Horas - Martutu aek adalah pembaptisan, pada tradisi Batak kuno, dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang). Upacara ritual ini dimulai dengan doa yang disampaikan oleh Ulu Punguan kepada Mulajadi na Bolon. Kemudian sang Ulu Punguan membentangkan ulos ragi idup di atas pasir. Lalu Ulu Punguan meneteskan minyak kelapa ke dalam cawan yang telah berisi jeruk purut untuk memastikan bahwa tondi si bayi tersebut berada di dalam badan. Setelah itu, bayi yang hendak diberi nama dimandikan di mata air. Ulu Punguan lalu menyapukan kunyit ke tubuh bayi dan menguras bayi tersebut degan jeruk purut. Setelah diuras, Ulu Punguan mengoleskan minyak kelapa ke dahi bayi. Lalu, Ulu Punguan mencabut pisau Solam Debata yang dibawanya untuk memberkati bayi tersebut. Dengan memohon kepada Mulajadi Na Bolon, Ulu Punguan menarikan kain putih agar kain putih tersebut diberkati oleh Mulajadi Na Bolon sebagai pembungkus bayi agar mereka di kemudian hari jauh dari marabahaya. Sumber lain, Negeri Bakara, mengatakan bahwa bila bayinya laki-laki turut dibawa hujur (tombak) sebagai simbol laki-laki, jika perempuan turut dibawa baliga (perkakas tenun berbentuk seperti sisir) sebagai simbol perempuan. Dan saat Datu menciduk air dan memandikan bayi tersebut, dengan diiringi tangis bayi, diucapkanlah oleh Datu: “sai lam tu toropnama soara ni anak dohot boru tu joloan on“ (semoga makin ramai suara anak dan boru di masa mendatang) maksudnya sebagai pengharapan agar keturunan suku Batak semakin banyak, baik laki-laki dan perempuan.
ayi kemudian dibawa kembali ke rumah, dilanjutkan dengan acara pemberian nama. Pemberian nama dipertimbangkan dengan cermat, karena Suku Batak meyakini nama dan tondi harus sejalan. Jika mambuat goar ni Ompu atau mengambil nama seperti nama Ompung atau leluhurnya, maka harus mendapat persetujuan dari seluruh keturunan saompu (satu leluhur). Setelah mendapat doa restu keluarga dan sanak saudara, maka syahlah nama anak tersebut, dilanjut makan bersama seluruh keluarga sebagai ungkapan syukur. Untuk menjaga dan memelihara hubungan antara manusia dengan roh-roh nenek moyang, tiap-tiap individu dalam masyarakat Toba harus melakukan berbagai aturan kepercayaan yang salah satunya adalah martutu aek. Martutu Aek juga diartikan sebagai acara kepercayaan, memperkenalkan bayi pada Mulajadi Nabolon dan meminta agar bayi itu disucikannya. Setelah Kristen masuk ke Tanah Batak, Adat Martutu Aek ini kemudian menjadi sama dengan baptisan Kristen (Tardidi atau Pandidion) yang dilaksanakan di gereja oleh Pendeta dengan memercikkan air kepada si Bayi atau anak.
TINJAKSTAR
Desember 10, 2012
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Menjelajahi Perkampungan Batak TB Silalahi Center
Horas - Siapa yang tidak kenal TB Silalahi yang berketurunan Batak, Dia berasal dari Balige,Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. TB Silalahi Center adalah tempat Museum pribadi Letjen (Purn) TB Silalahi. Didalam museum ini cukup mengesankan karena banyak yang dipamerkan,seperti sejarah perjalanan hidup seorang TB Silalahi dalam berbagai macam-macam bentuk seperti Patung, Foto-foto, Barang-barang Kenangan. Itu di mulai sejak dari semasa sekolah sampai menjadi perwira TNI dan tugas-tugas lain yang sudah pernah diembannya di negara tercinta ini. Akan tetapi setelah beliau sudah pensiun sudah melakukan yang terbaik, baik budaya batak di maupun di negara ini.
Namun itu masih selain yang bersifat pribadi, didalam museum juga dapat ragam produk budaya Batak di masa lalu. Salah satu yang cukup menarik adalah museum perkampungan Batak Tradisional seperti rumah adat Besar (Rumah Batak) dilengkapi dengan sopo-sopo, rumah semedi, pohon baringin, atau jabi-jabi. dan sigale-gale. Secara keseluruhan, komplek TB Silalahi Center sangat menarik dikunjungi, dan sangat bermanfaat bagi warga-warga agar upaya tetap pelestarian budaya Batak.
Semoga kita dapat meneladani upaya TB Silalahi ini menjadikan percontohan dengan karya nyata.
