasa Batak di na laho marsirang
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan
Jolo nidodo asa hinonong
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan
Jolo tinaha garung niba, niantan sulangat niba
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik kalau kita menyadari kemampuan diri sendiri.
Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut
Artinya: Musyawarah untuk mufakat
Balintang ma pagabe tumandangkon sitandoan
Arinta ma gabe molo marsipaoloan
Artinya: Kita akan mendapatkan keberhasilan jika seia sekata
Amporik marlipik, onggang marhabang,
Gabe parboli na otik laos gabe do parboli na godang
Artinya:
Namandanggurhon tu dolok do molo basa namarhula-hula
Artinya:
Janji urat ni eme tu laklak ni simarlasuna, Adat na denggan na so ra sega, uhum na uli na so ra muba i, asa manumpak ma Tuhanta i sinur ma pinahan gabe na niula jala horas jolma.
Martumbur ma baringin, mardangka ma hariara, matorop ma hamu maribur, matangkang ma juara.
Sai marrongkap mai songon bagot, marsibar songon ambalang, jala sai masigomgoman ma tondi ni nasida tu na tama.
Dangka ni hariara ma pinangait-ngaithon, tubuma dihamu anak dohot boru, sai unang ma panahit-nahithon.
Balintang ma pagabe tumandakhon sitadoan, saut do hamu gabe asal ma tontong masipaolo-oloan.
Dangir-dangir ni batu ma hamu, pandakdahan ni simbora, Gabe do hamu jala sarimatua asal ma sai marsada ni roha
Ai na tinapu salaon, salaon situa-tua, Denggan ma hamu masianju-anjuan asa saut gabe jala sarimatua.
Sai situbu laklak ma hamu situbu singkoru di dolok ni purbatua, sai tubuan anak ma hamu tubuan boru, donganmuna sarimatua.
Hariara na bolon bahen parlape-lapean, Sai tubu ma di hamu anak dohot boru na bolas pangunsandean.
Bagot na mandung-dung tu pilo-pilo marajar, Tading ma antong na lungun, sai roma na jagar.
Sahat-sahat ni soluma sahat tu bontean, Sahat ma hamu tu parhorasan, sahat tu panggaben.
Tuat ma na dolok martungkot sialagundi, adat ni ompunta sijolo-jolo tubu siihuttonon ni na di pidi.
Sinuan bulu sibahen nalas, Sinuan uhum sibaen na horas.
Muba dolok muba duhutna, muba luat sai adong do muba adatna.
Eme na masak di gagat ursa , ia i namasa ima di ula.
Aek godang aek laut, dos niroha sibahen nasaut
Sori manungkun sori mandapot, sai matua marpanungkun tu na nidapot.
Tangan do botohon, ujungna jari-jari, Bangko nihata si dohonon, asal ma jumolo marsatabi.
Ramba na poso na so tubuan lata, halak na poso na so umboto hata.
Tampuk ni sibaganding di dolok ni pangiringan, horas ma hamu na marhaha maranggi, sai masipairing-iringan.
Bola-bola ni tangan, sitongka i bolahononhon, bola-bola ni halak, sitongka i tangihononhon.
Tinallik randorung bontar gotana, Dos do anak dohot boru nang pe pulik margana, ai dompak marmeme anak, dompak do tong marmeme boru, andung ni anak sabulan di dalan, andung ni boru sataon.
Habang leang-leang songgop tu parapian, Bolak ni rosu angka na marpariban, sai masitopot-topotan songon pidong leang-leang.
Na niida ni mata paula so niida, na binege ni pinggol paula so ni bege.
Lagu batak tentang marsirang adong, umpasa halak batak di na laho marsirang tong do adong. Songonon ma akka umpasa batak na lao marsirang :
Pidong sitapitapi, habang diatas haumaUmpasa Batak Mangadopi natua tua
Horas ma hamu na hupaborhat hami
Horas hami na tininggalhonmuna
Dolok ni Panampahan, tondongkon ni Tarabunga
Sai horas ma hamu dipardalanan songoni dung sahat tu inganan muna
Tombak ni Sipinggan di dolok ni Sitapongan
Di dia pe hita tinggal, sai tong ma hita masihaholongan
Eme sitambatua parlinggoman ni siborok
Amanta Debata do silehon tua, sai luhutna ma hita diparorot
Mangerbang bungabunga, ditiur ni mata ni ari
Selamat jalan ma dihamuna, selamat tinggal ma di hami
Umpasa Batak sidohonon molo dohot iba mangadopi natua tua namanjalo sipanganon sian angka anakkonna
Andor halumpang ma togutogu ni lombu dohot togutogu ni horbo laho tu LapogambiriUmpasa Batak Tingki Mangapuli
Sai saur ma hamu leleng mangolu paihutihut pahompu sahat tu na marnono dohot marnini
Tinpu bulung ni sabi nibutbut pinaspashon
I dope na tarpatupa hami ba i ma jolo tahalashon
Hata sian undangan tu natuatua i:Polta bulan i Ama ni Manggule: Ro nuaeng angka pomparanmu mamboan sipanganon ba dohot hami mauliate
Tubu ma singkoru di dolok ni Simamora
Sai torop ma anak dohot boru na basa jala sisubut roha
Tubu dingindingin jonok tu simartolu
Horas ma tondi madingin pir tondi matogu
Sai ro ma nipi na uli sai leleng hamu mangolu
Haliangan ni nono dohot nini raphon anak dohot boru
Hata ni undangan tu ianakkon na mamboan sipanganon :Binolus Purbatua laho tu Parsingkaman
Naburju marnatuatua ingkon sai dapotan pandaraman
Laho pe ibana mangula sai na dao ma parmaraan
Sai dapotsa na niluluan sai jumpang na jinalahan
Taringot di sipanganon na binoanmuna tu natuatua i :
Disi do gandina, disi do nang gandona
Disi do daina disi do nang tabona
Sirsir ansimna jala hona dohot asomna
