Horas - Tata cara adat batak toba. Ada beberapa maca tata cara ada batak toba, yang salah satunya adalah Paratur ni parhundulon (Posisi Duduk).
Didalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Paratur ni parhundulon atau posisi duduk adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.
Petuah nenek moyang kita:
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:
amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
- LEBANLEBAN TUTUR
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.
Ini lah tata cara adat batak toba. TINJAKSTAR Februari 09, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
Didalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Paratur ni parhundulon atau posisi duduk adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.
Petuah nenek moyang kita:
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:
amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
- LEBANLEBAN TUTUR
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.
Ini lah tata cara adat batak toba. TINJAKSTAR Februari 09, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
Hubungan Sitohang, Siringo-ringo, Situmorang dengan Si Pitu Ama
Sitohang adalah salah satu marga yang turun dari seorang leluhur yang dikenal dengan nama Ompu Tuan Situmorang. Marga-marga lain yang lahir dari Op. Tuan Situmorang adalah Situmorang sendiri, Siringo-ringo dan Sitohang. Op. Tuan Situmorang adalah anak laki-laki pertama dari ketujuh anak Si Raja Lontung.
Op. Tuan Situmorang memiliki dua orang anak yaitu: Panoparaja dan Op. Pangaribuan. Panopa Raja memiliki dua anak yaitu Op. Niambolas dan Parhujobung. Sedangkan Op. Pangaribuan hanya memiliki seorang anak yaitu Raja Babiat. Op. Niambolas memiliki dua anak yaitu Lumban Pande dan Lumban Nahor. Parhujobung memiliki dua anak yaitu Suhutnihuta dan Tuan Ringo (Siringo-ringo). Sedangkan Raja Babiat memiliki tiga orang anak yaitu: Dari Mangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga) dan Op. Bonanionan (Sitohang Toruan).Ompu tuan Situmorang kepada ketujuh cicitnya Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta (ketiganya hingga saat ini tetap menggunakan marga SITUMORANG), Siringo-ringo dan ketiga saudaranya yang lain Dori Mangambat, Raja Itubungna dan Ompu Bonanionan (ketiga yang terakhir ini umumnya saat ini menggunakan marga SITOHANG) berpesan agar keturunan ketujuh cicitnya itu dipanggil dengan pomparan ni “SIPITU AMA”.
Op. Tuan Situmorang selanjutnya berpesan juga kepada ketujuh cicitnya itu agar mereka semua memperlakukan anak yang lain sebagai anak diri sendiri: “Sisada lulu di anak, sisada lulu diboru” . Dan bahwa keturunan mereka bertujuh tidak boleh saling menikah satu sama lain sampai akhir zaman. Ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi mengiyakan dan menerima pesannya sebagai padan (janji).Bagi orang Batak janji dianggap lebih tinggi tingkatnya dari hukum tertulis. Seperti umpama Batak berikut ini:
Tanggo uratni bulung
Tanggoan uratni hotang
Tanggo nidok ni uhum
Tanggoan nidokni padan
Janji ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang inilah yang hingga saat ini dipegang teguh oleh keturunan mereka. Namun seringkali karena penafsiran yang berbeda-beda, keturunan ketujuh leluhur ini sering mengalami perselisihan mengenai bagaimana mereka seharusnya melakukan kegiatan adat dan perkumpulan. Keturunan keempat cicit yang terdahulu (dari satu nenek yang namanya Parhujobung) menganggap bahwa semua kegiatan adat keturunan ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi harus menggunakan nama yang satu yaitu “Pomparan ni Op. Tuan Situmorang Sipitu Ama” yang seringkali disingkat menjadi Pomparan ni Sipitu Ama atau seringkali cuma disebut Punguan SITUMORANG. Tidak boleh ada acara adat atau perkumpulan selain yang menggunakan nama Op. Tuan SItumorang dan harus dihadiri oleh keturunan ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang. Malah ada pula sebagian Situmorang yang menganggap SITOHANG bukanlah marga. Namun keturunan tiga cicit Op. Tuan Situmorang yang terakhir (dari satu nenek Op. Pangaribuan) merasa mereka sudah resmi diberi marga sendiri oleh Op. Tuan Situmorang di depat raja-raja adat pada masanya yaitu marga SITOHANG sehingga merasa wajib untuk memajukan nama marga itu sendiri. Keturunan SITOHANG tetap merasa menghormati dan terikat dengan padan leluhur, tetapi merasa berhak untuk mengatur sendiri rumah tangganya dan mengurus perkumpulan marga SITOHANG. Lagipula keturunan marga SITOHANG sering kecewa karena nama perkumpulan SIPITUA AMA kadang-kadang diubah menjadi hanya perkumpulan SITUMORANG saja. Sitohang merasa nama perkumpualn seharusnya tetap POMPARAN NI OMPU TUAN SITUMORANG SIPITU AMA atau kalau disingkat SIPITUA AMA saja. Kalau punguan dinamai SITUMORANG saja maka SITOHANG merasa tidak perlu ikut karena SITOHANG adalah marga sendiri seperti halnya SITUMORANG.