Dibawah ini adalah dokumentasi-dokumentasi yang ada di TB Silalahi,
![]() |
| Rumah Batak |
Namun itu masih selain yang bersifat pribadi, didalam museum juga dapat ragam produk budaya Batak di masa lalu. Salah satu yang cukup menarik adalah museum perkampungan Batak Tradisional seperti rumah adat Besar (Rumah Batak) dilengkapi dengan sopo-sopo, rumah semedi, pohon baringin, atau jabi-jabi. dan sigale-gale. Secara keseluruhan, komplek TB Silalahi Center sangat menarik dikunjungi, dan sangat bermanfaat bagi warga-warga agar upaya tetap pelestarian budaya Batak.
Semoga kita dapat meneladani upaya TB Silalahi ini menjadikan percontohan dengan karya nyata.
Dibawah ini adalah dokumentasi-dokumentasi yang ada di TB Silalahi,
![]() |
| TB Silalahi Center, Tobasa |
![]() |
| Sopo kecil |
| Patuk Batak |
![]() |
| Rumah Batak |
![]() |
| Rumah Semedi |
![]() |
| Sigale-gale |
![]() |
| Sopo |
Perkampungan Batak TB Silalahi Center, Balige-Tobasa
TINJAKSTAR Juni 29, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Dalam Rangka menyukseskan acara Tour de Toba yang akan diadakan di sumatra utara tepatnya di sekitaran danau toba, banyak pihak yang ikut bergabung dalam acara ini salah satunya misalnya dari IB Management.
IB management sendiri sebenarnya merupakan Sekolah Model yang Berada di daerah sumatra utara tepatnya di siantar.
Untuk ikut meramaikan event Tour De Toba 2012, dari pihak IB management sendiri IB Management siap untuk menyukseskan event Tour De Toba 2012 dengan membawa konsep menarik yakni design ulos modifikasi dan fashion drama.
Horas Toba Carnaval yang merupakan bentuk dari acara yang diadakan IB Management. tak lepas dari sebuah konsep yang dibwakan pihak IB Management, mengadakan Lomba
semoga melalui event yang diadakan di sumatra ini memunculkan bakat-bakat terpendam dari muda-mudi di sumatra utara, khususnya di Tanah Batak sendiri. dan semoga Acara yang diadakan Oleh IB Management ini akan terus berlanjut, sehingga menarik minat para muda mudi untuk terjun di dunia modeling.. horas salam TourDeToba- KevinRingo
TINJAKSTAR
Juni 23, 2012
New Google SEO
Bandung, Indonesia
IB management sendiri sebenarnya merupakan Sekolah Model yang Berada di daerah sumatra utara tepatnya di siantar.
Untuk ikut meramaikan event Tour De Toba 2012, dari pihak IB management sendiri IB Management siap untuk menyukseskan event Tour De Toba 2012 dengan membawa konsep menarik yakni design ulos modifikasi dan fashion drama.
Horas Toba Carnaval yang merupakan bentuk dari acara yang diadakan IB Management. tak lepas dari sebuah konsep yang dibwakan pihak IB Management, mengadakan Lomba
- Ulos Modifikasi
- Fill and painting the body with Batak Art & Culture (Melukis badan dengan lukisan seni batak)
Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan karakter-karakter muda mudi sekarang, seperti yang kita lihat dalam Ulos Modifikasi, ada warna yang bebeda dari sebuah Ulos yang kita kenal Dulunya, ulos yang kita kenal hanya berupa kain dulunya, kini di modifikasi sehingga menjadi sebuah konsep desain yang dirancang dengan megah seperti yang kita lihat dalam gambar dibawah ini
![]() |
| Ulos Modifikasi |
![]() |
| Ulos Modifikasi |
![]() |
| Fill and painting the body with Batak Art & Culture |
Horas-Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.
Berkeliling di kawasan RS HKBP Balige memberikan nuansa yang berbeda. Kayu-kayu dan dinding disini masih merupakan hasil rancangan engineer dari benua seberang. Tak jauh mata memandang, rumah di depan sana, yang ditempati orang-orang Batak itu, seolah tak memiliki perencanaan. Berbeda sekali. Berdiri begitu saja, dan ditempati seadanya saja. Tanpa orientasi yang bisa dijadikan representasi keunikan manusianya. Bukankah realita bangunan fisik sebagai cerminan turunan alam pikir? Setidaknya dari apa yang terlihat itu jugalah yang tersirat.
Melihat hasil karya bangsa Eropa pada berbagai macam seni bangunan, seketika mentalitas inlanderisme menyapa ubun-ubun. Benarkah sudah sedemikian jauh bangsa kami ini melorot menuju kehancuran? Sekeropos bangunan-bangunan yang kami dirikan? Mengapa bangunan peninggalan mereka yang sudah puluhan dan bahkan ratusan tahun itu masih tetap anggun dan kokoh? Sementara bangunan kami? Enggan mata ini memandangnya.