Asa dohonon nami ma :
Bagot na marhalto ma di ladang ni Panggabean
Horas ma hami na manganhon, lam martamba sinadongan di hamu na mangalean
Ia siula tano do hamu ba on ma dohononnami :
Binanga ni Sihombing binongkak ni Purbatua
Tu sanggar ma amporik tu lombang ma satua
Sai sinur ma pinahan gabe na niula
Molo partigatiga do hamu ba on ma dohonon namu :
Tinampul bulung bira bahen saong laho tu ladang
Sai mangomo ma hamu sian tigatiga ba sai maruntung ma sian dagang
Molo tung sipata rugi hamu ba sai dapot nian nidok ni umpasa :
Soban rantingranting soban ni Sijamapolang
Ba molo rugi hamu sian antinganting, ba sai mangomo ma sian golang
Molo pegawai do hamu ba on ma dohonon nami :
Tinapu bulung salaon dongan ni bulung si tulan
Ba sai naek pangkat ma hamu ganup taon, sai tamba gaji tiap bulan
Molo adong di hamu na so hot ripe dope on ma dohonon nami:
Parik ni Lubutua hatubuan ni bulu duri
Na burju marnatuatua sai ingkon dapotan rongkap na uli
Baangkup ni i :
Molo adong disi hulingkuling sai adong ma disi holiholi
Molo adong disi na so muli sai adong do rongkap ni i naso mangoli
Sahatsahat ni solu ma sahat di rondang ni bulan
Sai leleng ma hamu mangolu jala sai dipasupasu Tuhan
Jotjot do tadok : Tua na so taraithon, Soro ni ari na so tarhaishoDemikianlah turi-turian tentang Kumpulan Umpasa dalam Budaya Adat Batak Toba yang bisa kami sampaikan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kekurangan atau berlebihan sehingga tidak berkenan di hati Anda. Oleh karena itu, kami sangat berharap Anda memberikan masukan berupa kritik dan saran. Meskipun demikian, besar harapan kami, Turi-turian ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Tuhan Memberkati. Horas.***
Alai dumenggan do dohonon umpasa on :
Ramba ni Sipoholon marduhutduhut sitata
Las ni roha dohot sitaonon sude do i sian Amanta Debata
Asa :
Hau ni Gunungtua, dangkana madaguldagul
Tibu ma dilehon Tuhanta dihamu tua, jala tibu hamu diapulapul
Poltak bulan tula, binsar ia mata ni ari
Tibu ma ro tu hamu soritua, singkat ni sori ni ari
Angkup ni i :
Hotang binebebebe, hotang pinilospulos
Unang iba mandele, ai godang do tudostudos
Tamba muse :
Hotang benebebebe, hotang ni Siringkiron
Unang iba mandele, ai godang dope sihirimon
On pe :
Dolok ni Simalungun ma tu dolok ni simamora
Sai salpu ma angka na lungun, hatop ma ro silas ni roha
Umpasa Ni Halak Batak
Pir ma tondi madingin
Horas tondi matogu
Mamora hamu madingin
Leleng ma hamu mangolu
Tampulan sibaganding
Diatas na pangiringan
Tugabenama hamu saluhutna
Tondi muna sai masipairing-iringan
Sinuan hariara bahen partungkoan di tonga ni huta
Sinur ma napinahan tugabena naniula
Nadihuta unang marmara
Horas-horas ma hamu Sasude tumpakon ni Tuhanta Namartua
Tangki ma jala walang
Galinggang jala garege
Tubu ma anak partahi jala ulu balang
Dohot boru maduma jala pareme
Tubu ma sanggar di holbung-holbung
Tubu arung di honuk-honuk
Tubu ma dihamu anak namalo marpollung
Dohot boru namalo marsonduk
Tubuan lak-lak tubuan singkorung
Di dolok ni purbatua
Tubuan anak tubuan boru
Dongan muna saur matua
Andor ris ma andor ras
Didolok ni lobutua
Torkis-torkis ma horas-horas
Jala dapotan tua
Pinantingkon hujur
Tu julu ni topian
Horas ma hamu saluhut
Jala dapotan pancarian
Bagol namadungdung
Tupilo-pilo namarajar
Dao ma nalungun
Sai ro ma na jagar tu joloan on
Bagol bogil
Bagol so habal-balan
Salpu ma nahansit
Sai ro ma najagar tujoloan on
Balintang ma pagabe
Tumundalhon sitadoan
Ari mu ma gabe
Asal ma hamu masipaolo-oloan
Diruma Pohki
Bahul-bahul pansalongan
Pir ma tondi
Jala luma panamotan
Dangka ni sitorop
Pinanghait-haithon
Tubu ma anak dohot boru
Sitongka panahit-nahiton
he..he..he…he…
Bintang ma narumiris
Ombun nasumorop
Anak pe riris
Boru pe torop
Eme si tamba tua ma parlinggoman ni si borok
Amanta Debata do Si lehon tua
saluhut na ma hitaon diparorot.
Ima tutu.
Sumber: http://dohotb.blogspot.co.id/2012/04/umpasa-ni-halak-batak.html TINJAKSTAR Agustus 02, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
BATAK NETWORK - Hora ma dihita saluhutna. Kembali kami berbagi turi-turian tentang Habatakon. Adapun turi-turian tsb adalah mengenai fenomena Sastra Batak yang mulai hampir punah. Mari kita simak bersama di bawah ini. Sebelumnya, Harapan kami, semoga turi-turian ini bisa bermanfaat. Bila ada kekurangan silahkan luangkan waktu Anda untuk memberi masukan di kolom komentar yang tersedia.
Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Arus globalisasi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat - selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.
Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.
" Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha ", ima tutu..., sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata "hamu" . "Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha", namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.
"Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami" akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara "maminta gondang" (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu "Poco-poco" dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah "Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?" Jika jawaban atas pertanyaan ini "Ya", kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban "tidak" dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.
Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.
IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI
Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai "sorang" tali pusar bayi disebut "anggi-anggi ni dakdanak" atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah "pusokna". Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai "Si unsok" (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah 'si butet".
Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf "C" dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar "Samat" atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul "Pulo Samosir" penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : .....gok disi hassang nang eme nang baoang......
Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah "di tataring". Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai "sibaso". Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan "Bidan Bersalin".
Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan "Silinduat" (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut "marporhas".
Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai "painundun" (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti "duduk dengan punggung membelakangi sesuatu". Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.
Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan "inang pangintubu" (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah "pagodang-godanghon" ( baca : pagodang-godakkon).
Istilah "orang tua asuh" yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah "mardangka ni salohot, marnata na sumolhot". Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.
Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.
Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah "carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu". Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).
BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN
Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Pardamean Simamora. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Simamora atau Duma br.Simamora. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis "patrilinial", sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.
Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip "anak sihahaan" sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai "pemimpin" bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.
Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.
Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut "Nunga ditutung hudonna".
Oleh : Waldemar Simamora *)
*) Penulis adalah Pengasuh Rubrik Budaya Batak pada MM Liputan Bona Pasogit, tinggal di Simarangkir Julu Tarutung.
Sumber: batak.blogspot.co.id TINJAKSTAR Juni 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Arus globalisasi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat - selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.
Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.
" Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha ", ima tutu..., sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata "hamu" . "Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha", namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.
"Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami" akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara "maminta gondang" (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu "Poco-poco" dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah "Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?" Jika jawaban atas pertanyaan ini "Ya", kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban "tidak" dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.
Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.
IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI
Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai "sorang" tali pusar bayi disebut "anggi-anggi ni dakdanak" atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah "pusokna". Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai "Si unsok" (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah 'si butet".
Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf "C" dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar "Samat" atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul "Pulo Samosir" penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : .....gok disi hassang nang eme nang baoang......
Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah "di tataring". Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai "sibaso". Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan "Bidan Bersalin".
Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan "Silinduat" (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut "marporhas".
Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai "painundun" (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti "duduk dengan punggung membelakangi sesuatu". Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.
Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan "inang pangintubu" (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah "pagodang-godanghon" ( baca : pagodang-godakkon).
Istilah "orang tua asuh" yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah "mardangka ni salohot, marnata na sumolhot". Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.
Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.
Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah "carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu". Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).
BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN
Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Pardamean Simamora. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Simamora atau Duma br.Simamora. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis "patrilinial", sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.
Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip "anak sihahaan" sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai "pemimpin" bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.
Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.
Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut "Nunga ditutung hudonna".
Oleh : Waldemar Simamora *)
*) Penulis adalah Pengasuh Rubrik Budaya Batak pada MM Liputan Bona Pasogit, tinggal di Simarangkir Julu Tarutung.
Sumber: batak.blogspot.co.id TINJAKSTAR Juni 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tentang Habatakon: Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?
Posted by FACE BATAK on Rabu, 01 Juni 2016
BATAK NETWORK - Horasma di hita saluhutna. Kembali Batak Network berbagi Turi-turian palas ni roha (baca cerita yang menyenangkan). Kali ini kita akan membahasi Daftar marga Suku Batak, baik Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak dan Angkola. Penasaran? Yuk kita simak di bawah ini.
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Tulisan ini dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Mohon maaf, apabila ada kekeliruan dan kekurangannya mohon dikoreksi ulang.
A.
1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN
B.
8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR
D.
34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)
G.
45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR
H.
53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK
K.
72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI
L.
74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP
M.
95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P.
141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOHANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU
T.
328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN
Tj ( C).
350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)
U.
353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU
KAROKARO:
355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI
TARIGAN
375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO
PERANGINANGIN
387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR
GINTING
406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA
SEMBIRING
421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KELOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA
MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK
SINAGA
440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI
DAMANIK
448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK
SARAGI
453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP
PURBA
461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK
468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)
Demikianlah tulisan Batak Network mengenai Daftar Marga Batak. Semoga bermanfaat dan berguna. Sekali lagi, bila ada kekurangan bahkan kelebihan, mohon segera diberi komentar, karena komentar Anda sangat berguna untuk situs ini. Salam penuh kasih dari Tuhan, Horas. Tuhan memberkati.
Tulisan ini disadur dari Halaman Facebook Batak
Sumber: Halaman Facebook Batak dan Group Anak Siantar (GAS)
Keterangan Tambahan: Mohon dicermati, bahwa tulisan ini hanya pemaparan Marga berdasarkan Abjad, bukan pembagian marga (ompu marompu-ompu) = Sotung dirippu hamu hami namamola-mola, palias i. = Sekali lagi berdasarkan Abjad. Bisa jadi dua kali ditulis, misalnya 290. SIRINGORINGO sama dengan 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO. Bila memang ada marga yang tidak tercanctum di atas, nanti kita update tapi di kolom tersendiri, karena diatas merupakan tulisan dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Satu hal, kami disini bukan pateal-patealhon. Kami senang dikritik dan diberi tanggapan. Justru kami semakin tambah pengetahuan bila ada masukan. Mauliate. TINJAKSTAR Mei 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Tulisan ini dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Mohon maaf, apabila ada kekeliruan dan kekurangannya mohon dikoreksi ulang.
A.
1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN
B.
8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR
D.
34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)
G.
45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR
H.
53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK
K.
72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI
L.
74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP
M.
95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P.
141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOHANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU
T.
328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN
Tj ( C).
350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)
U.