Perbedaan padangan seperti itu seringkali terjadi baik saat berlangsungnya acara adat maupun di luar acara adat. Seperti yang dialami dan dituliskan oleh Ir. Nimrod Sitohang (Ama Naomi) dari Batam berikut ini.
Suatu pagi Maret tahun 2007 jam 8.00 WIB. Saya berangkat menuju simpang Kapling Lama Batu Aji mau menggantungkan spanduk Pesta Bona Taon SITOHANG di Batam. Kebetulan Pesta Bona Taon Sitohang diadakan di gedung aula gereja HKI Batu Aji lama Batam. Begitu tali naik, datang seorang bapak, sepertinya orang kantoran PNS, dan dia bertanya dengan sinisnya, “Memang Sitohang udah punya pesta sendiri ya?” Dengan cuek sambil asik mengikat tali berikutnya saya katakan, “Ya…amang..ini baru perdana di Batam.” “Kenapa tidak bergabung sama Situmorang?” kata orang tersebut bertanya lagi. Ini pertanyaannya yang kedua. “Sitohang tetap koq ikut di Situmorang…dan saya sendiri ikut kasih toktok ripe,” jawab saya. Lalu orang tersebut melanjutkan pertanyaan yang ketiga, “Seharusnya jangan bikin pesta bona taon sendiri.” Lalu saya jawab “Di pesta bona taon Situmorang, yang jadi subjeknya hanya Situmorang, yang ini subjeknya Sitohang…” Lalu orang tersebut bertanya lagi,”Kamu Sitohang dari mana?” Saya jawab,” Baringin Parlilitan.” Akhirnya pertemuan kami yang tidak direncanakan itu bubar begitu saja dan tanpa ada sapa sapaan lagi. Maret 2008, jam 19.00 WIB. Saya kembali kebagian tugas menggantung spanduk acara Pesta Bona Taon Punguan Sitohang dohot Boruna se Batam tahun 2008 di Cafe Martabe Batu Aji. Kebetulan lagi nyari tali plastik untuk ngikat, dan pergi ke kedai dekat Cafe untuk membeli tali. Saya : “Horas amang.. mau beli tali.” Saya memanggil amang kepada pemilik kedai itu sebab kelihatannya bapak itu sudah tua. Yang punya kedai: “Boasa maramang ho tuahu?” orang tua tersebut bertanya dengan nada emosi..(artinya: kenapa kamu panggil bapak kepada saya?) Saya : “Lho…?” sambil merasa aneh, “Koq nanya gitu amang? Jadi saya harus manggil apa?” Pemilik kedai: “Marga aha ho?” (Kamu marga apa). Saya: “Sitohang. kalau bapak?” Pemilik kedai: “Sipituama!” Saya: “Sipituama na papigahon hamu?” (Anda sipitu ama yang keberapa?) Pemilik kedai: “Dang porlu botoonmu!” (Kamu tidak perlu tahu!) Saya: “Kenapa?” Pemilik kedai: “DANG PORLU !!!”, katanya dengan suara tinggi sambil meninggalkan saya dan masuk ke dalam rumahnya. Sambil masuk ke dalam rumahnya dan sya mengejarnya sambil bertanya, “Marga aha do huroha ho bapa tua sian sipitu ama i?” (Marga rupaya bapak tua dari Sipitu Ama itu?) Pemilik kedai dengan mata merah dan suara tinggi berkata, “Dang adong marga Sitohang!.” (Tidak ada marga Sitohang). Saya: “Itu salah..dan saya tidak terima.” Pemilik kedai: “Asa diboto ho..Situmorang do sude termasuk Siringo.” (Supaya kamu tahu semua itu adalah Situmorang termasuk Siringo-ringo). Saya : “Sitohang itu marga.” Ditengah emosi kami berdua akhirnya istrinya keluar dari dapur. Saya : “Horas omak tua. Sitohang do au.” (Horas ibu tua, saya Sitohang) Ibu tua: “Sarupa doi, alai dokma Situmorang nian..” (Itu sama saja. Tapi katakanlah SItumorang) Saya: “Ya sudah,, saya Sitohang dan saya Situmorang. Boru aha do omak tua?” (Ibu tua puteri marga apa?) Ibu tua: “Boru Sinaga.” (Puteri marga Sinaga) Saya: “Isteriku juga boru Sinaga Bonor.” Ibu tua; “Sarupa ma tu ahu” (Sama dengan saya) Akhirnya saya menyalami bapak tua itu dan saya katakan,”Horas pariban..ro hamu tu pesta bona ton ni Sinaga da. Kebetulan adong uddangan di au, hu taruhon pe sogot.” (Horas saudaraku, datanglah ke pesta buka tahun marga Sinaga ya. Kebetulan undangannya ada sama saya. Besok akan saya antar.” Pemilik kedai: “Adong do di au.” (Saya punya juga) Akhirnya kami berpelukan dan suasana berubah menjadi mengharukan…. Saya: “Mauliate ma..” (Terimakasih) Ibu tua: “Nion ma baen tali na, “ katanya sambil memberi tali plastik yang sangat bagus….(Inilah buat talinya)
Sumber:http://sitohanguntuktapanuli.wordpress.com/ TINJAKSTAR Juli 19, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Hubungan Sitohang, Siringo-ringo, Situmorang dengan Si Pitu Ama
Posted by FACE BATAK on Kamis, 19 Juli 2012
Horas - Danau yang terletak di provinsi Sumatera Utara ini menyimpan berbagai macam keindahan dan panorama serta keanekaragaman hayati didalamnya. Danau ini merupakan danau terbesar di kawasan Asia tenggara dan juga sangat terkenal akan kebudayaan khas dari etnik masyarakat batak dan juga pemandangan alam dari pulau Samosirnya.