Rindang pepohonan mengelilingi sebuah bangunan tua di sudut kawasan itu. Nuansa asri menggoda langkah untuk rehat sejenak pada sebuah ruang dimana kursi-kursi rotan telah menunggu. lihat itu, beragam pohon-pohon begitu indah dan sejuknya. Sayangnya tak satupun dari kita tahu apa nama pohon itu. Minim sekali pengetahuan semesta yang kita punyai. Kita seperti manusia berjalan tanpa bekal ilmu. Seorang sahabat memaksa wajahku terkekeh mendengar kalimat-kalimatnya yang selalu bernada humoris melipat-lipat paradoksal situasi.
Tak hanya itu, lihat lagi kusen-kusen bangunan ini. Dari kayu yang paling bagus di kelasnya. Bertahan sudah puluhan tahun melintasi lorong waktu. Dan masih ia menunjukkan eksotisme dan kekuatan yang dibarengi rancangan yang khas Eropa. Juga, sirkulasi udara selalu menjadi perhatian utama engineer jaman dahulu. Padahal dulu belum ada Global Warming. Sekarang suhu jauh lebih panas, namun mengapa rumah-rumah jaman sekarang seolah tak peduli titik aero-sirkulasi?
Contohnya Gereja-gereja kita punya, hampir semua mengandalkan kipas angin dan pendingin ruangan. Kadang saya menjadi terlalu sibuk mencari sapaan angin pada wajah ketimbang mendengar sapaan firman dari mimbar. Saking panas dan pengabnya ruangan itu. Saya kira Tuhan juga tak suka ruangan pengab dan panas yang boros karena selalu mengandalkan kipas angin dan AC. Tak bisakah kita rancang bangunan yang aero-sirkularis yang manis cantik dan anggun? Gereja yang dibangun Eropa, duh, seolah Tuhan ada disana. Begitulah kalau yang membangun dan merencanakan punya ilmu. Lagi-lagi kawanku itu seolah melongok dari atas ubun-ubunku, seraya mencoba memastikan apakah di dalamnya terkandung seonggok ilmu?
Sore itu menjadi sebuah kilas balik dan perbandingan antar peradaban, antar jaman. Disertai kalimat-kalimat sentimental journey. Tentang pada jaman dulu bhwa sanitasi dan drainase menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rancangan bangunan. Hampir tidak didapati saluran yang mampet, pipa yang tidak berfungsi. Bila kita menengok hasil karya rancangan Eropa. Ada juga baiknya Belanda pernah menjajah kita. Setidaknya kita masih bisa melihat sisi pembangunan yang bisa dijadikan bahan pelajaran tentang bagaimana membangun rumah yang baik dan benar. Dan selanjutnya bagaimana membangun kota yang nyaman dan menyenangkan. Supaya tidak melulu seperti apa yang kita lihat di sekitar dan sekeliling kita. Utamanya bumi tapanuli yang minim kreasi dan seni bangunan ini.
Perlahan matahari kembali ke peraduannya di ambang senja, menemani langkah kami meninggalkan pelataran Rumah Sakit itu. Disana pernah terjadi kejayaan pelayanan kesehatan yang cukup masyhur. Berbaris di dinding seukuran photo merekam imaji kenangan kepada orang-orang yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Tongkat Aesculapius. Bersumpah di bawah kode etik Sumpah Hippokrates. Keterlibatan Ras Arya dalam segala bentuk pengelolaan dan manajemennya tentu salah satu elemen kunci yang menjadikan Rumah Sakit HKBP Balige ini pernah menjadi Rujukan Kesembuhan bagi pasien dari segala penjuru Tapanuli.
Sisa-sisa kejayaan itu kini semakin redup. Dulu pernah dielu-elukan dan kini menjadi disedu-sedankan. Tak ada lagi yang layak untuk ditonjolkan sebagai tonggak prestasi dan pencapaian. Menjadi lemah serapuh bangunannya yang satu persatu mulai menunjukkan gejala ujur dan kerontokan. Umur Rencana berada di titik kritis. Revitalisasi menjadi tantangan sekaligus tugas dan tanggung jawab. Entah ya, apakah HKBP tidak sanggup mengelola assetnya yang sedemikian bertabur itu? atau apakah jemaatnya sudah kehilangan sikap kritis yang membangun? atau apakah Tuhan sedang tidur bersama umatnya yang diam dan berada jauh dari realita hidup?