353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU
KAROKARO:
355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI
TARIGAN
375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO
PERANGINANGIN
387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR
GINTING
406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA
SEMBIRING
421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KELOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA
MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK
SINAGA
440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI
DAMANIK
448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK
SARAGI
453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP
PURBA
461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK
468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)
Demikianlah tulisan Batak Network mengenai Daftar Marga Batak. Semoga bermanfaat dan berguna. Sekali lagi, bila ada kekurangan bahkan kelebihan, mohon segera diberi komentar, karena komentar Anda sangat berguna untuk situs ini. Salam penuh kasih dari Tuhan, Horas. Tuhan memberkati.
Tulisan ini disadur dari Halaman Facebook Batak
Sumber: Halaman Facebook Batak dan Group Anak Siantar (GAS)
![]() |
| Saya bangga jadi orang Batak (Foto: Google.com) |
Keterangan Tambahan: Mohon dicermati, bahwa tulisan ini hanya pemaparan Marga berdasarkan Abjad, bukan pembagian marga (ompu marompu-ompu) = Sotung dirippu hamu hami namamola-mola, palias i. = Sekali lagi berdasarkan Abjad. Bisa jadi dua kali ditulis, misalnya 290. SIRINGORINGO sama dengan 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO. Bila memang ada marga yang tidak tercanctum di atas, nanti kita update tapi di kolom tersendiri, karena diatas merupakan tulisan dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak, Karya besar : Alm. H.B. Situmorang, Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. Satu hal, kami disini bukan pateal-patealhon. Kami senang dikritik dan diberi tanggapan. Justru kami semakin tambah pengetahuan bila ada masukan. Mauliate. TINJAKSTAR Mei 20, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Inilah Daftar Marga Batak yang paling Komplit Berdasarkan Abjad
Posted by FACE BATAK on Jumat, 20 Mei 2016
BATAK NETWORK - Horas ma dihita saluhutna. Sebagai media khusus / tentang BATAK, kami kembali berbagi sesuatu hal yang ada hubungannya dengan budaya Batak. Kali ini kita akan berbicara tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak".
Barangkali Ada yang ingin jadi Parsinabung, bolehlah luangkan waktu sejenak untuk mengetahui lebih dalam tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak". Sebuah ulasan dan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Thomson Hutasoit seperti yang telah dilansir Blog Redaksi Deteksi. Lebih lanjut mari kita simak bersama-sama di bawah ini.
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak-Toba.
Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabung atau Parsaut di dalam Batak-Toba disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.
Komunitas Batak-Toba dengan falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni somba Marhula-hula, manat Mardongan Tubu, dan elek Marboru merupakan pranata tata hubungan interaksi Batak-Toba, termasuk di dalam melaksanakan adat-budaya yang merupakan peradaban serta jati diri Batak-Toba dimanapun berada.
Baca Juga: Dalihan Na Tolu: Falsafah Hidup Orang Batak Yang Turun Temurun Sampai Hari Ini
Batak-Toba terkenal sebagai masyarakat beradat dan beradab yang diwarisi sejak zaman nenek moyang dan hingga kini dipertahankan serta dilestarikan untuk merekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yakni; marhula-hula, mardongan tubu, dan marboru, bere/ibebere.
Hubungan interaksi kekeluargaan dan kekerabatan na mardongan tubu ataupun satu marga yang hingga kini sudah ada generasi ke 20-25 (baca: sundut 20-25) tetap sedemikian kompak, harmonis menjadikan keakraban Batak, khususnya Batak-Toba merupakan suatu hubungan istimewa jika dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain di atas dunia ini.
Bila diperhatikan dengan cermat kata kunci perekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Batak-Toba tidak terlepas dari falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) apalagi bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai posisi masing-masing menurut adat-budaya warisan leluhur.
Prinsip somba (baca: hormat), manat (baca: hati-hati), elek (baca: sayang, pengayom) adalah salah satu gambaran karakter berpikir dan bertindak Batak-Toba. Sehingga bila prinsip somba, manat, dan elek selalu dikedepankan di dalam hubungan komunikasi antar sesama maka kekompakan, keakraban pasti tercipta dengan baik dan benar. Semua pihak harus menyadari hak dan tanggung jawab sesuai aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi pedoman pola tingkah laku Batak-Toba. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, bahwa kemajuan yang tidak dilandasi karakter, jati diri bangsa akan mengeliminasi seseorang dari komunitas bangsanya, serta capaian kemajuan tanpa fondasi.
Sebaliknya, bila generasi Batak-Toba sudah meninggalkan prinsip somba, manat, dan elek maka akan sulit melakukan komunikasi yang baik dan benar antar sesama karena tidak bisa lagi memosisikan diri dengan tepat sesuai adat-budaya Batak-Toba yang menjadi nilai luhur warisan nenek moyang.
Parsinabung atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak, khususnya Batak-Toba.
Tingkatan Panamboli inilah biasanya (baca: Kota Medan) menjadi Parsinabung atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak-Toba. Kedudukan Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).
Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabung atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabung atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabung atau Parsaut sedang berbicara.
Posisi strategis Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar sesuai aturan berseminar.
Demikian halnya, seorang Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak, khususnya Batak-Toba.
Umpama Batak-Toba mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabung atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.
Karena Parsinabung atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabung atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabung atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabung atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabung atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.
Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabung atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.
Kualifikasi Parsinabung atau Parsaut
Karena itu, seorang Parsinabung atau Parsaut harus memiliki kualifikasi antara lain;
1.Seseorang yang sudah manggarar adat (baca: Marunjuk/Mangadati, Manggarar Sulang-sulang ni pahompu) karena menurut konsep dasar adat Batak-Toba seseorang yang belum manggarar adat tidak layak menerima adat. Konon lagi menjadi Parsinabung atau Parsaut yang memikul hak dan tanggung jawab adat satu marga. Apakah layak dan masuk akal seseorang yang belum mangadati menuntut adat kepada pihak lain ? Bukankah prinsip dasar adat Batak, khususnya Batak-Toba adalah menerima dan memberi (baca: manjalo dohot mangalehon) ketentuan adat-budaya yang menjadi pranata aturan komunitas ?