Danau Toba merupakan kawasan objek wisata yang sangat terkenal di Sumatera Utara dan tidak hanya sebagai kawasan wisata saja, tetapi sudah menjadi tempat pemukiman padat penduduk. Kehidupan masyarakat disana pun semakin ramai seiring peningkatan jumlah penduduk yang tiap tahun bertambah banyak. Rata - rata penduduk disekitar danau berprofesi sebagai penjala ikan, petani, wirausahawan, membuka hotel dan ada juga yang berkerja pada bidang instansi pemerintah maupun swasta. Untuk mencari tempat penginapan pun tidak lah sulit lagi, karena disana sudah banyak hotel dan tempat penginapan yang bagus dan memiliki pemandangan alam tersendiri.
Maka dari itu banyak turis datang berkunjung kesana. Baik itu turis lokal dan turis mancanegara yang singgah untuk menikmati keindahan danau Toba. Keindahan danau Toba ini pun menjadi omset pemasukan bagi devisa negara, terutama dalam bidang pariwisata.
Tapi sekarang, siapa yang menyangka, danau yang indah ini sudah mulai tercemar akan limbah - limbah hasil pengolahan masyarakat sekitar danau. Hasil dari limbah tersebut dapat berupa pembuangan sampah baik dari rumah - rumah penduduk, sampah anorganik yang banyak berserakkan mulai dari kantong plastik, kaleng minuman dan berbagai jenis lainnya. Berbagai usaha pun sudah mulai dikembangkan oleh masyarakat dan juga pemerintah untuk memajukan kembali pariwisata di Sumatera Utara, khususnya kawasan wisata Danau Toba.
Belakangan tahun ini, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan ini sudah mulai berkurang, paling sering yang berkunjung adalah wisatawan lokal maupun luar daerah. Tentu saja hal ini meresahkan bagi masyarakat sekitar. Bagaimana tidak, dengan berkurangnya kunjungan wisatawan maka omset pendapatan mereka semakin berkurang dan itu akan mengancam kelangsungan hidup mereka. Pelestarian lingkungan di kawasan objek wisata danau toba ini sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Dampak dari akibat dari rusaknya ekosistem alam di sekitar danau tersebut menyebabkan penurunan drastis dari kunjungan wisata kesana.Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan keindahan alam danau tersebut, diantaranya memasang poster "DANAU TOBA BUKANLAH TEMPAT SAMPAH" yang di pajang di setiap titik kunjungan dan di berbagai tempat, tak terkecuali alat transportasi penyeberangan menuju pulau Samosir. Hal ini dilakukan karena banyaknya sampah yang mengapung di tengah danau sehingga menyulitkan petugas untuk membersihkan sampah tersebut.
Selain dari itu untuk melestarikan lingkungan juga disediakan tempat sampah umum. Tapi sayang nya tempat sampah itu ada beberapa yang tidak berfungsi lagi, alias rusak bahkan tidak terpelihara sama sekali. Sungguh saya merasa kecewa dengan hal itu. Padahal kalau seandainya masyarakat mau merawat dan menjaga kelestarian lingkungan pasti mereka akan sejahtera.
Tidak hanya itu, gerakan menanam 1000 pohon pun dilakukan disana. Tujuan diadakannya kegiatan penanaman pohon adalah menciptakn kembali suasana hutan sejuk disana, sebab disana sudah ada penebangan liar dan pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian baru di perbukitan. Manfaat lain dari kegiatan ini selain menciptakan suasana yang sejuk dan asri juga hasil dari penanaman pohon ini dapat kita ambil sendiri. Tapi tentu saja kita harus ikut menyumbang 1 pohon untuk kegiatan ini. Pohon yang ditanam pun bervariasi dapat berupa buah - buahan, pohon cemara, dan tanaman hijau lainnya. Kegiatan ini dilakukan di lokasi taman Eden di kawasan Parapat.