Keterlaluankah bila hati kecil ini berbisik pelan, Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak? Sementara itu, Quo Vadis Budaya Batak? yang konon diarsiteki leluhurnya yang ahli kosmos dan filsuf hidup kesejatian. Dan tak kurang banyak, Artefak Budaya Adiluhung itu pun diboyong ke Eropa, dirumahkan disana. Ah, jadi serba salah pikiran ini. Nikmati sajalah cerita tepian toba edisi tujuh ini!!! </Robinsonlin Simbolon>
TINJAKSTAR
Juni 16, 2012
New Google SEO
Bandung, IndonesiaHoras-Sejumlah rumah adat tradisional Batak milik warga Kabupaten Toba Samosir kehilangan patung singa-singa yang terpasang di bagian luar. Singa-singa dibeli oleh kolektor dengan harga mahal, Rp50 juta sampai Rp100 juta. Mencuri singa-singa tidaklah sulit, karena cuma ditempelkan dengan satu paku kayu.
Pencurian patung singa-singa dari rumah adat Batak Toba saat ini semakin sering terjadi di Kabupaten Toba Samosir. Seperti yang terjadi di Dusun Bariba Tali, Dusun Datu Horbo, dan Dusun Siahaan Dolok, semuanya di Desa Nauli. Kasus pencurian lain yang berhasil ditangkap Polsek Kecamatan Silaen adalah seperti yang terjadi di Dusun Hutagaol, Desa Sigumpar Barat, Kecamatan Sigumpar, sekitar pukul 3 dini hari.
Rumah ini ditempati oleh Jonni Hutagaol. Kronologi kejadian yang berhasil didapat dari hasil wawancara Koran Tapanuli dengan Perjuangan Hutagaol (42 tahun), warga Desa Sigumpar Barat. Dia sebagai saksi menyatakan bahwa pelaku berhasil mencongkel satu buah singa-singa dari sebelah kanan sopo tersebut. Hasil curiannya dibawa kabur dengan sebuah mobil Carry Futura BB-1156-LE yang sengaja diparkirkan di samping makam Dr. I.L. Nommensen.
Saksi Perjuangan Hutagaol yang mengetahui kejadian melaporkan kejadian tersebut ke polsek setempat. Polsek Silaen segera melakukan pengejaran dan menebar informasi ke tiap penjuru. Pada awalnya komplotan berhasil membawa hasil curiannya dengan aman. Tetapi di sekitar lokasi Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir, mobil mereka menabrak tembok jalan hingga mobil terbalik.
Petugas Polsek Silaen beserta saksi segera meluncur dan menangkap si pelaku. Barang bukti yang disita berupa mobil Carry Futura BB 1156 LE beserta satu buah singa-singa yang sempat disembunyikan pelaku sekitar 10 meter dari lokasi mobil terbalik.
Ketika dikonfirmasi via sms, Kapolsek Silaen AKP P. Simatupang menyatakan bahwa pencurian dan penangkapan benar adanya, yaitu dua orang pelaku yang tertangkap antara lain Rudi Sianipar, pekerjaan supir warga Narumonda, dan Rajuman alias Acong, warga Desa Lumban Nabolon, Kecamatan Narumonda. Sedangkan satu orang melarikan diri yakni Erik Pardede, penduduk Desa Parparean IV, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir.
Polsek Silaen menitipkan kedua pelaku di Rutan Balige dan menahan barang bukti berupa singa-singa sopo dan mobil. Sementara kasus tetap diproses lebih lanjut. Kemungkinan kepada kedua pelaku akan dikenakan pasal 363 ayat 4(e) sub pasal 362 KUH Pidana.
Sementara itu tiga kasus pencurian singa-singa juga terjadi di Desa Nauli, Kecamatan Narumonda, Kabupaten Tobasa, yaitu hilangnya dua buah singa-singa sopo milik Ny. Siagian br. Marpaung. Di Dusun Datu Horbo/Bariba Tali, warga juga kehilangan satu buah singa-singa. Kemudian di Dusun Siahaan Dolok, Oppu si Gugun Siahaan kehilangan semua singa-singa dari rumah adatnya.
Singa-singa rumah adat Batak diincar kolektor Eropa
Menurut Hardi Sidabutar, seorang kolektor barang antik di Kabupaten Samosir, singa-singa sopo memang sangat digemari oleh pembeli khususnya dari luar negeri, seperti Belanda, Jerman, dan Perancis. Patung wajah singa yang terbuat dari kayu tempo dulu itu dipajang sebagai barang antik atau dijual ke museum.
"Seorang kolektor luar negeri mau membeli singa-singa sampai Rp50 juta satu pasang, bahkan bisa mencapai Rp100 juta,” kata Hardi kepada Koran Tapanuli di Tuktuk Siadong, Samosir.
Menurutnya, orang awam sebenarnya tidak tahu berapa persisnya nilai jual singa-singa. “Harga tersebut hanya diketahui kolektor dan agen.” Hardi Sidabutar menjelaskan, tidak semua rumah adat Batak memiliki patung singa-singa di bagian luarnya. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan apakah sebuah sopo perlu dan bisa dipasangi singa-singa atau tidak.
Hanya orang jujur yang memiliki singa-singa di rumah soponya.