7.Tidak reaktif dan paranoid (baca: ndang olo mananggoi hata, manang pantang so ummalo) yaitu mengomentari, menyela, mengkritik lawan bicara (baca: sesama Parsinabung atau Parsaut) karena merasa paling pintar dan paling tahu apa yang sedang diperbincangkan.
8.Memiliki kemampuan diplomasi yang baik untuk mencari solusi permasalahan disebabkan kemungkinan perbedaan adat-istiadat antar komunitas dengan ilmu pengetahuan, kemampuan berdiplomasi, pemahaman dan kemahiran nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi kearifan lokal di dalam kesetaraan dan kesejajaran. Parsinabung atau Parsaut harus mampu membangun diplomasi, lobi, serta kesepakatan melalui musyawarah diatas fondasi saling menghormati, sehingga tidak ada salah satu pihak dibawah tekanan, intervensi maupun dominasi.
9.Memahami psikologi massa, yaitu mengetahui dan memahami situasi kondisi pihak-pihak yang terlibat pada acara pesta atau ulaon adat, bukan syor sendiri. Parsinabung atau Parsaut harus pintar membaca situasi kondisi setempat, waktu, maupun psikologi seluruh pihak-pihak. Hal ini bertujuan agar seluruh prosesi adat-budaya mendatangkan kegembiraan, kebahagiaan, bukan sebaliknya, justru menimbulkan berbagai protes misalnya, Parsinabung atau Parsaut berbicara bertele-tele, melantur, mengambang yang hanya menyita waktu tanpa arti dan makna hakiki apapun.
10.Demokratis (baca: hata ninta), yakni memberi ruang partisipasi keterlibatan para pihak karena keterlibatan seluruh pihak di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba merupakan sukses pelaksanaan pesta atau ulaon adat yang mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang punya hajatan (baca: hasuhuton).
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lupa bahwa parjambaran pada Batak-Toba ada tiga jenis, yakni; jambar hata, jambar juhut, dohot jambar hepeng (baca: berbicara, daging, dan uang), sehingga apabila pihak-pihak yang seharusnya berhak mendapatkan parjambaran terabaikan akan timbul ekses negatif dikemudian hari. Dalam bahasa Batak-Toba disebut “ di tean mangolu, di tanom jongjong, di apus bulung rata”. Artinya, dihitung tetapi tidak diperhitungkan atau tidak berarti apa-apa. Hal ini sangat menyakitkan karena kedatangannya pada sebuah pesta atau ulaon adat seperti “raja naro” yaitu tamu tak diundang. Selain daripada itu, seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut harus selalu berusaha menghindarkan kata-kata menurut saya, aku (baca: ningku), tetapi menurut kami, kita (baca: hami, hita) karena apa yang diutarakan seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut adalah mengatasnamakan komunitas.
Dari berbagai kualifikasi seperti diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi seorang Parsinabung atau Parsaut di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba sangat lah strategis karena itu harus merupakan pilihan putera-putera terbaik dari suatu komunitas yang bertindak atas nama komunitas tersebut.
Karena merupakan personifikasi komunitas maka seorang Parsinabung atau Parsaut perlu dipersiapkan melalui kaderisasi terencana, terprogram, dan berkesinambungan agar tidak terputus mata rantai regenerasi alamiah. Artinya, Parsinabung atau Parsaut yang mumpuni tidak pernah kering pada suatu komunitas tertentu.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lagi hanya mengandalkan pengetahuan yang sering dilihat atau terjadi (baca: na niida, na somal diulahon halak) seperti ungkapan yang mengatakan, ”Eme na masak digagat ursa, ima na masa ima taula”, tetapi benar-benar melalui penggalian nilai-nilai luhur adat-budaya agar seluruh pelaksanaan pesta atau ulaon adat-budya tidak hanya bermakna seremonial buang-buang waktu dan biaya saja.
Peranan Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut untuk mengatur, mengarahkan, memandu, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi ulaon adat-budya sangatlah diperlukan dengan tetap mempertahankan, melestarikan nilai-nilai luhur original adat-budaya walaupun singkat padat, tetapi tepat sasaran, sarat arti dan makna. Dengan demikian pelaksanaan adat-budaya bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien tetapi tetap lestari nilai original.
Parsinabung atau Parsaut adalah sistem demokrasi musyawarah bertingkat berjenjang yang belakangan ini dikenal paradigma dari bawah ke atas (Bottom Up) merupakan salah satu nilai adat-budaya Batak-Toba yang perlu digali maksimal menjadi sebuah model manajemen publik ataupun pemerintahan demokratis seperti demokrasi Pancasila yang dianut republik ini.
Nilai-nilai luhur adat-budaya seperti ini tumbuh subur ditengah-tengah komunitas masyarakat bumi Nusantara, dan ada baiknya jika diinventarisasi maksimal untuk memperkuat hasanah budaya nasional, dan tidak mustahil akan menjadi kajian akademik bermakna luar biasa dalam sistem pemerintahan berdasar kearifan lokal. Horas !
Penulis: Drs. Thomson Hutasoit
Sumber: Blog Redaksi Deteksi TINJAKSTAR Mei 19, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Barangkali Ada yang ingin jadi Parsinabung, bolehlah luangkan waktu sejenak untuk mengetahui lebih dalam tentang "Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak". Sebuah ulasan dan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Thomson Hutasoit seperti yang telah dilansir Blog Redaksi Deteksi. Lebih lanjut mari kita simak bersama-sama di bawah ini.
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak-Toba.
Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabung atau Parsaut di dalam Batak-Toba disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.
Komunitas Batak-Toba dengan falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni somba Marhula-hula, manat Mardongan Tubu, dan elek Marboru merupakan pranata tata hubungan interaksi Batak-Toba, termasuk di dalam melaksanakan adat-budaya yang merupakan peradaban serta jati diri Batak-Toba dimanapun berada.