Gerakan pembersihan danau Toba juga dilakukan oleh aktivis masyarakat sekitar danau. Salah satu dari mereka adalah Bu Annette Horschmann. Ibu ini berjuang demi kelangsungan pelestarian lingkungan danau. Beliau juga mengabdi untuk membantu kegiatan Go Green di kawasan danau. Beliau juga ikut membantu dalam kegiatan sosial dimasyarakat seperti pembersihan tanaman eceng gondok yang semakin meningkat tajam perkembanganya, kegiatan tidak membuang sampah di danau, pengolahan limbah sampah eceng gondok di lingkungan masyarakat, pengolahan limbah dari keramba - keramba ikan di danau (pembudidayaan ikan) dan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan sosial untuk mendukung penghijauan di lingkungan sekitar danau.
Beliau juga mengajarkan masyarakat sekitar danau menjadi masyarakat yang cerdas dan mampu mengolah seluruh hasil pembudidayaan ikan dan pertanian. Sebagai contoh konkret dan sudah dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah pengolahan ganggang menjadi makanan untuk ternak masyarakat. Pengolahanya pun sederhana dan tidak perlu biaya mahal. Cukup bermodalkan pisau pemotong dan kayu sebagai alas untuk memotong ganggang tadi menjadi halus.
Saya rasa beliau pantas mendapatkan penghargaan untuk melestarikan lingkungan alam Danau Toba. Berkat kegigihan dan perjuangan yang dilakukan oleh beliau, maka Danau Toba sekarang sudah membenahi diri dan siap untuk menerima kunjungan wisatawan kesana. Dan berkat dari usaha keras beliau maka masyarakat dI Danau Toba sudah sadar akan pelestarian BONAPASOGIT, istilah lainnya adalah kampung halaman dalam bahasa batak.
Ada juga beberapa masyarakat yang mau menyumbang untuk mengembangkan keanekaragaman hayati di sekitar danau. Diantaranya pembudidayaan ikan Mujair, ikan Pora -Pora dan Udang. Sungguh sangat membantu sekali penyumbangan bibit ikan dan udang tersebut. Jadi bantuan tersebut dapat membantu kehidupan masyarakat sekitar Danau Toba. Dan apabila masyarakat dan pemerintah mau bergerak cepat maka kawasan wisata di Sumatera utara khususnya Danau Toba akan mendatangkan banyak pengunjung. Bisa jadi, Danau Toba mendapat kepopularitasannya kembali seperti dulu dengan jumlah wisatawan meningkat dengan pesat.
Tidak hanya untuk kawasan danau Toba saja yang perlu dilestarikan, tetapi juga kawasan wisata alam lain yang terdapat di berbagai daerah di seluruh Indonesia harus dikembangkan semua potensi yang tekandung didalamnya. Supaya peningkatan devisa negara mencapai target yang diharapkan dan juga moto " VISIT INDONESIA 2012/2013 " akan terwujud sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia.
Kalau alam kita terjaga kelestariannya, maka kehidupan masyarakat juga akan semakin baik dan meningkat kedepannya.
GONDANG NAPITU :
1. Gondang mula-mula
2. Gondang somba-somba
3. Gondang sampur marmeme
4. Gondang didang-didang
5. Sampur marorot
6. Gondang simonang-monang
7. Gondang sitio-tio
Gondang napitu on dipangido hasuhuton ditingki mambuat tua ni gondang.
Mangihuthon hatorangan ni angka natua-tua ndang apala sipangidoon ni suhut gondang hasahatan, Raja panggohi do mangido i.
Gondang tu Mulajadi taringot tu panompa na dihasiangan dohot hajolmaon.