“Di zaman dulu hanya orang-orang baik dan jujur yang rumahnya punya singa-singa. Jadi tidak semua orang Batak mampu memakai singa-singa. Kalau ada singa-singa di rumah Batak, maka keluarga itu adalah orang-orang jujur,” katanya. Singa, menurut cerita Hardi Sidabutar, adalah binatang kesayangan orang Batak tempo dulu. Singa diyakini oleh orang Batak Toba sebagai simbol binatang paling jujur, karena itulah banyak orang takut pada singa.
Tidak sedikit orang Batak di zaman dahulu yang berteman dengan singa. Apabila ada orang di hutan yang berbuat keonaran, pasti dia akan dimakan singa. Seekor singa tahu membedakan mana orang yang baik dan mana orang jahat.
Pencurian patung singa-singa, menurut Hardi Sidabutar, memang cukup mudah dilakukan. “Hanya perlu waktu lima atau 10 menit untuk membuka sepasang singa-singa, karena pengikatnya cuma satu paku kayu, bukan paku besi,” katanya.
Dia mengatakan, tidak ada orang Batak Toba yang dengan resmi menjual singa-singa dari rumahnya. “Saya sudah 30 tahun sebagai kolektor barang antik, belum pernah saya jumpai orang Batak yang mau menjual singa-singa secara resmi, karena yang punya itu adalah satu keluarga, keturunan dari mulai oppung mereka.” Di Kabupaten Samosir, kasus pencurian singa-singa dari sopo terakhir diketahui terjadi pada Oktober 2009 di Kecamatan Nainggolan. Saat itu si pencuri berhasil ditangkap polisi. <Robinsonlin Simbolon>
Singa-singa rumah Batak yang harganya ratusan juta kerap dicuri
Posted by FACE BATAK on Jumat, 15 Juni 2012
![]() |
| Zulkaidah Harahap |
Horas-Diatas panggung kayu dengan latar belakang panggung yang semakin kusam, Zulkaidah Harahap memainkan serunainya dengan lincah. Meski hatinya gundah, dia ingin penonton tetap terhibur dengan musik, nyanyian, dan tariannya. Dalam benaknya terpikir bahwa esok hari ia harus meninggalkan panggung yang telah lama membesarkannya.
Malam itu, sekitar pertengahan tahun 1984, adalah malam terakhir bagi Zulkaidah tampil bersama Seni Ragam Indonesia atau Serindo, grup Opera Batak yang sudah malang melintang sejak tahun 1925. Usianya masih 37 tahun kala itu.
Tumpukan utang yang harus dia tanggung membuat perempuan seniman ini tidak kuat lagi mempertahankan satu-satunya grup Opera Batak terbesar yang pernah ada di Sumatera Utara.
”Saya lari ke Jakarta karena dikejar-kejar utang. Saya tinggalkan semua; panggung, suami, lima anak, dan awak panggung. Serindo semakin lama semakin surut, sementara awak panggung tetap harus dihidupi,” katanya mengenang.
Pertengahan April, Zulkaidah bersama Alister Nainggolan tampil kembali di panggung Opera Batak di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bersama seniman muda lainnya yang tergabung dalam Pusat Latihan Opera Batak (PLOT), yang dipimpin seniman muda Thompson Hs, Zulkaidah memperkenalkan kembali Opera Batak kepada masyarakat.
Opera Batak adalah pertunjukan sandiwara panggung yang sudah dikenal masyarakat Batak Toba secara turun-temurun. Ketika orang Belanda masuk ke Pulau Samosir pada awal abad ke-19, mereka menjuluki sandiwara tradisional itu dengan nama opera (gaya) Batak, atau kemudian dikenal sebagai Opera Batak.
Kisah yang diangkat dalam Opera Batak umumnya tentang lakon legenda, mitos, cerita kepahlawanan, atau cerita keseharian masyarakat setempat.
Serindo adalah grup Opera Batak yang melegenda di Indonesia. Salah satu pendirinya adalah almarhum Tihang Gultom. Dia membesarkan kelompok sandiwara ini dari pentas di beberapa kampung saja. Oleh karena banyak diminati masyarakat, Serindo kemudian berpentas keliling, hampir ke seluruh wilayah Sumatera Utara.
Grup ini bagaikan induk bagi kelompok Opera Batak yang belakangan bermunculan di Sumatera Utara. Mereka yang mendirikan grup Opera Batak biasanya jebolan dari Serindo.
Bak bintang film
Sejak masih belia, Zulkaidah bercita-cita ingin bergabung dengan Opera Batak. Ia mengenal seni tradisi lisan itu ketika Serindo bermain keliling di seluruh wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.
”Waktu itu saya tengok (lihat), mereka itu (pemain opera) seperti bintang film,” kata nenek yang usianya sudah menginjak 65 tahun itu.