Baca Juga: Dalihan Na Tolu: Falsafah Hidup Orang Batak Yang Turun Temurun Sampai Hari Ini
Batak-Toba terkenal sebagai masyarakat beradat dan beradab yang diwarisi sejak zaman nenek moyang dan hingga kini dipertahankan serta dilestarikan untuk merekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yakni; marhula-hula, mardongan tubu, dan marboru, bere/ibebere.
Hubungan interaksi kekeluargaan dan kekerabatan na mardongan tubu ataupun satu marga yang hingga kini sudah ada generasi ke 20-25 (baca: sundut 20-25) tetap sedemikian kompak, harmonis menjadikan keakraban Batak, khususnya Batak-Toba merupakan suatu hubungan istimewa jika dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain di atas dunia ini.
Bila diperhatikan dengan cermat kata kunci perekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Batak-Toba tidak terlepas dari falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) apalagi bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai posisi masing-masing menurut adat-budaya warisan leluhur.
Prinsip somba (baca: hormat), manat (baca: hati-hati), elek (baca: sayang, pengayom) adalah salah satu gambaran karakter berpikir dan bertindak Batak-Toba. Sehingga bila prinsip somba, manat, dan elek selalu dikedepankan di dalam hubungan komunikasi antar sesama maka kekompakan, keakraban pasti tercipta dengan baik dan benar. Semua pihak harus menyadari hak dan tanggung jawab sesuai aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi pedoman pola tingkah laku Batak-Toba. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, bahwa kemajuan yang tidak dilandasi karakter, jati diri bangsa akan mengeliminasi seseorang dari komunitas bangsanya, serta capaian kemajuan tanpa fondasi.
Sebaliknya, bila generasi Batak-Toba sudah meninggalkan prinsip somba, manat, dan elek maka akan sulit melakukan komunikasi yang baik dan benar antar sesama karena tidak bisa lagi memosisikan diri dengan tepat sesuai adat-budaya Batak-Toba yang menjadi nilai luhur warisan nenek moyang.
Parsinabung atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak, khususnya Batak-Toba.
Tingkatan Panamboli inilah biasanya (baca: Kota Medan) menjadi Parsinabung atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak-Toba. Kedudukan Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).
Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabung atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabung atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabung atau Parsaut sedang berbicara.
Posisi strategis Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar sesuai aturan berseminar.
Demikian halnya, seorang Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak, khususnya Batak-Toba.
Umpama Batak-Toba mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabung atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.
Karena Parsinabung atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabung atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabung atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabung atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabung atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.
Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabung atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.
Kualifikasi Parsinabung atau Parsaut
Karena itu, seorang Parsinabung atau Parsaut harus memiliki kualifikasi antara lain;
1.Seseorang yang sudah manggarar adat (baca: Marunjuk/Mangadati, Manggarar Sulang-sulang ni pahompu) karena menurut konsep dasar adat Batak-Toba seseorang yang belum manggarar adat tidak layak menerima adat. Konon lagi menjadi Parsinabung atau Parsaut yang memikul hak dan tanggung jawab adat satu marga. Apakah layak dan masuk akal seseorang yang belum mangadati menuntut adat kepada pihak lain ? Bukankah prinsip dasar adat Batak, khususnya Batak-Toba adalah menerima dan memberi (baca: manjalo dohot mangalehon) ketentuan adat-budaya yang menjadi pranata aturan komunitas ?
Sehingga seseorang yang tidak pernah memberi (baca: manggarar adat) bagimana dia berhak menerima (baca: manjalo) adat dari pihak lain. Apalagi bertindak sebagai raja adat (baca: Parsinabung atau Parsaut) ? Ini adalah salah satu elemen paling dasar menentukan layak tidaknya seseorang Parsinabung atau Parsaut pada Batak-Toba.2.Seseorang harus na Gabe (baca: Maranak, Marboru) bukan hanya didasarkan pada kecakapan, kepintaran berbicara saja, tetapi memiliki kualifikasi na Gabe. Karena seorang raja Parsinabung atau Parsaut di dalam memberikan wejangan, umpasa atau poda natur kepada pihak lain bertindak atas nama oppu ataupun marga. Kedudukan seseorang telah ditentukan Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak seorang pun bisa menolaknya seperti dikatakan umpama, ”Tu ginjang ninna porda, tu toru pambarbaran. Tu ginjang ninna roha, patoruhon do sibaran”. “ Ndada simanuk-manuk si bontar andora, Ndada si todo turpuk siahut lomo ni roha”. “Andilo na hinan hadang-hadangan saonari, turpuk ni badan na hinan ingkon jaloon ma saonari”. Artinya, apa yang telah digariskan sang Pencipta terhadap seseorang tidak ada yang mampu menolaknya. Na Gabe, Na Marurat (baca: holan baoa), Na Marbulung (baca: holan boru/punu), dan ada pula tidak berketurunan (baca: purpur).
Jenis kategorial ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap diri seseorang sehingga harus diterima sebagai garis kehidupan atau takdir (baca: turpuk, gurat-gurat ni tangan) manusia.3.Kestabilan emosi, sejuk, dan karakter luhur (baca: lambok, sorta, lambas, hormat, raja) agar mampu menjadi panutan atau tiruan kepada pihak lain. Parsinabung atau Parsaut tidak bisa orang emosional, merasa paling pintar dan menggurui pihak lain karena ulaon adat adalah, “aek toba tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut”, bukan hata dokhu. Artinya, ulaon adat adalah kata sepakat bersama, bukan adu urat leher (baca: jogal rungkung, jogal baut) memaksakan kehendak kepada pihak lain. Pesta atau ulaon adat bukan seminar atau diskusi publik sehingga harus dihindarkan perdebatan yang memicu pergesekan atau perselisihan. Mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan harus selalu diusahakan dengan sopan-santun, lembut, tenang, jelas dan tegas karena pembicaraan yang diutarakan dengan lembut dan tenang akan mendapat respons positif dari lawan bicara. Sebaliknya, setiap perkataan yang terlontar dilatari emosi serta ego pribadi akan mendapat umpan balik keras, bahkan kasar sebagai dampak timbal-balik atau reaksi dari perkataan tidak sejuk tersebut.