8. Gondang Debata Mulajadi
9. Gondang Debata Guru
10. Gondang Debata Asi-Asi
11. Gondang Mula Jadi
12. Gondang mula horas
13. Gondang mula iang
14. Gondang mula paningaon
15. Gondang mula songti
Gondang pangidoan ni harajaon hagabeon dohot parhorasan
16. Gondang siatur maranak
17. Gondang siatur marboru
18. Gondang siatur marpahompu
19. Gondang siatur marnini marnono
20. Gondang siatur mar ondok-ondok indik-indik
21. Gondang namarhaha maranggi
22. Gondang sibane-bane
23. Gondang saurmatua
24. Gondang saudara
25. Gondang harajaon
26. Gondang satahi saoloan
27. Gondang amana/boruna
28. Gondang parjugia sopipot
29. Gondang paramak sobalon on
30. Gondang parrambuan so ra mahiang
31. Gondang siantan sidabuan siboto buhu ni taon
32. Gondang siapul na tangis sielek na mardandi
33. Gondang sahala pangajari/panuturi
34. Gondang sidas-das boru muli
35. Gondang siapoi anak mangoli
36. Gondang olop-olop
37. Gondang rompulima hotang marulak
38. Gondang mangaliat
39. Gondang sunini ampang naopat
40. Gondang tarsingot tusahala dohot napinarsahalaan ni mula jadi
41. Gondang batara guru (tuhan debata)
42. Gondang bala bulan
43. Gondang debata sori
44. Gondang sori mangaraja
45. Gondang sorba di banua
46. Gondang sibagot ni pohan
47. Godnang sariburaja
48. Gondang siraja biak-biak
49. Gondang puraja bonang-bonang
50. Gondang sijonggi raja pareme
51. Gondang Simarimbulubosi
52. Gondang Singamangaraja
53. Gondang patuan nagari patuan anggi
54. Gondang Sagala raja
55. Gondang Silahisabungan
56. Gondang pagar ni aji
57. Gondang Nairasaon
58. Gondang dung dang soaloon mataniari sosuharon
59. Gondang Raja Buntal
60. Gondang Raja Uti
61. Gondang Raja Mangalambung
62. Gondang sipongki nangolngolan
63. Gondang tuan ni api
64. Gondang sijonggi paok-paok
65. Gondang sijonggi bujur
66. Gondang tuan jori ni tangan
67. Gondang tampar dasar
68. Gondang pangurason
69. Gondang pane nabolon
70. Gondang pusuk buhit
71. Gondang sianjur mula-mula
72. Gondang simanuk-manuk
73. Gondang dolok surungan
74. Gondang dolok tolong
75. Gondang banua holing
76. Gondang naga baling
77. Gondang padoha
78. Gondang taringot boru (naung dianggap dewi)
79. Gondang siboru deak parujar
80. Gondang si boru donda hatahutan
81. Gondang siboru saniang naga dilaut
82. Gondang si boru Naipospos
83. Gondang siboru daeng namora
84. Gondang siboru parmual sitio-tio
85. Gondang siboru pinta maomasan
86. Gondang siboru saroding
87. Gondang siboru parhorasan
88. Gondang siboru pareme
89. Gondang boru nasindar dolok
90. Gondang siboru tumbaga
91. Gondang siboru lopian nauli
92. Gondang sipiso somalim
93. Gondang situan jori ni tangan
94. Gondang siboru tapiomas palangki
Goar-goar ni gondang naposo bulung
95. Gondang siburuk
96. Gondang sibane doli
97. Gondang sitapitola
98. Gondang siboru illa-illa
99. Gondang siboru enggan
100. Gondang siboru sanggul miling-iling
101. Gondang sibunga jambu
102. Gondang pinasa sidung-dungon
103. Gondang sibintang purasa
104. Gondang silote dolok
105. Gondang alit-alit aman jabatan
106. Gondang marhusip
107. Gondang parhabang ni siruba
108. Gondang sahali tuginjang sahali tutoru
109. Gondang tohur-tohur ni bajar-bajar langit somatombuk tano somagang-gang
110. Gondang pidong patia raja
111. Gondang pidong imbulu buntal
112. Gondang anduhur titi, anduhur tabu
113. Gondang sipitu dai
114. Gondang ni pargonsi sisia sauduran pulik pulik pandohan.
Goar-goar ni gondang monsak
115. Gondang haro-haro mandailing
116. Gondang silima-lima ni hurlang
117. Gondang siratutuslimapulu
118. Gondang tongging
119. Gondang ni napuran silima sabobohan sisada haroburan
Angka onma goar-goar ni gonsi naung huparguruhon sian angka dongan pargonsi dohot sian angka natua-tua naumboto ruhut ni gonsi. Na bersumber sian P. SITORUS [Pargonsi sian Parsambilan Kec. Silaen]. TINJAKSTAR Juni 18, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
1. Gondang mula-mula
2. Gondang somba-somba
3. Gondang sampur marmeme
4. Gondang didang-didang
5. Sampur marorot
6. Gondang simonang-monang
7. Gondang sitio-tio
Gondang napitu on dipangido hasuhuton ditingki mambuat tua ni gondang.
Mangihuthon hatorangan ni angka natua-tua ndang apala sipangidoon ni suhut gondang hasahatan, Raja panggohi do mangido i.
Gondang tu Mulajadi taringot tu panompa na dihasiangan dohot hajolmaon.