Kecintaannya kepada Opera Batak bermula karena ia sering melihat pertunjukan tersebut. Jika tidak punya uang untuk membeli karcis, ia sampai nekat menerobos pagar yang mengelilingi panggung.
Ia kemudian bertekad mengikuti ke mana pun Serindo berpentas dengan melamar menjadi juru masak di Serindo. Pada malam hari dia menjaga anak-anak para pemain Serindo yang sedang pentas.
Suatu hari, kemampuannya bermain Serunai dan menyanyikan lagu-lagu khas Tapanuli menarik perhatian Tihang Gultom. Zulkaidah kemudian diminta pentas, bergabung dengan Serindo, bahkan kemudian menjadi salah satu primadona Serindo.
Namun, nasib baik tidak berpihak pada seni pertunjukan tradisi di Tanah Air, yang perkembangannya kemudian kalah oleh hiburan televisi dan bioskop. Pada awal tahun 1980-an ketika televisi masuk Pulau Samosir, Serindo goyah. Dalam kurun hanya beberapa tahun, Serindo yang menghidupi 50 anak panggung itu tidak mampu bertahan.
Pada masa sulit tersebut, banyak anak panggung Serindo yang berpindah ”kapal” mencari penghidupan lain yang lebih layak. Namun, Zulkaidah yang mendapat amanat dari Gustaf Gultom, pimpinan Serindo sebelumnya, memilih untuk bertahan.
Sawah, ladang, dan ternak miliknya dia korbankan agar Serindo bisa tetap berpentas meski tak banyak lagi penontonnya. Sampai akhirnya harta benda yang dia miliki hanyalah pakaian yang melekat di badan, di samping setumpuk utang.
Berjualan
Masa jaya Serindo dan Opera Batak tampaknya telah lewat. Ketika akhirnya memutuskan kembali ke Tapanuli Selatan setelah dibujuk saudaranya, Zulkaidah bertekad memperkenalkan kembali Opera Batak, terutama kepada generasi muda. Sambil berjualan kacang dan tuak keliling kampung, ia tidak lupa memainkan lagu-lagu yang pernah dibawakannya saat berpentas dulu.
Suatu hari tiupan serunai Zulkaidah sambil berjualan mengundang kekaguman Rizaldi Siagian, etnomusikolog dan musikus. Rizaldi lalu mengajak Zulkaidah berpentas ke Jepang pada tahun 1989, kemudian ke Amerika Serikat tahun 1991.
Lawatannya selama dua minggu di masing-masing negara itu pada kenyataannya tidak mampu mengubah nasib perempuan yang hanya bersekolah di Sekolah Rakyat ini meskipun Zulkaidah punya kemampuan luar biasa dalam bermusik.
Kembali dari luar negeri, dia berjualan lagi, bermain sebagai pemusik keliling, dan menjadi buruh tani. Namun, bagi Zulkaidah, uang tidak menjadi kendala untuk menghidupkan kembali Opera Batak.
”Saya masih punya ilmu untuk diturunkan,” ujarnya.
Kini, dalam usianya yang renta, Zulkaidah rela bolak-balik dari rumahnya di Tiga Dolok, Tapanuli Selatan, ke Pematang Siantar, yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar satu jam. Semua itu demi mengajar mahasiswa yang ingin belajar Opera Batak. Dia juga kerap diundang ke Jakarta untuk ikut bermain Opera Batak bersama rekan-rekannya di PLOT.
Zulkaidah mungkin belum bisa menyaksikan Opera Batak kembali menguasai panggung pertunjukan seperti pada masa keemasannya dulu. Namun, dia kini bisa sedikit bernapas lega karena sudah memiliki ”panggung” lain, yaitu mengajarkan ilmunya bermain serunai, menyanyi, dan manotor (menari) kepada generasi muda meski tanpa dibayar atau kadang-kadang bayarannya tidak cukup untuk menghidupinya. </Robinsonlin Simbolon>
TINJAKSTAR
Juni 14, 2012
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Batak bukan dari Batak, tapi dikonstruksi para musafir Barat dan dikukuhkan misionaris Jerman . Kata Batak diambil para musafir dari penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan.
Demikian Sejarahwan Unimed Phill Ichwan Azhari. Sejumlah referensi memang sangat minim menjelaskan makna Batak secara etimologi (asal-usul kata) dan genealogis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua lema tentang ’Batak’. Pertama, Batak berarti petualang, pengembara. Pembatak malah diberi arti perampok dan penyamun. Lema kedua, Batak disebut sebagai suku bangsa di Sumatera Utara.
Eron Damanik mengatakan, nama Batak memang tidak terdapat secara jelas, tetapi beberapa istilah yang dicatat adalah seperti Batta; Batas, Bata, Batech, dll. Semua istilah ini merujuk kepada pemaknaan: Liar, Kanibal dan belum beradab.