Parsinabung, atau Parsaut tidak boleh menonjolkan ego pribadi, tetapi justru harus menyadari bahwa dirinya adalah personifikasi komunitas yang diwakilinya. Sehingga segala tindak tanduknya pada saat mengemban tugas Parsinabung atau Parsaut akan berdampak secara langsung terhadap komunitas (baca: oppu, marga) bersangkutan.4.Memiliki kehati-hatian (baca: manat), hormat (baca: somba), serta sayang, pengayom (baca: elek) sebagaimana falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) dan mampu menjaga harmoni hubungan antar sesama, termasuk kepada Dongan Sahuta. Sikap dan sifat sebagaimana disebutkan merupakan syarat dasar yang perlu dimiliki seorang Parsinabung atau Parsaut karena sangat mustahil mampu menjadi seorang Parsinabung atau Parsaut yang mantap tanpa mengerti, memahami, serta mengamalkan arti dan makna Dalihan Na Tolu (DNT) paopat Sihal-sihal (Baca: Dongan Sahuta). Umpama Batak-Toba mengatakan, ”Tarida do imbo sian soarana, tarida do hau sian parbuena, tarida do gaja sian bogas ni patna”. Artinya, eksistensi seseorang dibuktikan pola tingkah lakunya. Parsinabung atau Parsaut tidak bisa serampangan tetapi harus hati-hati (baca: anit, enet, ampit, tutur, nonor, jamot, tiar, tiur, tota) seperti umpama mengatakan, ”Jamot si ida hutu, jamotan si ida gomit. Jamot unang tarrobung, anit sotung tarsulandit”. Karena bisa saja akibat kekurang hati-hatian Parsinabung atau Parsaut menimbulkan ekses negatif kepada hasuhuton, keluarga ataupun kerabat.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh berikhtiar memuaskan hasrat dan kehendak pribadi (baca: pasombu-sombu tagas), melainkan berupaya keras memperbaiki yang kurang baik dengan prinsip, ”Pauk-pauk hudali, pauk-pauk tarugi, na tading diulahi, na hurang di pauli. Asa nakkok si puti, turun si deak, tusi na ummuli, tusi ma ta pareak”. Artinya, bila ada yang kurang pas pada suatu pesta atau ulaon adat, Parsinabung atau Parsaut harus mampu untuk memberi solusi yang terbaik, bukan sebaliknya justru menambah kekeruhan (baca: manggunturi, manggaori, manggugai) pada ulaon adat tersebut. Ulaon adat harus mampu melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan seperti ungkapan menyatakan “Sinuan bulu sibahen n alas, Sinuan partuturan sibahen na horas”. Artinya, ulaon adat adalah salah satu wadah untuk membangun dan mempererat harmoni hubungan keluarga dan kekerabatan, bukan sebaliknya.5.Menguasai bahasa Batak-Toba dengan baik dan benar (baca: marhata Batak na polin) karena seorang Parsinabung atau Parsaut adalah personifikasi lembaga adat-budaya Batak-Toba sehingga dituntut kemampuan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang merupakan salah satu unsur adat-budaya. Bila seorang Parsinabung atau Parsaut mampu berbicara dengan bahasa Batak-Toba tulen, termasuk pada saat penyampaian umpasa ataupun umpama maka jiwa, nurani kebatakan akan terasa tersentuh, bergelora, maka umpasa atau umpama akan bernas, penuh arti dan makna nilai-nilai luhur budaya original.
Sebaliknya, bila Parsinabung atau Parsaut berbahasa Batak-Toba sepotong-sepotong atau janggal akan mengundang kelucuan, serta perasaan geli (baca: geok) bagi pendengarnya. Menyampaikan umpasa atau umpama bukan sekadar untaian kata-kata seperti pantun, tetapi makna kata yang saling berkaitan menjadi sebuah petuah, wejangan, nasehat (baca: poda natur) serta permintaan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa terhadap yang punya hajatan (baca: hasuhuton).6.Tidak tamak dan rakus (baca: ndang mongkus, ndang ahut, ndang ormus) pada parjambaran, baik jambar hata, jambar uang maupun jambar daging (baca: jagal). Parsinabung atau Parsaut harus selalu mengutamakan kepentingan umum, bukan sebaliknya, menggunakan segala kesempatan untuk kepentingan pribadi. Bila seorang Parsinabung atau Parsaut selalu berkaedah untuk keuntungan pribadi akan menuai ocehan ataupun cibiran yang pada akhirnya menjatuhkan marwah atau martabat bersangkutan. Pendaulatan seseorang sebagai Parsinabung atau Parsaut harus disadari adalah sebuah pelimpahan kepercayaan dari suatu komunitas terhadap seseorang karena memiliki karakter unggul sesuai dengan aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya Batak-Toba. Ada adagium mengatakan,” ingkon pos do roha manjaga na pinadar”. Artinya, seseorang harus dipercayai menjaga titipan, jangan seperti pagar makan tanaman. Milik bersama tidak boleh dijadikan milik sendiri yang di dalam bahasa Batak-Toba disebut, ”ndang boi ripe-ripe gabe pangumpolan”.
Dumenggan do marbagi di bulung ni sarapit-pit unang apala mardua di bulung ni dulang manang sorat mamboan taban-taban. Artinya, lebih bagus sama rata sama rasa daripada mendapat banyak sementara yang lain tidak mendapat sama sekali (baca: adong na borat mamboan jambar, na deba luangan manang ndang dapotan) karena hal itu merupakan cerminan ketidakadilan serta diskriminasi.