8. Gondang Debata Mulajadi
9. Gondang Debata Guru
10. Gondang Debata Asi-Asi
11. Gondang Mula Jadi
12. Gondang mula horas
13. Gondang mula iang
14. Gondang mula paningaon
15. Gondang mula songti
Gondang pangidoan ni harajaon hagabeon dohot parhorasan
16. Gondang siatur maranak
17. Gondang siatur marboru
18. Gondang siatur marpahompu
19. Gondang siatur marnini marnono
20. Gondang siatur mar ondok-ondok indik-indik
21. Gondang namarhaha maranggi
22. Gondang sibane-bane
23. Gondang saurmatua
24. Gondang saudara
25. Gondang harajaon
26. Gondang satahi saoloan
27. Gondang amana/boruna
28. Gondang parjugia sopipot
29. Gondang paramak sobalon on
30. Gondang parrambuan so ra mahiang
31. Gondang siantan sidabuan siboto buhu ni taon
32. Gondang siapul na tangis sielek na mardandi
33. Gondang sahala pangajari/panuturi
34. Gondang sidas-das boru muli
35. Gondang siapoi anak mangoli
36. Gondang olop-olop
37. Gondang rompulima hotang marulak
38. Gondang mangaliat
39. Gondang sunini ampang naopat
40. Gondang tarsingot tusahala dohot napinarsahalaan ni mula jadi
41. Gondang batara guru (tuhan debata)
42. Gondang bala bulan
43. Gondang debata sori
44. Gondang sori mangaraja
45. Gondang sorba di banua
46. Gondang sibagot ni pohan
47. Godnang sariburaja
48. Gondang siraja biak-biak
49. Gondang puraja bonang-bonang
50. Gondang sijonggi raja pareme
51. Gondang Simarimbulubosi
52. Gondang Singamangaraja
53. Gondang patuan nagari patuan anggi
54. Gondang Sagala raja
55. Gondang Silahisabungan
56. Gondang pagar ni aji
57. Gondang Nairasaon
58. Gondang dung dang soaloon mataniari sosuharon
59. Gondang Raja Buntal
60. Gondang Raja Uti
61. Gondang Raja Mangalambung
62. Gondang sipongki nangolngolan
63. Gondang tuan ni api
64. Gondang sijonggi paok-paok
65. Gondang sijonggi bujur
66. Gondang tuan jori ni tangan
67. Gondang tampar dasar
68. Gondang pangurason
69. Gondang pane nabolon
70. Gondang pusuk buhit
71. Gondang sianjur mula-mula
72. Gondang simanuk-manuk
73. Gondang dolok surungan
74. Gondang dolok tolong
75. Gondang banua holing
76. Gondang naga baling
77. Gondang padoha
78. Gondang taringot boru (naung dianggap dewi)
79. Gondang siboru deak parujar
80. Gondang si boru donda hatahutan
81. Gondang siboru saniang naga dilaut
82. Gondang si boru Naipospos
83. Gondang siboru daeng namora
84. Gondang siboru parmual sitio-tio
85. Gondang siboru pinta maomasan
86. Gondang siboru saroding
87. Gondang siboru parhorasan
88. Gondang siboru pareme
89. Gondang boru nasindar dolok
90. Gondang siboru tumbaga
91. Gondang siboru lopian nauli
92. Gondang sipiso somalim
93. Gondang situan jori ni tangan
94. Gondang siboru tapiomas palangki
Goar-goar ni gondang naposo bulung
95. Gondang siburuk
96. Gondang sibane doli
97. Gondang sitapitola
98. Gondang siboru illa-illa
99. Gondang siboru enggan
100. Gondang siboru sanggul miling-iling
101. Gondang sibunga jambu
102. Gondang pinasa sidung-dungon
103. Gondang sibintang purasa
104. Gondang silote dolok
105. Gondang alit-alit aman jabatan
106. Gondang marhusip
107. Gondang parhabang ni siruba
108. Gondang sahali tuginjang sahali tutoru
109. Gondang tohur-tohur ni bajar-bajar langit somatombuk tano somagang-gang
110. Gondang pidong patia raja
111. Gondang pidong imbulu buntal
112. Gondang anduhur titi, anduhur tabu
113. Gondang sipitu dai
114. Gondang ni pargonsi sisia sauduran pulik pulik pandohan.
Goar-goar ni gondang monsak
115. Gondang haro-haro mandailing
116. Gondang silima-lima ni hurlang
117. Gondang siratutuslimapulu
118. Gondang tongging
119. Gondang ni napuran silima sabobohan sisada haroburan
Angka onma goar-goar ni gonsi naung huparguruhon sian angka dongan pargonsi dohot sian angka natua-tua naumboto ruhut ni gonsi. Na bersumber sian P. SITORUS [Pargonsi sian Parsambilan Kec. Silaen]. TINJAKSTAR Juni 18, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Horas - Setelah lama Vakum akhirnya web Heritage keluarga SIRINGORINGO akhirnya kembali juga dengan Update terbaru, dengan maksud untuk memperkenalkan Web ini saya memposting di Horas.web.id agar Web heritage siringoringo lebih dikenal banyak masyarakat terutama Keluarga Besar Siringoringo dan para perantau di luar kota mungkin yang kurang memahami arti keluarga dalam Marga tersebut, ,melalui web ini kita bisa mengerti Tarombo dari marga SIRINGORINGO, keturunan-keturunan dan para pendahulu kita (nenek moyang kita)
Saya perkenalkan singkat web Heritage siringoringo
Situs ini dibuat dengan menggunakan MyHeritage.com. ini adalah sebuah sistem yang sangat hebat yang memungkinkan siapa saja dapat berkomunikasi dan dan mengetahui hubungan keluarga.