Sama halnya dengan Melayu yang bukan merujuk pada kelompok etnis, tetapi kelompok kebudayaan, yakni mereka yang berada di pesisir pantai. Nicolo menyebut ‘Batech’ pada waktu menjelaskan orang Pedalaman (Inland) Lambri dan Pasai, dimana mereka ini hidup liar dan uncivilized.
Justru, orang yang pertama menulis term ‘Bata’ yang dekat dengan term ‘batak’ dewasa ini adalah Pinto. Pinto pada saat itu Ia ada di Malaka, hingga tahun 1539 pada waktu serangan Aceh (Lambri) dizaman Al Qahar-II ke Aru Delitua.
Menurut Perret, kedua istilah: Batak dan Melyu muncul pada abad ke-15, dan semakin intensif digunakan atau dikontruksi oleh orang luar (pengelana Barat) untuk memisahkan orang di pedalaman (yang belum beradab) yang disebut dengan Batak dengan orang di pesisir pantai (sudah beradab) yang disebut dengan Malay. Pada abad ke-17, tulisan tentang kedua kelompok ini hilang dari peredaran dan muncul kembali sejak abad ke-18. Pada abad ke-19, semakin mengemuka apalagi pada waktu kedatangan Anderson pada tahun 1823, dan semakin dipertegas lagi pada saat Jacobus Nienhuys yang membuka perkebunan tembakau.
Pada akhirnya, sejak era kemerdekaan nama itupun dicatat sebagai nama etnis yakni Batak yang terdiri dari lima sub etnis yakni Toba, karo, Simalungun, Pak-pak, dan Mandailing Angkola. Jadi, sesungguhnya Konsep Batak dan Melayu adalah dua konsep yang diciptakan dari luar terutama oleh penulis-penulis abad ke-14-15M.
Sementara menurut Thompson Hs, kata ‘Batak’ memang tidak disinggung langsung dalam pustaka-pustaka khususnya Toba, tapi ada istilah ‘bataha’ yang bisa berasosiasi menjadi Batak. Istilah Batak sudah muncul melalui catatan-catatan sebelum kedatangan misionaris ke tanah Batak. Secara etimologis “batak” masih perlu diusut pengertiannya. Jadi tidak cukup dari arti kamus seperti yang dilakukan di KUBI atau KBBI.
“Baru-baru ini saya melihat sebuah dokumen hasil penelitian DNA seorang Toba dan Karo yang menyimpulkan asal-usul DNA berasal dari kelompok Afrika (Kenya). Batak sebagai genealogis dapat menjelaskan pengertian dan asal-usul aslinya. Tapi batak secara kultur sudah dikonstruksi oleh sejarah, seperti sejarah Melayu, Jawa, Bugis, dan lain-lain. “Kapak membela kayu, batak menjadi melayu” itu adalah sejarah. Jadi Ichwan Azhari bisa juga mengusut genealogis dan kulturnya di balik upaya penelitian ilmiah. karena kepentingan ilmiah juga tidak selalu netral,” ujar Thompson.
Memang perkembangan kebiasaan Batak menyatakan diri sebagai Batak lebih aktif dilakukan oleh orang Toba, meskipun mereka sudah menerima anutan agama di luar praktik agama kuno. Disadari atau tidak, Toba menjadi dominan sebagai Batak melalui penggunaan bahasa dan tindak sub-kulturnya, sehingga masalah internal kebatakan tidak jarang menuduh orang toba “tukang monopoli” kebatakan itu.
Menurut Thompson, istilah Batak dengan variasi ucapannya sudah muncul melalui catatan-catatan pra misionaris dan kolonial. Bahkan sebelum kolonial belum menyentuh Batak, istilah itu sudah disinggung Raffles dan William Marsden dalam bukunya. Catatan dalam naskah Cina pra kolonialisme juga sudah menyingung istilah Batak itu. Mungkin rumusan atau konstruksi yang dilakukan misionaris dan kolonial pada masa perkebunan di Deli hanya semacam penguatan, seperti analogi nama Indonesia, yang sesungguhnya dilakukan oleh seorang Jerman.