7.Tidak reaktif dan paranoid (baca: ndang olo mananggoi hata, manang pantang so ummalo) yaitu mengomentari, menyela, mengkritik lawan bicara (baca: sesama Parsinabung atau Parsaut) karena merasa paling pintar dan paling tahu apa yang sedang diperbincangkan.
Seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu menjadi pendengar yang baik sekaligus pembicara yang baik pula. Mampu menahan diri walaupun ada hal-hal yang kurang tepat atau pas (baca: na hurang ampit, dasip, andos) di dalam pembicaraan lawan Parsinabung atau Parsaut. Tidak boleh mendikte lawan bicara, menggurui, apalagi mengintervensi karena hal itu akan menimbulkan ketersinggungan dan ketidaksenangan pihak lain.
8.Memiliki kemampuan diplomasi yang baik untuk mencari solusi permasalahan disebabkan kemungkinan perbedaan adat-istiadat antar komunitas dengan ilmu pengetahuan, kemampuan berdiplomasi, pemahaman dan kemahiran nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi kearifan lokal di dalam kesetaraan dan kesejajaran. Parsinabung atau Parsaut harus mampu membangun diplomasi, lobi, serta kesepakatan melalui musyawarah diatas fondasi saling menghormati, sehingga tidak ada salah satu pihak dibawah tekanan, intervensi maupun dominasi.
Dialog antar Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah komunikasi dua arah yang sejajar dan setara saling menguntungkan melahirkan kebahagiaan bersama, seperti umpama mengatakan, ”Sinuan bulu sibahen na las, sinuan partuturan sibahen na horas”. Segala upaya untuk menggapai hal itu menjadi ikhtiar dasar Parsinabung atau Parsaut pada suatu acara pesta atau ulaon adat.
9.Memahami psikologi massa,
10.Demokratis (baca: hata ninta), yakni memberi ruang partisipasi keterlibatan para pihak karena keterlibatan seluruh pihak di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba merupakan sukses pelaksanaan pesta atau ulaon adat yang mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang punya hajatan (baca: hasuhuton).
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lupa bahwa parjambaran pada Batak-Toba ada tiga jenis, yakni; jambar hata, jambar juhut, dohot jambar hepeng (baca: berbicara, daging, dan uang), sehingga apabila pihak-pihak yang seharusnya berhak mendapatkan parjambaran terabaikan akan timbul ekses negatif dikemudian hari. Dalam bahasa Batak-Toba disebut “ di tean mangolu, di tanom jongjong, di apus bulung rata”. Artinya, dihitung tetapi tidak diperhitungkan atau tidak berarti apa-apa. Hal ini sangat menyakitkan karena kedatangannya pada sebuah pesta atau ulaon adat seperti “raja naro” yaitu tamu tak diundang. Selain daripada itu, seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut harus selalu berusaha menghindarkan kata-kata menurut saya, aku (baca: ningku), tetapi menurut kami, kita (baca: hami, hita) karena apa yang diutarakan seorang Parsinabung, Parsinabul, Parsaut adalah mengatasnamakan komunitas.
Dari berbagai kualifikasi seperti diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi seorang Parsinabung atau Parsaut di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba sangat lah strategis karena itu harus merupakan pilihan putera-putera terbaik dari suatu komunitas yang bertindak atas nama komunitas tersebut.
Karena merupakan personifikasi komunitas maka seorang Parsinabung atau Parsaut perlu dipersiapkan melalui kaderisasi terencana, terprogram, dan berkesinambungan agar tidak terputus mata rantai regenerasi alamiah. Artinya, Parsinabung atau Parsaut yang mumpuni tidak pernah kering pada suatu komunitas tertentu.
Parsinabung atau Parsaut tidak boleh lagi hanya mengandalkan pengetahuan yang sering dilihat atau terjadi (baca: na niida, na somal diulahon halak) seperti ungkapan yang mengatakan, ”Eme na masak digagat ursa, ima na masa ima taula”, tetapi benar-benar melalui penggalian nilai-nilai luhur adat-budaya agar seluruh pelaksanaan pesta atau ulaon adat-budya tidak hanya bermakna seremonial buang-buang waktu dan biaya saja.
Peranan Parsinabung
Parsinabul atau Parsaut untuk mengatur, mengarahkan, memandu, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi ulaon adat-budya sangatlah diperlukan dengan tetap mempertahankan, melestarikan nilai-nilai luhur original adat-budaya walaupun singkat padat, tetapi tepat sasaran, sarat arti dan makna. Dengan demikian pelaksanaan adat-budaya bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien tetapi tetap lestari nilai original.
Parsinabung atau Parsaut adalah sistem demokrasi musyawarah bertingkat berjenjang yang belakangan ini dikenal paradigma dari bawah ke atas (Bottom Up) merupakan salah satu nilai adat-budaya Batak-Toba yang perlu digali maksimal menjadi sebuah model manajemen publik ataupun pemerintahan demokratis seperti demokrasi Pancasila yang dianut republik ini.
Nilai-nilai luhur adat-budaya seperti ini tumbuh subur ditengah-tengah komunitas masyarakat bumi Nusantara, dan ada baiknya jika diinventarisasi maksimal untuk memperkuat hasanah budaya nasional, dan tidak mustahil akan menjadi kajian akademik bermakna luar biasa dalam sistem pemerintahan berdasar kearifan lokal. Horas !
Penulis: Drs. Thomson Hutasoit
Sumber: Blog Redaksi Deteksi TINJAKSTAR Mei 19, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Apa dan Siapa Parsinabung atau Parsaut dalam Budaya Adat Batak
Posted by FACE BATAK on Kamis, 19 Mei 2016
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia



