dengan harapan kita dapat memberikan masukan termasuk melengkapi tarombo keluarga besar Siringoringo dengan cara click di sini untuk mengkontak admin (revoldi siringoringo).
Nah untuk langsung bergabung dengan web HERITAGE SIRINGORINGO langsung saja klik disini
foto diambil dari Facebook keluarga Siringoringo
Dengan harapan melalui postingan ini web Heritage Siringoringo semakin ramai dan kita Siringoringo , berkumpul bersama, berbagi bersama... thanks. Horas, njuahjuah, jahowu
Keluarga besar siringoringo , marga siringoringo, tarombo siringoringo, warisan siringoringo, partuturan siringoringo, pomparan siringiringo, Tuan Ringo
Jika artikel ini menurut anda bermanfaat silahkan di sebarkan kepada keluarga siringoringo, dengan harapan seluruh keluarga siringoringo mengerti akan Siringoringo,.. Terima kasih - Via Kevinringo TINJAKSTAR Juni 18, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Saya perkenalkan singkat web Heritage siringoringo
Situs ini dibuat dengan menggunakan MyHeritage.com. ini adalah sebuah sistem yang sangat hebat yang memungkinkan siapa saja dapat berkomunikasi dan dan mengetahui hubungan keluarga.
dengan harapan kita dapat memberikan masukan termasuk melengkapi tarombo keluarga besar Siringoringo dengan cara click di sini untuk mengkontak admin (revoldi siringoringo).
Nah untuk langsung bergabung dengan web HERITAGE SIRINGORINGO langsung saja klik disini

Dengan harapan melalui postingan ini web Heritage Siringoringo semakin ramai dan kita Siringoringo , berkumpul bersama, berbagi bersama... thanks. Horas, njuahjuah, jahowu
Keluarga besar siringoringo , marga siringoringo, tarombo siringoringo, warisan siringoringo, partuturan siringoringo, pomparan siringiringo, Tuan Ringo
Jika artikel ini menurut anda bermanfaat silahkan di sebarkan kepada keluarga siringoringo, dengan harapan seluruh keluarga siringoringo mengerti akan Siringoringo,.. Terima kasih - Via Kevinringo TINJAKSTAR Juni 18, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.
Petuah nenek moyang kita:
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:
amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
- LEBANLEBAN TUTUR
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya. TINJAKSTAR September 26, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.
Petuah nenek moyang kita:
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:
amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
- LEBANLEBAN TUTUR
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya. TINJAKSTAR September 26, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
PARNA (Pomparan ni si Raja Naiambaton)
Marga-marga batak yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton (PARNA) yaitu:
1. Bancin ( sigalingging )
2. Banurea ( sigalingging )
3. Boangmenalu ( sigalingging)
4. Brampu ( sigalingging )
5. Brasa ( sigalingging )
6. Bringin ( sigalingging )
7. Dalimunthe
8. Gajah ( sigalingging )
9. Garingging ( sigalingging )
10. Ginting Baho
11. Ginting Beras
12. Ginting Capa
13. Ginting Guruputih
14. Ginting Jadibata
15. Ginting jawak
16. Ginting manik
17. Ginting Munthe
18. Ginting Pase
19. Ginting Sinisuka
20. Ginting Sugihen
21. Ginting Tumangger
22. Haro
23. Kombih (sigalingging )
24. Maharaja
25. Manik Kecupak (sigalingging)
26. Munte
27. Nadeak
28. Nahampun
29. Napitu
30. Pasi
31. Pinayungan (sigalingging ? )
32. Rumahorbo
33. Saing
34. Saraan (sigalingging )
35. Saragih Dajawak
36. Saragih Damunte
37. Saragih Dasalak
38. Saragih Sumbayak
39. Saragih Siadari
40. Siallagan
41. Siambaton
42. Sidabalok
43. Sidabungke
44. Sidabutar
45. Saragih Sidauruk
46. Saragih Garingging
47. Saragih Sijabat
48. Simalango
49. Simanihuruk
50. Simarmata
51. Simbolon Altong
52. Simbolon Hapotan
53. Simbolon Pande
54. Simbolon Panihai
55. Simbolon Suhut Nihuta
56. Simbolon Tuan
57. Sitanggang Bau
58. Sitanggang Gusar
59. Sitanggang Lipan
60. Sitanggang Silo
61. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 ( sigalingging )
62. Sitio
63. Tamba
64. Tinambunan
65. Tumanggor
66. Turnip
67. Turuten
Terdapat perbedaan pada jumlah marga yang masuk dalam kelompok Parna ini, hal ini disebabkan karena adat kebudayaan Batak yang dapat menggunakan marga leluhur, percabangan marga kakek, ayah, atau bahkan percabangan marga baru. Tetapi walau berbeda marga, semuanya mengaku dipersatukan oleh ucapan di atas (”Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”).