“Kita tunggu maksud konteks penelitian Ichwan Azhari, apakah mau membeberkan batak secara genealogis atau politik baru dikotomi Melayu dan Batak. Itu bagus agar orang-orang yang merasa Batak dapat melihat dirinya kembali dalam nuansa post-kolonialisme. Mungkin saja Ichwan Azhari melakukan hal itu untuk menemukan identitasnya di balik metode dan gengsi ilmiah, apakah dia Melayu atau campuran bukan Melayu. hehehe..” ujar Thompson mengakhiri. (Hariansumutpos-Panda MT Siallagan/saz)
HORAS
- TOGA NAIPOSPOS
- SI RAJA SOBU
- SI RAJA SUMBA
- SI RAJA HUTALIMA
- SI RAJA OLOAN
- SI LAHI SABUNGAN
- SI PAET TUA
- SI BAGOT NI POHAN
- NAI SUANON
- NAI RASAON
- NAI AMBATON
- TUAN SORIMANGARAJA
- RAJA ISOMBAON
- MALAU RAJA
- SAGALA RAJA
- LIMBONG MULANA
- RAJA BORBOR
- SIREGAR
- ARITONANG
- SIMATUPANG
- NAINGGOLAN
- PANDIANGAN
- SINAGA
- SITUMORANG
- SI RAJA LONTUNG
- SI BABIAT
- TUAN SARIBURAJA
- GURU TATEA BULAN
- Tillo Tillo
- Unang Alani Arta
- Uju Dingolu Hon Ma Nian
- Aek Sibundong
- Tudos Tu Bulung Motung
- Taridem Idem
- Aut Boi Ilu Makkatai
- Ala Tipang
TINJAKSTAR Februari 06, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Label
2016
2017
Adat
Adat-istiadat Suku Orang Batak
Agama
Angkola
Artikel
Artis
Artis Batak
Asal-Usul Batak
Bahasa
bahasa batak
Bahasa Batak Toba
Batak
Batak Clan
batak host
Batak Pengusaha
Batak Simalungun
Batak Toba
BatakAngkola
BatakKaro
BatakMandailing
BatakPakpak
BatakSimalungun
BatakToba
Batu Gantung
Belajar tentang Suku Batak
Bella Shofie
Beon
berita batak
Berita Orang Batak
berita sumut
Blackberry
Bom
Budaya
Cerita Humor
Christine Panjaitan
Cipto Junaedy
Danau Toba
Danau Toba untuk Semua
doloksanggul
Download Lagu lagu Batak 2014
Download Lagu lagu Batak 2017
Dunia Anjing
Editorial
Elviana
Fakta dan Opini tentang Orang Batak dan Suku Batak
Film
Foto
Galeri
Gallery Photo
Gaya Hidup
Generasi Batak
Gondang
History
HORAS TANO BATAK
Hosting
Humor Batak
Hybrid
Indonesia Merdeka
indonesian
Internet Marketing
Islam
Istilah-istilah Batak
Kabar Suku Batak
Kabar Terkini
Kalender
Karo
Kekristenan
Kelahiran
Kematian
Khas Batak
Kisah
Klaim
Kumpulan Foto-Foto Batak
Kunci Gitar Lagu Batak
Lagu
Lagu Batak
Lagu Batak Terbaru 2012
Lagu Gereja
Lagu lagu Batak
Lagu Natal
Lagu Rohani
Lagu Rohani Batak
Lawak ala Orang Batak
Layanan
Lebaran
Lebaran Batak
legend
Lintas Suku
Lirik dan Arti Lagu Batak
Lirik Lagu
Lirik Lagu Barat
Lirik lagu batak
Mahasiswa USU
Malvinas Group
Mandailing
Marga
Marlen Manroe
Marsada Band
Medan
Mitos
mobil
Musik
MYCULTURED
Nairasaon
Natal
News
Nirwana Trio
Opini Batak
orang batak
Pakaian
Pakpak
Panatapan Trio
Pariwisata
Pendidikan
Pengetahuan tentang Suku Batak
Penipuan
Peristiwa
Pernikahan
pesta bolon
Politik
Presiden RI
Profil
PSBI Simbolon
Renungan
Retta Sitorus
Review
RNB SINGERS
Rohani
Ruhut
Rumah
Rumah Adat
Rumah Batak
SAM BOYS TRIO
SASTRA
Sejarah
Seo Blog
Seoagency.co.id
Serba-Serbi
Silalahi
Simalungun
Simbolon
Sinamot
sipitu ama
Situmorang
Situs
Suku Batak dan Agama Kristen
Sumut
Surat Batak
takbiran
Tanaman
Tarian
TariAngkola
TariKaro
TariMandailing
TariPakpak
TariSimalungun
TariToba
Tarombo
Tarombo Batak
Template Blog
Tentang
tentang batak
Tentang Orang Batak
Tentang Tanah Batak
Test
Tigor Gipsy Marpaung
Tips Kesehatan
Toba
Toko Online
Tokoh
Tortor
Tourism Lake Toba
Toyota
Tradisi
Trio Aridos
Trio Bersama
Trio Elexis
Trio Gulamo
Trio Lasidos
Trio Palapa
Tuak
Tuhan Yesus
Tulisan Aneh
Tulisan Menarik
Tulisan Unik
Ucapan Selamat
Ulos
Umpama
Umpasa
Umum
Uniknya Batak
Video
Video klip Batak
Widget Blog
Wisata
X Factor Indonesia

