Raja NaiambatonSatu tulisan menyatakan bahwa Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam dari Raja Batak, seperti berikut: Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton
Pomparan ni si Raja Naiambaton biasa disingkat menjadi PARNA, marga-marga yang dipercayai sebagai keturunan dari Raja Naiambaton yang karenanya tidak boleh menikah satu dengan yang lainnya. Hal ini dipertegas dalam tulisan-tulisan pustaha Batak yang berbunyi “Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru” dalam bahasa Batak Toba, yang dapat diartikan dengan ”Keturunan Raja Naiambaton adalah sama-sama pemilik putra dan putri,” yang dalam arti lebih luas lagi dapat diartikan bahwa ”Putra-putri keturunan marga-marga Naiambaton tidak boleh menikah satu sama lain.” TINJAKSTAR September 26, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
Marga-marga batak yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton (PARNA) yaitu:
1. Bancin ( sigalingging )
2. Banurea ( sigalingging )
3. Boangmenalu ( sigalingging)
4. Brampu ( sigalingging )
5. Brasa ( sigalingging )
6. Bringin ( sigalingging )
7. Dalimunthe
8. Gajah ( sigalingging )
9. Garingging ( sigalingging )
10. Ginting Baho
11. Ginting Beras
12. Ginting Capa
13. Ginting Guruputih
14. Ginting Jadibata
15. Ginting jawak
16. Ginting manik
17. Ginting Munthe
18. Ginting Pase
19. Ginting Sinisuka
20. Ginting Sugihen
21. Ginting Tumangger
22. Haro
23. Kombih (sigalingging )
24. Maharaja
25. Manik Kecupak (sigalingging)
26. Munte
27. Nadeak
28. Nahampun
29. Napitu
30. Pasi
31. Pinayungan (sigalingging ? )
32. Rumahorbo
33. Saing
34. Saraan (sigalingging )
35. Saragih Dajawak
36. Saragih Damunte
37. Saragih Dasalak
38. Saragih Sumbayak
39. Saragih Siadari
40. Siallagan
41. Siambaton
42. Sidabalok
43. Sidabungke
44. Sidabutar
45. Saragih Sidauruk
46. Saragih Garingging
47. Saragih Sijabat
48. Simalango
49. Simanihuruk
50. Simarmata
51. Simbolon Altong
52. Simbolon Hapotan
53. Simbolon Pande
54. Simbolon Panihai
55. Simbolon Suhut Nihuta
56. Simbolon Tuan
57. Sitanggang Bau
58. Sitanggang Gusar
59. Sitanggang Lipan
60. Sitanggang Silo
61. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 ( sigalingging )
62. Sitio
63. Tamba
64. Tinambunan
65. Tumanggor
66. Turnip
67. Turuten
Terdapat perbedaan pada jumlah marga yang masuk dalam kelompok Parna ini, hal ini disebabkan karena adat kebudayaan Batak yang dapat menggunakan marga leluhur, percabangan marga kakek, ayah, atau bahkan percabangan marga baru. Tetapi walau berbeda marga, semuanya mengaku dipersatukan oleh ucapan di atas (”Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”).
Raja NaiambatonSatu tulisan menyatakan bahwa Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam dari Raja Batak, seperti berikut: Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton
Pomparan ni si Raja Naiambaton biasa disingkat menjadi PARNA, marga-marga yang dipercayai sebagai keturunan dari Raja Naiambaton yang karenanya tidak boleh menikah satu dengan yang lainnya. Hal ini dipertegas dalam tulisan-tulisan pustaha Batak yang berbunyi “Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru” dalam bahasa Batak Toba, yang dapat diartikan dengan ”Keturunan Raja Naiambaton adalah sama-sama pemilik putra dan putri,” yang dalam arti lebih luas lagi dapat diartikan bahwa ”Putra-putri keturunan marga-marga Naiambaton tidak boleh menikah satu sama lain.” TINJAKSTAR September 26, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan.
Misalnya: saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya partuturon, karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’. TINJAKSTAR September 11, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
Misalnya: saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya partuturon, karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’. TINJAKSTAR September 11, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia








